Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Belum Siap Pulang

Aku Belum Siap Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.

Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.

Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.

pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.

Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.

takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan

Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Poin kesepuluh

Setelah Takumi selesai merapikan makanan di atas meja, giliran Rin yang membereskan dapur. Wajan, pisau, talenan, mangkuk, dan berbagai peralatan masak menumpuk di dekat wastafel. Sementara itu, Takumi duduk bersandar di sofa ruang tengah sambil mengamati Rin yang sibuk mencuci.

“Tachibana-san.”

Rin menoleh sebentar. “Hmm?”

“Setelah selesai mencuci, lap juga area sekitar wastafel. Jangan tinggalkan air di lantai.”

“Iya, iya,” sahut Rin membilas tangannya lalu menyambar kain lap. “Ayo, aku sudah lapar.”

Takumi mengantongi ponselnya. Mereka pun duduk berhadapan di meja makan.

“Itadakimasu.”

Rin langsung makan dengan lahap, sedangkan Takumi menyantap makanannya sembari sesekali meliriknya.

“Berapa umurmu?” tanya Takumi mendadak.

“Dua puluh satu,” jawab Rin singkat sambil terus mengunyah. “Kalau kau?”

“Aku tiga puluh tiga.”

Gerakan sumpit Rin mendadak terhenti. Ia mendongak terkejut. “Eh? Kau tiga puluh tiga?”

“Kenapa?”

“Berarti kita beda dua belas tahun.”

Takumi mengangkat alis. “Lalu?”

“Bukan apa-apa. Aku cuma baru tahu kalau kau jauh lebih tua dariku,” ujar Rin memprotes kecil.

“Jadi sekarang kau mulai menghormatiku sebagai pria yang lebih tua?”

“Bukan begitu! Aku cuma kaget,” bantah Rin cepat. Ia terdiam sejenak sebelum bertanya lagi, “Teman-temanmu tadi... mereka semua seumuran denganmu?”

“Kurang lebih.”

“Semua masih lajang seperti kau?”

Tangan Takumi berhenti menyuap. Ia melirik Rin tajam. “Kenapa? Kau tertarik pada salah satu dari mereka?”

Rin hampir tersedak. “Hah?! Tidak!” Ia buru-buru menelan makanannya. “Kalian terlalu tua untukku. Maaf saja.”

“Begitu,” tanggap Takumi datar, lalu kembali menyantap hidangannya.

Suasana hening sejenak sebelum Takumi bertanya lagi, “Kau sendiri biasanya melakukan apa?”

“Tidak banyak.”

“Kau kuliah?”

Rin menggeleng. “Tidak. Aku tidak melanjutkan kuliah.”

“Lalu?”

“Aku joki game. Kadang RMT.”

Takumi mengernyitkan keningnya, membuat Rin tersenyum kecil menyadari pria itu beda generasi.

“Joki game itu aku membantu pemain lain menaikkan level atau menyelesaikan misi dalam game. Kalau RMT, aku menjual item langka dari game dan pembayarannya memakai uang asli,” terang Rin.

Takumi diam mencerna istilah-istilah asing itu. “Kau serius?”

“Serius. Memangnya kenapa?”

“Tidak. Hanya baru pertama kali mendengarnya secara langsung.”

Rin mengangkat bahu. “Tapi sekarang aku sedang vakum. Laptopku disita Ayah.” Ia menusuk makanannya kesal dengan sumpit. “Menyebalkan.”

“Kau masih muda. Apa itu memang cita-citamu?”

Pertanyaan sederhana itu membuat gerakan sumpit Rin terhenti. Ia menunduk kaku. “Entahlah... Makanya Ayah menyuruhku menikah dengan—”

Rin mendadak mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Matanya membelalak lebar menyadari ia hampir membeberkan rahasia pribadinya.

Di hadapannya, sudut bibir Takumi terangkat sedikit.

Rin langsung menyipitkan mata curiga. “Hei. kau tersenyum.. mengejekku?”

Takumi kembali makan seolah tak terjadi apa-apa, membuat Rin mendengus pasrah.

Tak lama kemudian, ponsel Takumi berdering. Setelah percakapan singkat, ia menutup telepon lalu menatap Rin. “Tachibana-san, Kau masih ingat Poin ke sepuluh.?”

Rin berpikir sejenak sebelum matanya membulat. “Oh. Temanmu mau datang?”

“Ya. Semua tamuku pria, dan aku tidak ingin mereka salah paham melihatmu tinggal bersamaku,” ujar Takumi serius. “Pastikan kau tidak turun ke bawah dan jangan membuat suara berisik dari lantai atas.”

“Aku mengerti.”

***

Setelah malam mereka selesai dan dapur kembali rapi, Rin mengurung diri di kamar. Dari lantai bawah, sayup-sayup terdengar suara tawa dan obrolan teman-teman Takumi.

“Berisik sekali...” gumam Rin. Ia akhirnya memasang headset, membuka ponselnya dan meluncurkan aplikasi game untuk mengalihkan perhatian.

Sementara di ruang tengah bawah, teman-teman Takumi duduk santai menikmati camilan. Salah seorang dari mereka fokus menatap layar ponselnya dengan antusias.

“Wah, seru juga ini,” gumamnya.

“Main apa kau?” tanya rekannya.

“Game yang kemarin kubilang. Kayaknya aku ketemu pemain yang jago banget. Gerakannya cepat luar biasa dan dia malah membantuku.”

Temannya tertawa. “Kayaknya tetangga barumu jago main game, ya?”

Takumi yang sedang mengambil minuman mendadak menghentikan gerakannya. Pikirannya langsung melayang pada gadis di lantai atas.

Rin Tachibana...? Apa dia .....

Namun, Takumi memilih bungkam. Ia kembali duduk dan meneguk minumannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Di dalam kamar, Rin fokus memainkan jarinya di layar ponsel, sama sekali tak menyadari bahwa rekan tim yang sedang bermain dengannya malam itu duduk hanya beberapa meter tepat di bawah kamarnya.

***

Suasana di ruang makan lantai bawah masih cukup ramai. Beberapa orang berbincang riang sambil menikmati makanan ringan dan minuman yang tersaji di atas meja.

Salah seorang teman Takumi kemudian bangkit berdiri dari kursinya. “Permisi, aku mau ke kamar mandi dulu.”

Pria itu melangkah pergi menuju koridor belakang. Takumi hanya meliriknya sekilas sebelum kembali memfokuskan perhatian pada layar ponselnya.

Beberapa menit kemudian, pria itu kembali ke ruang tengah. Namun, langkah kakinya mendadak melambat begitu keluar dari lorong kamar mandi. Di tangannya, tergantung sesuatu yang langsung memancing perhatian rekan-rekannya.

“Eh?”

Pria itu mengangkat tinggi-tinggi benda kecil berwarna cerah di jarinya—sebuah ikat rambut kain milik wanita.

“Takumi...” Ia mengangkat alisnya dengan senyum jahil menyeringai lebar. “Jangan-jangan kau membawa seorang wanita ke rumah ini, ya?”

Teman-temannya yang lain seketika menoleh heboh.

“Hah? Serius?!”

“Wah, sejak kapan seorang Takumi Kurosawa menyembunyikan wanita?”

Takumi menengadahkan wajahnya dengan ekspresi yang sepenuhnya datar. Ia melirik dingin ke arah ikat rambut di tangan temannya, lalu merespons santai, “ohh..Itu punya pemilik rumah.”

“Pemilik rumah?”

“Ya.” Takumi meraih gelasnya dan menyesap minumannya tenang, seolah keberadaan benda itu tidak berpengaruh apa pun padanya. “Biarkan saja di sana.”

Temannya masih memasang raut tak percaya. “Benarkah hanya pemilik rumah?”

“Lagipula, kalaupun aku membawa wanita ke sini, apa hubungannya dengan kalian?” balas Takumi dingin.

Gelak tawa kembali pecah menanggapi jawaban tersebut. “Wah, jawabanmu malah makin mencurigakan, Bro!”

Takumi hanya menggelengkan kepala malas. “Sudah, jangan banyak bicara.”

Temannya akhirnya mengalah dan meletakkan ikat rambut itu di atas rak meja dekat lorong.

Takumi kembali menatap ponselnya dengan wajah yang tetap tenang terkendali. Namun jauh di dalam hatinya, denyut kesabarannya mulai berada di titik kritis.

Ikat rambut saja bisa tertinggal di kamar mandi...

Pikirannya secara otomatis memutar ulang rentetan kecerobohan Rin sejak pagi. Kamar yang menyerupai zona bencana, Daleman yang tertinggal, sandal yang tergeletak sembarangan di depan pintu, dan kini ikat rambut yang tertinggal di area umum.

Takumi menghela napas panjang dan sangat pelan. Besok aku harus menambah aturan baru yang lebih spesifik.

Namun, ia cepat-cepat mengurungkan niat tersebut. Kertas yang dibuatnya tadi sore sudah memuat sepuluh aturan ketat. Jika ditambah lagi, daftar itu mungkin akan berubah menjadi dokumen dua halaman full.

Takumi mengunci layar ponselnya dan memilih kembali menyimak obrolan teman-temannya. Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa barang pribadinya baru saja menjadi bahan godaan di bawah.

Dan yang paling tidak diketahuinya... Takumi sedang mengerahkan seluruh daya tahannya malam itu agar tidak mendobrak pintu kamarnya dan memberikan ceramah panjang lebar detik itu juga.

"Gadis ceroboh ..!!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!