Indonesia
NovelToon NovelToon
Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Menikahi Mafia Berkedok Tukang Cilok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Misteri / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.

Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Malam makin larut, membungkus pedesaan Bandung dengan kabut tebal dan hawa dingin yang menusuk. Setelah memastikan Kinanti dan Sarah terlelap aman di kamar utama, Arka bergerak tanpa suara. Ia mengenakan jaket taktis hitam, menyelipkan sepasang pisau lempar di balik pinggangnya, lalu keluar menembus kegelapan pekarangan belakang.

​Di bawah pohon pinus besar, Lingga sudah menunggu. Pria berambut mullet itu tampak santai bersandar pada batang pohon, memainkan pemantik api di tangannya.

​"Anak-anak The White Dragon dapet lokasinya, Bos," bisik Lingga seraya melirik Arka. "Pion racun tadi dapat instruksi dari vila tua di lereng perkebunan teh, sekitar dua kilometer dari sini. Itu markas intai 'Cherry'."

​"Siapa aja di sana?" tanya Arka dingin.

​"Empat eksekutor Club Strawberry plus Cherry sendiri," jawab Lingga dengan senyum miring. "Gua udah suruh anak-anak White Dragon blokir jalur keluar-masuk lereng. Mereka nggak bakal bisa kabur."

​Arka menyipitkan mata. "Ayo selesaikan sebelum subuh."

Wuss

​Kedua pria itu melesat cepat di antara kerapatan pohon pinus, bergerak tanpa jejak bagai bayangan malam. Keterampilan tempur tingkat tinggi membuat langkah kaki mereka sama sekali tak terdengar menapak tanah basah.

​Hanya butuh waktu sepuluh menit bagi mereka untuk sampai di batas area vila tua berarsitektur kolonial. Vila itu tampak sepi dan gelap dari luar, namun Arka dan Lingga dapat melihat pendar redup cahaya serta pergerakan dua penjaga berbekal senjata peredam suara di area teras.

​"Gua ambil kiri, lu ambil kanan, Bos?" tawar Lingga santai.

​"Dua menit," sahut Arka singkat.

​Tanpa menunggu instruksi lanjutan, Arka melompat dari balik semak. Dalam hitungan detik, ia sudah berada di belakang penjaga sebelah kanan. Sebelum pria itu sempat menyadari keberadaan Arka, tangan tegap sang mantan bos mafia melingkar di lehernya, mematahkan fokusnya, dan merubuhkannya ke tanah secara senyap.

​Di sudut lain, Lingga bergerak tak kalah kilat. Dengan satu gerakan akrobatik yang mulus, ia memiting leher penjaga sebelah kiri hingga pingsan tanpa sempat melepaskan tembakan.

​Dua penjaga luar tumbang. Pintu masuk utama vila kini terbuka lebar bagi mereka.

Arka dan Lingga mendorong pintu jati vila yang berat tanpa menimbulkan derit sedikit pun. Di dalam aula utama yang minim pencahayaan, aroma manis ekstrak buah stroberi menyengat hidung aroma khas yang menjadi penanda jejak racun buatan Club Strawberry.

​Di tengah ruangan, seorang wanita berambut merah sebahu mengenakan gaun kulit merah ketat sedang berdiri di depan peta kawasan Bandung. Dialah Cherry, pimpinan sel intai musuh. Dua eksekutor berbadan tegap berdiri siaga di sampingnya dengan belati taktis di genggaman.

​"Pintu depan dijaga dua orang, tapi kalian bisa masuk tanpa suara..." suara Cherry terdengar renyah namun dingin, berbalik pelan menatap Arka dan Lingga. "Legenda The Black Dragon yang bersembunyi jadi tukang cilok... dan si rambut mullet dari The White Dragon. Kombinasi yang menarik."

​Lingga menyisir rambut mullet-nya dengan santai, menyunggingkan cengiran khasnya. "Gaya rambut gua emang selalu menarik, Mbak. Tapi cara main racun Lu ke rumah Bos..... asli, kotor banget."

​"Dalam bisnis ini tidak ada kata kotor," kekeh Cherry sinis. Tangannya bergerak kilat melemparkan tiga jarum beracun ke arah wajah Arka.

​Sssht!

​Dengan refleks luar biasa, Arka memiringkan kepalanya seujung kuku. Tiga jarum itu menancap dalam di tiang kayu di belakangnya. Tanpa memberi jeda, dua eksekutor Cherry langsung menerjang maju.

Wuss

​Satu eksekutor menyerang Lingga dengan tebasan belati memutar, namun Lingga menangkisnya mudah menggunakan lengan jaket kulit tebalnya, lalu melayangkan tendangan putar telak yang menghantam dada musuh hingga terlempar menabrak meja kayu.

BRAKK

​Sementara itu, eksekutor kedua mencoba mengunci gerakan Arka. Arka tidak bergeming. Saat belati musuh mengayun menuju lehernya, Arka mencengkeram pergelangan tangan pria itu, memutarnya 180 derajat hingga belati tersebut terlepas, lalu mendaratkan pukulan telak ke rusuk dan leher musuh. Eksekutor itu tumbang seketika, tak sadarkan diri.

​Kini tinggal Cherry seorang diri. Wajah wanita itu melucut pucat, menyadari betapa jauhnya jarak kekuatan mereka. Ia mundur beberapa langkah hingga punggungnya menempel pada dinding.

​Arka melangkah mendekat dengan tatapan mata yang amat dingin, memancarkan aura dominasi mutlak yang membuat udara di sekitar terasa membeku.

​"Siapa yang memberi perintah dari markas pusat Club Strawberry?" tanya Arka dengan suara amat rendah.

​Cherry mengepalkan tangannya gemetar, mencoba bertahan di balik sisa-sisa keangkuhannya. "Lu mikir gua bakal bicara? Club Strawberry bakal terus berburu sampai istri manja tercinta Lu itu...."

​Brak!

​Sebelum Cherry menyelesaikan kalimatnya, Arka sudah mencengkeram tenggorokan wanita itu, menekannya ke dinding kayu. Cengkeraman Arka tidak sampai memutus napasnya, namun memberi tekanan saraf yang sanggup melumpuhkan seluruh keberanian Cherry.

​"Jangan pernah... sebut nama istriku dari mulut kotormu," bisik Arka tepat di depan wajah Cherry. "Aku tidak butuh jawaban dari mulutmu. Karena aku sendiri yang akan meratakan seluruh sel Club Strawberry di tanah air ini."

​Arka menekan titik saraf di belakang telinga Cherry, membuat wanita itu terkulai pingsan dalam hitungan detik.

​Lingga menghembuskan napas lega seraya membersihkan debu di jaketnya. "Anak-anak The White Dragon udah di luar, Bos. Mereka yang bakal amanin tempat ini dan bersihin semua jejak."

​"Bagus," sahut Arka datar, melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul tiga pagi. "Aku harus pulang sebelum Kinanti bangun."

​Pukul empat pagi.

​Fajar belum juga menyingsing saat Arka melangkah masuk ke kamar utama rumah panggungnya. Suasana kamar terasa begitu hangat dan damai. Kinanti masih terlelap rapi di bawah selimut, wajah cantiknya memancarkan ketenangan tanpa beban.

​Arka membersihkan diri sejenak, lalu menyelinap pelan ke atas ranjang. Begitu merasakan kehangatan tubuh Arka, Kinanti secara refleks menggeser tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami seraya memeluk pinggang Arka erat-erat.

​"Mas Arka..." gumam Kinanti serak dalam tidurnya, menyunggingkan senyum manis. "Dingin banget... peluk..."

​Arka merangkul tubuh istrinya erat-erat, mencium puncak kepala Kinanti penuh rasa cinta

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!