Indonesia
NovelToon NovelToon
Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Keluarga Suamiku Adalah Masalahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ovelia.shin

Nadira menikah dengan Arga karena percaya bahwa laki-laki itu akan menjadi tempatnya pulang. Namun setelah menikah, ia sadar bahwa yang ia nikahi bukan hanya Arga—melainkan seluruh keluarganya.
Ibu mertua yang selalu merasa berhak mengatur kehidupan mereka. Adik ipar yang iri dan gemar mengadu domba.

Akankah Nadira tetap bersabar menghadapi sikap keluarga suaminya.Sementara Arga sang suami tak bisa bersikap tegas.Karena baginya Nadira dan keluarga sangat penting bagi hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ovelia.shin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Menantu yang Harus Mengerti

Suara azan subuh baru saja selesai ketika Nadira membuka mata.

Ia menoleh ke samping.

Kosong.

Arga sudah tidak ada di tempat tidur.

Nadira segera bangun dan mengambil wudu. Setelah selesai salat, ia berjalan menuju dapur.

Rumah masih sunyi.

Ia membuka kulkas dan mulai menyiapkan sarapan.

Telur, sayur, dan beberapa lauk sederhana.

“Semoga Ibu suka,” gumamnya.

Nadira baru saja selesai menata meja ketika suara langkah kaki terdengar dari arah ruang tengah.

“Nadira.”

Ia menoleh.

Ibu mertuanya berdiri di ambang pintu.

“Sudah selesai?”

“Sudah, Bu.”

Wanita itu melihat meja makan.

“Cuma ini?”

Nadira terdiam.

“Maaf, Bu. Saya belum tahu Ibu biasanya sarapan apa.”

“Kalau menjadi istri, harus tahu sendiri.”

Nadira menunduk.

“Iya, Bu.”

“Besok buat lebih banyak. Arga suka makanan yang berkuah.”

“Baik.”

“Dan jangan terlalu banyak garam.”

“Iya.”

“Telurnya jangan seperti ini.”

Nadira melihat telur di meja.

“Kenapa, Bu?”

“Arga tidak suka terlalu matang.”

“Oh…”

Nadira mengangguk.

“Besok saya perbaiki.”

Ibunya menarik kursi dan duduk.

“Setelah sarapan, bersihkan ruang tamu. Kamar mandi juga.”

Nadira mengerjapkan mata.

“Semua kamar mandi, Bu?”

“Memangnya di rumah ini cuma satu?”

"Lalu bagaimana dengan tugas Art bu?" tanya Nadira.

"Itu biar urusan saya,saya yang mengatur artinya di rumah ini.Kamu cukup lakukan sesuai perintah ibu." jelas ibu mertuanya panjang lebar.

Nadira tersenyum kaku.

“Baik.”

Saat itu Arga turun dari tangga.

“Pagi.”

Nadira tersenyum.

“Pagi, Mas.”

Arga duduk di samping ibunya.

“Kamu sudah masak?”

“Sudah.”

Arga mengambil makanan.

“Wah, kelihatannya enak.”

Ibunya langsung berkata,

“Telurnya terlalu matang.”

Arga melihat telur di piringnya.

“Menurutku enak.”

Ibunya menatapnya.

“Kamu selalu membela dia.”

Arga menghela napas.

“Bu, saya cuma bilang enak.”

Nadira buru-buru berkata,

“Tidak apa-apa, Mas. Memang tadi aku belum tahu.”

Ibunya berdiri.

“Setelah ini jangan lupa bersihkan rumah.”

Arga mengangkat kepala.

“Bu, Nadira baru menikah kemarin.”

“Justru karena baru menikah, dia harus belajar.”

“Ibu punya pembantu.”

“Pembantu hanya datang tiga kali seminggu.”

Arga terdiam.

Ibunya berjalan meninggalkan mereka.

Nadira melanjutkan makan dalam diam.

Arga menyentuh tangannya.

“Kamu nggak apa-apa?”

Nadira mengangguk.

“Tidak.”

“Jangan terlalu dipikirkan.”

Nadira tersenyum.

“Aku bisa mengurus rumah.”

“Aku tahu.”

“Lagipula aku memang istrimu,mas.”

Arga menatapnya.

“Jangan sampai kamu merasa harus melakukan semuanya hanya karena Ibu bilang begitu.”

Nadira terdiam.

“Kalau begitu, Mas mau bantu?”

Arga tersenyum.

“Tentu.”

Dua jam kemudian, Nadira sedang mengepel lantai ketika ponselnya berdering.

Arga.

“Halo, Mas?”

“Kamu di mana?”

“Di rumah.”

“Kenapa suaramu seperti capek?”

Nadira melihat ember di sampingnya.

“Sedikit.”

“Sudah makan?”

“Sudah.”

“Jangan terlalu capek.”

Nadira tersenyum kecil.

“Iya.”

Belum sempat melanjutkan pembicaraan, suara ibu mertuanya terdengar dari belakang.

“Nadira!”

“Iya, Bu?”

“Setelah ini tolong cuci pakaian Arga.”

Nadira menutup mikrofon ponselnya.

“Sekarang, Bu?”

“Iya.”

“Tapi lantainya belum selesai.”

“Lantai bisa nanti.”

Nadira menghela napas.

“Iya, Bu.”

Ia kembali berbicara dengan Arga.

“Mas, nanti saja teleponnya. Aku mau lanjut kerja.”

“Kerja apa?”

“Tidak apa-apa.”

“Nadira.”

“Iya?”

“Jangan bohong.”

Nadira terdiam.

“Aku cuma membantu Ibu.”

Arga diam beberapa saat.

“Baik. Nanti aku pulang lebih cepat.”

Sore hari, Arga pulang.

Ia menemukan Nadira sedang duduk di dapur dengan wajah lelah.

“Dir.”

Nadira menoleh.

“Mas sudah pulang?”

Arga menghampirinya.

“Kamu kenapa?”

“Capek sedikit.”

Arga melihat tangannya.

Kulit tangannya memerah karena terlalu lama terkena air.

“Kamu mencuci pakaian?”

Nadira mengangguk.

“Pakaian siapa?”

“Punya Mas.”

“Kenapa?”

Nadira tersenyum kecil.

“Ibu yang minta.”

Arga terdiam.

“Semua?”

“Iya.”

“Termasuk pakaian Ibu?”

“Bukan.”

Arga menarik napas.

“Aku sudah bilang kamu jangan melakukan semuanya.”

“Aku tidak keberatan.”

“Tapi aku keberatan.”

Nadira menatapnya.

“Mas…”

“Hm?”

“Aku tidak mau membuat masalah dengan Ibu.”

“Aku tahu.”

“Jadi biarkan aku belajar.”

Arga mengusap rambutnya.

“Kamu terlalu baik.”

Dari ruang tengah, suara ibunya terdengar.

“Arga!”

Arga menoleh.

“Iya, Bu?”

“Ke sini sebentar.”

Arga berdiri.

“Nanti kita bicara.”

Nadira mengangguk.

Arga berjalan ke ruang tengah.

Beberapa menit kemudian terdengar suara mereka.

Awalnya pelan.

Kemudian semakin jelas.

“Ibu cuma meminta bantuan Nadira.”

“Tapi dia sudah seharian bekerja.”

“Dia istrimu. Wajar kalau dia mengurus rumah.”

“Ibu punya pembantu.”

“Pembantu bukan alasan seorang istri malas.”

Nadira yang mendengar dari dapur langsung terdiam.

Kemudian suara Arga terdengar lebih rendah.

“Jangan bicara begitu tentang Nadira.”

Nadira menahan napas.

Untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah itu, ia merasa sedikit lega.

Mungkin Arga benar-benar akan berdiri di sisinya.

Namun beberapa detik kemudian, suara ibunya kembali terdengar.

“Kalau kamu terus membela istrimu seperti ini, suatu hari dia akan membuatmu lupa pada keluargamu sendiri.”

Hening.

Lama sekali.

Kemudian terdengar suara Arga.

“Tidak akan, Bu.”

Nadira menunduk.

Tanpa mereka sadari, dari balik pintu dapur, seseorang sedang berdiri dan mendengarkan semuanya.

Nadira.

Dan malam itu, ia mulai menyadari satu hal.

Di rumah ini, menjadi istri Arga ternyata tidak cukup.

Ia juga harus mendapatkan izin untuk menjadi bagian dari keluarganya.

Dan Nadira belum tahu…

bahwa seseorang di rumah itu sama sekali tidak berniat menerimanya.

1
tanjiro azuma
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!