Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
Pintu lift terbuka dengan suara denting pelan di lantai dasar khusus parkir VIP Grand Plaza.
Ardi melangkah keluar dengan setelan jas biru dongker barunya yang pas di badan.
Aroma karet ban dan pendingin ruangan langsung menyapa indera penciumannya.
Mata Ardi menyapu deretan mobil mewah yang terparkir rapi di area eksklusif tersebut.
Ada Porsche, Mercedes-Benz, dan beberapa BMW keluaran terbaru milik para petinggi perusahaan.
Namun mata Ardi langsung tertuju pada sebuah siluet hitam mengkilap di sudut ruangan yang paling terang.
Itu adalah Ferrari SF90 Stradale berwarna hitam pekat yang terlihat seperti monster buas yang sedang tertidur.
Desain bodinya yang aerodinamis dan sangat agresif membuat semua mobil di sekitarnya terlihat seperti mainan anak-anak.
"Luar biasa, ini jauh lebih keren daripada melihat fotonya di internet," gumam Ardi sambil berjalan mendekati mobil seharga belasan miliar tersebut.
Ardi mengeluarkan kunci pintar berlogo kuda jingkrak dari saku jasnya.
Dia menekan tombol buka kunci dengan ibu jarinya yang sedikit gemetar karena gugup.
Pip pip!
Suara alarm mobil berbunyi pelan disusul dengan lampu depan yang berkedip menyala tajam.
Pintu mobil terbuka ke atas secara otomatis dengan suara hidrolik yang sangat halus.
Ardi tidak bisa menahan senyum lebarnya saat melihat interior mobil yang didominasi warna kulit merah dan serat karbon.
Dia segera masuk dan duduk di kursi kemudi yang terasa sangat nyaman memeluk tubuhnya.
Aroma kulit asli yang mahal langsung memenuhi rongga hidungnya.
"Mari kita dengar suara monster ini," ucap Ardi sambil meletakkan jarinya di tombol mesin berwarna merah pada setir kemudi.
Vroom!
Suara raungan mesin V8 terdengar menggelegar memenuhi seluruh area parkir VIP.
Suaranya begitu keras dan buas sampai-sampai beberapa alarm mobil di dekatnya ikut berbunyi merespon getaran tersebut.
Ardi tertawa lepas merasakan getaran tenaga mesin yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Ini baru yang namanya hidup," batin Ardi sambil memegang setir kemudi dengan erat.
Dia memindahkan tuas transmisi dan menginjak pedal gas secara perlahan.
Ferrari hitam itu meluncur keluar dari area parkir VIP dengan sangat mulus dan anggun.
Beberapa satpam yang berjaga di pintu keluar parkir langsung menunduk hormat saat mobil Ardi lewat.
Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa pengemudi di dalamnya adalah pemuda berkaos lusuh yang tadi pagi mereka larang masuk.
Ardi mengemudikan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang mulai padat di siang hari.
Hujan sudah berhenti dan sinar matahari memantul indah di bodi hitam mengkilap mobilnya.
Semua mata pengguna jalan langsung tertuju pada Ferrari SF90 milik Ardi.
Para pengendara motor menoleh hingga leher mereka nyaris berputar, sementara pengemudi mobil lain menjaga jarak aman karena takut menyenggol.
"Ternyata begini rasanya menjadi pusat perhatian karena uang," gumam Ardi sambil tersenyum sinis di balik kaca film mobilnya yang gelap.
Di sebuah persimpangan lampu merah yang cukup besar, Ardi menghentikan laju mobilnya di barisan paling depan.
Dia menyalakan musik klasik dari sistem audio premium mobilnya untuk bersantai.
Tiba-tiba, sebuah sedan hitam keluaran Eropa berhenti tepat di sebelah kiri mobil Ardi.
Sedan itu cukup mewah untuk ukuran pekerja kantoran, namun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Ferrari Ardi.
Kaca jendela sedan sebelah kiri itu terbuka setengah.
Sayup-sayup Ardi bisa mendengar suara obrolan sepasang pria dan wanita dari dalam sedan tersebut.
"Lihat mobil di sebelah kanan kita sayang, itu Ferrari SF90 terbaru," ucap suara pria dari dalam sedan dengan nada penuh kekaguman.
"Wah iya, keren banget ya bentuknya," balas suara wanita dengan nada manja yang sangat familiar di telinga Ardi.
"Harganya pasti lebih dari lima belas miliar," lanjut pria itu lagi.
"Kapan ya aku bisa beli mobil seperti itu untuk kita?"
"Kamu pasti bisa sayang, kamu kan sekarang sudah jadi manajer," ucap wanita itu penuh harap.
"Tidak seperti si Ardi miskin itu yang cuma bisa naik motor butut."
Mendengar namanya disebut, tubuh Ardi seketika menegang di kursi kemudinya.
Dia menoleh ke sebelah kiri dan menajamkan pandangannya menembus kaca jendela sedannya yang terbuka.
Benar saja, itu adalah Bagas dan Siska.
Keduanya sedang duduk di dalam sedan hitam dengan wajah penuh tawa seolah dunia ini milik mereka berdua.
"Hahaha, jangan sebut nama pecundang itu di depanku sayang," tawa Bagas meledak.
"Mengingat wajah melasnya tadi pagi di kafe membuatku ingin muntah."
"Iya ih, untung aku cepat sadar dan putusin dia," timpal Siska sambil menyandarkan kepalanya di bahu Bagas.
"Kalau tidak, sampai mati aku akan hidup miskin di kosan sempit bersamanya."
"Sekarang kamu sudah aman bersamaku," ucap Bagas sombong sambil mengelus rambut Siska. "Aku bisa membelikanmu apa saja yang kamu mau."
Ardi mencengkeram setir kemudinya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Amarah yang tadi pagi sudah mereda kini kembali mendidih di ubun-ubunnya.
"Sistem, turunkan kaca jendela sebelah kiri," perintah Ardi secara lisan pada fitur suara pintar di mobilnya.
Wush.
Kaca jendela Ferrari hitam itu perlahan turun hingga terbuka penuh.
Bagas yang sedang asyik memamerkan kemesraan langsung menoleh karena terkejut melihat kaca mobil hiper mewah di sebelahnya terbuka.
Dia mengira pengemudi kaya raya itu ingin menyapanya.
Bagas sudah menyiapkan senyum paling sopan dan menjilat untuk menyapa sang miliarder.
Namun senyum di wajah Bagas seketika membeku menjadi kaku seperti patung batu.
Mata Bagas terbelalak lebar seakan mau copot dari rongganya.
Mulutnya menganga lebar tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.
Siska yang penasaran ikut menoleh ke arah jendela mobil Ferrari tersebut.
Reaksi Siska jauh lebih parah, wajahnya langsung pucat pasi seperti baru saja melihat hantu di siang bolong.
"A-Ardi?" panggil Siska dengan suara bergetar dan terbata-bata. "I-itu kamu?"
Ardi menatap mereka berdua dengan pandangan sangat dingin dan merendahkan.
Setelan jas biru dongker mahalnya membuat penampilannya terlihat seperti eksekutif muda papan atas.
"Kenapa? Kalian terkejut melihat pecundang miskin ini menyetir Ferrari?" tanya Ardi dengan nada santai namun mematikan.
"B-bagaimana mungkin?" gumam Bagas yang masih tidak percaya dengan penglihatannya.
"Mobil ini harganya belasan miliar, kamu pasti menyewanya kan!"
"Ya, dia pasti menyewanya pakai uang pinjaman online untuk pamer di depan kita sayang!" timpal Siska mencoba menyangkal kenyataan pahit di depannya.