"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#34
Niat Orion Leander Ashford untuk melangkah keluar dari ruangan kerja Reynal Space buyar seketika. Tepat saat jemarinya menyentuh gagang pintu besi bersandi, sirine darurat di dalam markas mendadak melolong nyaring.
Lampu merah berkedip-kedip cepat di sepanjang langit-langit koridor, memantulkan sinyal bahaya tingkat tertinggi.
BAAANG!
Suara ledakan keras bergemuruh dari arah gerbang depan markas, digantikan oleh suara rentetan tembakan otomatis yang memecah keheningan pagi Brooklyn.
Reynal Space melangkah cepat ke arah monitor pengawas di balik meja kerjanya. Wajahnya yang semula tenang seketika memucat tajam saat melihat puluhan personel berseragam taktis hitam-hitam—gabungan anggota CIA dan FBI—telah memblokir seluruh area luar.
Informasi intelijen yang membocorkan bahwa penggerebekan baru akan terjadi sore nanti ternyata sebuah distorsi taktik yang sengaja disebarkan. Para agen terlatih itu melancarkan serangan kejutan pada pukul delapan pagi secara mendadak, menghantam markas tepat saat pertahanan internal belum sepenuhnya siap.
"Keparat!" umpat Reynal seraya membuka laci meja bawahnya dan mengeluarkan dua pucuk senjata otomatis berkaliber tinggi. "Mereka tidak membuang waktu!"
Melalui mikrofon sistem komunikasi markas, suara Reynal bergema keras dan tanpa keraguan kepada seluruh anak buahnya.
"Dengar semuanya! Melawan sekarang atau mati konyol di tempat! Tembak siapa pun yang mendobrak masuk!"
Lean membelalakkan matanya, mengumpat habis-habisan seraya mengacak rambutnya kasar. "Sialan! Mimpi apa aku semalam?! Kenapa aku harus berada di tempat bangkai ini di pagi hari?!" teriak Lean frustrasi.
Pria Ashford itu memutar tubuhnya, bermaksud menerobos lorong evakuasi darurat menuju pintu belakang untuk meloloskan diri. Ia sama sekali tidak berniat terlibat dalam pertempuran hukum ini, terlebih karena ia harus menjaga identitasnya tetap bersih. Namun, baru dua langkah Lean melangkah, Reynal menyambar bahu tegapnya dan menahannya dengan cengkeraman kuat.
"Kau ingin lari?" cetus Reynal seraya melemparkan satu pucuk pistol ke dada Lean. "Maaf, Brother. Kau harus tetap di sini! Jika aku sendiri, tentu sulit menahan gempuran serentak CIA dan FBI ini. Tapi kalau bersamamu... aku bahkan bisa mendaki Gunung Everest hanya dalam kedipan mata!"
Lean menepis tangan Reynal dengan kasar, mendelik tajam pada sahabatnya itu dengan urat leher yang mengeras. "SIALAN KAU! Ayo cepat bergerak!" perintah Lean akhirnya, naluri tempur berdarah dinginnya seketika menyala.
Lean melangkah barisan depan, memberikan instruksi taktis beruntun pada belasan anak buah Reynal yang telah bersiap baku tembak di balik pilar-pilar beton. "Dua orang di barikade kiri! Jangan biarkan mereka menguasai pintu masuk utama! Sisanya buat garis pertahanan kedua!"
DOR! DOR! DOR!
RATATATATAT!
Baku tembak dahsyat meledak di lantai dasar. Bau mesiu yang menyengat dan asap tebal seketika memenuhi udara. Peluru-peluru berkaliber tinggi berseliweran menembus dinding gypsum, memecahkan pecahan kaca dan debu beton di mana-mana. Anak buah Reynal melepaskan tembakan gencar untuk menahan gelombang masuk pasukan taktis yang mencoba mendobrak pintu besi.
Sementara itu di luar markas, barikade mobil lapis baja tim gabungan telah mengepung seluruh perimeter bangunan. Suara klakson darurat dan instruksi komando bergema bersahut-sahutan di udara pagi.
Di sisi timur bangunan, Pearl Glow Hurt berdiri kokoh dengan rompi taktis anti-peluru bertuliskan SPECIAL AGENT, helm tempur, dan senapan serbu terpasang mantap di dadanya. Karakter lembut dan manja seorang istri telah menguap sepenuhnya, berganti menjadi sosok agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan mata cokelat yang tajam dan presisi.
Di sampingnya, Mark—seorang agen senior berpengalaman—memeriksa indikator pengukur suhu thermal pada layar tabletnya.
"L, tim utama sudah mengalihkan perhatian mereka di pintu depan," bisik Mark keras di tengah suara dentuman senapan. "Bagian kita adalah menerobos masuk dari pintu servis samping barat. Area itu minim penjagaan, tapi sangat vital untuk memotong jalur pelarian mereka!"
"Dimengerti, Senior!" sahut Glow mantap. Ia mengokang senapannya dengan satu gerakan cekatan. "Tim dua, bergerak di belakangku!"
"Ingat, target utama kita adalah Reynal Space hidup atau mati!" tegas Mark seraya memberi isyarat tangan. "Tembak di tempat jika ada perlawanan bersenjata!"
Glow mengangguk cepat. Dengan langkah-langkah taktis yang cepat dan senyap, Glow memimpin sub-tim empat orang menyusuri lorong samping gudang. Begitu berada di depan pintu baja samping, salah satu anggota tim memasang peledak kecil pada engsel pintu.
BOM!
Suara ledakan terkendali merobek pintu samping. Asap putih membumbung tinggi saat Glow menjadi orang pertama yang menerobos masuk ke dalam lorong bagian barat markas.
"Pria di sebelah kanan! Freeze!" teriak Glow nyaring saat mendapati dua orang penjaga bersenjata mencoba melepaskan tembakan.
DOR! DOR!
Tembakan presisi dari senapan Glow menembus bahu dan paha kedua penjaga tersebut sebelum mereka sempat menarik pelatuk. Kedua pria itu ambruk meringis kesakitan, dan dengan cepat dilumpuhkan oleh anggota tim di belakang Glow.
"Sektor barat aman!" seru Glow melalui radio komunikasinya. "Kami masuk lebih dalam menuju area tangga utama!"
Di lantai atas, udara kian dipenuhi asap tebal. Lean dan Reynal bergerak dari balik pilar ke pilar, membalas tembakan pasukan FBI yang mulai berhasil merangsek naik dari tangga utama.
Lean melepaskan tiga tembakan beruntun dengan ketepatan luar biasa, menghentikan laju dua anggota taktis di ujung koridor tanpa benar-benar membunuh mereka.
Pria Ashford itu memanfaatkan celah keahlian tempurnya untuk melumpuhkan target demi meminimalkan korban jiwa di pihak aparat, sementara pikirannya terus berputar mencari jalan keluar secepat mungkin.
"Mereka sudah menguasai lantai dasar, Orion!" teriak Reynal dari balik dinding seraya mengisi ulang amunisi pistolnya. "Jalur depan tertutup total!"
"Pintu servis barat!" balasan Lean keras di sela deru tembakan. "Kita turun lewat jalur darurat barat sebelum seluruh gedung ini dipasangi garis steril!"
Tanpa mereka sadari, jalur darurat barat yang hendak mereka tuju adalah lorong yang sama yang saat ini sedang disisir dan dikuasai oleh Glow bersama tim taktisnya.
Kedua kubu bergerak saling mendekat di dalam labirin asap dan dentuman mesiu, hanya terpisah oleh beberapa belokan koridor beton.
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍