Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Baru saja Raelyn hendak memejamkan matanya dengan paksa, tiba-tiba suasana di luar gedung tawang berubah mencekam. Angin kencang mendadak bertiup brutal, menghantam kaca jendela besar kamar utama hingga menimbulkan suara berderit pelan. Tak lama kemudian, hujan lebat langsung turun dengan sangat deras, membasahi kota Jakarta di tengah malam.
DUAARRRR!
Sebuah suara petir yang teramat keras dan menggelegar mendadak menyambar di langit malam, membelah keheningan kamar dengan kilatan cahaya putih yang sempat masuk melalui celah gorden. Suaranya begitu dahsyat, seolah-olah petir itu runtuh tepat di atas kepala mereka.
"AAAAKHH!"
Raelyn tersentak kaget setengah mati. Tubuhnya bergetar hebat. Rasa takut yang teramat sangat langsung menguasai seluruh akal sehatnya. Sejak kecil, di balik penampilannya yang tomboi, mandiri, tegas, dan berani memacu motor dengan kecepatan tinggi di jalanan, Raelyn memiliki satu kelemahan terbesar yang selalu dia sembunyikan dari semua orang: dia sangat takut pada suara petir yang menggelegar.
Tanpa mempedulikan rasa gengsinya lagi, Raelyn langsung membalikkan tubuhnya, meringkuk seperti bola di bawah selimut tebal.
"Al... Al, gue takut..." cicit Raelyn dengan suara yang bergetar menahan tangis, tangannya mencengkeram erat ujung selimut hingga buku jarinya memutih.
Alvarez yang melihat perubahan drastis dari istrinya langsung menoleh. Dia bisa merasakan getaran hebat dari tubuh Raelyn yang berada di balik selimut di seberang guling pembatas.
"Cuma petir, Raelyn," ucap Alvarez, mencoba menenangkan dengan suaranya yang datar.
JDHAAARRRR!
Belum sempat kalimat Alvarez selesai, petir susulan kembali berdentum dengan kekuatan yang tidak kalah besar. Raelyn refleks memejamkan matanya rapat-rapat, menutup kedua telinganya dengan tangan, dan membenamkan wajahnya sedalam mungkin ke dalam bantal. Tubuhnya semakin bergetar hebat.
"Ihh! Cuma petir kata lo?! Itu suaranya kencang banget, Al!" kesal Raelyn di sela-sela rasa takutnya, terdengar sangat frustrasi karena suaminya bersikap begitu santai.
Alvarez menghela napas panjang. Menghadapi Raelyn yang sedang dalam mode ketakutan seperti ini membuat naluri pelindungnya sebagai seorang pria langsung mendominasi.
Tanpa berpikir panjang lagi, Alvarez mengulurkan tangannya. Dengan satu sentakan tegas, dia menyingkirkan guling putih yang menjadi batas suci di antara mereka, melempar barang itu hingga terjatuh ke lantai kamar.
Alvarez kemudian menggeser tubuh tegapnya mendekat. Tanpa permisi, dia menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah tubuh Raelyn, menarik gadis yang sedang meringkuk ketakutan itu ke dalam dekapan dadanya yang bidang dan hangat.
Deg.
Raelyn tersentak kaget saat merasakan tubuhnya mendadak ditarik dan dikunci rapat oleh sepasang lengan yang kuat. Dada bidang Alvarez langsung menempel hangat di tubuh, memberikan sensasi nyaman yang begitu luar biasa.
Namun, karena rasa takutnya terhadap suara petir di luar sana jauh lebih besar daripada rasa gengsinya saat ini, Raelyn memilih untuk tidak memberontak. Dia membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan hangat suaminya.
Alvarez menundukkan kepalanya sedikit, mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Raelyn yang masih tertutup rambut acak-acakan.
"Cuma petir... kenapa harus setakut ini sih?" ucap Alvarez dengan nada suara yang melembut, tidak sedingin biasanya.
"Namanya juga orang takut! Gak bisa milih mau takut sama apa!" sahut Raelyn dengan suara teredam bantal, napasnya masih memburu.
Mendengar jawaban ketus yang keluar dari seorang gadis yang saat ini sedang menempel erat di tubuhnya seperti perangko, sudut bibir Alvarez kembali melengkung. Jiwa jahilnya lagi-lagi terusik untuk menguji ketahanan mental istrinya.
Alvarez sedikit mempererat pelukannya, membuat tubuh mereka tidak menyisakan jarak sama sekali.
"Atau... jangan-jangan sebenarnya kamu cuma modus ya? Kamu sengaja pake alasan takut petir ini supaya bisa peluk aku malam ini?" goda Alvarez dengan nada suara yang teramat santai namun sarat akan maksud menggoda.
Wajah Raelyn yang tadinya pucat karena takut langsung berubah merona merah akibat kalimat tuduhan dari Alvarez. Rasa gengsinya yang sempat padam mendadak tersulut kembali.
"Ihh! Apaan sih lo?! Enggak ya! Jangan kegeeran deh jadi cowok!" seru Raelyn kesal.
Dengan sisa-sisa kekuatannya, dia menggunakan tangan kirinya untuk mendorong dada bidang Alvarez, mencoba menjauhkan tubuh pria itu.
Namun, kekuatan fisik Raelyn yang sedang terluka tentu saja tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekuatan lengan kokoh sang CEO muda.
Alvarez sama sekali tidak bergeser satu milimeter pun. Dia justru menahan tangan Raelyn yang berada di dadanya, menggenggam jemari kecil istrinya itu dengan erat.
"Berani balapan liar di jalanan sampai dikejar polisi, tapi giliran dengar suara petir langsung nangis ketakutan di bawah selimut. Padahal kalau dipikir pakai logika... jauh lebih berbahaya balapan daripada cuma dengar suara alam," ucap Alvarez pelan, memberikan analisis matematisnya yang menyebalkan di tengah malam.
Raelyn mengerucutkan bibirnya sebal, akhirnya berhenti mendorong dada Alvarez karena tenaganya sudah habis.
"Ya... ya itu beda tahu! Kalau balapan kan gue yang pegang kendali motornya, jadi gue gak takut. Kalau petir kan munculnya tiba-tiba, gak bisa ditebak! Nyebelin banget sih lo malah dibanding-bandingin!" cerocos Raelyn membela diri dengan teorinya yang aneh.
Alvarez tidak membalas lagi ucapan ngeyel dari istrinya. Dia hanya terkekeh rendah sebuah suara tawa kecil yang begitu hangat dan bergetar di dadanya, merambat langsung ke dalam tubuh Raelyn yang bersandar di sana.
Alvarez kembali menarik tubuh Raelyn ke dalam pelukannya, memosisikan kepala gadis itu agar bersandar dengan nyaman di bawah dagunya, sementara tangan kanannya mengusap-usap rambut cepol Raelyn dengan gerakan yang teramat lembut dan teratur.
"Yaudah, sekarang tidur." ucap Alvarez tenang, sebuah kalimat penenang yang terdengar sangat konyol namun entah mengapa terasa sangat meyakinkan jika keluar dari mulut seorang Alvarez Arran Danadiaksa.
Raelyn terdiam di dalam dekapan itu. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, rasa takutnya terhadap suara petir mendadak sirna begitu saja, digantikan oleh rasa aman dan kehangatan yang luar biasa yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Detak jantung Alvarez yang terdengar konstan dan kuat di bawah telinganya seolah menjadi melodi penenang yang jauh lebih kuat daripada suara badai di luar jendela.
Perlahan-lahan, ego dan sifat keras kepala Raelyn runtuh sepenuhnya malam itu. Tangan kiri Raelyn yang bebas perlahan bergerak naik, membalas pelukan Alvarez dengan melingkarkannya di pinggang tegap suaminya.
Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Alvarez, menghirup dalam-dalam aroma parfum maskulin yang kini terasa sangat candu baginya.
"Makasih ya, Al..." cicit Raelyn sangat pelan, suaranya hampir tidak terdengar di tengah deru suara hujan.
Alvarez tidak menjawab dengan kata-kata, namun dia mempererat pelukannya di bahu Raelyn, memberikan kecupan kecil yang sangat samar di pucuk kepala istrinya sebagai jawaban.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang kini terasa sangat menenangkan. Ritme napas Raelyn yang tadinya memburu perlahan-lahan mulai berubah menjadi teratur dan dalam.
Rasa lelah karena menahan sakit di kakinya sejak siang, ditambah dengan kelelahan emosional akibat insiden semalam, akhirnya membuat pertahanan mata Raelyn runtuh. Gadis tegas dan mandiri itu akhirnya terlelap dengan sangat damai di dalam dekapan hangat sang suami.
Hujan di luar masih terus mengguyur kota dengan deras, namun suasana di dalam kamar utama itu terasa begitu damai dan hangat.
Alvarez yang masih terjaga sepenuhnya perlahan melonggarkan pelukannya sedikit agar Raelyn bisa bernapas dengan lebih lega, namun dia tetap mempertahankan posisi tangan kanannya yang melingkar protektif di pinggang istrinya.
Alvarez menundukkan kepalanya, menatap wajah Raelyn yang kini sudah terlelap di dalam dekapannya. Di bawah temaram cahaya lampu tidur, wajah polos Raelyn yang sedang tertidur tampak begitu tenang dan cantik natural. Bibir tipisnya sedikit terbuka kecil, dan napas hangatnya yang teratur terasa menerpa permukaan kulit dada Alvarez yang tidak tertutup kaos.
Melihat sosok gadis yang biasanya selalu memasang wajah galak, tegas, mandiri, dan gemar berdebat dengannya dengan kata 'lo-gue' itu kini mendadak bersikap sangat tenang dan pasrah di dalam pelukannya, sebuah perasaan aneh yang teramat manis mendadak membuncah di dalam dada Alvarez. Rasa ingin melindungi dan memiliki gadis ini seutuhnya terasa berkali-kali lipat lebih kuat daripada sebelumnya.
Pernikahan ini mungkin memang dimulai karena sebuah keterpaksaan bisnis dan utang budi di atas selembar kertas. Namun malam ini, di atas ranjang ini, Alvarez tahu betul bahwa hatinya sudah tidak lagi peduli pada isi kontrak tersebut. Dia sudah jatuh hati sepenuhnya pada sosok mahasiswi keras kepala yang berada di dalam dekapannya ini.
Alvarez menyunggingkan senyuman tulus yang sangat tampan di kegelapan kamar. Tangannya bergerak sangat pelan, menyelipkan beberapa helai anak rambut Raelyn yang berantakan ke belakang telinganya dengan penuh kasih sayang.
"Lucu banget sih kamu kalau lagi tidur begini... gak berisik," gumam Alvarez sangat pelan dengan suara baritonnya yang serak karena kantuk, menatap wajah istrinya dengan pandangan yang dipenuhi binar cinta yang teramat dalam.
Tak tahan melihat kegemasan istrinya, Alvarez perlahan mendekatkan wajahnya. Dengan gerakan yang teramat lembut dan hati-hati agar tidak mengusik tidur nyenyak sang gadis, Alvarez mendaratkan sebuah kecupan hangat yang cukup lama di kening Raelyn.
Sebuah kecupan penuh ketulusan yang menjadi segel tak terlihat bahwa mulai malam ini, dia tidak akan pernah melepaskan kebebasan gadis ini kepada pria manapun di dunia ini.
Setelah memberikan kecupan itu, Alvarez menyandarkan kembali kepalanya di atas bantal, mengeratkan pelukannya di tubuh Raelyn, dan perlahan-lahan ikut memejamkan matanya dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya.
Malam itu, di tengah badai dan petir yang mengamuk di luar sana, dua orang yang awalnya saling menolak itu akhirnya menemukan kedamaian sejati di dalam pelukan satu sama lain.