Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kenyataan yang sulit untuk diterima 1
Tengah malam, setelah 1 jam berlalu di dalam bis yang senyap. Suara hembusan mulai nafas terdengar, penumpang lain tidur dengan nyaman. Bahkan ada yang sampai ngorok. Namun tak lama lagi hujan akan turun dan membungkam semuanya.
Ratusan rintik mulai menimpa lempeng body dan kaca bis. Aku segera memandang ke luar jendela, berhembus. Di luar gelap sekali, serasa mobil ini lagi-lagi tengah melaju di jalan dekat pemukiman desa. Hanya puluhan lampu yang terlihat. Itu pun di jarak yang jauh sekali dari posisi mobil saat ini.
Ila tidak menonton kartun kali ini. Dia tampak sedang mengetik dengan ponselnya. Mungkin sedang bertukar pesan bersama orang tuanya. Tapi aneh saja orang tua anak itu masih online tengah malam seperti ini.
“kau tidak bisa tidur juga ya?” Aku membuka mulut. Satu jam sebelumnya ku isi dengan menonton video di ponsel. Dan Sekarang baterainya habis. (Aku sangat menyesal)
“Aku?” Ila menoleh. “aku memangnya sering ga tidur malam”
“Ouh” aku perlahan manatap langit-langit mobil. Bingung karena aku juga tidak mengantuk sama sekali. Bertambah pula hal aneh pada perjalananku ini.
Namun aku teringat sesuatu. Saat sebelum aku bertemu Ila di dalan bis, dia bersama dua laki-laki. “kau ke tempat agen bis dengan siapa?” Tanyaku.
Ila menoleh lagi. “Bareng saudara bang, kenapa nanya itu?”
“aku sebenarnya pernah melihatmu sebelum perjalanan” Aku membalas. Suaraku menyatu dengan rintikan hujan deras di luar sana. Hujan deras melanda di tengah perjalanan saat ini.
“hah?! Masa?” Ila sedikit terperangah. Tertarik menungguku melanjutkan.
Aku menaikkan pupil ke langit-langit lengang. Seakan sambil berfikir. “kau pernah duduk di sebuah masjid bersama saudaramu itu sebelum naik ke bis. Aku mengetahuinya karena aku sholat di sana”
“Eh iya.. Tapi aku kok ga lihat kamu?” Tanya Ila.
“Lah kamu aja fokus main hape” balasku singkat.
Ila terdiam sejenak. Suasana memang sepi. Semua penumpang di dalam bis sudah tidur, hanya sisa kami berdua yang masih segar matanya.
“Tapi mereka tidak ikut bang. Cuman mau nganterin ke tempat bis doang. Sisanya mereka percaya jika aku bisa menjaga diri sendiri” ujar Ila meleburkan suasana. Akhirnya, aku mulai bisa menggali informasi darinya.
“lah mereka ga ikut kamu ke Jakarta?” Heran aku…
“Iya. Mereka tetap di Lasem” Balasnya.
Aku terdiam. Menunggu Ila melanjutkan.
Ila menyeringai pasi. “aku udah sering kayak gini bang”
Senggang sejenak. Kedengarannya memang biasa saja. Mungkin Ila sedang ingin berlibur di rumah keluarganya di Jakarta.
Hujan terdengar semakin deras, tidak mau kalah suaranya. Ila menatap ke luar sekejap. Gelap. Aku terkadang melirik Ila. Bukan ingin aneh-aneh. Aku harus tau apa yang terjadi dengan gadis ini.
Ila melepas ponselnya sejak di ajak ngobrol barusan. Mungkin ada maksudnya.
“Kau udah block nomorku?” Aku iseng bertanya, memancing. Teringat beberapa jam sebelumnya Ila memintaku untuk save nomornya.
Yang diajak bicara menoleh terkesima “eh. Beneran ya? Kukira bercanda. Yaudah bentar. Ini mau aku block” Ila segera mengangkat ponselnya. Layar pun menyala.
Rasanya lumayan rumit jika menimbang keadaanku sekarang, aku harus menolongnya. Tapi kenapa harus aku ya? Baru sadar jika ada pertanyaan tersebut.
Mungkin Ila pengecualian. “baiklah.. Kau boleh save nomorku” ucapku.
Ila terkesima lagi. “eh yang bener” dia mulai tersenyum tipis, canggung.
Aku mulai berfikir. Aku tahu ini pilihan yang kontroversi dengan prinsip dan reputasi santriku. Tapi mau bagaimana lagi. Jin yang sebelumnya menemui ku begitu serius mengatakan ini, itu. Sampai bawa nama Allah. Di mana aku juga harus cermat dalam keadaan
Anggap saja Ila ini seorang tawanan perang beragama Islam yang harus kubebaskan dari kejaran orang kafir, --setelah mengetahui apa yang sedang terjadi pada gadis ini.
Baiklah, bisa di bilang begitu. Walau sebenarnya agak rancau karena di sini masih banyak orang yang lebih mampu membantu Ila. Tapi entah mau apa tidak.
Anak itu seperti kegirangan sekarang. Lihatlah, Ila mulai spam chat. Padahal ponselku mati ke habisan batrai.
“balaslah..” Ujarnya.
Aku terbahak. “Ponselku mati”
“yah..”
Aku terdiam sebentar. Mulai memikirkan sesuatu. “kau berarti sedang berlibur ya?” Tanyaku.
“Tidak. Aku masih harus sekolah sebenarnya” jawab Ila. “tapi..”
Ila terdiam, agak menunduk.
“Tapi apa?”
Ila lantas mengangkat kepalanya. Mulai tersenyum. “bisa di bilang gitu sih bang. Aku libur sendiri. Tapi izin”
Hah? Izin. “ada ke perluan keluarga di jakarta?” Tanyaku lagi.
“iyah.. Heheh” Ila cengingisan.
“lah kamu bilang ke pamanmu. Mau sekolah di sana?”
“aku bilang mencari pengetahuan kan?” Balas Ila.
Masuk akal sih. Tapi kesannya aneh.
"Yakin hanya itu?"
Ila mengangguk. "Ya, apa lagi menurutmu?"
Hening, menatap tenang ke arah Ila. Jin sebelumnya dia punya masalah?
"Aku dengar kau punya sedikit masalah" aku refleks bertanya. Aku memang bodoh. Mana mau Ila memberitahuku. Namun cobalah, ini menjadi kemajuan signifikan jika Ila menjawab sebenarnya. Tapi mana mungkin.
Ila terdiam. Seketika menunduk.
Waduh dia malah tersinggung. “eh kalau keberatan gakpapa.. Lupakan saja”
Ila masih terdiam. sementara aku menahan nafas, mengkhawatirkan sesuatu.
“Gak papa, bang. Aku sudah terlanjur percaya sama kamu. Kau juga sepertinya sudah di beri tahu orang itu. Kau boleh mendengar kan semuanya” Ila membuka mulut. Suaranya terdengar pelan. “Tapi aku yakin kau tidak akan bisa membantuku. Aku sudah pasrah”
Aku benar-benar bergidik seketika. Jadi semua yang di katakan Jin itu akan benar mulai sekarang.
“Aku sebenarnya dari tadi komunikasi dengan Jin yang kau temui beberapa jam yang lalu” lanjut Ila. Dia mulai menaikkan kepalanya. “soal kau tiba-tiba lemas. Aku minta maaf ya. Itu efefk Jin tersebut. Kharisma nya besar, sampai sampai itulah yang terjadi”
Aku tertahan. Bingung hendak bicara apa?. Tapi nada kata Ila masih terdengar rendah. Seperti sedang tertekan.
Ila menatap ke luar jendela. “Sebenarnya jin ini sudah melakukan hal yang sama dengan semua anggota keluargaku. Tapi mereka.. Mengabaikanku”
Aku turut prihatin. Ini baru nasib pertama yang kudengar dari Ila. “Sebenarnya apa yang terjadi. Kata jin itu kau sedang dalam masalah. Dan jika Tuhan berkehandak, aku bisa membantumu” Langsung to the point saja.
“Kau tidak akan bisa. Maaf aku bilang begini karena aku memang paham sekali situasinya. Aku tidak mau orang lain ikut sengsara” balas Ila. Suaranya terdengar sedih.
“Hey gapapa.. Aku bakalan bantu sebisaku” aku coba luluhkan gadis itu lagi.
Ila berhembus. “Aku sebenarnya sedang menjadi buronan saat ini. Tapi tidak ada yang tahu selain dirimu”
“Hah?” Yang benar saja. Eh.. Malah jadi lelucon loh. “kau sedang bercanda. Buronan?” Aku terbahak kecil. Tetap menjaga volume suara. “Emangnya kamu ngapain?” Dari tampangnya saja bukan kriminal. Mana bisa sih.
“Kau jangan mengira aku melanggar peraturan negara.. Atau melakukan tindakan kriminal. Aku anak baik. Bukan monster. Namun aku jadi buronan atas keamanan negara karena dianggap berbahaya” Balas Ila sedikit mengkerut.
Aku hampir tidak bisa menahan volume tertawa karena ditambah satu ini. Apalagi membayangkan kata ‘aku ini berbahaya'. Berbahaya apa hey?
Demi melihat reaksi ku. Ila menggerutu. “yasudah jika tidak percaya mah.. Aku sudah bilang yang sebenarnya” Gadis itu cemberut di tempatnya.
Suasana mulai surut. Hujan juga mereda di luar sana. Aku berhenti tertawa. "Dari mana kau tahu kalau dirimu berbahaya"
“Aku tidak tahu pasti. Pada awalnya, dua tahun yang lalu kakakku memberitahuku jika aku sedang diburon keamanan negara. Aku pun di perintah untuk berdiam di rumah terus, bersembunyi, sembari terus mencari-cari informasi dalam internet seputar figur buron mereka terhadap diriku. Dan akhirnya juga menemukan surat keputusan ketua keamanan untuk memburu gadis berkategori khusus. Dan namaku tertera di sana beserta penjelasan bahwa aku dianggap berpotensi memberikan ancaman berbahaya. Aneh, padahal aku cuma gadis biasa.” Balas Ila. Wajahnya tampak serius.
“Lah lebih aneh lagi, kau malah berpergian” Aku menjanggal
“Entahlah, aku tidak tahu. Aku tiba-tiba di suruh kakak pergi ke ibu kota”
“Ah, aneh” Aku semakin kritis. “Jika kau buronan kok kamu malah terlihat tenang aja. Mesan dan menggunakan kendaraan umum?”
“Ku bilang aku sudah pasrah!” Ila balik mendesis.
“Ah, bohong ya?..”
“IH bener. Terserah kamu lah” gadis itu mendelik. Memalingkan wajah. “kau menyebalkan, sia-sia aku menceritakan hidupku. Padahal kau sendiri yang minta”
“Lah memang gak logis dan keadaannya juga gak sinkron” Aku membantah. “Udahlah, gak usah aneh-aneh” Aku tersenyum lebar.
Ila tidak membalas, sebal sendiri di tempat.
‘yes’ dalam hatiku. Kukira mengalahkan perempuan itu sulit.
Lengang beberapa saat. Aku mulai mengantuk, Ila? Dia masih merungut menghadap ke luar kaca bis.
Aku tersenyum melihatnya. Haha.
Namun entah apa yang terjadi, tiba-tiba anak itu terisak. Lamunanku terbuyarkan. Seketika sesuatu seakan menggetarkan hatiku.
“Aku bakal mati bang.” Ujarnya tersendat.
Aku terkesima. “Apa? Jangan aneh-aneh kalo ngomong”
Ila masih terisak. Ingin bicara saja tersendat. “Aku dah bilang segalanya bang. Percaya dong, ketua keamanan akhir-akhir ini dengan lantang mengeluarkan surat keputusan baru, isinya; siapapun boleh membunuhku atas dasar keamanan"
Aku tersentak kali ini. Itu sangat berlebihan.
Lengang, aku tidak bisa menanggapi sesuatu.
CTARR!!
Aku dan Ila terkejut. Jendela di atas tempat duduk penumpang depan kami berlubang. Seperti ada yang melempar sesuatu atau menembaknya.
Seseorang yang tidur di sana terbangun. Orang itu segera sadar dan membangunkan orang di sampingnya. Mereka langsung k bingungan.
“Peluru?!” Salah satu diantara mereka menemukan sesuatu.
Aku melirik Ila. Dia belum menyeka air matanya. Gadis itu kemudian mulai mengintip ke luar. Orang-orang yang duduk di bangku depan juga berdiri dan ikut melihat.
Secara bersamaan bis mengurangi kecepatan.
CTARR!
Untuk yang ke dua kalinya sangat mengerikan. Kali ini terbukti peluru tepat mengincar salah satu orang diantara mereka. Orang itu langsung tergeletak.
CTARR! CTARR!
Tembakan susulan. Aku dengan panik menarik kain jaket Ila. Kaca pecah berguguran di atas kepala Ila, dua lubang terbentuk dan membuat permukaan kaca retak.
Orang di depanku sudah histeris berteriak. Seorang wanita tua. Dia secara tidak langsung membangunkan penumpang lain karena suaranya keras sekali.
Ila menatapku. Menyeka air matanya.
Aku juga panik. Keadaan dalam bis berubah mencekam.