"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN YANG TAK DIUNDANG
Haidar baru saja menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran ruang kerjanya yang bernuansa kayu gelap ketika ketukan pintu bernada terburu-buru memecah keheningan. Sebelum ia sempat memberi izin, pintu terdorong buka.
Seorang anak buah kepercayaannya masuk dengan napas sedikit memburu dan raut wajah yang sangat tegang—sebuah pemandangan langka di antara para pengawalnya yang terlatih.
"Maaf mengganggu Anda, Tuan," ucap pengawal itu seraya membungkuk dalam, suaranya sedikit bergetar. "Di bawah... Nona Soraya telah tiba di mansion."
Haidar menaikkan sebelah alisnya. Soraya, adik perempuan satu-satunya yang tinggal di luar negeri, memang dikenal impulsif, tetapi jarang datang tanpa memberi kabar terlebih dahulu.
"Biarkan dia masuk. Kenapa kau terlihat sepanik itu?" tanya Haidar dingin.
Pengawal itu menelan ludah sebelum akhirnya memberanikan diri menatap sang atasan. "Nona Soraya tidak datang sendiri, Tuan. Beliau... membawa Nona Sinta bersama beliau."
Atmosfer di dalam ruang kerja itu seketika membeku.
Cangkir kopi di genggaman Haidar berhenti di udara. Mata gelapnya berkilat berbahaya, memancarkan aura kegelapan yang pekat. Sinta. Nama yang sudah bertahun-tahun ia kubur dalam-dalam—wanita yang menjadi cinta pertamanya sekaligus sosok yang pernah menghancurkan hatinya hingga berantakan dan mengubahnya menjadi pria tanpa belas kasihan.
"Soraya membawa wanita itu ke mansionku?" suara Haidar mengudara, sangat rendah namun berbobot hingga mampu membuat tenggorokan siapa pun tercekit.
"Benar, Tuan. Saat ini Nona Soraya dan Nona Sinta sudah berada di ruang tamu utama," jawab pengawal itu cepat, menundukkan kepala tak sanggup menahan tekanan aura membunuh dari bosnya.
Haidar mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas meja. Di atas sana, di kamar utama, ada Elara yang sedang mengandung anaknya dan siap ia nikahi lusa. Dan kini, masa lalunya yang paling kelam mendadak melangkah masuk melintasi pintu rumahnya.
Haidar berdiri dari kursi kerjanya. Langkah kakinya yang berat dan mantap bergema di sepanjang lorong berlantai marmer, membawa aura dingin yang sanggup membekukan udara di sekitarnya. Rahangnya mengeras rapat, sementara matanya memancarkan ketajaman yang pekat saat ia melangkah menuruni tangga megah menuju ruang tamu utama.
Di bawah, suara tawa riang seorang wanita muda mendadak terhenti begitu sosok Haidar muncul di ujung tangga.
"Kak Haidar!" panggil Soraya, adik perempuan Haidar, seraya berdiri dengan senyum ceria. Namun, senyum itu sedikit memudar saat menangkap raut wajah sang kakak yang begitu kelam dan tidak bersahabat.
Di samping Soraya, seorang wanita bergaun elegan perlahan ikut berdiri. Sinta. Wajah yang dulu sangat dihafal oleh Haidar kini menatapnya dengan bauran rasa bersalah, rindu, dan kecemasan yang membuncah. Pria yang dulu ditinggalkannya dengan luka menganga kini berdiri tegak di hadapannya sebagai penguasa yang tak terjangkau.
Haidar menghentikan langkahnya beberapa meter di depan mereka, bersedekap dada tanpa berniat menyapa. Tatapan matanya yang sedingin es menusuk lurus ke arah Sinta, mengabaikan keberadaan adiknya sejenak.
"Siapa yang memberimu izin membawa orang asing masuk ke dalam rumahku, Soraya?" suara Haidar mengudara, sangat rendah dan penuh penekanan yang membuat suasana di ruang tamu seketika mencengkeram.
Soraya tersentak kecil, memegang lengan Sinta. "Kak, ini Sinta... Dia baru kembali dari luar negeri dan ingin bertemu denganmu. Kenapa Kakak bicara seperti itu?"
Sinta maju satu langkah, bibirnya bergetar saat mencoba memanggil nama pria yang pernah mengisi hatinya. "Haidar... aku..."
"Cukup," potong Haidar tegas, mengangkat satu tangannya. Aura dominasinya membuat kalimat Sinta terputus di udara. "Mansion ini bukan tempat untuk masa lalu. Katakan ada keperluan apa kau datang ke sini, sebelum aku menyuruh pengawalku menyeretmu keluar."