Indonesia
NovelToon NovelToon
Aktris Ceroboh Milik Sang Mafia

Aktris Ceroboh Milik Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadinachomilk

Laluna Roselyn memiliki karier yang sempurna sebagai aktris terkenal, sampai sebuah pengkhianatan menghancurkan hidupnya. Ia memergoki kekasihnya berselingkuh dengan asistennya sendiri. Dalam amarah yang tak terkendali, Laluna menyerang keduanya hingga kejadian itu terekam dan tersebar luas.

Dalam sekejap, citranya hancur. Dunia hiburan berbalik meninggalkannya, dan karier yang ia bangun bertahun-tahun berada di ujung kehancuran karena skandal tersebut.
Saat tidak memiliki pilihan lain, Laluna menerima perjodohan dari ibunya dengan Nathan Adikara, seorang pengusaha kaya yang terkenal dingin, kejam, dan sulit didekati.

Pernikahan mereka seharusnya hanya menjadi kesepakatan untuk menyelamatkan nama Laluna. Namun, hidup bersama Nathan membuatnya menemukan sisi lain dari pria itu. Di balik sikap dinginnya, Nathan ternyata adalah satu-satunya orang yang berdiri di sisinya ketika seluruh dunia menentangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Pergi

Laluna yang baru saja bangun tidur segera menatap sekeliling. Ia terkejut saat mendapati dirinya sudah berada dikamar.

"Apa Nathan memindahkanku?" gumamnya.

Ia segera bangkit menuju ke arah luar, benar saja ia melihat Nathan sudah memakai kemeja putih tengah menyusun makanan di meja makan.

"Sudah bangun?" tanyanya.

Laluna segera mengangguk, ia berjalan menuju ke arah Nathan dan membantu pria itu menata piring di meja. Ia menatap pria itu lekat lekat, ia tidak menyangka pria seperti Nathan mau memasakan makanan untuknya.

"Kamu masak sendiri?" tanyanya.

Nathan hanya mengangguk dan mempersilahkan istri kontraknya itu untuk duduk. Laluna mengambil satu suapan makanan itu perlahan. Matanya sedikit membesar ketika rasa makanan tersebut memenuhi lidahnya. Ia menatap piring di depannya, lalu kembali melihat Nathan yang duduk dengan tenang sambil menikmati sarapannya.

"Enak," ucapnya jujur.

Nathan yang sedang mengambil minum berhenti sejenak. Ia menatap Laluna dengan ekspresi datar.

"Hanya enak?" tanyanya.

Laluna mengerutkan kening. "Memangnya harus bagaimana? Aku bilang enak saja sudah sebuah pujian. Seharusnya kamu berterimakasih karena makananmu dipuji aktris terkenal."

Nathan menghela napas kecil melihat sifat wanita itu yang masih sama seperti biasanya. Bahkan setelah memuji pun, Laluna tetap tidak bisa mengatakannya dengan lembut.

"Terima kasih sudah mengakui kemampuanku memasak," balas Nathan datar.

Laluna tidak peduli, ia segera menyuap semua makanan itu dengan lahap. Terlihat sekali wanita itu begitu kelaparan. Bahkan hampir tersedak.

"Hati hati," ujar Nathan, sambil menyodorkan minuman.

Laluna segera merebut gelas itu dan segera meminumnya dengan cepat. Setelah kenyang ia segera terduduk sambil memegangi perutnya yang mulai membesar.

"Dua hari ini saya akan ke luar kota," ujar Nathan, sambil membereskan piring kotor.

"Ke luar kota? Untuk apa?" tanya Laluna, penasaran.

Nathan membawa beberapa piring kotor menuju dapur. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Laluna, membuat wanita itu semakin memperhatikannya.

"Ada urusan pekerjaan," jawab Nathan singkat.

Laluna mengerutkan kening. "Pekerjaan sampai harus ke luar kota dua hari?Bukankah kamu bos besar kenapa tidak suruh pegawaimu saja."

Nathan mengangguk sambil mulai mencuci piring. "Ini perlu tanda tanganku, kamu jaga diri baik dirumah. Nanti Rina akan saya minta untuk menemanimu."

Laluna bersandar di kursi, memperhatikan punggung pria itu dari kejauhan. Entah kenapa, mendengar Nathan akan pergi membuat suasana hatinya sedikit berubah. Padahal biasanya ia selalu merasa terganggu setiap kali pria itu berada di dekatnya.

" Baiklah," ujarnya, nada suaranya sedikit memelas.

Nathan hanya mengangguk mendengar jawaban singkat Laluna. Ia tidak menyangka wanita itu akan menerimanya dengan mudah. Biasanya Laluna selalu memiliki banyak pertanyaan atau komentar yang membuatnya harus menghela nafas.

Namun kali ini, wanita itu hanya berkata baiklah. Seolah ia merasa tidak peduli dengan kepergiannya selama beberapa hari.

"Saya akan berangkat sekarang," ujar Nathan sambil mengeringkan tangannya.

Laluna yang masih duduk di kursi makan menatapnya dengan wajah yang terlihat sedih.

"Kamu sudah menyiapkan semua barang?"

"Sudah."

"Berapa lama perjalanan?kamu mau pergi kemana? Disana sama siapa?"

Nathan menatapnya sekilas. "Laluna. Saya hanya pergi sebentar ke luar kota."

"Aku tahu, hanya saja aku penasaran," jelasnya.

"Kamu bilang tidak masalah saya pergi."

Laluna langsung terdiam. Ia baru sadar sejak tadi dirinya terus bertanya tentang kepergian Nathan.

"Aku hanya memastikan," jawabnya cepat. "Jangan berpikir aneh. Lagi pula aku senang kalau kamu pergi."

Nathan tidak membalas. Ia hanya mengambil kopernya yang sudah berada di dekat sofa. Melihat itu, Laluna ikut berdiri.

"Aku akan membantu."

Nathan menoleh. "Tidak perlu. Ini berat, kamu ga bakal kuat."

Laluna melepaskan genggamnya dari koper itu, ia masih mengekori Nathan dari belakang seolah ia mau mengantar pria itu pergi. Setelah beberapa bulan tinggal bersama, Laluna mulai merasakan kenyamanan saat tinggal bersama suami kontraknya itu.

Nathan menatap Laluna beberapa detik. Ada sedikit rasa heran melihat wanita itu begitu memperhatikannya.

"Kamu tidak perlu mengantarkan saya sampai keluar," ujar Nathan.

"Aku hanya ingin mengantar," jawab Laluna cepat.

Nathan menghela napas pelan. "Kamu terlihat seperti seseorang yang khawatir. Aku hanya pergi sebentar, dan aku sudah memberikanmu dua penjaga untuk menjagamu."

Laluna langsung membuang pandangannya. "Siapa yang khawatir? Aku hanya... hanya merasa tidak enak kalau membiarkanmu pergi begitu saja."

"Padahal tadi kamu bilang senang saya pergi."

"Itu karena aku tidak mau kamu berpikir aku terlalu bergantung padamu," gumam Laluna pelan.

Nathan yang mendengarnya terdiam. Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat langkahnya berhenti sejenak. Laluna baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. Ia langsung berdeham dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Pokoknya aku antar. Jangan banyak protes."

Nathan menatapnya, lalu tanpa sadar sudut bibirnya sedikit terangkat. "Iya silahkan antar saya." ujarnya, sambil memasuki lift.

Lift akhirnya sampai di parkiran, Laluna segera turun mengikuti Nathan yang sudah berjalan lebih dulu. Saat sampai di depan mobil. Jordi segera membantu memasukan koper itu ke dalam bagasi.

Nathan segera menatap ke arah Laluna yang masih memandanginya.

"Saya pergi dulu, saya akan menghubungimu nanti saat sampai di kota Melati," jelasnya, sebelum masuk ke dalam mobil.

Laluna hanya mengangguk, ia menatap kepergian mobil Nathan dengan wajah yang sedih. Mobil Nathan perlahan menghilang dari pandangan Laluna. Wanita itu masih berdiri di tempatnya, memperhatikan jalan yang kini sudah kosong.

Entah kenapa, melihat Nathan pergi kali ini terasa berbeda. Sebelumnya, ketika Nathan harus meninggalkan rumah karena urusan pekerjaan, Laluna selalu merasa lega. Ia bisa menikmati waktu sendiri tanpa harus berdebat dengan pria dingin itu.

Namun sekarang, rumah tanpa Nathan justru terasa sepi.

"Kamu sudah pergi, tapi kenapa aku merasa kehilangan?" gumam Laluna pelan.

Ia langsung menggelengkan kepalanya, berusaha menghilangkan pikirannya sendiri..

"Tidak mungkin. Ini hanya karena aku sudah terbiasa tinggal bersamanya. Aku tidak mungkin rindu dengan pria dingin itu."

Laluna mencoba meyakinkan dirinya. Selama beberapa bulan terakhir, Nathan memang selalu ada di sisinya. Meskipun pria itu sering terlihat cuek, Nathan selalu memperhatikannya dengan caranya sendiri.

Ketika Laluna sakit, Nathan yang diam-diam merawatnya.Ketika Laluna lupa makan karena sibuk, Nathan yang mengingatkannya. Bahkan ketika ia mengalami masalah, Nathan selalu menjadi orang pertama yang membantunya. Mungkin karena itu, kepergian Nathan membuatnya merasa rumah mereka menjadi lebih sepi.

"Laluna." Suara Rina membuatnya tersadar.

Laluna segera menatap ke arah Rina yang berjalan ke arahnya dengan koper berwarna pink yang ia geret. Ia segera menatap wajah Laluna yang tampak memelas.

"Sedih ya? Suaminya pergi?" goda Rina.

Laluna buru buru menatapnya kesal. "Siapa yang sedih? Lihat aku senang nih." Laluna buru buru tersenyum lebar, walau hatinya merasa sedih.

Melihat senyum menyeramkan itu, Rina buru buru mendorong dahi Laluna dengan telunjuknya.

"Idih, sedih mah sedih aja kali," ujarnya.

1
Sri Sulastri
ceritanya bagus .sngga bosan untuk membacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!