Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Belenggu

Keesokan harinya, fajar baru saja menyingsing, menyisakan sisa-sisa kegelapan yang perlahan diusir oleh cahaya kemerahan di ufuk timur. Udara pagi masih terasa sejuk, menyelinap masuk melalui celah jendela kamar yang sedikit terbuka, menyentuh wajah Rania yang terbaring gelisah sejak dini hari.

Matanya sempat terpejam, namun pikirannya tak pernah benar-benar beristirahat. Setiap kali ia hendak terlelap, bayangan wajah Dimas kembali hadir, menatapnya seakan menunggu sesuatu sesuatu yang tak kunjung datang, sesuatu yang tak kunjung terjawab.

Saat sinar matahari pertama kali menyentuh permukaan meja samping tempat tidurnya, Rania membuka mata. Ia tidak langsung bangkit. Ia hanya berbaring diam, menatap langit-langit kamar yang samar, lalu perlahan mengulurkan tangan meraih ponselnya. Jantungnya berdebar kencang mungkin semalam ia tertidur lebih dulu, mungkin pesan balasan itu sudah ada di sana, menunggunya terbangun.

Namun saat layar menyala, tampilan itu sama persis seperti yang ditinggalkannya tadi malam: satu pesan terkirim, belum ada balasan. Hanya tanda centang abu-abu yang diam, seakan menatapnya dengan dingin.

Rania menghela napas panjang, lalu perlahan duduk di tepi kasur. Kakinya menjuntai ke bawah, namun ia tidak beranjak berdiri. Ia hanya duduk di sana, memeluk lututnya, menatap layar ponsel yang kini mulai meredup. Wajahnya terlihat lesu, namun di balik kelelahan itu, ada sesuatu yang lain sesuatu yang perlahan tumbuh, menggantikan rasa sedih yang tadi sempat menyelimutinya.

"Ah... kenapa..." gumamnya pelan, suaranya bergetar, antara marah dan kecewa yang tak bisa dibedakan.

Ia meletakkan ponsel itu di atas kasur, tepat di sampingnya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.

"Apa dia tidak melihatnya? Atau... apakah dia sengaja tidak membalas?"

Pikiran-pikiran buruk mulai berdatangan, menyusup ke setiap sudut hatinya yang paling dalam, tempat yang seharusnya dijaga oleh harapan, namun kini justru didatangi oleh keraguan yang gelap dan tak terkendali. Mungkin dia sedang bersama wanita itu sekarang. Mungkin wanita itu melihat pesanku, lalu menyuruhnya tidak membalas. Mungkin dari awal sampai akhir, aku hanyalah orang asing baginya seseorang yang hanya kebetulan lewat, lalu diajak bicara sebentar, lalu dilupakan begitu saja.

Bayangan itu menyakitkan, jauh lebih tajam daripada penolakan secara langsung. Rania menggeleng kuat, berusaha mengusir gambaran itu dari kepalanya. Ia kembali meraih ponselnya, membuka percakapan itu, membaca kata-kata yang dikirimnya semalam berulang kali mencari apa yang salah, mencari kalimat yang mungkin terlalu berani, mencari sesuatu yang bisa diubah, bisa diperbaiki, bisa dijadikan alasan agar Dimas mau membalasnya. Namun pesan itu terlihat begitu sederhana, begitu sopan, begitu wajar. Tidak ada yang berlebihan, tidak ada yang menyinggung. Lalu mengapa tidak dijawab?

"Atau..." bisiknya pelan, menelan ludah dengan susah payah, "apakah Kak Dimas sudah menyadari perasaanku? Apakah dia tahu, lalu memilih untuk menjauh?"

Pertanyaan itu terasa seperti cengkeraman di dada. Jika memang demikian, berarti selama ini ia telah membiarkan dirinya berharap pada sesuatu yang sejak awal tidak akan menjadi miliknya. Berarti setiap senyum yang ia lihat di wajah Dimas hanyalah kebaikan seorang kakak, bukan perhatian seorang pria. Berarti ia sendirian dalam perasaan ini sendirian menaruh harapan, sendirian menyimpan rindu, sendirian berjuang sementara pihak lainnya tidak pernah merasa hal yang sama.

Rania menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia menatap jendela, di mana cahaya matahari kini semakin terang, menyinari dedaunan di halaman rumahnya yang masih basah oleh embun. Tidak, pikirnya, menegaskan pada diri sendiri.

"Aku tidak boleh menyerah begitu saja. Kalau aku diam, aku benar-benar tidak akan ada artinya baginya. Kalau aku hanya menunggu, aku hanya akan menjadi kenangan yang dilupakan"

Dengan tekad yang perlahan mengeras, seperti besi yang ditempa menjadi tajam, Rania berdiri. Ia melangkah menuju lemari pakaiannya, mengeluarkan seragam kerja yang rapi, lalu mulai bersiap.

Setiap gerakannya penuh kesungguhan. Ia merapikan kerah bajunya, memastikan tidak ada satu pun lipatan yang berantakan. Ia menyisir rambutnya dengan teliti, membiarkannya terurai jatuh lembut di bahu, persis seperti yang pernah dilihat Dimas sekali. Ia ingin terlihat cantik, terlihat menawan bukan sekadar untuk dilihat, melainkan untuk diingat.

"Kalau pesan tak dibalas... aku akan mencari cara lain" gumamnya pelan, menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Matanya yang biasanya lembut kini memancarkan cahaya yang berbeda bukan lagi cahaya rindu yang tulus, melainkan cahaya tekad yang mulai membutakan.

"Kalau jarak memisahkan... aku akan mendekat sendiri"

Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu pelan agar tidak mengganggu siapa pun yang masih beristirahat, lalu berjalan menuju halaman tempat motornya terparkir. Langkah kakinya mantap, terdengar tegas di atas lantai pualam yang sejuk. Namun di dalam hatinya, perasaan yang ia sebut cinta itu perlahan berubah bukan lagi sesuatu yang hangat dan memberi kebebasan, melainkan sesuatu yang semakin membelenggu, menuntut, dan tak rela berbagi. Ia tidak lagi hanya ingin dicintai, ia ingin memiliki. Ia ingin Dimas sepenuhnya miliknya, tanpa ada orang lain, tanpa ada perpisahan, tanpa ada pilihan lain.

 

Sementara itu, di sisi lain kota, di sebuah apartemen yang tenang dan tertata rapi, Dimas baru saja duduk di tepi tempat tidur, ponsel di tangannya terangkat setinggi dada. Cahaya matahari pagi masuk melalui jendela kaca besar yang menghadap ke arah taman kota, menyinari wajah Rina yang sedang duduk di kursi dekat meja, menyesap teh hangatnya perlahan. Udara di ruangan itu terasa damai, namun kerutan kecil di dahi Dimas menunjukkan bahwa pikirannya sedang tidak tenang.

Ia baru saja membuka pesan dari Rania pesan yang diterimanya semalam, namun sengaja dibiarkannya terbaca pagi ini, berharap pikirannya lebih jernih saat menjawabnya. Ia tahu keengganannya membalas bukan karena lupa, melainkan karena takut takut memberikan harapan yang kelak akan menyakiti gadis itu lebih dalam.

"Siapa yang mengirim pesan?" tanya Rina lembut, menyadari perubahan ekspresi di wajah kekasihnya itu.

Dimas menghela napas pelan, lalu menoleh ke arah wanita yang dicintainya itu wanita yang sejak awal menjadi alasannya pulang, wanita yang hatinya telah ia pilih untuk dijaga seumur hidupnya.

"Rania..." jawabnya pelan, suaranya terdengar berat.

"Dia mengajak bertemu"

Rina menurunkan cangkir tehnya perlahan di atas meja, lalu menatap Dimas dengan tatapan yang penuh pengertian sekaligus kesedihan yang samar. Ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Caranya adiknya memandang Dimas, caranya berbicara, caranya selalu mencari alasan untuk berada di dekatnya semuanya telah memberi tanda sejak lama. Namun ia tetap berharap, semoga itu hanyalah kekaguman sesaat, semoga Rania segera menemukan orang yang tepat untuknya.

"Dan kamu belum membalasnya?" tanya Rina pelan.

Dimas mengangguk, tangannya mengusap wajahnya yang terlihat lelah.

"Aku tidak ingin memberinya harapan yang salah, Sayang. Aku takut kalau aku menjawab dengan ramah, dia akan mengartikannya lebih dari yang seharusnya. Tapi aku juga tidak tega menyakitinya..."

Rina berdiri perlahan, melangkah mendekat, lalu duduk di samping Dimas. Ia meraih tangan pria itu, mengusap punggung tangannya dengan lembut, seakan ingin menenangkan kegelisahan yang merambat di dada Dimas.

"Dimas..." ucapnya lembut, matanya menatap lekat ke manik mata kekasihnya, "jujurlah kepadanya. Itu cara yang paling baik. Katakan padanya dengan sopan, namun tegas. Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama... karena semakin lama dia menunggu, semakin besar harapannya, dan semakin dalam lukanya nanti"

Dimas menatap Rina, kagum akan ketenangan sekaligus kebijaksanaan yang terpancar dari wajah wanita di hadapannya ini. Di saat seperti ini, di saat orang lain mungkin akan cemburu atau marah, Rina justru berpikir tentang perasaan adiknya. Ia mengangguk perlahan, lalu kembali menatap layar ponselnya.

"Kamu benar" ucapnya pelan. "Terima kasih sudah mengingatkanku."

Ia mulai mengetik kata demi kata, dipilih dengan hati-hati, agar tidak terdengar kasar namun tidak menyisakan ruang untuk harapan.

( "Maaf Rania, sepertinya aku tidak bisa. Mungkin lain kali ya, aku sedang ada urusan" )

Dimas membacanya sekali lagi, lalu menekan tombol Kirim. Ia meletakkan ponselnya ke samping, lalu menarik Rina ke dalam pelukannya, mencium keningnya dengan penuh kasih sayang.

"Semoga dia mengerti" bisiknya.

Namun di kedalaman hatinya, ada rasa cemas yang tak bisa dihilangkannya. Ia tahu Rania bukan orang yang mudah menyerah. Dan ketegasan yang dikirimkannya barangkali justru bukan menghentikan, melainkan memicu sesuatu yang jauh lebih besar sesuatu yang tak lagi bisa dikendalikan begitu saja.

 

Kembali ke halaman rumahnya, Rania baru saja menyalakan mesin motornya, siap melaju pergi, ketika tiba-tiba ponsel di saku bajunya berdering nyaring. Jantungnya seakan melompat ke kerongkongan. Ia segera mematikan mesin, meraih ponsel itu dengan tangan yang sedikit gemetar, berharap berdoa dalam hati semoga nama itu yang muncul di layar.

Namun saat layar menyala, senyum yang sempat terukir di bibirnya perlahan luruh. Bukan pesan yang ia dambakan. Bukan kata-kata yang meneduhkan. Hanya kalimat singkat, dingin, dan seakan menjauh.

( "Maaf Rania, sepertinya aku tidak bisa. Mungkin lain kali ya, aku sedang ada urusan" )

Itu saja. Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Tidak ada pertanyaan balasan. Tidak ada kehangatan yang biasanya ia rasakan. Hanya penolakan halus, namun tegas.

Bukan balasan seperti ini yang ia tunggu dan harapkan. Bukan jawaban yang menjauhkan dirinya dari Dimas. Jari-jarinya mencengkeram ponsel itu erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Napasnya terasa sesak, seakan ada sesuatu yang berat menindih dadanya. Matanya memanas, namun ia menahan agar air matanya tidak jatuh. Ia tidak ingin menangis. Ia ingin marah.

"Aku tidak akan menyerah..." bisiknya pelan, suaranya bergetar namun penuh tekad yang keras.

"Aku akan merebut Kak Dimas dari siapa pun, dari wanita mana pun. Apa pun caranya..."

"Rania... kok malah bengong di sana?"

Suara itu memecah keheningan pagi itu. Rania tersentak hebat, buru-buru mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, lalu menoleh ke arah pintu rumah. Di sana berdiri Jihan, ibunya, mengenakan pakaian sederhana, keranjang anyaman di tangan, siap berangkat ke ladang. Wajahnya terlihat sederhana namun penuh kehangatan, senyumnya meneduhkan senyum yang tidak tahu apa yang sedang bergolak di hati putrinya sendiri.

Rania menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya, lalu menyunggingkan senyum yang dibuat-buat senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Ah... ini Mah" jawabnya pelan, berusaha terdengar biasa saja.

"Yuna mengajak bertemu, tapi aku bilang tidak bisa... lalu dia mengambek katanya"

Jihan menggeleng pelan sambil mengikat kain di pinggangnya, langkahnya mendekat ke arah putrinya.

"Kok begitu, Ran? Kalian kan sahabat baik sejak kecil. Cobalah luangkan waktu sebentar saja. Kalian kan sudah lama sekali tidak bertemu. Sahabat itu harta yang tak ternilai, jangan sampai hilang cuma karena hal sepele"

Rania mengangguk patuh, menunduk sedikit seakan merasa bersalah, padahal pikirannya masih tertuju pada pesan singkat itu.

"Iya, Mah... nanti aku kabarkan dia lagi kok"

"Ini baru putri Mama" ucap Jihan lembut, lalu mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Sudah, berangkatlah, nanti terlambat. Bekerjalah dengan rajin, ya. Hati-hati di jalan"

"Iya, Mah"

Rania menatap ibunya yang berjalan menjauh, punggungnya perlahan menghilang di balik gerbang, lalu kembali menatap layar ponselnya yang masih menampilkan pesan itu. Senyum di wajahnya perlahan hilang, berganti dengan tatapan yang tajam dan dingin. Ia tidak akan membiarkan satu kalimat singkat menghentikannya. Justru sekarang ia tahu, a harus berusaha lebih keras, lebih dekat, lebih dari sekadar menunggu pesan balasan.

Ia memasukkan ponsel ke dalam tas, menyalakan motornya kembali, lalu melaju meninggalkan halaman rumah. Angin pagi menerpa wajahnya, menerbangkan rambutnya ke belakang, namun ia tidak peduli. Matanya menatap lurus ke depan, menuju satu arah menuju Narira Resto, tempat di mana ia berharap bisa bertemu Dimas, tempat di mana ia bertekad untuk membuktikan dirinya.

 

Sesampainya di depan restoran, Rania tidak langsung turun. Ia mematikan mesin, lalu duduk diam di atas motornya, menatap papan nama besar yang terpasang gagah di atas pintu masuk Narira Resto. Huruf-huruf emas itu berkilau terkena cahaya matahari pagi, tampak megah dan menawan.

Sebuah senyum yang sulit dijelaskan maknanya perlahan terukir di wajahnya. Bukan senyum bahagia, bukan senyum tulus melainkan senyum yang menyimpan rencana, harapan, sekaligus ambisi yang kian tumbuh tak terkendali.

Angin membelai wajahnya, lembut dan sejuk, namun tak mampu menenangkan jantungnya yang berpacu kencang. Selama beberapa saat ia hanya diam, menatap papan nama itu seakan di sana tertulis takdirnya seakan di tempat inilah ia akan memenangkan hatinya, atau kehilangannya selamanya.

Hingga sebuah tepukan ringan di bahunya menyadarkan ia dari lamunan panjang itu.

"Ran..."

Rania tersentak, tubuhnya sedikit melonjak kaget. Ia menoleh cepat, napasnya tertahan sesaat sebelum menyadari siapa yang berdiri di sampingnya.

"Dila..." ucapnya pelan, menghela napas lega.

Dila tersenyum ramah, mengenakan seragam kerja yang rapi, rambutnya terikat rapi di belakang. Ia sudah bekerja di restoran ini jauh lebih lama daripada Rania, dan selama ini menjadi satu-satunya teman yang bisa dipercaya gadis itu di tempat yang asing baginya.

"Kamu ini, ngagetin saja aku..." ucap Rania sambil tersenyum malu, menurunkan kakinya dari motor.

"Lagian kamu, pagi-pagi begini sudah melamun sendirian di sini" ucap Dila sambil tertawa kecil, menatapnya dengan tatapan yang menyelidik namun tetap hangat.

"Ada apa sih? Sejak kemarin kamu terasa lain"

Rania tersenyum malu, membetulkan letak rambutnya yang berantakan tertiup angin, lalu meraih tasnya.

"Tidak ada apa-apa kok... cuma... terpesona melihat tempat ini saja" jawabnya pelan, matanya kembali melirik papan nama itu.

"Indah sekali, kan? Tidak menyangka bisa bekerja di sini"

Dila mengangguk setuju, menyandarkan satu tangan di pinggangnya.

"Iya sih, tempatnya memang luar biasa. Tenang, bersih, bosnya baik... Tapi jangan melamun terus, nanti terlambat lho. Ayo masuk, nanti Bu Sita marah kalau kita belum siap saat pelanggan datang"ucap dila.

Rania mengangguk, menyusul Dila melangkah masuk melewati pintu kaca yang besar itu. Lonceng kecil di atas pintu berdenting pelan, menyambut kedatangan mereka. Namun saat Dila berjalan di depannya, menuju ruang ganti, senyum di wajah Rania perlahan berubah. Matanya melirik ke arah lorong yang lebih dalam, menuju pintu ruangan yang bertuliskan Pemilik. Pintu itu tertutup rapat, sunyi, seakan menyimpan rahasia di baliknya.

"Di sana... "batinnya, tekad itu kembali mengeras, tajam dan tak tergoyahkan.

"Di balik pintu itu, wanita itu berada. Wanita yang mengambilnya dariku. Tapi tunggu saja... aku tidak akan mundur. Di sini, setiap hari, aku akan berusaha lebih baik. Aku akan lebih rajin, lebih ramah, lebih cantik, lebih dari segalanya. Hingga akhirnya Kak Dimas melihatku, melihat bahwa aku lah yang seharusnya berdiri di sampingnya" batin rania.

Ia menarik napas panjang, menyusun kembali senyum di wajahnya, lalu mengikuti Dila namun langkahnya kini bukan lagi sekadar langkah seorang pekerja yang datang bekerja. Itu adalah langkah seseorang yang mulai masuk ke medan perang, perang yang ia pikir harus dimenangkan, meski ia sendiri belum menyadari bahwa ia sedang berjuang sendirian, melawan bayang-bayang yang diciptakan oleh ketidaktahuannya sendiri.

 

Bersambung... ✨

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!