Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Aspal Panas dan Hati yang Hampa

Matahari memancar dengan begitu terik di atas langit Jakarta, membakar permukaan aspal hingga memancarkan gelombang hawa panas yang menyengat. Di tengah kemacetan yang melilit ibu kota, Dirga menggenggam erat stang sepeda motor matik tuanya. Jaket hijau kusam yang melekat di tubuhnya terasa amat berat, berpadu dengan keringat dingin yang mengucur deras di pelipis. Sejak surat pemecatan itu disodorkan oleh Bu Rina tanpa pesangon sedikit pun, Dirga tidak memiliki pilihan lain selain memacu kendaraannya di jalanan. Seluruh gajinya dipotong habis untuk mengganti kerugian vas keramik milik Pak Hendra, sementara utang kasbon lima juta rupiah masih membayanginya bagai hantu yang siap menerkam.

Perutnya yang kosong sejak pagi memekik perih, namun Dirga terus menekan rasa lapar itu dalam-dalam. Setiap kali matanya menatap layar ponsel yang terpasang di stang motor, harapan yang membuncah perlahan sirna. Pesanan sangat sepi, dan uang yang terkumpul dari hasil menambang sebagai pengemudi ojek daring hari ini bahkan belum cukup untuk membeli sepiring nasi dan menambal ban motornya jika sewaktu-waktu bocor.

Di sebuah persimpangan lampu merah kawasan jalan protokol, Dirga menghentikan sepeda motornya. Ia mengusap wajahnya yang kasar dan kusam, menatap nanar pantulan dirinya di kaca spion yang retak.

"Ratusan juta rupiah..." gumam Dirga lirih, suaranya parau menahan perih di tenggorokan. "Dari mana aku harus mencari uang sebesar itu? Rumah pun sudah lapuk, atapnya terus bocor tiap kali hujan turun."

Seorang pengemudi ojek daring lain yang berhenti tepat di sebelah Dirga menoleh, memperhatikan raut wajah Dirga yang sangat pucat.

"Mas! Mas tidak apa-apa?" tanyanya dengan nada khawatir. "Wajahmu pucat sekali. Kalau sakit, lebih baik istirahat dulu di posko. Jangan dipaksakan narik, bahaya di jalan."

Dirga memaksakan sebuah senyuman tipis, walau matanya tampak kosong. "Saya tidak apa-apa, Pak. Terima kasih. Saya hanya sedikit lelah saja."

"Beneran tidak apa-apa? Matamu teler begitu, Mas. Jangan sampai pingsan di atas motor. Jalanan Senopati sampai Sudirman jam segini lagi padat-padatnya, orang-orang pada ngebut," pangkas pengemudi itu kembali mengingatkan.

"Iya, Pak. Saya masih sanggup. Saya harus mengejar target hari ini," jawab Dirga perlahan, berusaha menetralkan deru napasnya yang tidak teratur.

Lampu lalu lintas berganti hijau. Deru mesin kendaraan menyalak serentak, memecah kecemasan singkat di persimpangan itu. Dirga kembali menarik gas motornya, membiarkan tubuhnya terbawa arus lalu lintas. Namun, benaknya sama sekali tidak berada di atas aspal. Bayangan kepahitan bertubi-tubi terus memutar ulang di dalam kepalanya bagai kaset rusak.

Rasa hina saat Eri tertawa puas di balik pelukan Leon, rasa sakit ketika Pak Surya dan Bu Maya memaki dirinya sebagai anjing kurap, serta pecahan helm tua peninggalan almarhum ibunya yang hancur berkeping-keping di atas aspal. Suara tamparan keras Bu Maya seolah masih menggema tepat di telinganya.

‘Kamu itu cuma pengemudi ojek miskin yang tidak tahu diri! Jangan mimpi bisa bersanding dengan anak saya!’

Kata-kata makian itu terus berputar, mencekik dadanya hingga terasa sesak. Tangannya yang memegang stang motor gemetar hebat. Kemarahan, rasa sedih, kekecewaan, dan dendam yang mendalam bercampur aduk menjadi satu gumpalan emosi yang sangat gelap.

"Ibu..." bisik Dirga dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mengapa dunia ini begitu jahat? Apakah orang miskin seperti kita memang tidak berhak untuk bahagia? Apakah orang miskin memang pantas dihina dan diinjak-injak seperti sampah?"

Ia teringat ayahnya yang telah berpulang sejak ia masih kecil, dan ibunya yang baru satu tahun meninggalkan dirinya sendirian di dunia yang kejam ini. Saat ini, ia benar-benar sebatang kara, tanpa pegangan, dan berada di titik paling nadir dalam kehidupannya.

Telepon genggamnya yang menjepit di stang berdering keras, memecahkan lamunan kelamnya. Dirga melirik layar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tertera sebagai Pak Bambang, mantan supervisor operasional di kantornya. Dengan tangan bergetar, Dirga memasang earphone ke telinganya dan menekan tombol hijau.

"Halo, Pak Bambang..." sapa Dirga perlahan.

"Dirga! Kamu ada di mana sekarang?!" suara Pak Bambang membentak dari balik telepon dengan nada penuh nada ancaman dan kesombongan.

"Saya sedang berada di jalan, Pak. Sedang bekerja," jawab Dirga mencoba tetap sopan, walau hatinya sudah teramat panas.

"Bekerja apa? Narik ojek kotor kamu itu?!" cibir Pak Bambang terdengar tertawa sinis. "Dengar ya, Dirga! Jangan kira setelah kamu dipecat dari PT Kantor Investasi, urusanmu sudah selesai begitu saja! Kamu masih punya utang kasbon lima juta rupiah ke perusahaan! Jika dalam tiga hari kamu tidak melunasi utang itu, saya sendiri yang akan membawa polisi ke rumah reotmu!"

Dirga menarik napas panjang, berusaha keras menahan gejolak emosi yang hampir meledak di dalam dadanya. "Pak Bambang, mohon berikan saya waktu. Gaji bulan ini sudah dipotong habis oleh perusahaan untuk ganti rugi vas tersebut, padahal saya tidak sengaja—"

"Tidak ada alasan!" potong Pak Bambang dengan nada tinggi, sama sekali tidak memberi ruang untuk empati. "Vas keramik milik Pak Hendra itu harganya seratus lima puluh juta rupiah! Gaji OB-mu yang tidak seberapa itu bahkan tidak cukup untuk membayar serpihan tanah liatnya! Kamu sudah merusak reputasi saya di hadapan Direksi! Jadi jangan harap kamu bisa lari dari utang kasbon lima juta itu!"

"Saya tidak berniat lari, Pak," ujar Dirga tegas, suaranya bergetar menahan dendam yang makin membara. "Saya akan membayarnya. Tolong beri saya waktu beberapa hari lagi untuk mencari uang."

"Tiga hari, Dirga! Tiga hari! Jika tidak ada uang itu, siap-siap saja kamu membusuk di dalam penjara!" gertak Pak Bambang sebelum memutus panggilan telepon secara sepihak.

"Bangsat!" umpat Dirga lirih. Gigi-giginya berkatuk rapat. Pandangannya mulai memburam, bukan hanya karena air mata penyesalan dan amarah yang menumpuk di pelupuk mata, tetapi juga karena rasa pusing yang amat berat mulai menyerang kepalanya. Penglihatannya bergoyang, memburam di antara kilatan cahaya matahari dan pekatnya aspal jalanan.

Rasa lapar yang luar biasa berpadu dengan kelelahan fisik dan mental membuat kesadarannya perlahan menipis. Jalan raya di hadapannya tampak berbayang. Garis-garis putih di tengah jalan seolah bergerak memutar. Dirga berusaha mengedipkan matanya berkali-kali untuk memperjelas pandangan, namun kepalanya terasa makin berat dan berdenyut hebat.

"Tidak... Aku tidak boleh jatuh sekarang... Aku harus bertahan..." gumam Dirga pada dirinya sendiri. "Aku harus membalas mereka semua... Eri, Leon, Bu Maya... Pak Bambang... Aku tidak boleh menyerah di sini..."

Namun, tubuhnya yang lemah tidak mampu lagi menolak rasa pusing yang makin menghebat. Sepeda motornya mulai melaju tidak stabil, menyimpang perlahan dari jalurnya menuju persimpangan utama yang sibuk. Lampu lalu lintas di persimpangan itu sebenarnya masih menunjukkan warna merah untuk jalurnya, tetapi pandangan Dirga yang kabur tidak dapat lagi membedakan warna sinyal tersebut.

Dari arah simpang sebelah kanan, jalur kendaraan melaju pesat karena sinyal lampu hijau. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap tampak memacu kecepatannya di atas rata-rata untuk melintasi persimpangan sebelum lampu berganti.

Di dalam mobil tersebut, seorang wanita muda berparas anggun tampak sibuk menatap layar ponselnya sembari memegang kemudi. Ketika mobilnya sudah memasuki area tengah persimpangan, ia mendadak mendongak dan mendapati sebuah sepeda motor meluncur masuk ke jalurnya tanpa kendali.

"Astaga! Awas!" jerit wanita itu histeris dari dalam kabin mobilnya.

Seketika itu juga, mata wanita itu membelalak penuh horor. Tangan tangkasnya langsung membanting setir ke kiri secara refleks sembari menginjak pedal rem dalam-dalam dengan seluruh tenaganya.

CIIIITT!

Suara decitan ban mobil yang bergesekan hebat dengan aspal panas membahana dengan sangat nyaring di seluruh persimpangan jalan. Bau sangit karet terbakar membumbung tinggi ke udara secara mendadak. Para pengguna jalan lain yang berada di sekitar lokasi kejadian langsung menghentikan kendaraan mereka, berteriak histeris menyaksikan insiden mengerikan yang berlangsung dalam hitungan detik tersebut.

Dirga yang mendengar suara decitan rem keras itu mencoba menolehkan kepalanya ke arah kanan. Dalam sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis, ia hanya sempat melihat kilatan moncong sedan hitam mewah yang meluncur deras tepat ke arah tubuhnya. Cahaya pantulan dari lampu depan mobil itu menyilaukan pandangannya secara mutlak.

"Ibu..." desah Dirga dalam hati, memanggil sosok ibunya untuk terakhir kali sebelum segalanya menjadi gelap.

DUAARR!

Benturan keras tidak terelakkan lagi. Moncong mobil sedan mewah itu menghantam bagian samping sepeda motor tua milik Dirga dengan kekuatan yang amat dahsyat. Tubuh Dirga terlempar tinggi dari atas jok motornya, melayang di udara beberapa meter sebelum akhirnya menghempas keras ke atas permukaan aspal yang panas dan keras.

Sepeda motor tuanya terseret sejauh beberapa meter, mengeluarkan percikan api saat besi rangka beradu dengan jalanan, hingga akhirnya berhenti dalam keadaan hancur berantakan. Helm tua yang melindungi kepala Dirga terlepas akibat benturan, meninggalkan tubuh pemuda itu terbaring kaku di tengah jalan raya, tidak bergerak sedikit pun.

Darah segar perlahan mulai mengalir dari pelipisnya, membasahi permukaan aspal yang panas. Suasana persimpangan jalan seketika berubah menjadi kekacauan total. Suara klakson bersahut-sahutan, disertai teriakan histeris dari para warga dan pengendara yang langsung berhamburan mendekati lokasi kejadian. Kesadaran Dirga padam sepenuhnya, menyeret dirinya masuk ke dalam kegelapan yang amat pekat.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!