Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: tamat
Genre:Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:954.3k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Ruangan mendadak hening. Vivi yang sedang minum hampir menjatuhkan gelasnya. Sean melanjutkan dengan polos. "Kalau dulu Kakek dan Nenek tidak mengizinkan Tante Vivi menikah dengan Ayah..." Ia menatap adik-adiknya."Mungkin kami tidak punya keluarga seperti sekarang."

Mata ibu Vivi langsung memerah.Sedangkan ayah Vivi terdiam cukup lama. Karena kalimat itu keluar dari Sean. Anak yang dulu paling keras menolak Vivi. Anak yang dulu memimpin "pemberontakan" terhadap calon ibu tirinya. Kini justru menjadi orang pertama yang mengucapkan terima kasih.

"Sean..." bisik Vivi. Tetapi ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Matanya sudah lebih dulu berkaca-kaca.

Sean lalu menatap kedua orang tua Vivi lagi. "Dulu aku takut. Tante Vivi akan menggantikan Ibu." Sean menarik napas pelan. "Tapi ternyata aku salah." Ia tersenyum kecil. "Tidak ada yang bisa menggantikan Ibu." Matanya mulai berair."Dan Tante Vivi tidak pernah mencoba melakukannya."

Kini bahkan Baskara menundukkan kepala. Karena ia tahu betapa panjang perjalanan Sean sampai bisa mengucapkan kalimat itu. "Tante Vivi hanya..."Sean berpikir sejenak. "Datang dan mencintai kami." Tangis pertama jatuh dari pipi ibu Vivi. Perempuan itu segera mengusapnya. Namun air mata berikutnya tetap keluar. Sementara Vivi sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Sean lalu tersenyum malu. "Jadi... Terima kasih sudah meminjamkan beliau kepada kami." Sean benar-benar berpikir dan bersikap dewasa.

Ibu Vivi berdiri dari kursinya. Lalu berjalan mendekati Sean. Tanpa berkata apa-apa, ia memeluk anak itu erat. Sean sempat kaku beberapa detik. Kemudian perlahan membalas pelukan tersebut. "Nak..." bisik perempuan itu. "Kami tidak meminjamkan Vivi." Ibu Vivi tersenyum sambil mengusap rambutnya. "Kami justru bersyukur Allah mengirimkan kalian kepada Vivi."

Kini Sean benar-benar tidak bisa menahan air matanya. Dan di sudut ruangan, Vivi menunduk sambil menangis diam-diam. Karena bertahun-tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa dirinya tidak akan pernah memiliki keluarga sendiri. Tidak akan pernah memiliki anak. Tidak akan pernah mendengar seseorang memanggilnya ibu dengan tulus. Namun pagi itu, seorang anak laki-laki yang dulu paling membencinya berkata kepada orang tuanya, "Terima kasih sudah meminjamkan Tante Vivi pada kami." Dan bagi Vivi, itu mungkin salah satu bentuk cinta terbesar yang pernah ia terima dalam hidupnya.

***

Rumah terasa lebih sepi setelah orang tua Vivi pulang. Biasanya kehadiran mereka membuat suasana ramai. Ada yang mengingatkan anak-anak untuk makan. Ada yang diam-diam menyelipkan uang jajan. Ada yang membela cucu-cucu ketika Baskara mulai mengeluarkan tatapan khas seorang ayah. Kini tinggal mereka lagi. Vivi. Baskara. Dan lima anak.

Menjelang sore, anak-anak berkumpul di ruang keluarga. Sean sedang membaca. Saka bermain balok.Ella mewarnai. Lili tertidur di sofa.Sementara Vivi sedang melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran.

Tiba-tiba Yuan menutup bukunya. "Aku punya usul." Semua langsung menoleh. Karena kalau Yuan berkata seperti itu, biasanya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.

"Usul apa?" tanya Sean.

Yuan berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita memanggil Tante Vivi... Ibu?"

Vivi yang sedang melipat pakaian langsung membeku. "Apa?" katanya dalam hati. Ia tak berani bicara apapun, bahkan tidak bergerak juga. Hanya bernafas pelan seolah-olah takut ketahuan.

Yuan menatap kakaknya. "Aku serius." Sean terlihat terkejut. Ella mengangkat wajah dari buku gambarnya. "Ibu, itu panggilan paling cocok. Beliau yang membangunkan kita. Mengajari kita. Memasakkan makanan. Mengurus saat sakit. Menemani belajar. Memarahi kalau kita salah."

Saka langsung mengangguk. "Sering."

"Berarti..." Yuan menatap saudara-saudaranya. "Bukankah itu pekerjaan seorang ibu?" Tidak ada yang langsung menjawab. Karena sulit membantah logika Yuan.

Sean menunduk. Beberapa bulan lalu, usulan seperti ini mungkin akan membuatnya marah. Namun sekarang Ia teringat bagaimana Vivi menemani mereka melewati kehilangan Bu Mega. Bagaimana perempuan itu menangis bersama mereka. Bagaimana ia tidak pernah memaksa mereka melupakan ibu kandung mereka. Dan yang paling penting Tidak pernah sekali pun meminta dipanggil Ibu. "Kalau kita memanggil beliau Ibu..." Sean berkata pelan. "Bukan berarti kita melupakan Mama, kan?"

Yuan menggeleng cepat. "Tentu tidak. Mama tetap Mama." Anak kecil itu menunjuk foto mendiang ibunya yang terpajang di lemari. "Dan Tante Vivi juga Ibu."

Mata Vivi langsung terasa panas. Ia buru-buru menunduk. Karena tidak ingin anak-anak melihat air matanya. Sementara itu Baskara yang baru pulang dari luar rumah berdiri di ambang pintu. Tanpa diketahui siapa pun, ia mendengar hampir seluruh percakapan itu. Dan ia memilih diam. Karena ini bukan keputusan yang boleh dipengaruhi olehnya. Ini harus datang dari hati anak-anak sendiri.

Saka tiba-tiba berdiri. "Kalau begitu aku coba dulu." Semua menoleh. Anak itu berjalan ke arah Vivi. Lalu berdiri di depannya. Wajahnya tampak sedikit malu. "Bu..." Hanya satu kata. Satu kata sederhana. Namun membuat Vivi tidak mampu lagi menahan air matanya.

"Ya, Nak?" jawabnya lirih.

Saka langsung tersenyum. "Ternyata enak."Seluruh ruangan tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan.

Ella segera ikut berlari. "Ibu!" Lalu memeluk pinggang Vivi.

Sean masih duduk diam. Namun beberapa saat kemudian ia berdiri. Mendekat. Dan untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal dunia, ia mengucapkan kata itu kepada orang lain. "Ibu." Suara Sean hampir tidak terdengar. Namun cukup jelas untuk membuat Vivi menangis semakin keras. Karena ia tahu. Kata itu tidak diberikan begitu saja. Kata itu diperjuangkan. Diperoleh melalui kepercayaan. Melalui waktu. Melalui cinta.

Di belakang mereka, Baskara menundukkan kepala sebentar. Menyembunyikan matanya yang mulai memerah.Karena hari itu ia menyadari sesuatu. Dulu ia menikahi Vivi karena anak-anak membutuhkan seorang ibu. Namun sekarang Anak-anaklah yang memilih memberikan tempat itu kepada Vivi dengan hati mereka sendiri. Suasana ruang keluarga masih hangat setelah percakapan yang menguras emosi itu. Ella masih menempel di sisi Vivi. Lili yang baru bangun dari tidur siangnya kini duduk di pangkuan Vivi sambil mengucek mata. Sean dan Yuan kembali ke tempat duduk mereka.Sedangkan Baskara memilih duduk diam sambil memperhatikan keluarganya.

Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman. Lalu seperti biasa, Saka memecahkan suasana. "Aku baru sadar sesuatu."

Sean langsung menghela napas. "Kalau Saka bilang begitu, biasanya ada masalah."

"Tidak ada."

"Yakin?"

"Yakin." Saka berpikir sejenak. Lalu berkata dengan polos, "Kita sebenarnya beruntung ya."

Kali ini semua menoleh. "Beruntung bagaimana?" tanya Yuan.

Saka mulai menghitung dengan jari. "Dulu kita punya Mama." Ruangan langsung hening. Namun Saka melanjutkan dengan senyum kecil. "Sekarang kita punya Ibu." Matanya beralih kepada Vivi. Vivi tersenyum lembut meski matanya kembali berkaca-kaca. "Kita juga pernah punya Nenek Mega." Sean menunduk pelan. "Dan sampai sekarang masih punya Kakek dan Nenek dari keluarga Ibu." Saka mengangkat kedua tangannya. "Banyak sekali."

1
Inooy
karena bu Mega tau kamu wanita baik Vii, dn beliau percaya kamu mampu menjaga dn melindungi kluarga Baskara...🥹
Inooy
kebaikan seseorang akan terlihat dr banyak nya doa yg d kirimkan dr orang2 yg pernah d bantu nya....
jd banyak2 lah berbuat baik, karena kebaikan qta yg akan menolong qta kelak d akhirat..🥺
Inooy
ketika bu Mega memaksa Vivi utk jd bagian keluarga nya,,seakan akan itu sebuah pertanda bahwasanya takdir tentang kehidupan tengah menghampiri nya..bu Mega seolah olah mengatakan "Vii, titip anakku dn cucu2 ku..hanya kamu yg bisa ibu percaya utk mengurus dn merawat mereka ketika ibu sudah tidak ada..karena waktu ibu sudah semakin dekat"

hhaaaa,,makin mewek aq ka Fitriiii 😭😭😭
milk shake🍓🥤
semogaa cepat terbongkar dan dokter Sinta dipenjara karna bikin laporan palsu dan kliniknya ditutup
milk shake🍓🥤
jgn cuman keklinik tantemu itu berobat, sesekali perlu kerumah sakit,
Isna
keren...keren..seru bgt ceritanya..
rahmah
ceritanya bagus Vivi wanita luar biasa yg baik hati gak pernah marah tapi banyak ujian mulai ditipu puluhan tahun sama tante yg sudah menganggapnya anak sendiri sampai dia menangis setiap hari karena vonis tidak bisa punya anak dan itu juga dia tinggal kekasihnya karena vonis itu sampai dia diminta menikah dg anak pemilik yayasan tempat dia mengajar duda 5 anak bernama Baskara yg sibuk dg pekerjaannya(sepertinya Baskara cuma taunya menambah anak saja 🤭) anak²nya yg sudah menolak 32 calon ibu berbagai cara dilakukan anak²nya pada Vivi juga begitu tapi Vivi masih bisa mengatasinya sampai anak² menerima Vivi sebagai ibu mereka tapi cobaan Vivi tidak berhenti disitu hingga dia akhirnya hamil dan melahirkan bayi laki² yg bernama Hanan dan dia bahagia bersama suami dan 6 anak²nya..🥰
mimma
Luar biasa
Inooy
dengan kata lain..bu Mega bisa meninggalkan Baskara dn anak2 nya dengan tenang, karena mereka udh ada d tangan yg tepat..
Inooy
hhuuaaaa,,jd keingat ibu aq yg udh pergiii 😭😭😭😭

ternyata firasat bu Mega begitu cepat terjadi,,,pantas aj bu Mega mendesak Vivi teroos utk d jadiin menantu nya, ternyata beliau tidak ingin meninggalkan anak dn cucu2 nya tanpa pendamping hidup..kini bu Mega udh tenang meninggalkan Baskara dn anak2 nya, karena bu Mega udh percaya dengan Vivi yg akan menjaga dn melindungi cucu2 nya termasuk Baskara....
bab paling mengsedihkan 😭😭😭
Inooy
s kulkas 7 pintu mulai terserang virus bucin 😂
jaga kewibawaan mu Baas,,maaasa jealous ama anak2 sendiri Baas..Baaass...ckckck
Wulhan Agustyna Ismail
Bisanya cuman bisa bikin anak lima pula, tapi tidak tau mengurusnya
Inooy
mantap Vii jawaban mu..biar mikir tuh suami muu 😂
Inooy
punya dendam apaan siih dook,,sumpah aq puyeng mikirin dendam nya dokter..emg dokter g cape apaa tiap hari mikirin dendam? mendingan d lepasin aj dook,,nanti klo ketahuan Vivi kebusukan dokter..citra dokter d mata Vivi pasti runtuh karena kebusukan hati dokter 😮‍💨
Inooy
makin puyeng aq gara2 dokter Sinta yg d panggil TANTE ama Vivi,,ternyata berhati buuuussuuuukk...😤
Inooy
waduuuhh,,makin mencurigakan aj nih dokter Sinta...
ada masa lalu apa nih sampe2 sekelas dokter Sinta menutupi kebenaran yg seharus nya Vivi ketahui...apakah dulu Vivi sempat menolak cinta nya anak dokter Sinta, ato bagaimana niih??
karena dr cara dokter Sinta melihat kebahagian Vivi seperti tidak teriiimaa....
Inooy
nah lhooo,,maksud nya apa nih dokter Sinta tidak mo menerima kedamaian Vivi? apakah ada yg d sembunyikan dr dokter Sinta,,ada rahasia apakah d balik vonis ketidak mampuan Vivi utk mengandung seorang anak?
hheem semakin mencurigakan nih dokter Sinta yg kata nya temen ibu nya Vivi ini..🤔
Hesty Mamiena Hg
yeee MP dehh 🫣🤭
Hesty Mamiena Hg
Klinik itu punya dokter Sinta? Karena selama 10 th ini dia gk pindah2 ke tempat lain,.. dan betah memelihara dendamnya demi jadi dokter konsul Vivi 😌
Hesty Mamiena Hg
Apa alasanmu dokter Sinta? Kamu dendam sama siapa? Sama Vivi? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!