Indonesia
NovelToon NovelToon
Monica'S Magic!

Monica'S Magic!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Anak Genius / Akademi Sihir
Popularitas:539
Nilai: 5
Nama Author: Bintang star_nrl22

​Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.

​Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Puncak Pertarungan dan Retaknya Ketenangan

Cahaya emas menyilaukan meluap dari tubuh Monica, menyapu kegelapan yang mengepung gerbang Lembah Kelam. Penggabungan seluruh daya sihir dari Elena, Danis, Kazuma, dan Reno mengalir deras menuju tongkat safirnya.

Tubuh Monica bergetar hebat menahan tekanan energi raksasa yang belum pernah ia tampung sebelumnya. Urat-urat halus berkilau emas merambat di permukaan kulit tangannya, menandakan batas fisik yang hampir terlampaui.

"Terus tahan, Monica! Kami ada di belakangmu!" seru Reno dengan rahang mengatup rapat. Ia mengalirkan sisa daya pertahanannya hingga perisai besinya meredup dan retak sepenuhnya.

"Gunakan semuanya, jangan sisakan sedikit pun! Hancurkan dia!" tambah Kazuma yang wajahnya kian pucat pasi akibat kehabisan mana secara ekstrem.

Perempuan bertopeng perak di depan mereka mempererat pijakannya. Untuk pertama kalinya, raut santai dari gerak-gerik tubuhnya melenyap. Ia mengibaskan gaun hitamnya, memanggil naga hitam untuk membentangkan sayap raksasanya di depan tubuhnya sebagai perisai utama, sementara ia sendiri merapal lima lapis perisai kegelapan berlapis-lapis.

Monica menghentakkan tongkatnya ke udara dengan teriakan penuh tekad. "Arcana Ultimate: Astraea’s Judgement!"

Sinar emas murni berdiameter lima meter meluncur deras membelah malam bagai petir dari surga. Hantaman sihir itu menghantam perisai naga hitam dengan suara ledakan yang memekakkan telinga.

BOOOOOOM!

Gelombang kejut yang tercipta meratakan seluruh bebatuan di sekitar gerbang dan menghempaskan kabut hitam hingga radius berjam-jam perjalanan. Semburan cahaya emas menembus perisai kegelapan sang perempuan, menghancurkan salah satu sayap naga hitam hingga terurai menjadi abu, dan menghempaskan tubuh perempuan itu ke dinding gerbang batu hingga retak parah.

CRACK!

Suara retakan nyaring berdenting di udara. Topeng perak yang menutup sebagian wajah perempuan itu retak, terbelah dua, lalu jatuh ke tanah berbatu.

Awan debu perlahan terangkat. Monica dan kawan-kawannya terengah-engah, berlutut di tanah karena kehilangan seluruh pasokan sihir dalam satu pukulan nekat.

Monica mengangkat pandangannya dengan susah payah, menyeka darah tipis di pelipisnya, ingin melihat sosok nyata di balik topeng tersebut.

Perempuan itu berdiri tertatih di balik puing batu. Setengah wajahnya kini terekspos—seorang wanita muda bermata kiri merah menyala dengan bekas luka bakar bermotif simbol sihir kuno di pipinya. Namun, bukannya marah karena perisainya tertembus, ia justru menyunggingkan senyum misterius yang penuh arti.

"Kombinasi yang luar biasa..." bisik wanita itu, suaranya kini terdengar nyata tanpa sihir gema. "Kalian berhasil menggoresku. Tapi sayang sekali... energi kalian sudah habis sepenuhnya untuk hari ini."

Naga hitam yang terluka parah meraung rendah, lalu mengepakkan satu sayapnya yang tersisa untuk membalut tubuh wanita itu. Sebelum Monica sempat merapal mantra susulan, pusaran portal hitam pekat muncul di bawah kaki mereka.

"Nikmatilah kemenangan singkat ini, Tim Vanguard. Kita akan bertemu lagi saat kalian sudah cukup kuat untuk menghadapi takdir sesungguhnya," ucapnya dingin sebelum akhirnya lenyap menembus portal bersama sang naga.

Pertarungan di gerbang resmi berakhir. Medan perang kembali hening, menyisakan puing-puing batu dan tanah yang terbakar.

𝐒𝐞𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮 𝐌𝐨𝐧𝐢𝐜𝐚 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧-𝐭𝐞𝐦𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧𝐠.

Pulang dan Hambatan Baru

Hawa dingin malam menyelimuti reruntuhan gerbang saat kelima anggota Tim Vanguard tersungkur di tanah. Seluruh pasokan mana mereka telah terkuras habis. Reno menyandarkan tubuhnya di dinding batu, sementara Kazuma dan Danis terbaring menatap langit malam yang perlahan mulai bersih dari awan hitam.

"Kita... berhasil selamat?" gumam Danis dengan napas terengah-engah.

Elena mendekati Monica yang masih memegang erat tongkat safirnya. "Monica, kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja, Elena," jawab Monica pelan. Ia berdiri dengan bantuan Elena, membetulkan kuncir kuda rambutnya yang berantakan. "Tapi kita tidak bisa bertahan di sini. Musuh bisa saja kembali jika kita tidak memulihkan diri."

Mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di goa kecil tak jauh dari bekas gerbang, memulihkan stamina dasar sebelum memaksakan perjalanan pulang. Setelah merasa cukup kuat untuk melangkah, Tim Vanguard memutuskan untuk kembali ke Akademi Sihir Grandoria. Misi penyelidikan perbatasan telah selesai, namun ancaman nyata baru saja terungkap.

Dua hari kemudian, gerbang Akademi Grandoria menyambut kepulangan mereka. Namun, alih-alih sorak-sorai, kedatangan mereka disambut suasana prihatin saat melihat kondisi zirah Reno yang hancur dan tubuh mereka yang penuh luka pertarungan.

Di ruang utama akademi, Kepala Sekolah Alaric mendengarkan laporan lengkap dari Monica.

Wajah tua itu tampak makin berat ketika Monica menceritakan tentang sosok perempuan bertopeng perak, naga hitam, dan simbol sihir kuno di pipi wanita tersebut.

"Perempuan itu... dia adalah bagian dari Ordo Kegelapan yang dikira telah punah seratus tahun lalu," ujar Kepala Sekolah Alaric dengan nada serius. "Kalian telah bertarung dengan sangat baik, tetapi kalian masih butuh latihan yang jauh lebih keras. Sihir kalian belum mencapai potensi maksimal."

Mulai hari itu, Tim Vanguard kembali ke rutinitas akademi. Tidak ada lagi masa santai. Monica menghabiskan waktunya di perpustakaan terlarang untuk mempelajari sihir tingkat lanjut dan asal-usul simbol kuno tersebut, sementara Reno, Kazuma, Danis, dan Elena memperdalam teknik tempur mereka masing-masing. Mereka tahu, kedamaian di akademi ini hanyalah jeda singkat.

Wanita misterius itu berjanji akan kembali—dan ketika saat itu tiba di Episode 18 nanti.

1
Al Dede
novel ini srru bsnget mencrtkn tentsng anak yang pantanv menyerah+akademi sihir,sihir dia terkuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!