Indonesia
NovelToon NovelToon
Takdir Sang Pewaris

Takdir Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Jika sosok Ayah akan menjadi sosok pahlawan bagi seorang anak, hal berbeda justru dirasakan oleh Elang Mahesa.

Selama dua puluh tiga tahun ia tidak tahu mengapa sosok pria yang harusnya menjadi pelita dalam hidup justru selalu merendahkannya. Tak peduli apa pun yang ia lakukan, semua selalu salah di mata sang Ayah.

Hidupnya mulai berubah ketika takdir membawanya masuk ke sebuah perusahaan Arkatama Group. Tanpa rencana, ia justru terlibat dalam konflik keluarga, perebutan perusahaan, dan ancaman yang mengincar keluarga Arkatama. Di saat yang sama, kemunculan seseorang di tengah konflik yang membawa rahasia masa lalu membuat Elang terjebak dalam dua pilihan sulit yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26.

Pada keesokan harinya, Keira baru saja meletakkan tas di atas meja ketika dua ketukan terdengar dari pintu ruang kerjanya.

“Masuk.”

Pintu terbuka diikuti sosok Elang yang melangkah masuk dan segera membungkuk sopan. “Selamat pagi, Bu Keira.”

Gerakan tangan Keira saat akan menarik kursi terhenti, tatapannya perlahan terangkat hingga pandangan keduanya bertemu.

Elang mengerutkan kening, baru menyadari tatapan atasanya terasa berbeda saat tangannya menutup pintu di belakangnya. “Apakah ada sesuatu yang salah, Bu Keira?”

Keira tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik pintu di belakang Elang, lalu kembali menatap pria itu. “Kamu melihat orang lain di ruangan ini?”

Elang refleks menoleh ke belakang sebelum kembali menatap atasannya. “Tidak.”

“Lalu?”

Dahi Elang mengernyit sebentar sebelum akhirnya ia paham.

“Oh.”

Keira menyandarkan kedua tangannya ke tepi meja. “Semalam kita sudah sepakat.”

“Saya belum terbiasa."

“Biasakan.”

Elang menahan senyum. “Baik, Bu—”.

Elang segera menghentikan kalimatnya saat melihat atasannya menyipitkan mata. Beberapa detik keduanya saling menatap sebelum akhirnya Elang mengembuskan napas pelan.

“Baik... Kei.”

Keira menarik kursinya, kemudian duduk dengan senyum puas. “Ternyata tidak sulit kan?”

Elang melangkah mendekat menuju kursi di depan meja. “Aku mulai curiga ancaman menahan gaji kemarin memang serius,” ucapnya berusaha lebih santai.

“Coba saja panggil aku ‘Bu Keira’ sekali lagi kalau hanya ada kita berdua.”

Elang tertawa pelan. “Baiklah.” Ia menarik kursi di depan meja.

Keira baru hendak membuka laptop ketika menyadari Elang tidak membawa berkas kerja apa pun.

Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar. “Ada apa ke ruanganku sepagi ini?”

Ekspresi Elang berubah lebih serius. “Ada sesuatu yang ingin kubicarakan," ucapnya tanpa bahasa formal seperti biasa.

Keira menutup kembali laptop yang baru setengah terbuka, lalu menyandarkan punggung. "Katakan."

Elang mengeluarkan ponsel dari sakunya dan meletakkannya di atas meja. “Aku ingin kembali masuk ke Arkatama.”

Alis Keira terangkat.

“Bukan melanjutkan audit." Elang membuka beberapa catatan yang ia buat semalam. “Aku membaca ulang data yang masih berkaitan dengan bagian pekerjaanku selama pemeriksaan. Semakin lama aku melihat, semakin terasa aneh.”

Keira tidak menyela.

Elang menggeser ponsel agar layar bisa terlihat dari sisi Keira.

“Akses, tanda tangan, divisi, bahkan rekening menggunakan identitas, Pak Bram.” Ia mengetukkan ujung jarinya ke meja sekali. “Semua terlalu mudah ditemukan.”

Keira mengambil ponsel itu dan membaca beberapa baris catatan. “Kamu masih memikirkan laporan kemarin.”

“Sulit untuk tidak memikirkannya.” sahut Elang seraya menyandarkan punggung.

Elang melanjutkan tanpa mengubah ekspresi wajahnya. “Aku mengenalnya lebih baik daripada siapa pun. Tapi justru karena aku mengenalnya, aku tidak percaya dia akan melakukan sesuatu serapi ini lalu meninggalkan namanya sendiri di setiap tempat.”

Keira meletakkan ponsel di tangannya ke meja. “Kamu ingin membersihkan namanya?”

“Tidak.” Jawaban Elang keluar cepat. “Aku ingin tahu siapa yang sebenarnya bermain.”

Nada suaranya berubah lebih dalam dan tegas. “Jika pada akhirnya memang Pak Bram, saya berhenti. Tapi kalau ada seseorang yang sengaja membuat semua jalan berakhir pada dia, orang itu sekarang sedang aman karena semua orang sibuk melihat ke arah yang sama.”

Keira terdiam beberapa saat, mulai memahami ke mana arah pembicaraan tersebut. “Dan menurutmu jawabannya ada di kantor pusat.”

Elang mengangguk. “Data Industrial hanya memperlihatkan hasil akhirnya. Saya perlu melihat siapa yang punya akses sebelum proses itu sampai ke divisi Pak Bram.”

Keira menyilangkan kedua tangannya. “Pekerjaan Daneswara dengan Arkatama sudah selesai.”

“Aku tahu.”

“Itu berarti kamu tidak bisa masuk ke sana membawa nama perusahaan sesuka hati.”

“Aku juga tahu.”

Keira mengangkat satu alis.

Elang tersenyum. “Itulah kenapa aku menemuimu.”

Ekspresi Keira yang semula serius sedikit melunak. “Setidaknya kamu cepat belajar kalau ada kepentingan.”

“Gajiku dipertaruhkan di sini.”

Keira hampir tertawa, tetapi memilih menggeleng. Beberapa detik kemudian ia kembali serius.

“Kalau Arkatama sendiri yang mengajukan permintaan resmi agar Daneswara menempatkanmu sebagai pendamping sementara, aku bisa mempertimbangkannya.”

Elang sedikit menegakkan tubuh.

“Tapi,” Keira menambahkan sebelum Elang sempat berkata apa pun, “kamu tidak menggunakan akses itu untuk mengacaukan penyelidikan yang sudah diserahkan kepada bagian hukum.”

“Aku tidak berniat begitu,” jawab Elang cepat.

“Dan kamu tetap melapor kepadaku.”

Elang menatap atasannya. “Bukannya memang begitu?”

“Bagus.” Keira mengangguk. “Berarti kita tidak perlu berdebat bagian itu.”

Elang bangkit dari kursi. "Kalau begitu, aku akan menemui beliau hari ini."

Keira memberikan anggukan pelan, namun sebelum Elang mencapai pintu, ia kembali memanggil pria itu.

“Elang.”

Pria itu menoleh, membuat tatapannya kembali bertemu dengan Keira.

“Jangan memaksakan diri hanya karena orang yang sedang dituduh adalah seseorang yang kamu panggil ayah” ucap Keira mengingatkan.

“Aku tidak sedang melakukan ini untuk ayahku,” jawab Elang.

Keira diam, menunggu apa yang akan Elang katakan selanjutnya.

“Aku hanya tidak ingin semuanya berhenti di satu nama sebelum kita benar-benar tahu siapa yang bertanggung jawab.”

Selesai dengan kalimat itu, Elang melanjutkan langkah, membuka pintu dan kembali menutupnya setel;ah ia keluar, meninggalkan Keira yang masih duduk di kursinya dengan perubahan ekspresi setelah kalimat terakhir yang Elang ucapkan.

.

.

.

Tak sampai satu jam setelah meninggalkan ruang kerja Keira, Elang sudah tiba di kediaman Arkatama. Ia segera membawa langkahnya mendekati penjaga gerbang, mengutarakan niatnya, dan mengikuti langkah pelayan saat kedatangannya diterima.

Begitu ia tiba di ruang tamu, bukan hanya Raksa yang ada di sana. Damar duduk di salah satu sofa dengan sebuah tablet di tangan, sementara Raksa berada di sofa berbeda.

Damar meletakkan tabletnya. “Elang?”

Elang menunduk sopan. “Selamat pagi, Pak Damar, Pak Raksa. Maaf jika saya datang tanpa memberi kabar.”

Raksa mengisyaratkan kursi kosong di seberang mereka. “Duduklah.”

“Terima kasih, Pak.” Elang mendudukkan tubuhnya.

Raksa memperhatikan pemuda di depannya sebentar. “Apa yang membuatmu datang kemari? Apakah kau bersama ayahmu?”

Elang menggeleng. "Saya sendiri. Saya datang untuk bertemu dengan Anda."

Elang tidak langsung melanjutkan. Ia mengeluarkan sebuah map tipis yang ia bawa.

Damar melirik map itu sekilas. “Masalah Arkatama Industrial?”

“Masih berkaitan.”

Suasana yang semula santai perlahan berubah. Elang membuka map itu, lalu mengeluarkan isinya. Beberapa lembar catatan hasil pemeriksaan sebelumnya ia letakkan di atas meja.

“Saya membaca ulang beberapa data yang sempat menjadi bagian pekerjaan saya selama pemeriksaan.”

Raksa tidak menyela.

Damar ikut memperhatikan lembaran yang berada di depan Elang.

“Semua yang ditemukan memang mengarah kepada Pak Bram,” lanjut Elang. “Akses sistem, perubahan dokumen, divisi yang berada di bawah tanggung jawab beliau, sampai rekening yang menggunakan identitasnya.”

Damar mengembuskan napas perlahan. “Itulah alasan penyelidikan terhadap Bram masih berjalan.”

“Saya tahu.” Elang mengangguk. “Dan saya datang bukan untuk meminta penyelidikan itu dihentikan.”

Tatapannya berpindah dari Damar kepada Raksa. “Saya hanya merasa ada sesuatu yang belum terlihat.”

Raksa mengambil salah satu lembar di meja. “Apa yang membuatmu berpikir begitu?”

Elang tidak langsung menjawab. Ia menarik satu dokumen lain dan meletakkannya di atas lembar yang sedang dibaca Raksa.

“Pak Bram sudah bekerja di Arkatama selama puluhan tahun. Beliau tahu tahu prosedur administrasi, dan bagaimana sistem perusahaan berjalan.”

Damar mulai memahami arah pemikiran Elang, namun ia tetap diam.

Elang melanjutkan. “Jika Pak Bram bisa menggelapkan dana selama berbulan-bulan tanpa terdeteksi, apakah menurut Anda masuk akal jika dia meninggalkan jejak sebanyak itu?”

Ruangan mendadak sunyi. Raksa yang semula hendak membalik halaman menghentikan gerakannya. Damar pun tidak langsung menjawab. Tatapannya turun pada dokumen-dokumen di atas meja.

Ada terlalu banyak nama Bram di sana, terlalu mudah ditemukan setelah jalurnya mulai terbuka.

Elang tidak memanfaatkan keheningan itu untuk terus mendesak, ia membiarkan keduanya memikirkan sendiri. Beberapa saat kemudian Damar akhirnya menyandarkan punggungnya.

“Kamu mengangap Bram dijebak?”

“Saya belum berani mengatakan itu.” Jawaban Elang keluar begitu tenang. “Bisa saja beliau memang terlibat. Saya tidak memiliki bukti untuk membantahnya.”

Ia menatap kembali dokumen-dokumen di meja. “Tapi saya juga tidak memiliki alasan untuk menutup kemungkinan bahwa seseorang sengaja membuat semua jalan berhenti pada Pak Bram.”

Raksa meletakkan lembar di tangannya. “Lalu apa yang kau inginkan?”

. . .

. . .

To be continued...

1
Patrick Khan
aku ingin kasih tau q ini anakmu pak damar😁😁😁
Zhu Yun💫
langsung saja minta tes DNA biar terbongkar, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Yang bener kalau dinikahkan baru dia akan punya rasa tanggung jawab pak Raksa... kalau cuma dijodohkan doang nanti dia bisa jawab gini sama calonnya kalau lagi berantem 'Kita itu baru tunangan, jadi kamu gak usah ngatur-ngatur aku.' Nah beda kalau udah nikah dan rasa tanggung jawab itu pasti bakal ada 'Kamu adalah Istriku, tanggung jawabku' 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
〈⎳ FT. Zira: asiap kaka/Joyful/
total 1 replies
Muft Smoker
persis seperti anak mu si ravian😏😏
〈⎳ FT. Zira: bener🤣
total 3 replies
Zhu Yun💫
Aku hafalinnya Tresna.. Tresna... Tresna aja ... biar gampang lah /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Patrick Khan
perjodohan..emang sopo yg mw ambek ravian 🤣🤣🤣lakik modelan gitu
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Zhu Yun💫
Karena yang manis kan kamu, Lang /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
〈⎳ FT. Zira: devinisi cwe gombalin cwo yak/Facepalm/
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
mulai maju nih si keira
〈⎳ FT. Zira: sebelum direbut orang kak🤣🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
rame yah di novel ini
〈⎳ FT. Zira: banyak tokohnya🤣
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aturannya selidiki dulu elang diam2. pura2 aja dl ga tau apa2
〈⎳ FT. Zira: udah gedek duluan dia kak,gak mau drama🤭
total 1 replies
Muft Smoker
org luar menurut mu ,,
tp kebenaran gx mungkin akan tertidur trus ,,
suatu saat kebenaran tu akan terbangun dr tidur ny ,,
〈⎳ FT. Zira: 🤣/Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waah si bram udh jdi kambing guling niih ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁🫰🫰
total 8 replies
Muft Smoker
krn ravian emnk bukan anak ny pak damar ,, pak gatra ,,
kalo kebenaran udh terungkap apa km msh akan bertindak seperti ini????
〈⎳ FT. Zira: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
Muft Smoker
waaaah actor Dunia lgi berbicara ,, 😒😒😒
〈⎳ FT. Zira: aduh/Facepalm/
total 3 replies
Zhu Yun💫
Beneran ulah Bram atau ada orang lain lagi dibelakangnya /CoolGuy/
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
sudah kudugong👏
Patrick Khan
lanjut
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia
vote mumpung inget
〈⎳ FT. Zira: tengkyuuu miii/Kiss//Kiss/
total 1 replies
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨
akting
〈⎳ FT. Zira: aktingnya... harus🤣
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!