Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Seminggu kemudian, kondisi Lorenzo cukup stabil untuk pulang. Dokter memperbolehkannya meninggalkan rumah sakit dengan catatan harus menjalani rawat jalan dan fisioterapi.
Kaki kirinya masih belum bisa digunakan dengan normal akibat cedera. Karena itu, untuk sementara Lorenzo harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu.
Siang itu, Alina berdiri di depan rumah sakit sambil memegang tas Lorenzo. “Mobil kita belum datang?”
Salah satu staf keluarga menjawab lewat telepon. “Maaf, Nyonya. Jalan utama macet parah. Mobil masih tertahan.”
Alina melihat jam. Kemudian melihat Lorenzo. Lalu melihat jalanan yang sangat panas dan berdebu.
“Kalau menunggu mobil, bisa sampai malam.”
Dia mengeluarkan ponsel. “Aku pesan taksi saja.”
Lorenzo mengangkat alis. “Kamu yakin?”
“Yakin.”
Beberapa menit kemudian, taksi datang. Alina memasukkan tas terlebih dahulu. Kemudian membuka pintu belakang.
Sementara Lorenzo menggerakkan kursi rodanya mendekat. Namun, saat itu Alina sudah masuk lebih dahulu dan duduk manis.
Pintu ditutup. “Berangkat!”
Supir menoleh. “Sudah semuanya, Nyonya?”
Alina mengangguk. “Sudah.”
Lorenzo masih berada di pinggir jalan hendak membuka pintu mobil dibuat terkejut karena tiba-tiba kendaraan itu melaju meninggalkan dirinya.
Dengan wajah yang perlahan berubah menjadi sangat gelap, Lorenzo berteriak, “ALINA!”
Dengan perasaan bercampur amarah dan takut ditinggal, Lorenzo menggerakkan keduanya tangannya dengan cepat mengejar taksi.
Alina menoleh karena merasa ada yang memanggil namanya. Begitu melihat Lorenzo mengejar sambil naik kursi roda, mata wanita itu langsung membesar dan mulut menganga.
Alina pun langsung menepuk jidat. “Ya ampun!”
“Alina, tunggu aku!” teriak Lorenzo.
“Pak! Berhenti!”
Supir mengerem. Di spion terlihat seorang pria yang sedang menggerakkan kursi roda dengan susah payah.
“Nyonya, itu suaminya tertinggal!”
Alina menutup wajah.
“ASTAGA! AKU MENINGGALKAN SUAMIKU DI JALANAN!”
Lorenzo akhirnya sampai di dekat taksi. Wajahnya merah karena marah dan lelah. Napasnya ngos-ngosan seperti hendak dicabut nyawa.
“Alina!”
Alina buru-buru turun. “Maaf!”
“Kamu pergi meninggalkanku!”
“Aku lupa.”
“LUPA?” Lorenzo menunjuk dirinya sendiri. “Aku duduk di kursi roda!”
“Aku tahu.”
“Kalau tahu, kenapa ditinggal?”
Alina menggigit bibir.
“Karena aku sudah terbiasa pergi sendiri selama tiga tahun ini. Kalau biasanya bepergian, aku memang tidak pernah menunggu kamu.”
“Masalahnya, sekarang kamu seperti kotak freezer hidup.”
Lorenzo menatapnya tajam. “Aku bukan kotak freezer.”
Alina membeku sejenak. “Aku tidak bilang kamu kotak freezer.”
Lorenzo terdiam.
Alina segera tersenyum. “Ayo, masuk.”
Lorenzo masih kesal. “Aku tidak percaya kamu bisa lupa membawa suamimu sendiri.”
Alina membantu mendorong kursi rodanya. “Maaf.”
“Ya ampun, si kulkas sekarang cerewet sekali. Seharusnya aku membawa label besar bertuliskan: JANGAN LUPA SUAMI KETINGGALAN.”
Lorenzo menahan napas. Dia ingin marah, tetapi sulit. Karena sebenarnya dia tahu Alina tidak sengaja. Dan bagian dirinya yang lain justru geli.
Setelah sampai di rumah, Alina membantu Lorenzo masuk ke kamar utama. Kamar pribadi Lorenzo. Tempat yang selama tiga tahun hampir tidak pernah dia masuki bersama Alina.
Alina membantu Lorenzo memindahkan ke tempat tidur. “Sudah nyaman?”
“Sudah.”
“Kalau begitu aku pergi.” Alina berbalik.
“Kamu mau ke mana?” Lorenzo bertanya sambil berbaring dan sebelah tangannya menahan tangan istrinya.
Alina menoleh. “Aku tidur di kamarku sendiri.”
Lorenzo langsung mengerutkan kening. Dia baru ingat kalau selama menikah tidak pernah tidur sekamar, kecuali ketika menginap di rumah keluarga mereka.
“Tidak bisa. Kita harus tidur di tempat yang sama.”
Mata Alina membesar. “Kenapa?”
Lorenzo menatapnya. “Karena aku sedang sakit. Kamu istriku.”
Alina terdiam.
“Lagi-lagi kartu istri. Kemarin aku istri untuk membersihkan tubuhmu. Hari ini aku istri untuk menemanimu tidur. Besok apa? Menjadi istri untuk memandikan dirimu?”
Lorenzo menahan senyum.
Alina masih menatapnya dengan curiga. “Kamu tidak bisa tidur sendiri?”
“Tidak bisa!”
“Dulu kamu bisa,” ucap Alina menyindir.
“Sekarang berbeda.”
Alina menyipitkan mata. “Apanya yang berbeda?”
Lorenzo terdiam beberapa detik. “Aku tidak mau sendirian.” Kalimat itu terdengar lebih jujur daripada yang dia rencanakan.
Alina terdiam. Ekspresinya sedikit melunak. Namun di dalam hati....
“Ya Tuhan. Ini orang kenapa tiba-tiba level menyebalkan berbeda?”
”Dulu dia tidak mau sekamar. Sekarang aku mau pergi malah ditahan. Benar dugaanku, kecelakaan itu membuat otaknya berubah miring sedikit?”
Lorenzo memandangnya. Mungkin memang berubah. Setidaknya sekarang dia mulai melihat Alina. Bukan sebagai perempuan yang dipaksakan menjadi istrinya. Tetapi sebagai wanita yang selama tiga tahun ternyata berdiri begitu dekat dengannya dan sama sekali tidak pernah benar-benar dia kenal.
“Alina.”
“Apa?”
“Mulai malam ini, tidur di sini.”
Alina menatapnya lama. “Apa tidak ada pilihan?”
“Tidak.”
”Baiklah. Kalau begitu, aku akan tidur di sini. Toh, aku sudah pernah melihat perutnya. Masalahnya sekarang....”
Tiba-tiba saja Lorenzo membuka bajunya dan memperlihatkan badannya yang bisa membuat Alina ngiler.
“Kenapa kamu buka baju?!" pekik Alina dengan muka merah merona.
“Aku biasa tidur tanpa memakai baju. Adem,” balas Lorenzo.
Alina melirik Lorenzo dari ujung kepala sampai kaki.
”Bagaimana caranya aku bisa tidur dengan tenang, jika di sampingku ada suamiku yang ternyata punya tubuh yang jauh lebih menarik daripada pria khayalanku?”
Lorenzo membeku. Senyum kecil muncul di wajahnya. Dia merasa keputusan berpura-pura amnesia itu terasa seperti keputusan paling menguntungkan yang pernah dia buat.
bagus Aal, kamu jangan mudah terprovokasi oleh kata2 Bianca..walaupun ada kata2 Bianca yg sedikit nya benar, tp kamu jangan takut..karena status kamu lebih tinggi dr pada Bianca yaitu seorang istri,,skali pun terjadi nya pernikahan karena perjodohan..tp kamu lebih kuat kedudukan nya, apalagi skarang Lorenzo nya udh mulai membuka hati dn membuka mata..klo selama ini dia udh d berikan berlian berkat perjodohan....
penasaran niii Thor 😆😍🙏🙏
1. dia selingkuh selama pernikahan, berniat menceraikan istrinya demi menikahi wanita lain, membiarkan istrinya diperlakukan semena-mena dikeluarganya, tapi tidak dihargai dirumah, 2.Alin dibuat bertahan 3 tahun dengan suami yang dingin, tidak menghargai istri dan selingkuh dengan pacarnya, sekaligus tekanan dari keluarga suami, tidak punya Sandaran, mengurus rumah dan sekaligus masih bekerja dikantor suami yang mana entah itu privat / disembunyikan.
coba kesampingkan humor tentang membaca pikiran, yg aku tangkap dari rumah tangganya itu semua, rasanya terlalu mudah dimaafin, padahal untungnya cuma Alin gak cinta, dan Lorenzo gak celap celup. sisanya kalo dipikir sakit ya