Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi
Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.
Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.
Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.
Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.
Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.
Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.
Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.
Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.
Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.
Sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN DI TENGAH HUTAN
Dua hari setelah jadwal keberangkatan, Serof bersama 200 pasukan kavalerinya mulai bergerak menuju sungai yang tidak jauh dari benteng ketiga.
Selama perjalanan, mereka harus melewati hutan lebat yang belum banyak dijelajahi manusia.
Di dalam perjalanan, Serof mulai berbincang dengan Kael dan Kaela mengenai kemampuan yang mereka miliki.
“Kalian berdua sebenarnya memiliki kemampuan seperti apa?” tanya Serof.
Kael tersenyum.
“Aku bisa mengendalikan berbagai jenis hewan.”
Sementara Kaela menambahkan,
“Sedangkan aku bisa mengendalikan alam, termasuk pepohonan dan tumbuhan.”
Serof memandang keduanya dengan rasa kagum.
Sebenarnya, Serof pernah melihat ras Elf ketika berada di ibu kota. Namun, itu sudah cukup lama.
Setahunya, bangsa Elf memiliki hubungan yang buruk dengan manusia.
Keserakahan manusia menjadi salah satu alasan utama mengapa bangsa Elf sangat membenci Kekaisaran.
Bahkan, sekitar satu dekade yang lalu, bangsa Elf pernah berperang melawan Kekaisaran.
Namun, setelah mengalami kekalahan, mereka menghilang begitu saja.
Menurut rumor yang beredar, para Elf meninggalkan wilayah Kekaisaran dan berpindah menuju wilayah timur yang sangat jauh, sebuah tempat yang hampir tidak pernah dijamah manusia.
Karena itulah Serof tidak pernah menyangka dirinya akan bertemu dengan ras Elf lagi.
Terlebih lagi...
Dua Elf yang ditemuinya sekarang justru menjadi rekan dalam pasukannya.
Serof diam-diam bergumam dalam hati.
“Sebenarnya apa yang sedang direncanakan Tuan Muda?”
“Bagaimana mungkin beliau bisa menjalin hubungan baik dengan bangsa Elf?”
“Bahkan beliau juga memiliki Bob, manusia barbar dengan kekuatan yang tidak masuk akal itu.”
Semakin lama memikirkannya, semakin banyak pertanyaan muncul di kepala Serof.
Penyergapan Goblin
Sekitar 200 pasukan kavalerinya kini mulai memasuki bagian terdalam hutan.
Pepohonan di wilayah tersebut sangat besar dan tinggi.
Daunnya yang lebat bahkan menutupi cahaya matahari, membuat suasana di dalam hutan menjadi jauh lebih gelap.
Tiba-tiba...
Kaela mengangkat tangannya.
“Berhenti.”
Serof langsung memberikan perintah kepada seluruh pasukan.
“Berhenti!”
Seluruh pasukan menghentikan langkah mereka.
Serof menatap Kaela dengan serius.
“Ada apa?”
Kaela memejamkan mata.
Ia merasakan sesuatu melalui tumbuhan di sekitarnya.
“Ada sekelompok Goblin yang bersembunyi.”
Kaela menunjuk ke arah semak-semak di depan.
“Mereka sedang mengawasi kita.”
Serof langsung waspada.
Kael juga terlihat sedikit serius.
“Ada sesuatu yang aneh.”
Serof menoleh kepadanya.
“Apa?”
Kael menjawab,
“Aku tidak merasakan keberadaan hewan liar di sekitar sini.”
Serof mulai menyadari bahwa situasi mereka memang tidak normal.
Ia segera turun dari kudanya.
“Semua pasukan, bersiap!”
Para prajurit langsung menghunus senjata.
Serof kemudian kembali menaiki kudanya dan terus bergerak maju.
Mereka tidak mundur.
Beberapa menit berlalu.
Hutan kembali sunyi.
Tidak ada suara burung.
Tidak ada suara hewan.
Hanya suara langkah kaki dan derap kuda.
Tiba-tiba—
“KWAAAAAAAK!”
Teriakan keras terdengar dari atas mereka.
Puluhan Goblin melompat dari atas pohon sambil mengarahkan tombak dan pedang kepada pasukan Serof.
Serof terlambat menyadarinya.
Tangannya langsung bergerak menuju gagang pedang.
Namun sebelum ia sempat menarik pedangnya—
CRAAAK!
Akar-akar berduri tiba-tiba muncul dari dalam tanah.
Akar tersebut melesat dengan kecepatan tinggi dan menusuk tubuh para Goblin yang masih berada di udara.
CRAK! CRACK! CRACK!
Beberapa Goblin tertusuk tepat di bagian tubuh mereka dan tergantung di antara pepohonan.
Goblin lainnya yang masih bersembunyi di semak-semak juga tidak luput.
Akar berduri terus bermunculan dari tanah dan menyapu seluruh area.
Para Goblin yang mencoba melarikan diri langsung terjerat.
Serof menoleh ke belakang.
Ia melihat Kaela berdiri di atas kereta kuda dengan kedua tangannya terangkat.
Rambut hijaunya bergerak tertiup angin.
Mata Kaela terlihat tenang.
Serof terbelalak.
“Jadi... ini kekuatan pengendali alam?”
Ia bahkan tidak menyadari kapan Kaela mulai menggunakan sihirnya.
Serof kemudian melihat ke arah Kael.
Berbeda dengan Kaela, Kael justru duduk santai di dalam kereta kuda.
Serof mengerutkan kening.
“Apa yang dilakukan Kael?”
“Kenapa dia tidak membantu?”
Namun, sebelum Serof sempat bertanya, sekelompok Goblin kembali menyerang dari sisi lain.
Serof langsung mencabut pedangnya.
“Serang!”
SLASH!
Satu tebasan memenggal kepala seorang Goblin.
SLASH!
Tebasan kedua mengenai dua Goblin sekaligus.
Serof terus bergerak tanpa henti.
Setiap ayunan pedangnya mampu menjatuhkan beberapa Goblin.
Para prajuritnya juga mulai bertarung.
Sementara itu, Kaela terus mengendalikan akar-akar berduri dari dalam tanah.
Tumbuhan yang berada di sekitar mereka seolah-olah berubah menjadi senjata.
Setiap Goblin yang mencoba menyerang dari atas langsung dijerat dan dihantam oleh akar.
Pertempuran berlangsung sengit.
Namun, dua jam kemudian...
Serangan Goblin akhirnya berhenti.
Hutan kembali sunyi.
Serof dan pasukannya menarik napas lega.
Anehnya, tidak ada satu pun pasukan yang tewas.
Beberapa prajurit memang mengalami luka, tetapi tidak ada korban jiwa.
Serof menghela napas.
“Untungnya tidak ada yang gugur.”
Tidak lama kemudian, Kael keluar dari kereta kuda dan berjalan menghampiri Serof.
“Serof.”
Serof menoleh.
“Ada apa?”
Kael berkata dengan santai,
“Setelah semua pasukan beristirahat, kumpulkan seluruh mayat Goblin yang ada di sekitar sini.”
Serof mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
“Aku akan menyimpannya.”
Kael berhenti sejenak.
“Setelah itu, aku akan memberikannya kepada Tuan Muda.”
Serof terdiam.
“Lagi-lagi soal mayat...”
Ia mulai merasa bahwa Kael ternyata memiliki kebiasaan aneh yang sama seperti Tuan Mudanya.
Namun, Serof tidak bertanya lebih lanjut.
Ia hanya memberikan perintah kepada pasukannya.
“Semua pasukan! Kumpulkan mayat para Goblin!”
Para prajurit segera bergerak.
Tidak lama kemudian, laporan jumlah korban musuh diberikan kepada Serof.
“Jenderal, berdasarkan pemeriksaan sementara, jumlah Goblin yang menyerang kita sekitar 200 ekor.”
Serof mengerutkan kening.
Dua ratus Goblin...
Yang membuatnya tidak tenang bukan jumlah mereka.
Melainkan cara mereka menyerang.
Serangan mereka terlalu teratur.
Seolah-olah ada seseorang yang memberikan perintah kepada mereka.
Pasukan Josep
Di tempat lain, perjalanan Josep dan Bob mengalami kejadian yang hampir sama.
Mereka juga diserang secara tiba-tiba oleh sekelompok Goblin.
Namun, keadaan mereka jauh lebih buruk.
Sekitar 300 Goblin menyerang pasukan Josep secara mendadak.
Pertempuran berlangsung sengit.
Dari 1.000 pasukan yang dibawa Josep, 167 prajurit gugur.
Setelah serangan berakhir, Josep berdiri di antara mayat-mayat pasukannya.
Ia mengepalkan tangannya.
“Sialan...”
Josep kemudian menatap mayat para Goblin yang berserakan.
“Bagaimana mereka bisa mengetahui bahwa kita akan melakukan penyerangan ke benteng ketiga?”
Bob yang berdiri tidak jauh darinya menjawab dengan tenang.
“Goblin memang lemah.”
Bob mengangkat kapaknya ke bahunya.
“Tapi jika jumlah mereka sebanyak itu, bahkan prajurit terlatih sekalipun akan kesulitan menghadapi serangan mendadak.”
Josep mengangguk.
“Benar.”
Setelah memastikan tidak ada serangan susulan, Josep dan Bob melanjutkan perjalanan.
Berbeda dengan pasukan Serof, mereka tidak mengumpulkan mayat Goblin.
Mereka hanya melanjutkan perjalanan menuju tujuan.
Benteng Ketiga
Empat jam kemudian, Josep dan Bob akhirnya tiba di sebuah bukit yang lokasinya cukup jauh dari benteng ketiga.
Dari atas bukit, mereka dapat melihat benteng tersebut dengan jelas.
Josep terdiam.
Di depan mereka terlihat benteng besar yang dikuasai oleh pasukan Goblin.
Namun, ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya.
Para Goblin terlihat sibuk menggali dan membangun sebuah terowongan besar di bawah benteng.
Josep memperhatikan dengan serius.
“Jadi mereka sedang membangun terowongan?”
Bob menyipitkan mata.
“Sepertinya begitu.”
Josep mulai berpikir.
Apa sebenarnya yang mereka rencanakan?
Ia akhirnya memutuskan untuk bermalam di sekitar bukit tersebut.
Malam itu akan digunakan untuk menyusun strategi.
Jika kita bisa masuk melalui terowongan atau menemukan jalur menuju gerbang belakang, kita mungkin bisa menyerang mereka dari dalam.
Jembatan Sungai
Sementara itu, Serof dan kedua Elf tersebut telah tiba di sungai yang menjadi tujuan mereka.
Mereka mulai membangun jembatan.
Namun, pekerjaan tersebut tidak dilakukan oleh para prajurit saja.
Sebelas ekor beruang cokelat ikut membantu mereka.
Beruang-beruang tersebut mengangkat batang pohon besar dan membawanya menuju sungai.
Serof hanya bisa berdiri dengan mulut terbuka.
“Apa-apaan ini...”
Ia menatap sebelas beruang yang bekerja bersama pasukannya.
Kemudian ia menoleh ke arah Kael dan Kaela.
Kedua Elf itu justru sedang bersantai di atas sebuah batu besar di bawah pohon.
Serof menggelengkan kepala.
“Bagaimana mungkin Kael bisa menjinakkan sebelas beruang cokelat semudah itu?”
Semakin Serof memikirkannya, semakin ia merasa kepalanya akan sakit.
Kalau terus memikirkan hal-hal di luar nalar seperti ini, aku bisa benar-benar gila.
Serof akhirnya menyerah memikirkannya.
Ia mengambil dua botol air dan berjalan menghampiri Kael dan Kaela.
“Kalian berdua, minumlah.”
Kael dan Kaela menerima botol tersebut.
“Terima kasih, Serof.”
Serof kemudian ikut duduk di batu besar itu.
Ia memperhatikan para prajurit dan sebelas beruang cokelat yang masih sibuk membangun jembatan.
Setelah beberapa saat, Serof berkata,
“Kita akan bermalam di sini.”
Kael dan Kaela saling memandang.
Kemudian keduanya tersenyum.
“Baik.”
Serof kembali menatap sungai.
Namun, di dalam hatinya, ia mulai menyadari sesuatu.
Perjalanan bersama Tuan Muda Iyan mungkin akan menjadi perjalanan paling aneh sekaligus paling berbahaya dalam hidupnya.
Karena semakin jauh mereka bergerak ke wilayah timur...
Semakin banyak rahasia yang mulai bermunculan.