Indonesia
NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN CINTA

BERMAIN API DENGAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Obsesi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.

Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.

Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.

Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERMAIN API DENGAN CINTA Bab 33: Pesan yang Membakar Jiwa

BERMAIN API DENGAN CINTA

Bab 33: Pesan yang Membakar Jiwa

Di kediaman mewah keluarga Kencana, sebuah ponsel pintar yang terletak di atas meja rias marmer bergetar hebat tanpa henti. Layarnya berkedip-kedip, menampilkan pemberitahuan pesan masuk dari sebuah nomor tidak dikenal.

Valen, yang baru saja selesai merapikan riasan wajahnya yang angkuh, mengulurkan tangannya yang dihiasi cincin berlian mahal untuk menyambar ponsel tersebut. Dia mengira itu hanyalah laporan perkembangan misi dari Cinta—pion yang dia bayar mahal untuk menjebak suaminya sendiri demi mengamankan harta gono-gini pasca-perceraian kelak.

Namun, begitu jemari lentik Valen mengetuk layar dan membuka pesan visual yang dikirimkan, seluruh pasokan udara di dalam kamarnya yang luas seolah-olah lenyap seketika.

Deg!

Sepasang mata Valen terbelalak sempurna. Wajahnya yang semula tenang langsung berubah pucat pasi, sebelum akhirnya memerah padam dikuasai oleh badai kemarahan yang luar biasa dahsyat. Napasnya memburu pendek dan berat. Tangannya yang memegang ponsel mulai bergetar hebat hingga kuku-kuku panjangnya memutih.

Di atas layar, terpampang jelas foto pertama: ujung jari seorang wanita yang menyentuh lembut guratan-guratan merah keunguan di atas dada bidang seorang pria yang sangat dia kenali—Maxim. Dan di bawahnya, sebuah foto selfie bersama yang jauh lebih erotis menghantam telak harga diri Valen hingga hancur berkeping-keping. Cinta tampak menyandarkan kepalanya dengan sangat mesra di atas dada telanjang Maxim yang terekspos pasca-pergulatan panas mereka, sementara wajah tampan suaminya yang biasanya sekaku pualam kini menatap kamera dengan seringai tipis yang sarat akan kepuasan erotis.

Kalimat pesan teks di bawah foto itu terasa bagai sembilu yang menguliti kulit wajah Valen di depan umum:

“Jangan lupa sisa uangku... suamimu sekarang sudah menjadi milikku sepenuhnya.”

"Kurang ajar! Jalang sialan!" jerit Valen histeris, suaranya melengking tinggi memecah keheningan kamar.

Dendam dan rasa terhina membakar seluruh akal sehatnya. Valen tidak pernah mencintai Maxim; pernikahan mereka murni karena kontrak bisnis antar-keluarga konglomerat. Namun, melihat pion sewaan yang kemarin siang baru saja dia tampar di kantor kini dengan berani membalikkan keadaan dan mengklaim suaminya sebagai hak milik, murni merubuhkan seluruh ego keangkuhan Valen sebagai seorang Nyonya besar.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, Valen mengetuk layar dengan beringas. Dia mencoba menghubungi nomor ponsel Cinta.

Tuuut... tuuut...

Panggilan itu tersambung, namun tidak ada jawaban. Valen memutusnya dengan geram, lalu beralih menghubungi nomor pribadi Maxim. Hasilnya sama saja. Panggilan teleponnya diabaikan begitu saja seolah-olah keberadaannya di dunia ini sama sekali tidak penting bagi mereka berdua. Valen mencoba menelepon kembali, berulang kali, puluhan kali, hingga jarinya terasa kaku, namun layar ponselnya hanya menampilkan keheningan yang mengejek.

"Di mana kalian... bajingan! Di hotel mana kalian menyembunyikan diri?!" teriak Valen frustrasi. Di tengah kepanikannya, dia baru menyadari sebuah fakta yang membuatnya semakin gila: Cinta sengaja menyembunyikan lokasi GPS-nya. Valen tidak tahu di mana kamar hotel tempat suaminya sedang dilumat habis oleh sang sekretaris pribadi.

Sementara itu, di dalam kamar penthouse VVIP Hotel Grand Kencana, atmosfer di atas ranjang King Size justru berada di titik paling kontras dari kemarahan Valen.

Suara getaran halus dari dua ponsel pribadi yang terserak di atas meja nakas—satu milik Maxim dan satu milik Cinta—terdengar bagai musik latar yang sangat menghibur di telinga Cinta. Setiap kali layar ponsel itu menyala menampilkan nama atau nomor Valen, senyuman miring yang penuh dengan kekejaman psikologis semakin melebar di bibir ranum Cinta.

Cinta sengaja membalikkan layar ponselnya ke bawah, lalu melirik ke arah Maxim yang masih mengungkung tubuh rampingnya dari atas.

"Istrimu yang angkuh itu sepertinya sedang mengalami serangan jantung sekarang, Tuan Max," bisik Cinta dengan nada suara 'Vera' yang teramat manja, rendah, dan mendayu. Jemari lentiknya bergerak nakal, menelusuri rahang tegas Maxim sebelum turun dan mengusap pelan guratan merah di dada bidang sang CEO. "Dia menelepon puluhan kali. Apakah Anda tidak ingin mengangkatnya dan menyapanya dengan suara Ethan-mu yang seksi?"

Maxim tidak mengalihkan pandangannya dari sepasang mata jeli Cinta. Sifat gila kendali dan obsesi posesifnya yang ekstrem telah terkunci mati pada wanita di bawah kuasanya ini. Mendengar ejekan manis Cinta tentang Valen, Maxim justru terkekeh rendah—sebuah kekehan bariton yang berat, serak, dan penuh dengan aura kegelapan yang memikat.

"Persetan dengan Valen," desis Maxim dingin, sama sekali tidak peduli pada eksistensi wanita yang memegang status istrinya di atas kertas itu.

Tangan kekar Maxim bergerak impulsif, mencengkeram kedua pergelangan tangan Cinta dan menguncinya di atas bantal beludru dengan satu gerakan dominan yang mutlak. Jarak wajah mereka kembali terkikis habis hingga embusan napas hangat Maxim yang memburu kembali menerpa permukaan bibir Cinta yang membengkak.

Di balik wajah tampannya, kepuasan kejam dan gairah iblis Maxim bergejolak hebat. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Cinta mengirimkan foto keintiman mereka untuk memeras Valen. Namun, alih-alih merasa dimanfaatkan, ego Maxim yang dulu pernah terabaikan saat masa SMA kini justru menuntut pelampiasan yang jauh lebih liar. Kalimat "Suamimu sekarang sudah menjadi milikku sepenuhnya" yang diketik Cinta tadi terus terngiang-ngiang, membakar habis sisa-sisa kewarasannya pagi ini.

"Kamu sudah mengumumkan pada dunia bahwa aku adalah milikmu, Sekretaris Cinta... atau harus kupanggil Vera, hm?" bisik Maxim dengan suara yang merendah, sarat akan tuntutan kepemilikan yang berbahaya. "Kamu menggunakanku sebagai senjata untuk membalas dendam pada Valen, dan aku membiarkanmu melakukannya dengan sukarela. Tapi permainan ini tidak gratis, Kakak Cantik. Jika aku adalah milikmu, maka kamu juga harus membayar harganya dengan tetap tinggal di dalam sangkarku selamanya."

Cinta menantang langsung kilat kegilaan di mata hitam Maxim tanpa ada rasa takut seujung kuku pun. Jiwa pemburunya justru semakin tertantang melihat sang singa yang kini sudah sepenuhnya terjerat di bawah kendalinya.

"Tentu saja, Tuan Max..." Cinta menyunggingkan seringai paling licik dan menawannya, sengaja menggeliatkan tubuh rampingnya di bawah kekuasaan fisik Maxim untuk memancing gairah pria itu ke titik paling puncak. "Mari kita buat istrimu semakin gila di luar sana, sementara kita melanjutkan lembur malam kita yang tertunda di atas ranjang ini."

Maxim menggeram rendah, suara kepuasan erotis yang sangat pekat bergema di dalam tenggorokannya. Tanpa memberikan kesempatan bagi Cinta untuk menarik napas, Maxim kembali menundukkan kepalanya, menyergap ranum bibir sekretaris pribadinya dengan lumatan yang jauh lebih agresif, menuntut, dan membara dari semalam.

Di bawah sisa getaran telepon dari Valen yang terus diabaikan di atas meja nakas, dua orang yang saling memanipulasi itu kembali tenggelam ke dalam pusaran gairah yang teramat pekat, membiarkan api permainan mereka membakar habis seluruh sisa kewarasan hingga subuh menjelang kembali.

1
Lea
bagus GK ngebosenin ceritanya
Lea
lanjut
Lea
bagus..lanjut
Meysha Talitha Putri
bagus
Park ha: makasih 😍🙏🙏
total 1 replies
Fauzianurul 08
cepat² up yaaa
Park ha: 🤭🤭 aku usahain 2 bab sehari kak... gimnaa pendapat ceritanya? kalau berkenan kasih pendapat...
total 1 replies
the virtuso
izin mampir
Park ha: makasih udah mampir🙏🙏😍
total 1 replies
Abid Din
kak CPT update
Park ha: ok siap...tbw jangan lupa like kasih ulasan kritik saran... makasih😍🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim hadiah lanjut banyak thor
falea sezi
lanjutt
Park ha
moga suka wkkwkwk
falea sezi
nyimakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!