Indonesia
NovelToon NovelToon
Rafka Dan Ragam Senja

Rafka Dan Ragam Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:689
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Nirmaya

Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.

Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?

Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Calon Suami

“Ayo balik, di rumah tante sudah pada mau balikan” Wisnu beranjak terlebih dahulu. Diikuti yang lainnya.

“Kalian tadi pake mobil?” Tanya Luna dan di sahuti suaminya. “Mobil siapa?”

“Senja” si Empu mobil masih santai tidur-tiduran. “Kalian bawa balik aja. Aku mau pake motor lagi. Titip Laptopku ya taruh aja di kursi belakang” gadis itu terserang rasa malas yang membuatnya enggan bergerak.

Ya, hari ini sesuai prediksi adalah hari merah baginya. Tepat setengah jam sebelum Zoom, untuklah dia menyiapkannya jadi tidak ada drama lain-lain yang makin menganggu moodnya.

“Kamu mau bermotor? Gerak aja malas gitu, nanti tergeletak lagi di jalan” komentar Wisnu. Tapi tak urung, tangannya meraih tas laptop milik Senja yang menggantung di udara. Senja sudah mengulurkan benda itu ke arahnya.

Senja berdecak “Biar sama aku aja, Bang. Pinjam motor siapa kah nanti” Rafka dengan cepat bersuara sebelum Senja nyerocos melawan kata-kata Wisnu. Makin lama nantinya.

“Nah, ya sudah kelar masalah. Peluk erat-erat Rafka nanti, Senja! Atau ngga ikat dia di belakang, Ka. Anaknya ngga suka pegangan kalau di motor”

“Ck! Abang nih, iya-iya sana pergi! heh berisik banget!”

“Nja” Rafka menegurnya pelan, kurang sopan jika Senja bersikap seperti itu. Apalagi ini dengan Abangnya sendiri. ”Ayo bangun, lanjutin tidur nya di mobil aja nanti”

Wisnu menggeleng tak heran “Biarkan aja seperti itu dulu, Ka. Biar dia ngumpulin nyawa nya yang melayang”

Rafka menoleh ragu, tidak enak kepada Luna dan keluarganya yang mungkin saja ingin istirahat. Karena hari Sudah sore.

“Ngga papa, Senja biasa begitu kalau di sini. Mukamu jangan di bikin ngga enak gitu, Rafka” ucap suaminya Luna. “Yudh, ngga buru-buru pulang kan? Kamu ikut mobil aja. Biar motor mereka berdua yang pake” sarannya lagi, Yudha hanya mengiyakan.

Hampir sepuluh menitan Rafka menunggu Senja bermalas-malasan. Sebanyak tiga kali juga Wisnu menanyai keadaan Senja, sudah ada niatan pulang belum? Tanda-tandanya bergerak atau ngajakin balik?

Yang lain sudah pada balik kerumah saudara Bunda. Kembali berkumpul di sana ada juga yang sudah pamit duluan, ada agenda lagi.

Senja beranjak, merelakan tempat pw (posisi enak) nya sedari tadi. Mereka hanya berdua sekarang, sepercaya itu sepupunya meninggalkan mereka. Tapi tenang saja, pintu rumah di buka lebar oleh Rafka agar tak mengundang fitnah dari tetangga sini.

“Ayo balik” gadis itu bersuara parau. Efek lama berbaring, meski tak tertidur sepenuhnya.

Rafka mendekati Senja. Jangan salah, Rafka pun tadi mengambil duduk di dekat pintu. Lumayan jauh dari Senja. “Sudah mendingan malasnya? Sudah bisa bergerak?” tanya nya lembut, tangannya terulur membantu Senja berdiri.

Senja hanya bergumam tak jelas, tapi tak urung juga menyambut tangan Rafka. “Terima kasih” di balas senyuman Rafka.

Mereka berjalan keluar rumah beriringan, sebelum meninggalkan rumah Rafka menyempatkan mengunci pintu rumah sesuai Amanah pemilik rumah. Senja sendiri memilih menunggu di halaman rumah di samping motor.

“Aru?” sapa Pria itu ragu, posisi Senja sedang menunduk hingga tidak terlihat wajahnya dengan jelas

“Apa?” Ia menunduk menatap kerjaannya di layar hp.

“Benar! Arunika” Senja mengangkat pandangannya, melihat pria masa lalu nya sudah berada tepat di hadapannya.

Tubuhnya kaku, mulut nya keluh, pikirannya melayang. Ini pertemuan pertama kali mereka setelah kandasnya hubungan keduanya. Jantung nya berdebar kencang. Perasaan apa ini?

“Kamu… apa kabar?” Pria itu masih sama seperti terakhir kalinya bertemu, masih menatapnya lembut, suaranya tidak ada yang berubah padahal hubungan mereka bukan lebih dari mantan tunangan. “Aru? Hei?” suara jentikan jari menyadarkannya.

Bod oh! rutuknya. “Baik, saya baik!” balas gadis itu tersenyum “Kamu juga, gimana?”

Saya? ah tembok itu kembali Senja dirikan di tengah mereka rupanya. "Aku- saya baik. Iya baik. Lama ngga ketemu ya”

Senja tertawa mengusir rasa canggung “Iya, saya pikir akan menerima undangan dari kamu, Kamal”

Kamal terdiam. Undangan ya? Ia tersenyum sinis “hah, kamu mikirnya kejauhan!” Senja mengernyit tidak mengerti, bukankah dia mau mewujudkan keinginan orang tuanya? Makanya memutuskan hubungan.

“Aku menolak perempuan itu, Ru”

“Ya?” Beo Senja bingung. “Setelah putusnya hubungan kita, Ibu memperkenalkan saya dengan perempuan, awalnya saya menerima saja. Tapi seiring berjalannya waktu ternyata kita ngga cocok, dan sepakat buat menyudahi hubungan itu. Ah- jadi curhat, maaf Aru” Kamal meringis tak enak hati, bisa-bisanya menceritakan kehidupannya ke perempuan yang di tinggalnya.

“Oh iya, kamu ngapain di sini?” Kamal merubah topik

“Ini rumah Kak Luna” jawabnya singkat. Tidak tau mau merespon apa dari cerita Kamal tadi.

“Kak Luna?” Kamal mencoba mengingat, siapa yang di sebutkan oleh Senja tadi.

“Oh Maaf, kamu tidak mengetahuinya. Kakak Sepupu Saya” selama mereka menjalani hubungan, Kamal sangat jarang ikut Senja dalam acara keluarga. Kecuali jika sedang jalan ke luar bareng. Wajar jika ia tak begitu mengenal sepupu Senja.

Kamal mengangguk, “Sendiri?”

Senja tersentak begitu mengingat ada yang sedang di tunggu tadi “Nggak, aku bareng-“ gadis itu menengok kebelakang, ke arah pintu rumah. Kamal pun mengikuti arah tubuh Senja. Dapat ia lihat ada laki-laki yang terabaikan keberadaannya.

Rafka berdiam melihat tepat ke arah nya dan Kamal, laki-laki itu seolah menonton pertunjukan. Wajahnya sangat damai dan tenang sekali. Rafka menaikkan satu alisnya membalas tatapan Senja.

Di rasa waktu yang pas untuk bergabung, Rafka melangkah mendekati mereka dan berdiri tepat di samping Senja yang tidak melepaskan pandangan darinya.

“Kenapa?” Senja menggeleng “Kok diam di depan pintu sih? Di tungguin juga” Rafka terkekeh, tangannya terangkat mengusap pelan kepala Senja.

“Aku hanya memberimu waktu untuk menyapa teman lama, bukan begitu?” Rafka menarik tangannya kembali, sadar mereka bukan muhrim yang bebas saling sentuh.

Senja mencebik “Ya ngga di sana juga. Mau cosplay jadi pajangan atau gimana?”

Rafka tersenyum, cerewetnya Senja dapat di terima baik oleh kupingnya “Oke, aku minta maaf. Gimana?”

Senja tak menjawab, ia kembali menatap Kamal yang hanya diam saja memperhatikan interaksi mereka. “Oh iya, maaf Kamal. Aku bareng dia, kenalin Rafka”

Rafka mengalihkan pandangannya menatap laki-laki yang ia kenal teman Senja sekarang “Rafka, calon suami Senja” dia mengulurkan tangan sebagai sapaan awal.

Kamal mematung, Calon suami? Kamal merutuki diri yang sempat berharap bisa kembali pada Senja. Terlalu breng sek rupanya pemikirannya sekarang.

Merasa tidak tersambut, Rafka menarik kembali uluran tangannya. Tidak sampai mengambil hati. Senja melongok kaget atas pengakuan pria di sampingnya. Tidak salah sebenarnya, tapi apa tidak terlalu cepat untuk sekarang?

“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Rafka enteng, enteng sekali rasanya. Percayalah Senja, apa yang di lakukan Rafka sekarang adalah aksi melumpuhkan lawan dari memperebutkan-mu.

Rafka bukan laki-laki bod oh yang tidak tau hubungan Senja dan Kamal sebelumnya. Cukup melihat interaksi awal mereka saja ia bisa menyimpulkan jawabannya langsung.

“Masih ada lagi yang ingin di bicarakan? Bang Wisnu ngehubungin lagi tadi, Bunda dan Ayah mau pulang sebentar lagi biar ngga terkena macet nanti”

“Ohh udah ngga, ayo kalau mau pergi sekarang?” Senja melihat Kamal lagi, pria itu tidak bersuara sejak Rafka memperkenalkan diri tadi. Ia tak tau kenapa dan apa yang terjadi oleh mantan tunangannya itu.

“Ya sudah, Kamal. Saya balik dulu ya” pamit Senja. Rafka mulai menyalakan motor punya Yudha pacar Riri.

“I-iya iya. Silahkan, titip salam buat keluargamu” tidak ada alasan untuknya menahan Senja lebih lama lagikan?

Kamal menyingkir dari tempatnya, memberikan ruang buat Rafka mengeluarkan motor. Suara klakson di bunyikan tanda pamit dari keduanya. Meninggalkan Kamal yang terdiam menatap kepergian keduanya yang makin menjauh.

Lelucon aneh di pikiran Kamal membuat pria itu tersenyum miris, ia yang memutuskan hubungannya dulu, ia yang mau mewujudkan impian orang tuanya, ia yang membuat Senja trauma dengan sebuah hubungan. Dan sekarang? Ia juga yang menginginkan kembali pada gadis itu, setelah semua yang terjadi. Tidak ada kah rasa malu barang sedikit saja di hatinya?

Dan sekarang, Senja sudah di miliki orang lain. Kamal tidak tau dan tak pernah melihat Rafka di manapun di sekeliling Senja. Boleh kah ia egois? Sebelum janur kuning melengkung, bolehkah ia memperjuangkan Senja sekali lagi? Rasa sayang dan Cinta untuk Senja masih tersimpan rapi di dalam hatinya. Cinta yang ia relakan dan melepaskannya.

1
Senja Susanti
sama namanya seperti namaku
Aksara Nirmaya: hihii halooo kak Senjaa🤗
total 1 replies
Irma Nsyah
semangat nulisnya 😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!