Indonesia
NovelToon NovelToon
Selingkuhan Berhasrat

Selingkuhan Berhasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Clue

Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 Rumah lama

Menit demi menit berlalu. Jhon dengan Clare sudah sampai di rumah yang di bicarakan itu, sepi. Clare melihat ke sekitar dari dalam mobil, di sana hanya ada satu rumah Besar, pohon pohon kecil berdiri di kedua sisi rumah itu, berdiri kokoh layaknya istana yang tak pernah tersentuh manusia, taman yang luas beserta dengan bunga yang bermekaran indah di pinggir jalan membuat mata Clare terpana melihatnya, walau itu bukan taman luas yang pertama kali ia lihat

"Jhon!.." panggil Clare, ada rasa takjub dan penasaran di dalam satu kata yang di lontarkan nya

Tangan Jhon Sudah bersiap untuk turun dari kendaraan itu, namun panggil Clare membuat ia melirik seketika

"hmm?" jawabnya

"apa hanya ada satu rumah di sini?" tanyanya

Jhon tersenyum kecil namun tak menjawab, Ia turun. Kakinya mulai menapak di tanah itu

Suara pintu mobil berderit pelan saat ia menutupnya. Angin malam berhembus, menggoyang dedaunan hingga menimbulkan bisikan samar. Clare masih terpaku di dalam mobil. Jantungnya berdetak tidak karuan. Tempat ini terlalu sunyi untuk disebut perumahan, terlalu megah untuk disebut rumah biasa

"Turunlah." Suara Jhon datar, tapi ada sesuatu yang menahan di ujung katanya

Clare mengangguk kecil lalu membuka pintu. Begitu kakinya menginjak halaman berkerikil putih itu, aroma bunga mawar dan melati langsung menyergap. Wanginya bersih, mahal, dan... asing

Ia mendongak. Rumah di hadapannya menjulang tiga lantai dengan pilar-pilar putih besar. Jendela kacanya memantulkan cahaya bulan, membuatnya tampak seperti istana yang tertidur

"Ini... rumahmu?" bisik Clare pelan, takut jika suaranya terlalu keras akan memecah keheningan

Jhon berjalan beberapa langkah di depan, punggungnya tegap. Ia berhenti di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Tangannya menyentuh besi dingin itu, lalu menoleh sekilas ke arah Clare

"Bukan." Satu kata itu keluar begitu saja.

Clare mengerut. "Lalu milik siapa?"

Jhon tidak menjawab. Ia justru menekan kode di gerbang. Tit. Tit. Tit.

Gerbang itu terbuka pelan dengan bunyi berderit panjang, seolah sudah lama tidak digunakan.

"Ikut aku." ucap Jhon akhirnya, nadanya kini lebih rendah

Clare menelan ludah. Rasa penasaran dan takut bercampur jadi satu.

Ia melangkah masuk, meninggalkan mobil di belakang

Dan saat pintu besar rumah itu terbuka, hawa dingin langsung menyapu wajahnya.

Di dalam gelap. Kosong. Hanya ada satu kursi di tengah ruang tamu luas, dan di atasnya... tergeletak sebuah bingkai foto

Foto seorang wanita tua.

Wanita yang wajahnya... mirip dengan Jhon

"Dia siapa?" tanya Clare, suaranya menyatu dengan keheningan rumah itu

"Nenekku!" Jhon melangkah lurus menuju bingkai itu, menarik tangan Clare untuk mengikutinya

Setelah mendekat Jhon melepaskan genggamannya, ia melangkah ke depan sendiri, berdiri menatap bingkai besar itu di hadapannya

"Jika senjang, aku selalu menyempatkan waktu untuk berkunjung ke sini.. Rumah ini selalu membuatku tenang, damai" ujar Jhon

"lalu, apa alasanmu membawaku ke sini?" tanya Clare, ragu

"aku ingin kamu mengetahui segalanya tentangku" Jhon berbalik menghadap Clare "Akan ku beri tahu suatu cerita yang tak pernah ku lupakan" Jhon menarik lengan Clare, lalu mereka duduk di sofa besar tepi bingkai

"Waktu kecil, aku selalu bermain dengan gadis kecil satu satunya yang selalu ku temui" suara Jhon.... serak. "rumahnya ada di seberang rumah ini"

Clare menatap Poto bingkai itu, dadanya nyeri tanpa alasan

"Dia sangat cantik, keluarganya sangat baik, mereka selalu menyambut ku ketika aku bermain ke rumah mereka" Jhon tertawa kecil. "Suatu ketika aku selalu menunggu dia untuk bermain, namun dia tak pernah muncul lagi"

Tok. Suara jam dinding berdetak

"Aku pikir dia sudah tak ingin berteman denganku" Jhon menoleh ke arah Clare, matanya merah. "Aku pergi ke rumah mereka untuk mencarinya, tapi neneknya bilang padaku"

Ia berhenti

"Dia sudah tiada. Tapi aku tak pernah percaya kata-kata itu!"

Hening

Bibir Clare terbuka, ia ingin berbicara sesuatu, tetapi tenggorokannya tercekat. Jhon mengeluarkan sebuah bingkai Poto kecil, di Poto itu gadis kecil yang tersenyum... memakai kalung bulan sabit yang indah

"kalungnya sangat indah" bisik Clare, lirih

"siapa nama gadis kecil itu?"

Jhon diam. Rahangnya mengeras. Matanya tidak lepas dari foto itu, seolah takut jika berkedip, gambar di dalamnya akan hilang

"Aku tidak tahu" jawabnya. "Dia tak pernah memberitahuku namanya"

Clare mengerut. Jantungnya berdegup aneh.

"Bagaimana bisa? Bukannya kalian sering bermain bersama?"

Jhon mengangguk pelan. Ia meletakkan bingkai fotonya di atas meja. "Kami memang sering bermain. Setiap aku mengunjungi nenek bersama ibu. Di taman belakang rumah ini." Ia menunjuk jendela besar di sisi ruangan. Di luar, taman itu kini dipenuhi rumput liar

"Tapi dia anak yang pendiam. Dia tidak suka bicara. Satu-satunya yang dia lakukan hanya... tersenyum." Jhon tersenyum pahit. "Dan memberikan ini padaku."

Dari saku jasnya, Jhon mengeluarkan sesuatu. Sebuah kalung kecil. Bentuknya sama persis dengan yang dipakai gadis di foto. Bulan sabit. Hanya saja, kalung Jhon sudah terlihat kusam

Clare meraihnya, ia menatap kalung itu dalam *apa Jhon masih mempunyai perasaan kepada gadis itu, tapi apa hak ku untuk bertanya* batin Clare

"apa dia sangat spesial di hidupmu" Clare membalikan pandangan lalu memandang Jhon

"tentu saja, di sangat berarti di hidupku" ungkapnya

Clare mendengar itu, ia menunduk, lalu menatap ke arah jendela, sendu *lalu untuk apa kamu mengikatku di sisimu, Jhon*

"lalu bagaimana dengan ibu dan ayahmu sekarang?"

Jhon terdiam untuk ke sekian kalinya. Cahaya dari lampu besar di atas menimpa wajahnya

"Mereka..." Jhon menghela napas, berat. "mereka sudah lama tiada"

Clare menoleh cepat "maksudmu?"

Jhon berjalan ke arah jendela, berdiri membelakangi Clare, tangan kanannya menggenggam kalung bulan sabit itu erat

"Saat aku kecil, segalanya begitu buruk. Orang yang ku sayang menghilang satu demi satu, meninggalkan aku seorang diri" Jhon tertawa, hambar

"yang jelas, waktu itu hanya nenek yang bertahan untukku" Jhon mendekat, menatap Clare dengan matanya yang memerah "apa kamu juga akan meninggalkan ku seperti mereka?" tanya Jhon.

Kalimat itu begitu menyesak kan di telinga Clare, seakan mengingatkan nya pada sesuatu yang dulu sempat ia dengar

*aku tidak tahu setelah ini aku akan tinggal atau menetap. Kamu membuatku berharap hingga menimbulkan rasa sakit, Jhon* Clare menghapus air matanya dengan punggung tangan, lalu ia berdiri

Mata mereka bertemu, penuh perasaan. Clare mendekat, ia menaruh tangannya di kedua tangan Jhon lalu bicara "aku... aku tak akan meninggalkanmu, tapi jangan buat aku menyesalinya nanti, Jhon!"

"Clare" ujar Jhon, pelan. Ia mengangkat tangan satunya, menyentuh pipi Clare, ragu. "aku sudah terlalu lama hidup di masa lalu" bisiknya. "Aku takut jika aku mulai berharap padamu, dan kamu juga pergi seperti mereka"

Clare menggeleng. Air matanya jatuh

"maka jangan biarkan aku pergi" ada perasaan janggal saat Clare mengucapkan kalimat itu

Jhon hanya menatap Clare dalam. Lama. Seolah mencari jawaban di setiap sudut mata gadis itu.

Jhon pelan-pelan mendekat, mendekatkan bibirnya

"tapi Jhon!" potong Clare, ia mendorong pundak Jhon kasar

"sekarang aku masih istri sah dari Hans, kita?"

"jangan bicarakan hal itu, kamu bisa menceraikan pria jahat sepertinya!" Jari-jari Jhon menyentuh pipi Clare erat.

Dan di tengah sunyi rumah besar itu, di bawah cahaya...

Jhon menunduk ia mengecup kening Clare. Sekejap saja. Lembut

Clare memejamkan mata. Dada yang tadinya sesak, perlahan menghangat.

"Sudahlah. Cukup pembicaraan sedih untuk hari ini."

ujar Jhon

Ia mengusap rambut Clare dengan halus.

"Waktu sudah sangat malam, sekarang dan selamanya kita akan selalu bermalam di sini. Ini akan menjadi rumah kita!"

1
Hamzah
W untuk mbok Lastri ❤️‍🩹
Hamzah
noo mertua matre 🥲
Hamzah
belum apa - apa udah tegang aja nih🗿
Hamzah
halo kak, aku mau baca kalau ada waktu, jangan lupa saling support 😇
Starval
Waduh kak jadi takut, jangan lupa mampir ya kak saling suport
Maharani Martosono
😄
Nona Cloe: rating dong kak, makasih 😘🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!