Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tepi Danau
Suara gemericik air lembut berpadu dengan pantulan cahaya matahari pagi di permukaan danau kecil yang tersembunyi di antara pepohonan, menciptakan suasana damai yang begitu kontras dengan kekacauan pertempuran semalam. Embun masih menggantung di ujung rerumputan di sekeliling danau, berkilau seperti butiran kristal setiap kali tertimpa sinar matahari yang mulai meninggi.
Larasati duduk berlutut di tepi air, dengan telaten membersihkan luka-luka gores di lengan dan kaki Sekar menggunakan daun-daun herbal yang ia kumpulkan sepanjang perjalanan singkat mereka pindah dari lokasi pertarungan menuju danau ini. Tangannya bergerak hati-hati, meremas daun-daun itu hingga getahnya keluar, lalu mengoleskannya perlahan pada setiap luka yang masih basah. Sesekali ia menoleh ke arah Galih yang masih terbaring tak sadarkan diri beberapa meter darinya, memastikan napas pemuda itu tetap teratur.
Sekar mengerang pelan, membuka matanya perlahan begitu rasa perih di lengannya membangunkannya dari tidur lelap yang menyerupai pingsan. Ia mendapati dirinya berbaring di atas jubah yang dibentangkan di rerumputan, dengan Larasati duduk di sampingnya sibuk merawat luka-lukanya.
"Kau sudah bangun," kata Larasati lembut, tersenyum tipis meski wajahnya sendiri masih terlihat pucat kelelahan. "Untung tidak ada luka yang terlalu dalam."
Sekar mencoba duduk, meski tubuhnya masih terasa berat seperti ditindih batu besar. "Berapa lama aku pingsan?"
"Hampir setengah hari. Sekarang sudah menjelang siang," jawab Larasati, melanjutkan pekerjaannya membalut luka di betis Sekar dengan sepotong kain yang ia robek dari ujung jubahnya sendiri.
Sekar menatap Larasati lama, rasa terima kasih yang tulus perlahan menggantikan kebingungan yang masih menyelimuti pikirannya. "Terima kasih, Larasati. Kalau bukan karena kau, mungkin kami bertiga sudah tidak selamat semalam. Aku tidak akan pernah melupakan ini."
"Bukan apa-apa," sahut Larasati, mengalihkan pandangan sejenak, terlihat sedikit canggung menerima ucapan terima kasih itu.
"Tapi kenapa kau bisa ada di sana?" tanya Sekar penasaran, mengingat kembali momen mengejutkan ketika Larasati muncul tepat di saat mereka membutuhkannya. "Kau bahkan bukan bagian dari kelompok kami."
Larasati terdiam sejenak, jari-jarinya berhenti membalut luka, matanya menerawang ke permukaan danau yang berkilau ditimpa cahaya. "Aku merasakan sesuatu yang aneh sejak insiden pendaftaran kalian kemarin. Firasat itu terus mengganggu, sampai akhirnya aku tidak tahan dan memutuskan menyusul ke hutan."
"Firasat soal apa?" Sekar mengejar, alisnya sedikit terangkat penasaran.
"Energi Galih," jawab Larasati pelan, seolah masih tidak yakin dengan kata-katanya sendiri. "Aku tidak pernah merasakan sesuatu seperti itu dari manusia mana pun. Aku cuma... ingin tahu lebih jauh."
Sekar mengangguk, tidak sepenuhnya mengerti namun cukup puas dengan jawaban itu untuk saat ini. Kedua gadis itu terdiam sejenak, membiarkan suara gemericik air dan kicau burung mengisi kesunyian yang nyaman di antara mereka, ikatan baru yang perlahan terbentuk lewat pertarungan hidup dan mati yang baru saja mereka lalui bersama. Sekar melirik sekilas ke arah Larasati yang kembali sibuk merapikan sisa herbal di pangkuannya, menyadari betapa berbedanya kesan pertamanya tentang gadis ini dibanding kenyataan yang baru saja ia saksikan sendiri.
Menjelang sore, ketika matahari mulai condong ke barat memantulkan warna keemasan di permukaan danau, tubuh Galih yang sedari tadi terbaring diam di sisi lain rerumputan mulai bergerak. Jarinya berkedut pelan, diikuti erangan tertahan yang keluar dari bibirnya.
"Ngh..." Galih mengerang pelan, menahan pegal luar biasa yang menjalar di seluruh persendian tubuhnya begitu kesadarannya perlahan kembali. Setiap otot terasa seperti baru saja dihajar habis-habisan, jauh lebih parah dari rasa sakit yang pernah ia rasakan selama tiga bulan latihan brutal Sekar.
Ia membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya matahari sore yang menyilaukan, sebelum akhirnya berhasil fokus pada langit biru cerah di atasnya. Aroma rumput dan air danau yang segar menyapa indra penciumannya, jauh berbeda dari bau tanah lembap dan darah yang terakhir kali ia ingat sebelum kegelapan menelan kesadarannya.
"Galih?"
Suara itu membuat Galih menoleh lemah ke samping. Sekar sudah berdiri, matanya membelalak lebar penuh kelegaan yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Tanpa berpikir panjang, tanpa mempedulikan gengsinya yang biasa menjaga jarak dari siapa pun, Sekar berlari kecil menghampiri Galih dan memeluknya erat, wajahnya tertanam di bahu pemuda itu, tubuhnya sedikit gemetar menahan tangis yang selama ini ia tahan sejak malam mengerikan itu.
Galih membeku total, tidak tahu harus berbuat apa dengan tangannya yang menggantung kaku di udara. Wajahnya memanas hebat, jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari yang seharusnya wajar untuk seseorang yang baru saja siuman dari pingsan panjang.
"Kau membuatku takut setengah mati," bisik Sekar, suaranya bergetar menahan emosi, masih mendekap Galih erat-erat. "Aku pikir kau tidak akan bangun lagi."
"Aku... aku baik-baik saja," Galih berusaha menjawab, meski suaranya sendiri terdengar gugup dan terbata, terlalu terkejut dengan kehangatan pelukan yang tidak pernah ia duga akan ia terima dari gadis seketus Sekar.
Sekar akhirnya melepaskan pelukannya, buru-buru mengusap matanya sendiri dan berdehem canggung seolah berusaha mengembalikan sikap tegasnya yang biasa. Ia melangkah mundur setengah, seolah baru menyadari betapa terbukanya dirinya barusan di depan Larasati dan Galih sekaligus. "Kau membangkitkan sesuatu yang gila semalam. Membantai seluruh Bayangkara sendirian."
Galih mengerjap bingung, mencoba mengingat kejadian terakhir sebelum kesadarannya runtuh. Potongan-potongan ingatan samar mulai muncul, sosok bayangan raksasa, teriakan panik, dan rasa takut kehilangan Sekar yang melampaui segalanya. Semuanya terasa seperti mimpi buruk yang samar, namun rasa lelah luar biasa di tubuhnya membuktikan bahwa semua itu nyata adanya.
"Aku tidak ingat jelas," akunya jujur, duduk perlahan meski tubuhnya masih terasa berat. "Cuma ingat aku sangat takut kau akan mati."
Larasati, yang sedari tadi menonton momen itu dengan senyum lembut, akhirnya ikut mendekat, membawa sebotol air untuk Galih. "Kau tidak sadar sudah menyelamatkan kami berdua semalam. Sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak bisa jelaskan dengan logika sihir mana pun." Ia menyerahkan botol itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar, sisa kelelahan yang belum sepenuhnya pulih dari malam panjang tadi.
Ketiga remaja itu akhirnya duduk bersama di tepi danau, menikmati kehangatan matahari sore yang perlahan turun, membiarkan ketenangan air yang tenang menjadi saksi bisu ikatan baru yang terjalin di antara mereka. Sesekali terdengar suara ikan kecil melompat di permukaan danau, menciptakan riak yang menyebar pelan sebelum kembali tenang. Meski dunia ini penuh bahaya dan monster yang mengancam nyawa kapan saja, untuk sesaat, di tepi danau yang damai ini, mereka merasa aman, merasa memiliki satu sama lain sebagai keluarga baru yang tidak akan mudah terpisahkan lagi.