Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:342.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Hidup Sebagai Levia

Vivian masih syok. Berkali-kali ia memegang pipinya yang tembam, lalu menepuk dan mencubitnya sendiri.

"Aduh!"

Perih. Berarti ini bukan mimpi.

"Ya Tuhan... ujian macam apa ini?" gumamnya mengusap wajahnya frustrasi.

Wanita paruh baya yang tadi memarahi Vandra tiba-tiba memeluknya erat.

"Syukurlah kamu selamat, Via. Jangan bikin ibu takut lagi."

Vivian membeku. Beberapa detik kemudian, ia perlahan melepaskan pelukan wanita itu.

"Maaf, Bu... saya bukan anak Ibu. Saya juga tidak kenal Ibu."

Keheningan seketika menyelimuti tepian sungai.

Semua orang saling berpandangan.

"Apa katanya?"

"Dia bilang gak kenal Bu Ratih."

"Kok bisa? Padahal Bu Ratih itu sayang banget loh sama dia."

"Iya. Dari kecil juga sudah dianggap anak sendiri."

"Maklum, Bu Ratih sama almarhumah ibunya Levia 'kan sahabatan."

"Sejak ibunya Levia meninggal, Bu Ratih yang paling sering merawat dan nemenin dia."

"Pantas Bu Ratih sedih banget lihat Levia begini."

"Mungkin kepalanya kebentur."

"Kayaknya amnesia deh."

Bu Ratih...

Nama itu membuat Vivian tertegun.

Potongan-potongan cerita dalam novel kembali bermunculan di kepalanya.

Ratih Jayasena. Ibu Vandra.

Sahabat mendiang ibu Levia sejak muda. Karena tidak pernah memiliki anak perempuan, Ratih menyayangi Levia seperti putrinya sendiri. Bahkan setelah Levia menikah dengan Vandra, kasih sayang itu tidak pernah berubah.

Itulah sebabnya Ratih selalu berusaha menjadi penengah setiap kali Levia dan Vandra bertengkar.

Di tengah kerumunan, terdengar suara seorang pria memanggil dengan cemas.

"Via!"

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun menerobos kerumunan, diikuti seorang pria jangkung berkacamata. Napasnya memburu. Begitu melihat Vivian terduduk di tepi sungai, wajah tegangnya sedikit mengendur.

"Syukurlah...."

Tanpa pikir panjang, pria itu berlutut dan memegang kedua bahu Vivian.

"Via, kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit? Coba ayah lihat."

Vivian spontan menepis tangannya. "Maaf, Pak. Jangan pegang-pegang saya sembarangan."

Pria itu terdiam. Tangannya menggantung di udara. Sorot matanya berubah kosong, seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.

"Via... ini Ayah."

Vivian menggeleng pelan. "Maaf... saya benar-benar gak kenal Bapak."

Wajah pria itu memucat. Ia menoleh kepada semua orang yang berada di sana, termasuk Vandra dan ibu Vandra.

"Via kenapa?"

Ratih menghela napas pelan. "Kami juga tidak tahu, Pak Gultom. Sejak diselamatkan, bicaranya aneh."

Seorang warga ikut menyahut.

"Mungkin amnesia, Pak Gultom. Soalnya hampir tenggelam."

Pak Gultom...

Nama itu langsung menyentak ingatan Vivian.

Bram Gultom. Ayah Levia.

Pria yang dalam novel digambarkan sangat mencintai istrinya hingga tak pernah menikah lagi setelah sang istri meninggal. Semua kasih sayangnya dicurahkan kepada putri semata wayangnya karena Levia adalah satu-satunya peninggalan wanita yang paling ia cintai.

Meski tidak setuju Levia memaksa Vandra menikah, pada akhirnya ia tetap mengabulkan keinginan putrinya.

Karena terlalu memanjakan Levia, gadis itu tumbuh menjadi sosok keras kepala yang selalu ingin mendapatkan apa pun yang diinginkannya.

"Ya ampun.... Ini bener-bener dunia novel." Ia memegang dahinya. "Ini bener-bener gak lucu."

Ingin rasanya ia menangis. Tetapi harga dirinya sebagai desainer ternama menahannya.

Gultom segera menoleh kepada pria paruh baya jangkung yang berdiri tak jauh di belakangnya.

"Pak Herman, cepat hubungi dokter keluarga. Minta dia langsung datang ke rumah."

"Baik, Pak."

Di sisi lain, Vandra hanya mendengus pelan. "Kalau pura-pura amnesia supaya aku batalin gugatan cerai, sia-sia."

Ucapan itu langsung menyulut emosi Vivian. Ia berdiri, meski sedikit sempoyongan karena masih lemas sekaligus belum terbiasa dengan tubuh obesitas.

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Tatapan Vandra tetap datar. "Aktingmu makin bagus."

Vivian sampai ingin menjambak rambutnya sendiri. "Ini orang kenapa pede banget sih? Apa tiap hari mandi pakai deodoran rasa percaya diri?"

Bram Gultom mengusap wajahnya yang mulai basah oleh air mata. "Sudah."

Ia menatap Ratih dengan wajah penuh rasa bersalah. "Maaf, Bu Ratih. Saya akan bawa Via pulang dulu. Biarkan dokter memeriksanya."

Ratih tampak ragu. "Tapi... bagaimana kalau kondisinya memburuk di jalan? Sebaiknya langsung ke rumah sakit saja."

"Dokter keluarga kami akan datang," kata Gultom. "Setelah itu, kalau memang perlu dirawat, saya sendiri yang akan membawanya ke rumah sakit."

Ratih akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah. Tolong kabari kami bagaimana keadaan Via."

Vandra tidak mengatakan apa pun. Ia hanya berbalik, seolah keadaan Levia sudah bukan urusannya lagi.

Melihat sikap pria itu, Vivian justru merasa lega. "Syukurlah," batinnya. "Semoga dia cepat nyeraiin aku... eh, maksudnya Levia. Aku takut nge-freeze dan jadi boneka salju kalau deket-deket sama dia."

Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan.

Vivian duduk di kursi belakang mobil dengan tubuh masih lemas. Sesekali ia melirik pria paruh baya yang duduk di sampingnya.

Bram Gultom terus menggenggam ponselnya dengan gelisah. Beberapa kali pria itu hendak bertanya, tetapi mengurungkannya.

Vivian justru tenggelam dalam ingatannya. Sedikit demi sedikit isi novel yang pernah dibacanya kembali bermunculan.

Ia diam-diam melirik Gultom. "Levia beruntung banget punya ayah kayak beliau...." Bibirnya melengkung pahit. "Beda banget sama aku."

Ayah kandung Vivian masih hidup. Namun pria itu lebih suka berjudi dan bermalas-malasan daripada bekerja. Setiap kali Vivian mendapat proyek besar sebagai desainer, ayahnya selalu datang meminta uang tanpa pernah memedulikan lelahnya mencari nafkah.

Sejak kecil, Vivian sering berandai-andai memiliki seorang ayah yang benar-benar menyayanginya.

Ia segera menggeleng pelan. "Sudahlah.... Kehidupan itu udah tamat. Yang harus aku pikirin sekarang adalah gimana caranya bertahan hidup di dunia ini."

Ia kembali mengingat alur novel.

Setiap Vandra mau mengajukan gugatan cerai, Levia kehilangan harapan. Berkali-kali mengancam bunuh diri demi menggagalkan perceraian hingga akhirnya benar-benar menceburkan diri ke sungai.

Vivian menarik napas panjang. "Kalau aku ngikutin alur novel, ujung-ujungnya aku juga bakal mati."

Tidak. Ia sudah mati satu kali. Ia tidak ingin mengulanginya.

Mobil perlahan memasuki halaman sebuah rumah. Vivian yang semula melamun langsung membelalak.

Pagar besi tinggi terbuka otomatis. Di baliknya berdiri sebuah rumah bergaya klasik modern dengan taman yang luas dan terawat. Air mancur menghiasi halaman depan, sementara beberapa mobil mewah terparkir rapi di garasi.

"Lho...." Vivian spontan menoleh ke kanan dan kiri. "Bukannya di novel cuma dibilang anak pengusaha biasa? Ini... biasa dari mananya?"

Rumah ini bahkan lebih mewah daripada rumah beberapa kliennya.

"Apa penulis novelnya lupa menjelaskan? Atau memang ada banyak hal yang tidak pernah ditulis?"

Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi kepalanya.

"Via, ayo masuk."

Suara Gultom membuyarkan lamunannya.

Vivian mengikuti pria itu hingga tiba di sebuah kamar. Begitu pintu terbuka, Gultom berkata dengan nada lembut, "Kamu ganti baju dulu. Jangan sampai masuk angin atau flu."

Vivian mengangguk. Sedangkan Gultom berbalik pergi.

Vivian masuk dan menutup pintu dibelakangnya. Ia menyapukan pandangannya ke kamar luas itu. Langkahnya langsung terhenti di depan cermin yang berdiri setinggi badan.

Perlahan ia mendekat. Wanita di dalam cermin ikut mendekat. Pipi bulat. Dagu berlapis. Lengan besar. Pinggang nyaris tak terlihat.

Vivian menelan ludah. "Ya Tuhan...."

Ia memutar tubuhnya perlahan. Dari samping... Sama. Dari belakang... Tetap sama.

"Ini bener-bener aku?"

Pandangan Vivian jatuh ke sebuah timbangan digital di sudut kamar. Dengan ragu ia menaikinya.

Beep! Angka di layar menyala.

112, 5 kg.

Vivian membeku. Beberapa detik kemudian ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Ya Tuhan... ini bukan diet lagi." Ia mengembuskan napas panjang. "Ini proyek nasional."

Ucapan itu membuat dirinya sendiri tertawa getir.

 

...✨"Tidak semua kesempatan kedua datang dalam kehidupan yang lebih baik. Kadang, ia datang dalam kehidupan yang menuntut kita menjadi pribadi yang lebih baik."...

..."Menerima kenyataan bukan berarti menyerah pada takdir. Justru dari situlah keberanian untuk mengubahnya dimulai."✨...

.

To be continued

1
Lucyana H
risa harus tanggung dgn segala resikonya karna emang dia yg salah,harusnya ga gitu jendral,anak salah kok masih di bela
Lucyana H
rasain Risa kena batunya,nikma aja hotel prodeo bareng si Ninis
Lucyana H
Risa jd cewek jgn murahan atuh..kmu itu dokter,anak jendral ,kmu jg berpendidikan pasti tau etika dong,masa ngejar "suami orang ,emang ga malu kmu,udah putus kalo ya urat malunya,salah di vandranya sih..knp ngasih harapan dulunya
Lucyana H
vandra harusnya masalah rumah tangga kmu jgn sampe denger sm orang luar,apalagi si Risa katanya seorang dokter,bapanya jendral masa dtg ke rumah yg masih jd suami orang,pantes jg ga,
Lucyana H
ih..Ninis ga jelas bgt,....ngarep bgt jd si levia...mimpi aja Lo nis
Lucyana H
dih siapa Lo Ninis sadar.....Lo tuh cuma Pembokat...ga usah ngarep .....cih ngehalu
Siska Safitri
lanjut
Sulati Cus
👍🏻
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Ninis ini masih saja ingin mencuri desain Levia. Otaknya perlu dicuci ini orang. Tak ada rasa bersyukur telah ditolong Gultom untuk bekerja dan tinggal di rumah Gultom.

Mimpi kali Ninis. Mau menjatuhkan Levia.

Ninis sendiri nanti yang nyungsep terjerembab karena ditendang keluar dari rumah Gultom.
anonim
Risa jangan berharap banyak pada Vandra yang masih belum mantap ingin menceraikan Levia.

Bagaimana caranya mau bikin Vandra mengurungkan niatnya untuk menceraikan Livia. Niat banget nih Risa.
anonim
Risa ini sudah disikapi dingin Vandra masih juga berharap.

Vandra tidak memberi peluang kepada Risa untuk membahas masa lalu.

Risa mau bikin Vandra cemburu atau marah ketika memberitahu tentang Levia yang menjalin kerjasama dengan Andri Mahesa.

Risa ngomongnya mbulet aja. Sudah Risa, kamu nggak ada peluang lagi untuk mendapatkan Vandra.
anonim
Vandra cemburu sama Andri makanya mengingatkan Levia masih istrinya.

Sekarang pusat dunia Vandra adalah Levia. Levia sendiri pusat dunianya Brenda, sudah bukan sang Kapten lagi.
anonim
Vandra menghubungi Levia, cemburu terselubung. Mengingatkan Levia masih istrinya.

Vandra belum bilang mau membatalkan perceraian. Belum punya nyali dia, belum tahu alasannya apa kalau Levia bertanya😁.

Salahnya sendiri kasih surat cerai untuk ditandatangani Levia. Kini menyesal.
anonim
Selama ini Vandra gigih untuk menceraikan Levia. Kini istrinya banyak mengalami perubahan terutama fisiknya dan tidak mengejar dirinya seperti dulu.

Sekarang Vandra tidak ingin kehilangan Levia. Mau membatalkan perceraian. Bingung sendiri jadinya.
anonim
Rekan-Rekan Vandra semakin gencar ngomong tentang Levia dengan segala perubahannya.

Mereka tertawa tanpa merasa dosa sedikitpun. Sedangkan Vandra tidak ikut tertawa. Ingatannya ada pada foto Levia yang tersenyum, berdiri di samping Andri Mahesa.

Vandra semakin diam, semakin nggak karuan rasanya ketika rekan-rekannya semakin gencar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nanti.

Rekan-rekan Vandra bicaranya semakin bikin Vandra benar-benar galau. Mereka dengan enaknya bicara seperti mengejek Vandra dengan kenyataan yang ada.
anonim
Rekan-rekan Vandra pada membicarakan Levia yang bekerja sama dengan Mahesa retail.

Yang punya Nahesa Retail masih muda, belum menikah pula.

Daun telinga Vandra panas ngga tuh mendengar obrolan rekan-rekannya.

Mereka juga membicarakan Levia di masa sebelum Vandra mendapat tugas tugas ke Libanon.

Vandra hanya diam.
anonim
Vandra membuka Akun Brenda.

Vandra melihat foto Levia sedang berjabat tangan dengan Andri yang dia tidak mengenalnya.

Perasaannya mulai tidak nyaman mengetahui Andri seorang pengusaha muda, belum menikah.

Vandra menyesal ngga setelah melihat foto-foto Levia dengan aktifitasnya dan segala perubahannya.

Belum bercerai namun sudah memberi surat perceraian untuk ditandatangani Levia.

Sepertinya Vandra masih punya harapan untuk bersama Levia yang belum menandatangani surat cerai.
anonim
Risa siap-siap saja menerima kenyataan kalau Vandra tidak jadi menceraikan istrinya yang sekarang jelas lebih menarik, lebih mandiri, punya perusahaan sendiri dan semua perubahan yang terjadi pada Levia.

Dari dulu Risa saja yang mengganggap remeh Levia.
A.R
knp ngk di ganti tuhh namanx calon mantan suami mu,,ntar dia liat teruss kepedeaan Krn km blum bisa move on
A.R
nihh Ninis jatuh cinta kh SM bpknx Levis atau gmna??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!