Tiga tahun lalu, Alessandra Valente membakar seluruh dunianya demi seorang pria—seorang raja mafia bermata madu yang menjanjikannya kebebasan, lalu mencampakkannya di jalanan dengan sebuah rahasia di dalam rahim.
Kini ia hanyalah seorang ibu tunggal di sudut kumuh Queens, bertahan hidup di antara tumpukan tagihan dan tawa kecil putranya. Sampai suatu sore kelabu, aroma cendana dan bahaya itu kembali menghantui: Damian Smirnov, sang Pakhan Bratva yang dulu menghancurkannya, berdiri di ambang pintu—dan menatap lurus ke mata madu anak yang begitu mirip dengannya.
"Apa pun yang berasal dari darahku, adalah milikku."
Tapi Alessandra bukan lagi gadis rapuh yang ia tinggalkan. Untuk melindungi putranya, ia rela belajar menarik pelatuk, menantang para bos paling ditakuti di lima keluarga, dan berdiri di garis depan perang yang bisa menelan mereka semua. Di antara pengkhianatan keluarga, dendam yang membara, dan gairah yang tak pernah benar-benar padam, seorang perempuan yang dulu dihina sebagai "si gendut dari Queens" perlahan menjelma menjadi sesuatu yang membuat seluruh dunia bawah tanah bertekuk lutut: Sang Singa Betina.
Jika mereka mengira bisa merebut anaknya, mereka akan belajar satu hal—tak ada yang lebih berbahaya daripada seorang ibu yang tak lagi punya apa pun untuk kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamila22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Lapar akan Dirimu
Restoran itu kosong. Damian Smirnov bukan tipe pria yang mau mengantre atau berbagi udara dengan orang asing kalau dia menginginkan sesuatu, dan malam ini, dia menginginkanku. Lampunya remang, hanya beberapa berkas emas yang memantul di botol-botol anggur seharga ribuan dolar. Aku merasa asing dengan gaun hitamku, tahu betul ibuku bakal kena serangan jantung seandainya melihat aku kabur bersama musuh nomor satu keluarga.
"Kamu belum menyentuh anggurmu, Alessandra," Damian memecah keheningan. Suaranya gesekan beludru dan amplas di tengkukku.
"Aku tidak lapar akan makanan, Damian," balasku, membalas tatapannya. Aku lelah berpura-pura.
Dia meletakkan gelasnya di meja dan mencondongkan tubuh ke depan. Cahaya lilin menegaskan bekas luka di alisnya dan kegelapan tak terduga di matanya.
"Aku juga tidak. Tapi seorang pria harus memberi makan mangsanya dulu sebelum menyantapnya." Dia mengulurkan tangan melintasi taplak dan menyentuh buku-buku jariku. Sentuhan itu membakarku. Jari-jarinya besar, buku-bukunya bertanda perkelahian yang hanya bisa kubayangkan. "Ayahmu mengirim tiga anak buahnya untuk mencarimu ke loft-ku sejam yang lalu."
Udara terhisap habis dari paru-paruku.
"Apa yang kaulakukan pada mereka?"
"Katakanlah sekarang mereka tahu bahwa jangan pernah mengetuk pintuku tanpa undangan. Mereka tak akan mengganggumu lagi malam ini. Kamu milikku, meski seisi dunia mau terbakar karenanya."
Damian memanggil pelayan dengan isyarat singkat, membayar tagihan tanpa melihat jumlahnya, lalu bangkit. Dia menghampiri kursiku dan membantuku berdiri, tetapi tak melepaskanku. Tangannya turun menyusuri punggungku, membenam di lengkung pinggangku dengan tekanan yang membuatku paham bahwa dia tak menerima kata "tidak".
"Ayo pergi. Kita sudah membuang terlalu banyak waktu untuk bicara," geramnya dekat telingaku.
Kami tiba di kamarnya, sebuah ruang yang beraroma dirinya: cendana, kulit, dan bau logam khas senjata yang selalu dia bawa. Begitu pintu tertutup dengan klik logam, Damian menyudutkanku ke kayu pintu. Tangannya langsung menuju wajahku, memeganginya dengan kegairahan yang membuatku megap-megap.
"Aku memandangimu sepanjang makan malam, membayangkan bagaimana rasa kulitmu di bawah lidahku," bisiknya sebelum menghantamkan bibirnya ke bibirku.
Itu bukan ciuman yang lembut. Rasanya seperti lapar, seperti kepemilikan mutlak. Tangannya turun dengan putus asa, menarik kain gaunku ke atas, membelai pahaku dengan kekasaran yang membuatku gila. Dia mengangkatku, dan aku melingkarkan kaki ke pinggangnya, merasakan ereksinya menekan pusatku, mengingatkanku pada apa yang akan datang.
Dia melemparku ke atas ranjang besar berseprai hitam. Dia melepas kemejanya, memperlihatkan otot-otot tegang bertato yang meneriakkan bahaya. Dia memosisikan diri di atasku, menawan kedua tanganku di atas kepalaku hanya dengan sebelah tangannya.
"Malam ini kamu cuma akan jadi Alessandra. Tanpa nama keluarga, tanpa keluarga, tanpa aturan." Tangannya yang satu lagi turun, membelai perutku, meluncur menyusuri renda pakaian dalamku sampai jari-jarinya menemukan basahku. "Kamu basah kuyup karena aku, sayang."
Dia mulai mempermainkanku, jari-jarinya keluar-masuk dengan ritme yang menyiksa, sementara mulutnya sibuk dengan buah dadaku, menggigit-gigit menembus kain sampai lolos jeritan yang lenyap di ruangan. Aku menggeliat di bawahnya, mencari lebih, membutuhkan dia mengisiku sekarang juga.
"Kumohon, Damian..." aku memohon dengan napas tersengal-sengal.
"Minta padaku. Katakan apa yang kaumau aku lakukan padamu," dia menggodaku, menghentikan jari-jarinya tepat saat aku hampir mencapai tepian.
"Aku ingin kamu menjadikanku milikmu. Sekarang. Ayo kita bunuh dahaga terkutuk ini," balasku, memandangnya dengan seluruh hasrat yang membakarku dari dalam.
Damian tersenyum, senyum iblis yang menjanjikanku surga dan neraka sekaligus. Dia melepas celananya dan menerobos masuk ke dalamku dengan hunjaman begitu dalam sampai punggungku melengkung dan tumitku menancap di kasur.
Ritmenya buas, kasar. Setiap kali tubuh kami berbenturan, suara kulit beradu kulit memenuhi udara, berbaur dengan erangan kami. Dia membalikkan tubuhku, memunggungkanku padanya, lalu menarik rambutku pelan supaya leherku terbuka bagi ciuman-ciuman rakusnya, sementara dia terus menerjangku dengan kekuatan yang buas. Aku merasakan setiap sentimeter dirinya, gesekannya, panasnya, kegairahannya.
Ketika orgasme menghantamku, rasanya seperti kilat yang membuatku gemetar, meneriakkan namanya, sementara dia mencengkeram pinggulku, menandaiku dengan jari-jarinya, menumpahkan diri di dalamku dengan raungan yang menggetarkan udara.
Kami tetap di sana, terjalin dalam peluh dan keheningan yang mengiringi usai perang. Aku tak tahu, tetapi di ranjang itu, di antara erangan dan janji-janji yang dibisikkan ke telinga, sedang tumbuh benih pewaris imperiumnya... dan kesepianku di masa depan.