Indonesia
NovelToon NovelToon
Salman Prakarsa

Salman Prakarsa

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kanji Wara

"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."

Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

hangatnya kopi

Tidak butuh waktu lama bagi Siska untuk kembali dari dapur mes. Ia berjalan hati-hati membawa sebuah cangkir kaca yang mengepulkan uap hangat beraroma pekat, lalu meletakkannya tepat di hadapan Salman.

"Nih, Man, kopinya. Kalau kurang manis atau kemanisan, bilang aja ya," kata Siska lembut, duduk kembali di sebelah Salman.

Salman menerima cangkir itu dengan kedua tangannya. Ia meniup permukaan kopi hitam yang masih panas, lalu mencicipinya sedikit demi sedikit. Sebuah senyuman puas terukir di wajahnya yang masih agak kemerahan.

"Mantap, Sis. Pas rasanya," kata Salman tulus.Ia meletakkan cangkir itu di dekat lututnya, lalu memandang teman-temannya dengan raut agak sungkan. "Tapi beneran...

maaf nih ya semuanya...

aku emang belum pernah sama sekali minum yang begituan."

Dian yang sedang asyik mengunyah potongan mangga menopang dagunya dengan tangan, tampak penasaran. "Emang kalau anak-anak muda di kampungmu biasanya pada minum apa, Man?"

"Ya ini," sahut Salman singkat sambil mengangkat cangkir kopi hitamnya, membuat Jono dan Agus spontan terkekeh.

"Eh, maksudku anak-anak nakal di kampungmu, Man. Masa gak ada yang minum alkohol sama sekali?" ralat Dian sambil tersenyum gemas dengan kepolosan Salman.

Salman terdiam sejenak, mengingat-ingat kelakuan beberapa pemuda di desanya dulu. "Ada juga sih... tapi mereka biasanya ngerakit sendiri."

"Ngerakit gimana?" tanya Tias ikut penasaran.

"Alkohol kadar 70 persen yang biasa buat bersihin luka, dibeli di apotek. Terus dicampur pakai serbuk minuman energi sasetan sama air mentah," urai Salman tanpa beban, menjelaskan realitas oplosan ekstrem yang lazim di pedesaan.

"Widiiih... ngeri amat, Man! Itu mah nyari penyakit namanya!" seru Dian sambil bergidik ngeri, membayangkan bahan kimia pembersih luka masuk ke dalam perut.

Salman hanya mengaduk kopinya pelan. "Entahlah... aku gak pernah ikutan juga kalau mereka lagi pada ngumpul begitu.

"Namun, seiring berjalannya obrolan dan semakin larutnya malam, kehangatan kopi hitam ternyata tidak cukup kuat untuk menahan laju reaksi kimia di tubuh Salman. Efek dari satu tegukan besar minuman keras dari Jono tadi kini mulai benar-benar nyata menghantam kesadarannya. Rasa hangat yang tadi membakar kerongkongan kini naik ke ubun-ubun.

Pandangan Salman mendadak agak kabur. Kepala Salman mulai terasa berat, bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan seperti kehilangan keseimbangan kesejajaran basis.

"Ini... ini... ini kenapa ya?" tanya Salman terbata-bata, suaranya mulai terdengar sedikit melantur. Ia memegang pelipisnya sendiri, mencoba memfokuskan pandangan matanya yang mulai meredup.

Salman menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, berusaha membuang rasa pening yang berputar-putar di dalam otaknya, namun usahanya sia-sia. Dunia di sekitarnya terasa berputar pelan.

Melihat kondisi Salman yang sudah kehilangan daya tahannya akibat tidak pernah menyentuh alkohol, Siska merasa iba sekaligus gemas. Ia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat, lalu menepuk pahanya sendiri yang dilapisi celana kain santai.

"Udah, Man... sini, rebahan aja sama aku," ucap Siska menawarkan dengan nada suara yang sangat lembut, tidak tega melihat montir tangguh itu tampak teler berantakan.

Tanpa ada keraguan atau gengsi lagi karena kepalanya sudah terlalu pening, Salman langsung menjatuhkan bobot tubuhnya ke samping. Ia merebahkan kepalanya dengan pasrah tepat di atas pangkuan hangat Siska. Sentuhan fisik yang spontan itu membuat Jono dan Agus saling lirik sambil menahan senyum penuh arti, sementara Tias dan Dian hanya senyum-senyum kecil melihat kedekatan kilat mereka.

Begitu kepalanya mendarat di pangkuan Siska, kenyamanan yang asing namun menenangkan langsung menjalar di tubuh Salman. Perlahan tapi pasti, kelopak matanya yang terasa sangat berat mulai terpejam rapat, membiarkan kesadarannya tenggelam di bawah langit malam minggu kota besar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!