Indonesia
NovelToon NovelToon
Terikat Oleh Perjodohan

Terikat Oleh Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:914
Nilai: 5
Nama Author: saphal_tha

#history Romantic
by : Saphal_tha

Anna adalah istri yang tidak pernah Xavier inginkan… sekaligus kelemahan yang tak pernah ia sangka.

Kekayaan, kekuasaan, dan kecerdasan. Xavier Romanov memiliki segala sesuatu yang diimpikan banyak orang. Sebagai seorang CEO muda yang disegani, hidupnya nyaris sempurna, kecuali satu hal yang tidak pernah ingin ia miliki, seorang istri.

Pernikahan tidak pernah ada dalam rencana hidup Xavier, sampai sebuah ancaman pemerasan memaksanya bertunangan dengan wanita yang hampir tidak ia kenal.

Annastasia Clifford ahli waris perusahaan perhiasan sekaligus putri dari musuh terbarunya.

Tidak peduli seberapa cantik atau menawannya wanita itu, Xavier akan melakukan segala cara untuk memusnahkan bukti ancaman tersebut dan membatalkan pertunangan mereka.

Namun satu hal yang tidak pernah ia predeksi akan terjadi, sekarang setelah mendapatkan Anna... ia tidak sanggup melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saphal_tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Xavier

Terlepas dari apa yang dipikirkan Annastasia, aku sebenarnya sudah menjadwalkan perjalanan ke Eropa sebelum dia pindah. Sebagian besar merek Romanov Group berkantor pusat di benua itu, dan aku menyisihkan waktu satu bulan setiap tahun untuk mengadakan pertemuan tatap muka secara langsung dengan para pimpinan anak perusahaan kami di Eropa.

Kebetulan saja pengaturan waktu tahun ini terasa sangat pas dan menguntungkan.

Meskipun begitu, aku memastikan untuk tetap memantau Alex dan Annastasia selama aku pergi. Aku menugaskan Alex di bagian penjualan pada salah satu toko ritel anak perusahaan perhiasan kami. Dia adalah tipe orang yang pandai bergaul, dan menaruhnya di ruang kantor belakang di suatu tempat hanya akan membawa bencana baginya dan bagi toko yang bersangkutan. Menurut manajer toko, dia memulai dengan agak sulit, adikku itu memang tidak pernah tepat waktu, tetapi pada saat aku kembali ke New York, dia tampaknya sudah mulai terbiasa dengan peran barunya, meskipun dengan agak terpaksa.

Di sisi lain, Annastasia langsung beradaptasi dengan lingkungan barunya dengan sangat mudah. Beatrice dan Jack selalu memujinya dalam setiap laporan, dan saat pulang ke rumah, aku menemukan sebuah lukisan baru di galeri, handuk-handuk di kamar mandi yang dibordir dengan inisial X&A, serta bunga-bunga berengsek di mana-mana.

“Xavier, lemaskan ekspresi wajahmu,” kata Tessa. “Beri aku sedikit senyuman… nah, seperti itu! Sempurna.”

Rana kamera berbunyi klik dengan cepat berturut-turut.

Annastasia dan aku telah menghabiskan waktu sepanjang pagi untuk mengambil foto pertunangan di Central Park. Sesi ini terasa menyiksa seperti yang sudah kubayangkan, penuh dengan senyuman palsu dan pelukan yang lebih palsu lagi saat Tessa mengarahkan kami ke dalam pose-pose yang dirancang untuk memperlihatkan seberapa jatuh cintanya kami.

“Anna, lingkarkan lenganmu di lehernya dan bergeserlah lebih dekat.”

Tubuhku menegang saat Annastasia menuruti perintah itu dan mengambil satu langkah ragu-ragu ke arahku.

“Lebih dekat lagi. Jarak kalian sekarang bahkan bisa dilewati oleh sebuah traktor,” goda Tessa.

“Lakukan apa katanya supaya kita bisa menyelesaikan hal ini dengan cepat,” geramku pelan. Makin cepat aku memberi jarak di antara kami, makin baik.

“Kamu makin memesona setiap harinya.” Suara Annastasia terdengar begitu manis sampai-sampai aku bisa menyiramkannya di atas kue panekuk. “Eropa benar-benar memberikan keajaiban pada kepribadianmu.”

“Lebih dekat,” dorong Tessa. Jika pun dia menyadari adanya permusuhan di antara kami, dia memilih untuk tidak memedulikannya. “Satu langkah lagi…”

Dada Annastasia bergesekan dengan dadaku saat dia memangkas sisa jarak di antara kami.

Otot-ototku mendadak kaku.

“Xavier, lingkarkan lenganmu di pinggul Anna.”

Astaga, demi apa pun.

Karena aku hanya ingin mengakhiri siksaan ini secepatnya, aku mengatupkan rahangku dan meletakkan kedua tanganku di pinggul Annastasia. Rasa panas membakar menembus kain sutra gaunnya, dan aroma apelnya yang sialan itu merayap masuk ke dalam paru-paruku lagi.

Tak satu pun dari kami yang bergerak, takut jika pergeseran sekecil apa pun tanpa sengaja akan membawa kami makin dekat.

“Aku menerima telepon yang menarik dari akuntanku saat aku berada di Paris,” kataku dalam upaya mengalihkan perhatian dari kedekatan kami yang mengganggu ini. “Satu bulan yang lalu, ada tagihan seratus ribu dolar di kartu Amex-ku dalam satu hari, termasuk sepuluh ribu dolar hanya untuk bunga. Ada yang bisa kamu jelaskan?”

“Kamu memberiku kartu Amex Black, ya aku gunakan,” kata Annastasia sambil mengedikkan bahunya dengan anggun. “Mau bagaimana lagi? Aku suka bunga. Dan sepatu.”

Terjemahan : Kamu bersikap berengsek sebelum pergi, dan aku melampiaskannya pada rekening bankmu.

Sebuah aksi balas dendam yang halus namun kekanak-kanakan. Boleh juga.

Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada seseorang yang tidak bisa membela dirinya sendiri.

“Jelas sekali,” kataku, berusaha untuk tidak bernapas terlalu dalam agar aromanya tidak mengelilingiku sepenuhnya. “Lalu bagaimana dengan handuk-handuk itu?”

“Itu hadiah dari momyku.”

Tentu saja.

“Beri tahu aku lebih awal kalau nanti kamu mau pergi selama sebulan lagi,” katanya. “Aku butuh waktu untuk merencanakan pesta, mendaftar ulang dekorasi ruang tamu, atau mungkin menyusun daftar belanja yang banyak. Sangat menakjubkan melihat berapa banyak hal yang bisa kamu lakukan tanpa ada batasan pengeluaran.”

Aku menyipitkan mata. Aku tidak peduli dengan penggunaan kartu kredit itu. Alex pernah menghabiskan satu juta dolar untuk sebuah bak mandi emas murni 24 karat yang konyol demi sebuah pesta piyama. Seratus ribu dolar bukan apa-apa.

Yang membuatku gusar adalah cara Annastasia menata ulang semuanya saat aku pergi. Handuk dan bunga hanyalah puncak dari gunung es. Ada karya seni baru di dinding, wewangian aromaterapi yang mengalir melalui diffuser tersembunyi, dan sebuah ruang pijat di tempat yang dulunya merupakan ruang pembungkus kado.

Aku pergi selama sebulan dan saat kembali, rumahku telah berubah menjadi sebuah Club Med berengsek.

“Kamu bersenang-senang ya saat aku tidak ada?” Sebuah arus berbahaya menyelimuti kata-kataku.

“Aku bersenang-senang sekali.” Annastasia menyelinapkan jemarinya ke rambutku dan menariknya cukup keras hingga terasa sakit. Dia tersenyum. “Rumah ini terasa sangat menyenangkan tanpa ada wajah cemberut dan dengusan kasar.”

“Padahal aku kira kamu merindukanku.” Aku berdecak. “Aku merasa terluka.”

“Aku ingin minta maaf, tapi peduli pada perasaanmu bukanlah bagian dari kesepakatan kita. Ini cuma kesepakatan bisnis. Masih ingat?”

Sebuah senyuman enggan terukir di bibirku.

Skor imbang.

“Lihat kalian berdua. Manis sekali.” Tessa mendesah. “Xavier, kenapa kamu tidak memberinya ciuman di bibir? Itu akan jadi foto yang sempurna untuk menutup sesi pemotretan ini.”

Senyumku mendadak hilang.

Annastasia membeku di dalam pelukanku. “Itu tidak perlu,” katanya dengan cepat. “Kami tidak… kami tidak suka memamerkan kemesraan di depan umum.”

“Tidak ada orang lain di sini selain kita,” tunjuk Tessa.

Aku telah menggunakan pengaruhku untuk menyewa beberapa area taman ini khusus untuk sesi pemotretan. Aku benci kerumunan publik. Terlalu bising, terlalu tidak bisa ditebak, terlalu ramai.

“Ya, tapi…” Annastasia tersendat. Dia terlihat seperti seekor kelinci yang terkejut oleh sorot lampu mobil.

Rasa jengkel menyala melihat ekspresinya yang tampak horor itu. Aku memang tidak ingin menciumnya, tetapi aku tidak suka caranya berakting seolah-olah menciumku itu setara dengan digigit ular berbisa.

“Kami benar-benar merasa tidak nyaman berciuman di depan orang ketiga,” jawab Annastasia akhirnya.

Dia mencoba melangkah mundur, tetapi cengkeramanku pada pinggulnya mencegahnya untuk melakukan hal itu.

Rasa jengkelku makin mendalam. Kami sudah sepakat untuk memainkan peran sebagai pasangan yang saling mencintai di depan umum, tetapi dia tidak menunjukkan sikap yang penuh kasih sayang sama sekali.

“Kalau kalian tidak mau, tidak apa-apa, tapi rasanya ada yang kurang jika foto pertunangan tanpa ada ciuman.” Tessa terlihat bingung dengan keraguan kami. “Aku janji tidak akan merasa risih.”

“Benar.” Annastasia menggigit bibir bawahnya.

Astaga. Kalau dia terus-terusan ragu seperti itu, dia akan terlihat sangat konyol.

Alih-alih menunggu dia mengambil keputusan di kurun waktu tertentu nanti, aku menundukkan kepala dan menyapukan bibirku ke bibirnya. Secara lembut, hanya cukup lama sampai terdengar bunyi rana kamera berbunyi klik lagi.

Tubuh Annastasia yang semula kaku berubah menjadi makin tegang. Bibirnya terbuka saat dia menarik napas dengan tajam, dan aku mengecap sesuatu yang manis dengan sentuhan rasa rempah-rempah yang tipis.

Darahku berdesir. Ini seharusnya hanya ciuman singkat untuk kamera. Aku harus menarik diri, tetapi mulutnya terasa begitu hangat dan lembut hingga aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecapnya lagi.

Dan lagi.

Sebelum aku menyadarinya, tanganku terangkat dengan sendirinya. Jemariku menyusup ke dalam rambutnya dan membangkitkan dorongan yang sangat kuat untuk memperdalam ciuman ini. Untuk mengepalkan tanganku pada gumpalan rambut sutranya dan menariknya sampai mulutnya terbuka sepenuhnya untukku, membiarkanku menjelajah dan menikmati sesuka hati.

Berdesirnya darahku terdengar kian kencang. Aku menyalahkan tindakan tak masuk akalku ini pada perpisahan kami selama sebulan. Kehadiran jarak membuat kerinduan kian membesar dan segala omong kosong lainnya.

Itulah satu-satunya alasan masuk akal mengapa mencium putri Jarvis Clifford tidak membuatku ingin mengguyur diriku sendiri dengan pemutih pakaian.

Annastasia menengadahkan dagunya sedikit, memberiku akses yang lebih baik. Bibirku.......

“Dapat gambarnya!” Suara Tessa menarik kami terpisah secara mendadak dan keras seolah-olah ada seseorang yang baru saja melepaskan tembakan pistol.

Satu detik yang lalu kami sedang berciuman. Detik berikutnya, tanganku sudah terlepas dari pinggul dan rambut Annastasia, lengannya sudah jatuh dari leherku, dan jantungku berdebar kencang seolah-olah aku baru saja menyelesaikan perlombaan Ironman Triathlon.

Annastasia dan aku saling menatap selama satu detik yang membeku sebelum akhirnya dengan cepat memalingkan wajah.

Ciuman itu berlangsung kurang dari satu menit, tetapi mulutku masih merasakan bekas dari bibirnya. Sensasi berat hinggap di kulitku bagaikan selimut kasur saat Tessa bangkit dari posisi jongkoknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!