Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
Begitu batasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Kehangatan di Balik Layar Kekuasaan
Pagi hari di Gedung Konsorsium Naga Hitam selalu diwarnai oleh kesibukan tingkat tinggi. Sebagai pusat kendali ekonomi global, ribuan transaksi dan keputusan bisnis triliunan rupiah lalu lalang setiap detiknya. Namun, di lantai teratas yang menjadi area kerja eksklusif Pemimpin Tertinggi, suasananya terasa begitu tenang dan tertata.
Alya duduk di kursi kerjanya yang elegan, menatap layar monitor tipis yang menampilkan laporan perkembangan proyek sosial tahap pertama. Blazer berwarna merah marun yang ia kenakan memancarkan aura kepemimpinan yang matang, anggun, dan penuh wibawa.
Sejak program investasi seratus triliun rupiah diluncurkan, Alya tidak pernah setengah-setengah. Ia memeriksa setiap alokasi dana hingga ke detail terkecil demi memastikan tidak ada penyelewengan.
"Nona Alya, ini berkas persetujuan untuk pengadaan fasilitas medis di lima wilayah berkembang," ujar Bagas seraya menyerahkan sebuah dokumen fisik berpenutup kulit hitam.
Alya menerima dokumen tersebut dan mengulas senyum tipis. "Terima kasih, Bagas. Tolong pastikan tim verifikasi lapangan sudah memvalidasi data rumah sakit penerima sebelum dana dicairkan."
"Sudah dilaksanakan, Nona. Tim elit internal kita sendiri yang turun mengawasi," jawab Bagas tegas.
Dari pintu penghubung ruang kerja pribadi, Reno melangkah keluar. Pria itu tampak sangat tampan dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, meninggalkan kesan maskulin yang santai namun tetap mengintimidasi. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan dingin saat menghadapi musuh-musuh bisnis, seketika melunak begitu mendarat pada sosok Alya.
Reno berjalan mendekat, menyandarkan tangannya di sandaran kursi Alya. "Masih sibuk, Permaisuriku?"
Alya mendongak, menyambut pandangan Reno dengan senyuman manis yang selalu berhasil meluluhkan hati sang Penguasa Naga Hitam. "Tinggal beberapa dokumen lagi, Reno. Setelah ini jadwal kita kosong, kan?"
"Khusus untukmu, seluruh jadwalku sudah kubuka sampai besok pagi," jawab Reno rendah, diiringi selingan nada godaan yang membuat pipi Alya merona tipis.
Bagas yang memahami situasi langsung membungkuk hormat. "Jika tidak ada hal lain, saya permisi untuk mengecek laporan keamanan luar, Tuan Muda, Nona Alya."
"Silakan, Bagas," sahut Reno singkat.
Setelah Bagas meninggalkan ruangan, Reno menarik sebuah kursi dan duduk tepat di samping Alya. Ia meraih jemari wanita itu, mengusap punggung tangannya yang halus dengan penuh kasih sayang.
"Kamu bekerja terlalu keras belakangan ini, Alya," tutur Reno lembut. "Ingat, kamu memiliki seluruh divisi eksekutif untuk menyelesaikan tugas-tugas ini."
"Aku hanya ingin memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, Reno," balas Alya tulus. Ia membalas genggaman tangan Reno. "Dana ini adalah amanah besar. Aku tidak ingin mengecewakan masyarakat... dan juga tidak ingin mencoreng nama baik yang sudah kamu bangun."
Reno menatap Alya dengan pendar rasa bangga yang mendalam. Di tengah gelombang kekuasaan dan kekayaan yang tak terbatas, Alya tetap menjadi wanita bersahaja yang mengutamakan ketulusan dan tanggung jawab. Itulah alasan mengapa ia menaruh seluruh hatinya pada wanita ini.
"Kamu tidak pernah mengecewakanku, Alya. Justru hadirmu yang membuat takhta ini terasa memiliki arti," ucap Reno pelan.
Pria itu kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya. "Ayo. Tinggalkan berkas-berkas ini sebentar."
Alya mengerutkan keningnya halus, namun tetap menyambut uluran tangan suaminya. "Kita mau ke mana?"
"Ke tempat di mana tidak ada berkas rapat dan laporan keuangan," jawab Reno misterius seraya tersenyum tipis.
Reno membawa Alya menuju area *lounge* pribadi yang berada di sudut ruangan, dekat dengan jendela kaca raksasa yang menyajikan pemandangan lanskap kota dari ketinggian. Di sana, telah tersaji cangkir teh hangat dan camilan favorit Alya yang disiapkan khusus oleh pelayan Istana.
Reno duduk di sofa empuk dan menarik Alya perlahan agar duduk di sampingnya. Alya menyandarkan tubuhnya pada dada bidang Reno, menghirup aroma maskulin yang selalu memberinya rasa aman sempurna. Reno melingkarkan tangannya di bahu Alya, mengusap lengan istrinya dengan lembut.
"Di luar sana, orang-orang melihat kita sebagai *power couple* yang tak tersentuh," bisik Alya pelan, menatap luruh ke arah pemandangan gedung-gedung pencakar langit di bawah sana. "Kadang aku merasa semua ini terlalu cepat berlalu. Dari masa-masa penindasan dulu hingga berdiri di puncak dunia bersamamu."
Reno mengecup puncak kepala Alya dengan hangat. "Semua penderitaan masa lalu adalah harga yang harus kita bayar untuk sampai di titik ini, Sayang. Sekarang, tidak ada lagi yang bisa mengusikmu. Siapa pun yang berani mencoba, akan berhadapan dengan seluruh kekuatan Naga Hitam."
Alya mendongak, menatap mata suaminya yang penuh keyakinan. "Aku tahu. Dan aku merasa sangat beruntung memiliki pelindung sepertimu."
Alya meraih cangkir tehnya, lalu menyuapkan sepotong kue kecil ke arah mulut Reno dengan manja. Reno menerima suapan itu sambil tertawa kecil—sebuah tawa lepas yang hanya bisa didengar oleh Alya seorang. Di mata dunia, Reno adalah naga penguasa yang sangat ditakuti, namun di hadapan Alya, ia hanyalah seorang suami yang mencintai istrinya tanpa batas.
Sore itu diisi dengan obrolan hangat, canda tawa, dan kebersamaan yang intim. Di balik megahnya takhta dan intrik dunia bisnis yang keras, Reno dan Alya membuktikan bahwa fondasi terkuat dari kejayaan mereka adalah cinta dan ketulusan yang saling melengkapi.