Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.
ikuti untuk bab selanjutnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Dulu wajib bekerja, sekarang di suruh berhenti
Aku keluar rumah dengan membawa tas kerja.
"Assalamualaikum, Yah."
"Waalaikumsalam."
Pak Haris tersenyum tipis. "Mau berangkat?"
"Iya, Yah."
"Hati-hati di jalan."
"Terima kasih, Yah."
Aku berpamitan dengan mencium punggung tangannya. Seperti biasa.
Tanpa sadar, Pak Haris memperhatikan punggungku hingga menghilang di ujung gang. Beliau mengingat kembali semua cerita yang selama ini didengarnya dari Bu Mirna. Katanya Fitri pemalas. Namun setiap pagi perempuan itu sudah sibuk sebelum matahari terbit.
Katanya Fitri suka membantah. Tetapi setiap kali dinasehati, jawabannya selalu pelan.
Katanya Fitri hanya memikirkan pekerjaan. Padahal hampir setiap sore beliau melihat menantunya tetap memasak setelah pulang kerja.
Semakin dipikirkan... Semakin banyak cerita istrinya yang tidak sesuai dengan kenyataan.
"Ayah.. Kok melamun." Suara Bu Mirna membuyarkan lamunannya.
"Enggak."
"Minum kopinya dingin nanti."
Pak Haris hanya mengangguk. "Mirna."
"Iya?"
"Bapak mau tanya."
"Apa?"
"Kamu pernah enggak....berlebihan menilai Fitri?"
Sendok yang sedang dipegang Bu Mirna berhenti bergerak.
"Maksud Bapak?"
"Ya...Kadang Bapak lihat Fitri juga rajin."
Bu Mirna langsung menghela napas panjang.
"Nah...Mulai lagi. Bapak sudah dibohongi sama dia."
Pak Haris mengernyit. "Dibohongi bagaimana?"
"Dia memang pintar cari muka."
"Kalau ada Bapak atau Viyan, dia sengaja rajin.Nanti kalau enggak ada kita, beda lagi."
Pak Haris terdiam. Penjelasan itu terdengar masuk akal.
Namun entah mengapa... Hatinya masih belum yakin.
Siang harinya, Dinda pulang lebih awal entah dari mana.Ia langsung menghampiri ibunya.
"Ma."
"Iya?"
"Uangku habis."
"Lagi?"
"Iya."
"Buat fotokopi sama tugas."
Bu Mirna mengangguk. "Nanti minta Abang."
"Tapi Bang sekarang banyak tanya."
"Kalau begitu...bilang saja dosen minta bayar praktik."
Dinda tertawa kecil. "Ide Mama bagus juga."
Pak Haris yang sedang membaca koran perlahan menurunkannya.
"Dinda."
"Iya, Yah?"
"Kamu benar memang buat kuliah?"
Dinda langsung gugup. "Iya..."
Pak Haris menatap putrinya beberapa detik.
"Lain kali kalau memang kebutuhan kampus...minta bukti pembayarannya. Supaya Abangmu juga tahu."
"Iya, Yah."
Dinda menjawab sambil memalingkan wajah.
Setelah Pak Haris kembali membaca koran, Dinda mencubit pelan lengan ibunya.
"Mama...ayah kok ikut berubah sih."
Bu Mirna terlihat kesal. "Mama juga enggak tahu. Tapi jangan khawatir.Pelan-pelan nanti juga kembali seperti dulu."
Sore hari. Aku pulang membawa beberapa map kantor. Besok ada audit sehingga aku harus menyelesaikan beberapa laporan di rumah. Baru saja aku duduk di ruang tamu, Bu Mirna sudah bersuara.
"Kerja lagi?"
"Iya, Ma.Besok harus dikumpulkan."
"Kerjaan kantor jangan dibawa ke rumah."
Aku tersenyum sopan.
"Maaf, Ma.Ini memang harus selesai malam ini."
Pak Haris yang duduk di sebelahku melihat isi map yang kubawa.
"Laporan semua?"
"Iya, Yah."
Beliau membuka salah satu berkas. Matanya membesar.
"Banyak juga."
"Iya, Yah."
"Makanya tadi Fitri belum sempat istirahat."
Pak Haris mengangguk pelan. "Tidak mudah ya."
Aku tersenyum. "Namanya juga tanggung jawab."
Bu Mirna langsung menyela. "Kalau capek, berhenti kerja saja."
Aku menoleh kepada beliau. "Ma. Aku suka kok kerjaan ku kan juga ingin membantu Mas Viyan."
"Tugas membantu suami itu di rumah juga." Jawab Bu Mirna cepat.
Sebelum suasana memanas, Pak Haris tiba-tiba berkata, "Sudahlah.Biarkan Fitri menyelesaikan pekerjaannya."
Aku dan Bu Mirna sama-sama menoleh. Untuk pertama kalinya... Pak Haris tidak langsung mendukung perkataan istrinya.
Meski hanya satu kalimat sederhana... Kalimat itu membuat Bu Mirna terdiam.
Beliau menatap suaminya dengan wajah yang sulit ditebak. Sementara aku kembali menunduk mengerjakan laporanku.
Aku tidak tahu... Bahwa malam itu telah menjadi awal perubahan besar.
Untuk pertama kalinya sejak aku menikah... Ada seseorang di rumah ini yang mulai melihatku bukan dari fitnah, melainkan dari kenyataan yang ada di depan matanya.
Bersambung...