Tolong...bagi yang hanya penasaran jangan buka bab!!!
Sultan Rafsanjani, CEO muda nan tampan, cerdas serta berasal dari keluarga kaya raya, rela menyamar menjadi pria culun dan menyembunyikan identitasnya demi mengejar gadis pujaannya.
Hingga suatu hari dirinya diminta menjadi kekasih pura-pura oleh gadis tersebut hanya untuk memberikan kado istimewa buat ulangtahun eyangnya.
Bersediakah Sultan atau dia malah memanfaatkan keadaan dan meminta menjadi kekasih sungguhan?
Ataukah justru hal lain tak terduga akan terjadi?
Ikuti kisahnya hanya di sini;
"Suami Culunku Ternyata Sang Pewaris" karya Moms TZ, bukan yang lain!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.
Kahiyang dengan spontan menahan tangan Rafa yang hendak beranjak dari duduknya. Ia memejamkan mata seraya menarik napas dalam-dalam.
"Iya, aku... mengabulkannya," ucap gadis itu lirih.
"Apa Mbak, saya nggak dengar," ucap Rafa sambil tersenyum jahil.
"Iya, aku mau menerimamu sebagai kekasih sungguhan," jawab Kahiyang, wajahnya merah padam menahan malu. "Tapi ada syaratnya!"
"Apa syaratnya...?" tanya Rafa masih dengan senyumnya yang belum luntur.
"No skinship, kecuali bergandengan tangan. Satu lagi nanti di acara itu jangan panggil aku 'Mbak', cukup panggil nama saja. Setuju?" ujar Kahiyang mengingatkan.
Rafa tersenyum lebar. "Siap... Mulai sekarang status kita sepasang kekasih!"
"Tapi ingat, di kantor kita tetap rekan kerja seperti biasa. Tidak ada yang boleh tahu dan jangan sampai menunjukkan hubungan kita!" tegas Kahiyang.
Rafa mengangguk mantap seketika. "Siap, Mbak... eh, maksudku Ayang. Aku janji akan menjaga sikap sebaik mungkin."
Kahiyang mengembuskan napas pelan, seakan beban berat baru saja berpindah dari pundaknya. Wajahnya masih terasa panas menahan malu, tetapi hatinya perlahan mulai merasa tenang.
Rafa menatapnya lekat-lekat, senyum tulus tak lepas dari bibirnya. Perlahan dia mengulurkan tangan. "Kalau begitu, mulai detik ini... aku akan menjagamu bukan lagi sebagai rekan kerja biasa, melainkan sebagai seseorang yang menyayangimu."
Kahiyang menatap telapak tangan yang terulur di hadapannya beberapa, lalu perlahan menyambut uluran tangan itu. Genggaman Rafa terasa hangat, erat, dan menenangkan. Seketika rasa ragu yang sempat menyelimuti hatinya luruh berganti rasa percaya yang perlahan tumbuh.
"Terima kasih, Raf..." ucap Kahiyang lirih, matanya tak berani menatap lebih lama. "Semoga aku nggak menyesal sudah memilihmu."
Rafa mempererat genggamannya sedikit, namun tetap lembut. "Aku janji, Ayang. Aku akan membuktikan bahwa keputusanmu ini adalah hal paling tepat yang pernah kamu ambil. Aku nggak akan menyia-nyiakan kepercayaanmu."
Mata mereka saling bertemu kembali. Di sana, di dalam tatapan Rafa yang tulus itu, Kahiyang seakan menemukan ketenangan yang selama ini tak pernah ia temukan pada siapa pun. Mungkin benar kata Rafa — cinta itu soal hati, bukan soal usia, bukan pula soal siapa yang lebih dulu hadir.
Kahiyang mengangguk pelan, jantungnya masih berdebar kencang meski ia berusaha tampil tenang. Dengan gerakan halus ia menarik kembali tangannya, lalu memalingkan wajah sejenak menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya.
'Masa sih, secepat itu aku jatuh cinta padanya?' bisiknya dalam hati, matanya seketika membelalak kaget. 'Nggak... nggak mungkin!' Kahiyang segera mengibaskan tangannya berusaha mengusir pikiran liarnya, lalu buru-buru memalingkan wajah dan kembali menatap layar komputernya. Ia berusaha menyembunyikan rona merah yang mulai merona di kedua pipinya.
Sejak saat itu, suasana di ruangan itu terasa sedikit berbeda. Di mata rekan-rekan lain, keduanya tampak seperti biasa — sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tak ada yang mencurigakan. Namun di antara mereka, ada hal-hal kecil yang berubah.
Setiap kali Kahiyang berani melirik sekilas, ia selalu mendapati Rafa sedang menatapnya begitu lembut dan penuh senyum yang tak tersampaikan lewat kata. Kahiyang pun buru-buru membuang muka, menunduk menyembunyikan wajah yang kian memerah. Namun sesekali, saat ia mengangkat wajah kembali, Rafa masih menatapnya — kali ini dengan senyum tipis yang seolah berkata: 'Sedikit lagi Ayang, aku pasti akan menjadikanmu milikku selamanya.'
Kahiyang mencoba memberi peringatan lewat tatapan matanya yang melotot kecil, seakan berkata: 'Jangan macam-macam, dilihat orang lho!'
Melihat itu, Rafa justru tersenyum makin lebar. Ia pun perlahan mengangkat tangan kanannya, lalu melambaikan jari-jari kecilnya secara nyaris tak terlihat — hanya gerakan halus di bawah meja, tak akan disadari siapa pun kecuali Kahiyang yang duduk berhadapan dengannya.
Kahiyang menahan napas sejenak. Ia membalas lambaian itu dengan kedipan mata sekilas yang sangat pelan, lalu segera kembali sibuk seolah tak terjadi apa-apa. Dadanya terasa hangat kembali. Ternyata, menjadi rahasia bersama pun terasa begitu manis.
Hingga jam pulang tiba, rekan-rekan beranjak berhamburan keluar. Kahiyang pun ikut bersiap, merapikan barang-barangnya, lalu berjalan keluar menyapa Rafa seperti biasa. "Hai, Raf. Pulang duluan ya," ujarnya seakan tak pernah terjadi sesuatu diantara mereka.
"Hati-hati di jalan, Mbak," jawab Rafa sambil tersenyum manis di tempat duduknya.
Sebagai pria yang tampak sederhana dan culun di mata rekan kerjanya, dia tidak ingin ada yang mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Sebab itulah sengaja selalu pulang belakangan menunggu hingga ruangan benar-benar sepi, barulah dia beranjak perlahan dan melangkah keluar menuju tempat yang agak tersembunyi. Di sana, sebuah mobil telah menunggu kedatangannya.
"Selamat sore, Tuan," sapa Ardan, asisten pribadinya sekaligus sahabat satu-satunya, begitu Rafa masuk dan duduk di kursi penumpang samping kemudi dengan tenang sambil mengacak rambutnya yang rapi.
Mobil pun melaju perlahan meninggalkan halaman kantor, bergerak tenang membelah jalanan kota.
"Sore..." Seketika senyum Rafa langsung merekah.
Ardan mengernyit heran melihat atasannya itu tersenyum, sangat berbeda dari biasanya. Pemuda itu pun memberanikan diri bertanya, "Apakah gerangan yang membuat Tuan Sultan tersenyum begitu bahagia sampai-sampai sapaan saya diabaikan?"
Bukannya menjawab tawa Rafa atau Sultan justru makin lebar. Pemuda itu lantas menoleh ke arah sang asisten.
"Kamu tahu, Dan...?"
"Saya nggak tahu, Tuan. Sebab Anda belum ngomong," sela Ardan dengan cepat.
"Ish...kamu ini," protes Rafa. "Intinya hari ini aku sangat bahagia karena gadis itu akhirnya sudah resmi menjadi kekasihku."
Ciiittt
Ardan mendadak menghentikan mobilnya. "Serius, Tuan?" tanyanya dengan wajah berbinar.
Rafa hanya mengangguk, ekspresi wajahnya begitu bersinar. Senyum masih mengembang di bibirnya.
"Wah...kalau begitu selamat untuk Anda," ucap Ardan seraya mengulurkan tangannya.
Rafa menyambutnya menggenggam tangan sahabatnya itu dengan erat beberapa saat, lalu melepaskannya kembali.
Ardan mengemudikan mobil kembali, hingga setengah jam kemudian memasuki komplek perumahan elit di kawasan Alam Sutra. Begitu mobil berhenti di depan sebuah hunian mewah, Rafa segera turun tanpa menunggu dibukakan pintu. Pemuda itu dengan cepat melangkah masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
"Ma... Mama! Anakmu pulang, Ma...!" serunya ketika sudah berada di dalam rumah.
"Astaga, Sultan! Bukannya mengucap salam, malah teriak-teriak. Kamu ini sudah dewasa tapi masih aja...."
Belum selesai sang ibu berbicara, tiba-tiba Rafa atau Sultan langsung mengangkat tubuh sang mama lalu membawanya berputar-putar sambil tertawa renyah.
"Sultan... turunin Mama, nggak! Kepala mama pusing, tahu!" jerit Nyonya Kirana, sang ibu ketakutan sambil memukul bahu putranya.
Sultan segera menurunkan ibunya lalu memeluknya erat, mengungkapkan rasa bahagianya.
"Kamu kenapa sih, pulang kantor bertingkah macam anak kecil begini?" tanya Nyonya Kirana, sambil mengernyit heran.
Sultan alias Rafa tersenyum lebar. "Aku lagi bahagia, Ma. Karena sebentar lagi Mama akan menjadi ibu mertua!"
lanjuut thor
Siap2 saja sebentar lagi akan kehilangan jabatan