Dia adalah Black Rose, pembunuh bayaran yang ditakuti dunia bawah tanah.
Dia adalah Adrian Virell, CEO dingin yang diam-diam merupakan pewaris dinasti mafia.
Lima tahun lalu, satu malam mempertemukan mereka tanpa nama dan tanpa janji.
Kini Black Rose kembali bersama seorang anak laki-laki bernama Noah.
Anak yang ternyata memiliki hubungan darah dengan sang CEO.
Namun Noah bukan anak biasa.
Di balik wajah polosnya, tersembunyi identitas lain yang bahkan tidak diketahui kedua orang tuanya.
Ketika masa lalu kembali memburu mereka, mampukah sang CEO melindungi pewaris yang selama lima tahun tidak pernah diketahuinya?
Dan sebenarnya...
siapa Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANAK ITU
Dua hari setelah pertemuan tidak terduga di toko buku itu, Adrian kembali datang, kali ini dengan alasan yang lebih jelas dan permintaan yang tidak bisa ditolak begitu saja oleh Althea.
Dia tidak memaksa, tidak mengancam, tidak menggunakan kekuasaannya seperti yang biasa dia lakukan terhadap siapa pun yang mencoba menghalangi keinginannya. Sebaliknya, dia hanya berdiri di depan pintu apartemen kecil Althea sore itu, membawa sekantong buah-buahan segar yang terlihat aneh di tangan seorang pria yang biasanya hanya memegang dokumen kontrak bernilai jutaan dolar.
"Aku hanya ingin bicara," katanya sederhana, ketika Althea membuka pintu dengan wajah waspada. "Tidak ada yang lain."
Althea menatapnya lama, mempertimbangkan berbagai kemungkinan dalam kepalanya seperti kebiasaan lama yang tidak pernah sepenuhnya hilang, sebelum akhirnya membuka pintu lebih lebar dan membiarkannya masuk.
Di dalam apartemen kecil itu, Noah sedang duduk di lantai ruang tengah, dikelilingi kertas-kertas gambar dan pensil warna yang berserakan, lidahnya sedikit terjulur karena konsentrasi menggambar sesuatu yang menurutnya sangat penting. Dia mendongak ketika mendengar suara pintu, dan matanya langsung berbinar begitu mengenali sosok yang masuk.
"Om yang waktu itu!" serunya girang, langsung meninggalkan gambarnya dan berlari kecil menghampiri Adrian dengan langkah-langkah tergesa khas anak kecil yang belum sepenuhnya bisa mengontrol keseimbangannya sendiri.
Adrian, yang tadinya sudah menyiapkan dirinya untuk percakapan serius dan menegangkan dengan Althea, tidak siap menghadapi seorang anak kecil yang langsung menarik-narik celananya, memintanya duduk untuk melihat gambar yang baru saja dia buat.
"Lihat, Om, ini pesawat luar angkasa buatanku," kata Noah bangga, menunjukkan selembar kertas yang dipenuhi coretan berbagai warna yang sebenarnya lebih menyerupai gabungan segitiga dan lingkaran daripada pesawat luar angkasa mana pun, namun antusiasmenya begitu menular sehingga Adrian mendapati dirinya berjongkok dan benar-benar memperhatikan gambar itu dengan serius.
"Ini keren sekali," kata Adrian, dan dia terkejut mendapati dirinya benar-benar bermaksud dengan kata-kata itu, bukan sekadar basa-basi seperti yang biasa dia ucapkan dalam pertemuan bisnis. "Apa ini roketnya bisa terbang ke bulan?"
"Bisa dong," jawab Noah dengan percaya diri penuh, "malah bisa ke bulan dan balik lagi sebelum aku selesai makan malam."
Althea, yang berdiri di ambang dapur mengawasi interaksi itu dengan perasaan campur aduk antara khawatir dan sesuatu yang lebih hangat yang sudah lama tidak dia rasakan, tidak bisa menahan senyum kecil melihat betapa mudahnya anaknya mencairkan suasana yang seharusnya sangat tegang itu.
Namun kemudian, di tengah tawa kecil karena cerita pesawat luar angkasa yang semakin fantastis, Noah tiba-tiba berhenti. Dia menatap wajah Adrian dari dekat, jaraknya hanya beberapa senti, matanya yang tadinya penuh kegembiraan berubah menjadi sangat fokus, seolah dia baru saja menemukan sesuatu yang selama ini luput dari perhatiannya.
Ruangan itu tiba-tiba terasa sunyi.
"Kenapa wajahmu mirip aku?" tanya Noah pelan, suaranya kini kehilangan nada ceria yang tadi, digantikan dengan keingintahuan yang jauh lebih dalam daripada seharusnya dimiliki anak seusianya.
Althea langsung membeku di tempatnya berdiri, jantungnya berdegup kencang, tangannya yang sedang memegang gelas air tiba-tiba terasa dingin. Dia sudah mempersiapkan banyak skenario untuk menghadapi Adrian, namun tidak satu pun dari skenario itu mempertimbangkan bahwa Noah sendiri yang akan menyadari kebenaran itu lebih dulu, dengan caranya sendiri yang polos namun begitu tajam.
Adrian tidak mengatakan apa pun untuk beberapa detik yang terasa seperti waktu yang jauh lebih lama, matanya terpaku pada wajah kecil di hadapannya, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk situasi yang tidak pernah dia bayangkan akan dia hadapi seumur hidupnya.
"Mungkin karena kita berdua sama-sama tampan," katanya akhirnya, mencoba melontarkan gurauan ringan untuk mencairkan ketegangan yang tiba-tiba muncul, meski suaranya sendiri terdengar sedikit tidak stabil.
Noah menatapnya sejenak, kemudian tertawa kecil, kembali menjadi anak berusia lima tahun yang riang seperti sebelumnya, seolah pertanyaan berat yang baru saja dia lontarkan hanyalah rasa penasaran sesaat yang sudah terlupakan. "Ibu bilang aku memang paling tampan di sekolah," katanya dengan bangga, kembali mengambil kertas gambarnya dan melanjutkan cerita tentang pesawat luar angkasanya yang semakin rumit.
Namun kecurigaan mulai muncul, tidak hanya di benak Adrian yang kini semakin yakin dengan dugaan yang sudah lama dia curigai, tetapi juga, entah bagaimana, di benak Noah sendiri, tersembunyi di balik senyum polosnya, seperti benih kecil yang sudah tertanam dan akan tumbuh perlahan seiring waktu.
Adrian menatap Althea melewati kepala Noah yang kini sibuk kembali dengan gambarnya, dan tanpa kata-kata apa pun, keduanya saling memahami bahwa percakapan yang sesungguhnya, percakapan yang tidak bisa lagi ditunda, harus segera terjadi, meski tidak sekarang, tidak di hadapan anak yang baru saja tanpa sadar membuka pintu menuju kebenaran yang selama ini disembunyikan dengan begitu hati-hati.
Malam itu, setelah Noah akhirnya tertidur di kamarnya, Althea duduk berhadapan dengan Adrian di meja dapur kecil mereka, secangkir teh yang mulai dingin di antara mereka berdua, keduanya tahu bahwa waktu untuk menghindar sudah habis.