Indonesia
NovelToon NovelToon
Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Behind Her Bad Behavior: The Hidden Heiress Of Ravenswood

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad girl
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Xyfvxnyy

Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.

Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.

Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.

Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Ban dan Raungan Mesin

Asap knalpot tipis tertinggal di udara pelataran parkir saat motor Adrian melesat menembus gerbang utama.

Damien masih berdiri tegak di samping kap mobilnya. Ia tidak langsung bergerak, namun matanya yang sedingin baja terus menatap ke arah gerbang yang baru saja dilewati dua remaja itu. Gerakan Clyrine tadi—memalingkan wajah dengan dagu terangkat sebelum melingkarkan tangannya di sisi jaket si pengendara motor—terekam jelas di retina Damien. Gadis itu tahu Damien berdiri di sana. Gadis itu melihatnya, namun memilih untuk mengabaikannya secara sadar.

Damien menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menekan amarah yang kian mendidih di rongga dadanya.

"Bagus," gumam Damien rendah, suaranya sarat akan desis dingin yang berbahaya. "Makin pintar lo menguji batas gue, Clyrine."

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Damien membuka pintu mobil, masuk ke balik kemudi, lalu membanting pintu hingga menimbulkan bunyi berdebam keras di dalam kabin. Tombol start-stop engine ditekan dengan satu sentakan tegas. Deru mesin V6 sedan hitam itu langsung meraung garang.

Ia memindahkan tuas persneling ke posisi drive, memutar kemudi dengan satu tangan berurat tegas, lalu menginjak pedal gas dalam-dalam. Sedan mewah itu meluncur mulus namun agresif keluar dari area parkir Rexanswood Academy, membuntuti arah laju motor sport merah-hitam tadi ke jalan raya utama kota.

Sementara itu, di atas jok belakang motor Adrian, angin siang berhembus kencang menyapu jaket seragam Clyrine. Suara deru knalpot dan hiruk-pikuk lalu lintas seharusnya mampu mengalihkan perhatiannya, tetapi pikiran gadis itu justru kacau balau.

Sorot mata Damien di pelataran parkir tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya. Pria itu tidak pernah menatapnya dengan kemarahan sedalam itu sebelumnya—bahkan saat Clyrine pertama kali membuat onar di sasana tinju tempo hari. Tatapan Damien tadi bukan sekadar tatapan seorang tutor yang ditinggal muridnya; tatapan itu dingin, tajam, dan sarat akan luka harga diri yang tertampar keras.

Biarin, bantah Clyrine dalam hati, mengeratkan pegangannya pada sisi jaket Adrian. Siapa suruh tadi pagi jalan bareng cewek lain terus bikin gue hampir telat ujian susulan. Dia pikir dia siapa bisa ngatur-ngatur gue kalau dia sendiri nggak konsisten?

"Cly!" seru Adrian dari balik helmnya, suaranya sedikit teredam deru angin. "Kita ke restoran iga bakar yang di kawasan distrik bisnis lama, kan? Yang deket perempatan jalan layang?"

Clyrine sedikit memajukan tubuhnya. "Iya! Yang plang kayunya warna cokelat tua itu!"

"Siap! Sepuluh menit lagi nyampe!" balas Adrian seraya sedikit memutar gas, menyalip beberapa mobil di depannya dengan lihai.

Namun saat Adrian melirik kaca spion motornya untuk berpindah lajur, alis pemuda itu bertaut heran. Di belakang mereka, berjarak sekitar tiga mobil, sebuah sedan hitam mewah keluaran Eropa tampak melaju dengan kecepatan stabil namun terus mempertahankan jalur yang sama persis. Mobil itu tidak berusaha menyalip sembarangan, tetapi auranya terasa begitu menekan.

"Eh, Cly," celetuk Adrian lagi. "Mobil sedan hitam di belakang kita dari tadi kayak ngikutin deh. Lo kenal nggak?"

Jantung Clyrine sontak mencelus.

Dengan gerakan cepat, ia menolehkan kepalanya sedikit ke belakang dari balik bahu Adrian. Di sela-sela padatnya kendaraan, sedan hitam berplat nomor khusus itu terlihat begitu mencolok. Di balik kaca depan yang sedikit temaram, siluet rahang tegas Damien yang tengah memegang kemudi tampak jelas mengunci pandangan ke arah motor mereka.

Gila! Dia bener-bener ngikutin! teriak Clyrine histeris dalam batinnya. Rasa kaget, panik, dan debaran aneh bercampur aduk membuat tenggorokannya mendadak kering. Pria sedewasa dan seangkuh Damien Vance rela membuntuti murid SMA-nya di tengah jam makan siang hanya gara-gara ditolak tumpangan?

"Nggak usah dipeduliin, Ian!" seru Clyrine berusaha terdengar santai, meski suaranya sedikit bergetar. "Mobil orang lewat doang kali. Buruan belok ke gang restoran, gue udah laper banget!"

"Oke, oke, santai," tawa Adrian tanpa menaruh curiga, lalu menyalakan lampu sein kiri dan membelokkan motornya memasuki kawasan ruko kuliner bernuansa bata merah yang cukup rindang.

Restoran iga bakar legendaris itu menempati sudut ruko bertingkat dua dengan area teras terbuka yang asri. Jam makan siang membuat tempat itu cukup ramai oleh para pekerja kantoran dan beberapa anak sekolah lain.

Adrian memarkirkan motornya tepat di depan teras, lalu membantu Clyrine melepaskan helmnya.

"Nih, muka lo kenapa tegang banget gitu sih?" goda Adrian sambil menerima helm dari tangan Clyrine. Pemuda itu tertawa kecil seraya merapikan rambut Clyrine yang berantakan tertiup angin jalanan. "Kayak orang habis dikejar hantu aja."

Sentuhan santai Adrian di kepalanya membuat Clyrine refleks melirik ke arah jalanan depan ruko.

Tepat seperti dugaannya, sedan hitam Damien melambat di seberang jalan, lalu berhenti sempurna di area parkir pinggir jalan berjarak tak sampai dua puluh meter dari meja luar restoran. Mesin mobil itu dimatikan, namun Damien tidak langsung keluar. Pria itu tetap duduk di balik kaca temaram, memperhatikan setiap jengkal interaksi akrab antara Clyrine dan Adrian dengan rahang yang mengeras rapat.

Clyrine menelan ludah pelan. Ia tahu Damien sedang mengawasinya dari seberang sana. Dan entah dorongan dari mana—mungkin sisa rasa cemburu akibat insiden Kayvara tadi pagi, atau sekadar sifat keras kepalanya yang enggan tunduk—Clyrine justru sengaja menyunggingkan senyuman manis ke arah Adrian.

"Nggak ada apa-apa kok," jawab Clyrine renyah, sengaja memamerkan ekspresi riangnya. "Ayo masuk, lo yang bayar ya pokoknya!"

"Tenang, kartu kredit bokap gue aman," sahut Adrian seraya merangkul santai pundak Clyrine, menuntun gadis itu melangkah masuk menuju salah satu meja kayu di dekat jendela besar teras depan.

Dari dalam mobilnya di seberang jalan, kedua tangan Damien mencengkeram erat setir kemudi hingga buku-buku jarinya memutih total. Pemandangan tangan pemuda itu yang bertengger di pundak Clyrine seketika memutus benang kesabaran terakhirnya.

Damien menarik kunci mobil, membuka pintu dengan satu dorongan tegas, lalu melangkah keluar. Jasnya yang kembali ia kenakan berkibar saat kakinya menjejak aspal dengan derap langkah panjang, dingin, dan penuh dominasi—langsung mengarah lurus ke pintu masuk restoran.

1
falea sezi
keliatan kuat ehh sama aja menye sama bokap aja g berani cupu🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!