Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Trang.
Suara itu membuat semua orang di meja makan menoleh ke arahnya, termasuk Kenji.
"Ada apa, Anya?" tanya Kenji dengan kening berkerut.
"Kau tidak menyukai makanannya?"
Anya memasang wajah yang terlihat sangat arogan dan angkuh.
"Aku hanya merasa bubur ini baunya sedikit aneh, Kenji."
Anya menatap lurus ke arah Dina yang berdiri di sudut ruangan.
"Pelayan, ke sini kau," perintah Anya dengan nada suara yang ditinggikan.
Dina tersentak kaget lalu buru-buru berjalan mendekati kursi Anya.
"I-iya, Nona Anya, ada yang bisa saya bantu?" tanya Dina dengan suara gemetar.
"Coba kau cicipi bubur ini satu sendok penuh," perintah Anya sambil menunjuk piringnya.
Wajah Dina seketika berubah menjadi sepucat mayat.
Gadis muda itu mundur selangkah sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"S-saya tidak berani makan makanan milik majikan, Nona," tolak Dina terbata-bata.
Paman Haris meletakkan cangkir kopinya dengan keras ke atas meja.
Brak.
"Apa-apaan kelakuanmu ini, gadis jalanan?" bentak Paman Haris marah.
"Kau pikir kau siapa berani menyuruh pelayan mencicipi makananmu seperti seorang ratu?"
Anya menelan ludahnya namun tetap mempertahankan wajah angkuhnya.
"Saya adalah calon istri dari ketua klan ini, Paman Haris."
"Saya hanya ingin memastikan standar keamanan di rumah ini berjalan dengan baik."
Anya kembali menatap Dina dengan tatapan yang sangat tajam.
"Makan bubur ini sekarang juga, atau kau kupecat detik ini juga," ancam Anya.
Dina tiba-tiba jatuh berlutut di lantai sambil menangis tersedu-sedu.
Bruk.
"Ampun, Nona, ampun, tolong jangan suruh saya memakannya," tangis Dina pecah.
Reaksi Dina yang sangat berlebihan itu membuat suasana di ruang makan berubah mencekam.
Kenji yang sejak tadi diam kini mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
Pria itu berdiri dari kursinya dan berjalan perlahan mendekati Dina.
"Kenapa kau tidak mau memakannya, Dina?" tanya Kenji dengan suara yang sangat rendah.
"Apa ada sesuatu di dalam bubur tunanganku?"
Dina hanya bisa menangis sambil memeluk lututnya sendiri di lantai.
Paman Haris tiba-tiba berdiri dari kursinya dengan wajah yang memerah.
"Kenji, hentikan omong kosong ini, gadismu itu hanya sedang berkhayal!"
"Pengawal, bawa pelayan ini ke ruang bawah tanah," potong Kenji sama sekali tidak mempedulikan teriakan pamannya.
Dua penjaga bertubuh besar langsung masuk dan menyeret Dina yang terus menangis histeris.
"Tidak, Tuan Muda, tolong ampuni saya, saya hanya disuruh!" teriak Dina sambil diseret keluar.
"Bawa bubur ini ke laboratorium markas, periksa kandungannya dalam waktu sepuluh menit."
Kenji memberikan perintah selanjutnya pada pengawal yang lain.
Ruang makan itu kini benar-benar sunyi seperti kuburan.
Kenji berjalan kembali ke kursinya namun dia tidak duduk.
Pria itu menumpukan kedua tangannya di atas meja sambil menatap tajam ke arah Paman Haris dan Leon.
"Jika hasil lab menyatakan ada racun di makanan tunanganku, aku akan mencabut lidah siapa pun yang mendalangi hal ini."
Kenji mengucapkan ancaman itu dengan sangat tenang, namun efeknya luar biasa mengerikan.
Leon hanya tersenyum kaku sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Kak Kenji, jangan menatap kami seperti itu, kami tidak tahu apa-apa soal pelayan bodoh itu."
"Kita lihat saja nanti," balas Kenji dingin.
Paman Haris mendengus kasar lalu berjalan meninggalkan ruang makan dengan langkah marah.
"Selera makanku sudah hilang karena drama menjijikkan ini," gerutu pria tua itu sambil berlalu.
Leon segera mengikuti pamannya dari belakang, meninggalkan Kenji dan Anya berdua.
Anya menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi karena lemas.
Punggungnya sudah dibanjiri keringat dingin sejak tadi.
"Kau tahu ada racun di sana?" tanya Kenji tiba-tiba memecah keheningan.
Pria itu menatap Anya dengan sorot mata yang penuh dengan rasa ingin tahu.
"Aku punya penciuman yang sangat tajam terhadap bahan kimia, ibuku dulu bekerja di pabrik obat," bohong Anya lancar.
Dia tidak mungkin memberi tahu Kenji tentang sistem ajaib di kepalanya.
"Aku mencium bau seperti almon pahit dari uap bubur itu, makanya aku curiga."
Kenji mengangguk pelan seolah bisa menerima alasan yang masuk akal tersebut.
"Langkah yang cerdas dengan memaksa pelayan itu mencicipinya di depan semua orang."
Kenji mengulurkan tangannya dan mengusap puncak kepala Anya dengan pelan.
"Kau baru saja menyelamatkan nyawamu sendiri dan menggagalkan rencana busuk mereka."
Anya menatap wajah Kenji yang kini tidak sedingin biasanya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan pada pelayan bernama Dina itu?" tanya Anya khawatir.
"Kau tidak perlu memikirkan hal itu, biarkan aku yang mengurus sampah di rumah ini."
Kenji menarik tangannya kembali lalu merapikan jasnya.
"Kembalilah ke kamarmu, aku akan menyuruh koki pribadiku untuk mengantar makanan yang aman ke sana."
Anya berdiri dari kursinya dan mengangguk pelan.
"Terima kasih, Kenji," ucap Anya tulus sebelum berjalan meninggalkan ruang makan.
Saat berjalan kembali ke kamarnya, Anya menyadari bahwa hidupnya kini benar-benar bergantung pada seutas benang.
Sistem memberinya keuntungan, tapi musuh-musuh Kenji bergerak jauh lebih nyata dan mematikan.
"Paman Haris pasti akan mencari cara lain untuk membunuhku setelah kegagalan hari ini," batin Anya cemas.
Dia harus mencari kelemahan mereka sebelum mereka berhasil mencabut nyawanya.
[Misi Harian Selesai: Berhasil menghindari keracunan dan membongkar sabotase.]
[Hadiah: Poin Kecerdasan +5, Item Spesial Terbuka: Kunci Kamar Sayap Barat.]
Langkah kaki Anya mendadak terhenti saat membaca baris terakhir dari layar sistem tersebut.
"Kunci kamar sayap barat?" gumam Anya pelan dengan mata terbelalak.
Sebuah kunci kuno berwarna perak tiba-tiba muncul dan jatuh tepat di telapak tangan kanannya.
Cling.
Anya buru-buru menyembunyikan kunci itu di dalam saku gaunnya.
Jantungnya kembali berdetak kencang, kali ini karena rasa penasaran yang luar biasa hebat.
Rahasia kelam apa yang disembunyikan Kenji di sayap barat sana, kini semuanya berada tepat di dalam genggamannya.