Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Bulan Purnama

Tanggal itu. adalah tanggal hari ini.

Dimas mundur selangkah, punggungnya menabrak dinding di belakangnya. Wajahnya pucat pasi, matanya tak lepas dari tulisan di buku itu. "Malam ini bulan purnama," bisiknya dengan suara yang nyaris tak terdengar. "Dan buku itu... buku itu menulisnya untuk hari ini."

Keheningan yang begitu berat menyelimuti ruangan itu, seakan udara di dalam sana tiba-tiba menjadi padat dan sulit dihirup. Cahaya matahari yang tadinya masuk melalui jendela besar itu perlahan tertutup awan kelabu yang datang entah dari mana, membuat ruangan itu menjadi remang-remang dalam sekejap. Buku harian itu tetap terbuka di meja, menatap mereka dengan diam, seakan menunggu jawaban yang tak bisa siapa pun berikan.

"Kita harus pergi dari sini," ucap Raka akhirnya, suaranya rendah namun tegas. Ia tidak berani berteriak, takut membangunkan sesuatu yang sedang tidur di dalam rumah itu. "Sekarang. Kita tidak boleh berada di sini saat malam tiba. Apalagi malam ini bulan purnama."

"Tapi bagaimana dengan buku itu?" tanya Laras pelan, matanya masih menatap halaman yang bertanggal itu. "Kita tidak bisa membiarkannya begitu saja."

"Kita tidak boleh membawanya," jawab Dimas cepat, matanya melebar seakan Laras baru saja mengucapkan hal yang paling mengerikan di dunia. "Siapa pun yang mengambil sesuatu dari rumah ini... ia akan ikut bersamanya. Aku dengar itu sejak kecil. Jangan ambil apa pun. Jangan bawa apa pun keluar."

"Kalau begitu kita tutup saja," ucap Bu Sari lembut namun tegas. "Kita tutup buku itu, biarkan di tempatnya, lalu kita pergi. Kita kembali besok pagi, saat matahari sudah terang."

Raka mengangguk pelan. Ia perlahan mengulurkan tangan, jari-jarinya gemetar sedikit saat menyentuh tepi buku itu. Kertas itu terasa dingin, seakan baru saja diletakkan di tempat yang sangat dingin. Ia menutup buku itu perlahan, seakan sedang menutup pintu yang tak boleh dibuka sembarang orang. Saat sampul buku itu menutup halaman terakhir, terdengar suara pelan seperti desahan panjang yang lega, atau seperti pintu yang tertutup rapat di tempat yang jauh.

Mereka semua berjalan keluar kamar itu satu per satu dengan langkah terburu-buru namun tetap berhati-hati. Tidak ada yang berani menoleh ke belakang, tidak ada yang berani berbicara. Lorong menuju tangga terasa lebih gelap dari sebelumnya, bayangan-bayangan di dinding seakan bergerak mengikuti pergerakan mereka, seakan tangan-tangan tak kasat mata yang berusaha menyentuh bahu mereka sebelum sempat keluar.

Sesampainya di ruang tengah, Raka berhenti sejenak di depan pintu depan. Ia menatap bunga melati putih yang masih tergeletak di tengah meja itu. "Tinggalkan semuanya di sini," ucapnya pelan. "Semua milik rumah ini, tetap di rumah ini."

Ia melangkah keluar, menutup pintu kayu tua itu perlahan namun rapat. Suara decit panjang pintu yang tertutup itu terdengar menyedihkan, seakan ada yang meratap di dalam sana. Raka memegang gagang pintu sejenak, lalu melepaskannya perlahan. Pintu itu tertutup rapat, seakan takkan pernah terbuka lagi.

"Kita langsung kembali ke penginapan," ucap Raka kepada seluruh kru yang sudah berkumpul di halaman depan rumah kedelapan. "Jangan berhenti di jalan. Jangan memisahkan diri. Kita berjalan bersama-sama sampai ke kendaraan."

Mereka semua mengangguk, wajah mereka tampak pucat dan lelah, namun langkah kaki mereka mantap. Mereka berjalan menuruni jalan setapak itu dengan cepat, tanpa menoleh ke belakang. Di atas sana, di balik jendela besar rumah kedelapan itu, sesuatu sedang memperhatikan kepergian mereka. Sesuatu yang sudah menunggu sejak lama, dan malam ini malam bulan purnama ia takkan membiarkan mereka pergi begitu saja.

Sesampainya di penginapan, suasana di ruang tengah terasa berat dan hening. Mereka duduk melingkar, namun tidak ada yang berbicara. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, memikirkan halaman buku harian itu, tanggal yang sama dengan hari ini, dan bunga melati yang entah bagaimana caranya sampai ke rumah itu.

"Kita tidak bisa kembali ke sana malam ini," ucap Bu Sari akhirnya, memecah keheningan. "Itu sudah pasti. Tapi kita juga tidak bisa pergi begitu saja dan melupakan semuanya. Cerita itu... belum selesai. Dan seakan-akan rumah itu sendiri yang memanggil kita untuk menyelesaikannya."

"Ardita," gumam Laras pelan. "Namanya Ardita. Dan ia menulis itu seakan ia tahu seseorang akan menemukannya tepat pada hari ini."

"Apakah ia masih di sana?" tanya Tika dengan suara bergetar. "Apakah ia menunggu kita kembali?"

Tidak ada yang bisa menjawab. Tidak ada yang berani menjawab. Di dalam hati mereka masing-masing, ada jawaban yang tak ingin mereka akui. Bahwa gadis itu bukan sekadar tokoh dalam cerita masa lalu. Bahwa ia benar-benar ada, dan ia benar-benar menunggu bukan hanya di dalam rumah itu, tapi juga di luarnya, di antara mereka.

Malam pun turun perlahan. Langit di atas bukit itu mulai berubah menjadi biru tua yang pekat, dan di antara awan-awan yang mulai menipis, muncul bulan purnama yang besar dan terang benderang. Cahayanya jatuh ke bumi dengan lembut namun juga dingin, menyinari setiap sudut Kampung Pitu, termasuk rumah kedelapan yang berdiri sunyi di atas sana. Cahaya bulan itu masuk melalui celah jendela besar di lantai dua, jatuh tepat di atas meja tempat buku harian itu tertutup rapat, seakan sedang menerangi tempat duduk seseorang yang kini kosong.

Di penginapan, tidak ada yang bisa tidur. Setiap kali ada angin berhembus, setiap kali ada suara daun berdesir di luar dinding, mereka semua terbangun dengan jantung berdegup kencang. Laras terbangun berkali-kali, merasa ada seseorang yang berdiri di samping tempat tidurnya, menatapnya dalam diam. Namun setiap kali ia membuka mata, tidak ada siapa pun di sana hanya bayangan lemari yang jatuh di dinding, dan cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela.

Raka juga tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di tepi tempat tidur, menatap ke luar jendela ke arah bukit yang gelap di kejauhan. Di atas sana, rumah kedelapan itu tampak samar-samar di bawah cahaya bulan purnama. Dan untuk sesaat, ia merasa melihat ada sosok berdiri di balik jendela besar lantai dua. Sosok gadis muda yang menatap ke bawah, ke arah penginapan mereka, seakan sedang menunggu kesempatan untuk datang.

"Besok pagi," bisik Raka pelan pada dirinya sendiri. "Kita kembali besok pagi. Dan kali ini... kita akan membaca semuanya."

Namun di dalam hati, ia tahu janji itu mungkin sudah terlambat. Karena malam bulan purnama itu baru saja dimulai, dan di rumah kedelapan, sesuatu sedang bergerak. Sesuatu yang sudah lama menunggu, dan malam ini ia takkan membiarkan siapa pun pergi sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!