Indonesia
NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Capo

Tawanan Sang Capo

Status: tamat
Genre:Mafia / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Yesenia Stefany Bello González

Di dunia mafia Italia, putri seorang Capo tidak pernah berhak memilih.

Di hari pernikahannya—dengan pria yang belum pernah ia lihat—Alessia Castelli justru diculik. Bukan oleh perampok jalanan, melainkan oleh Fabiano Conti, Capo La Corona yang paling ditakuti di seluruh negeri. Bagi Fabiano, Alessia hanyalah kartu tawar: satu-satunya cara merebut kembali saudari kembarnya dari tangan kakak Alessia yang kejam.

Tapi ada yang salah dengan penculikan ini.

Pintu kamarnya tak dikunci. Tak ada yang memaksanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri—keputusannya sendiri. Lelaki paling berbahaya yang pernah ia temui ternyata memperlakukannya jauh lebih lembut daripada keluarganya sendiri.

Alessia tahu ia seharusnya membenci penculiknya. Ia tahu ia seharusnya melarikan diri. Jadi kenapa, di wilayah musuh, untuk pertama kalinya ia justru merasa aman?

Namun perang antar-klan tak mengenal cinta. Ketika pertukaran tak terhindarkan dan darah mulai tumpah, Alessia harus memilih antara keluarga tempatnya dilahirkan dan pria yang mengajarinya arti kebebasan—sementara Fabiano bersumpah akan membakar seluruh Italia sebelum membiarkan seorang pun merenggutnya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehilangan Segalanya

Alessia

Aku berlari ke ruangan rumah sakit dan pecah dalam isak saat melihat ibuku di atas ranjang itu.

Ia memakai masker oksigen. Berat badannya turun. Terlalu banyak. Aku bisa melihat semua tulang menonjol di wajah dan tulang selangkanya.

Bagaimana bisa ia memburuk secepat ini?

"Mama…" panggilku dengan berbisik, ragu apakah ingin membangunkannya.

Mama menggerakkan kepalanya dan pecah dalam tangis saat melihatku.

"Mi piccola… Alessia," isaknya.

"Mama," bisikku lalu memeluknya sebisaku.

Tangannya menemukan wajahku.

"Apa yang mereka lakukan padamu, sayang?"

"Tak ada, Ma. Yang Fabiano lakukan hanya menjagaku… Tak ada yang menyakitiku."

Ia melepas masker oksigennya.

"Kamu berbohong padaku?"

"Tidak, Ma. Aku bersumpah tak terjadi apa-apa padaku. Semuanya sangat baik… Mereka cuma ingin Cloe kembali," aku menangis saat teringat. "Lucio… dia…"

"Aku tahu," bisiknya. "Kamu harus menjauh dari Lucio, sayang," pintanya sambil menggenggam tanganku erat-erat. "Jangan percaya padanya. Menikahlah dengan Adriano dan pergilah dari rumah begitu kamu bisa."

Sekujur tubuhku menegang.

Aku telah lupa apa arti kembali ke hidupku.

Aku tak lagi milik diriku sendiri. Aku milik Adriano Greco.

"Aku tak mau menikah."

"Kamu harus. Jangan tinggal bersama Lucio, sayang. Jangan," pintanya sebelum memejamkan mata.

"Mama…"

Mesin-mesin di sampingku mulai berbunyi nyaring dan dengan panik aku mundur.

Beberapa perawat masuk ke kamar dan mendorongku ke lorong.

Lucio berjalan ke arahku.

"Mama… dia…"

Wajahnya mengeras.

"Kalau saja dia mati lebih dulu, waktu Papa meninggal, aku tak perlu mengembalikan Cloe."

Kupukul dadanya.

"Jangan bicara begitu! Itu Mama!"

Ia mencengkeram lenganku dengan kasar dan memelintirnya ke belakang punggungku.

"Kalau kamu berani lagi mengangkat tangan pada Capo-mu, akan kupotong tanganmu," desisnya. "Kamu ikut denganku."

Kutanam tumitku di lantai dan menahan dengan sekuat tenaga.

"Tidak!" teriakku. "Aku takkan pergi dari sini sebelum melihat Mama."

"Adriano menuntut untuk menemuimu," hanya itu yang ia ucapkan sebelum menyeretku.

Aku berteriak, meronta, dan menangis, tapi tak ada yang berbuat apa-apa.

Semua orang takut pada Lucio Castelli.

Ia membawaku ke mobil dan aku mencakar wajahnya.

"Lepaskan aku!"

Ia mengabaikanku dan mendorongku ke kap mobil sport-nya.

Kuludahi wajahnya.

Lucio kembali memukul wajahku di tempat yang sama seperti tadi.

Wajahku meledak dalam nyeri tumpul yang mengaburkan pandanganku.

"Aku benci kamu," gumamku.

Ia mendorongku ke mobilnya tanpa berkata sepatah kata pun.

Selagi kami melaju, aku memikirkan Fabiano dan betapa aku ingin berada dalam pelukannya.

* * *

Aku terpaku diam sementara Adriano Greco berjalan mengitariku, seakan mengamati sebuah benda yang ingin ia beli.

"Bagaimana aku tahu Conti tak meniduri dia?"

Aku tersengal mendengar kekasaran seperti itu.

"Tidak," kata Lucio.

"Bagaimana kamu tahu?"

"Kamu harus percaya pada kata-kataku."

"Aku minta bukti," katanya. "Aku bisa saja meniduri dia sekarang juga," usulnya dan aku menegang.

Seluruh warna hilang dari wajahku.

Aku tahu sekali sudah menikah nanti ia bisa meniduriku sesuka hatinya, tapi aku tak menyangka siksaan itu bisa dimulai lebih awal.

"Lucio…" panggilku, mencoba menyentuh sisi kakak dalam dirinya.

"Aku Capo-mu, Adriano. Jangan lupa itu."

"Kamu temanku. Aku membantumu menculik si Conti sialan itu."

Lucio mengeluarkan senjatanya dan menodongkannya ke Greco.

Bagian yang sangat jahat dalam diriku berharap ia menembak Adriano di sini juga.

"Sebut Cloe pelacur sekali lagi dan kubunuh kamu di sini juga."

Aku menatap kakakku dan mulutku terbuka.

Ini bukan sekadar obsesi atau balas dendam. Lucio mencintai Cloe.

Cinta yang obsesif, berbelit… tapi ia mencintainya.

Ia tak pernah membela siapa pun seperti itu.

"Maaf, Capo," Greco langsung meminta maaf. "Aku akan menikahi Alessia, sekalipun Conti sudah menidurinya." Matanya yang cokelat terpaku padaku sementara ia menjilat bibirnya. "Aku ingin mencobanya sekarang. Kalau dia sudah ditiduri, tak perlu menunggu sampai pernikahan."

"Lucio… kumohon," aku memohon sambil memegang lengannya.

"Kamu bisa menidurinya begitu dia jadi istrimu. Tidak sebelumnya, Adriano."

"Tapi…"

"Tak ada tapi."

Adriano meraba bokongku dan sekujur tubuhku membeku.

Air mata jatuh berputar di pipiku.

Aku merasa kotor. Seakan aku bukan manusia… seakan aku hanya sebuah benda.

"Bokong yang bagus." Ia mencengkeram kausku dan menyobeknya jadi dua. "Dada yang bagus."

Aku tersengal mendengar kekasaran seperti itu.

Aku berusaha menutupi diri saat ia mencoba menurunkan branya di depan kakakku.

"Lucio!"

"Dia akan jadi suamimu, Alessia. Sebaiknya kamu mulai terbiasa," gumam Lucio sebelum berbalik ketika ponselnya mulai berdering di sakunya.

Adriano mencoba menciumku, tapi kupalingkan wajahku.

Ia mencengkeram rambutku dengan kasar dan memaksaku menciumnya.

Aku berusaha mendorongnya, tapi tenagaku tak cukup.

Tangannya menyusup ke balik celana jinsku dan menyentuhku.

Kuangkat lututku dan kuhantam kemaluannya sekuat tenaga.

Ia mengangkat tangannya dan wajahku kembali meledak dalam nyeri untuk keempat kalinya hari ini.

"Adriano," panggil Lucio. "Kamu bisa memilikinya besok," katanya lalu menatapku. "Hari ini kita makamkan Mama dan besok kamu menikah."

Duniaku runtuh.

"Apa?" tanyaku dengan bisikan tercekat sementara sungai air mata mengalir di pipiku.

"Pergi ganti baju. Pakai sesuatu yang hitam. Kita berangkat satu jam lagi."

Aku terjatuh berlutut sementara aku hancur berkeping.

Hari ini aku bukan hanya kehilangan Fabiano… aku juga kehilangan ibuku.

Dan besok aku akan kehilangan diriku sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!