Indonesia
NovelToon NovelToon
Tawanan Sang Capo

Tawanan Sang Capo

Status: tamat
Genre:Mafia / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Yesenia Stefany Bello González

Di dunia mafia Italia, putri seorang Capo tidak pernah berhak memilih.

Di hari pernikahannya—dengan pria yang belum pernah ia lihat—Alessia Castelli justru diculik. Bukan oleh perampok jalanan, melainkan oleh Fabiano Conti, Capo La Corona yang paling ditakuti di seluruh negeri. Bagi Fabiano, Alessia hanyalah kartu tawar: satu-satunya cara merebut kembali saudari kembarnya dari tangan kakak Alessia yang kejam.

Tapi ada yang salah dengan penculikan ini.

Pintu kamarnya tak dikunci. Tak ada yang memaksanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang berkata bahwa tubuhnya adalah miliknya sendiri—keputusannya sendiri. Lelaki paling berbahaya yang pernah ia temui ternyata memperlakukannya jauh lebih lembut daripada keluarganya sendiri.

Alessia tahu ia seharusnya membenci penculiknya. Ia tahu ia seharusnya melarikan diri. Jadi kenapa, di wilayah musuh, untuk pertama kalinya ia justru merasa aman?

Namun perang antar-klan tak mengenal cinta. Ketika pertukaran tak terhindarkan dan darah mulai tumpah, Alessia harus memilih antara keluarga tempatnya dilahirkan dan pria yang mengajarinya arti kebebasan—sementara Fabiano bersumpah akan membakar seluruh Italia sebelum membiarkan seorang pun merenggutnya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Fatamorgana Kebebasan

Fabiano

"Makan," kataku ketika gadis yang seolah tenggelam di dalam pakaianku itu hanya membeku menatap lautan.

"Pemandanganmu di sini luar biasa, Conti."

Aku tersenyum.

"Memang," jawabku sambil menatap siluetnya yang tercetak di depan pemandangan indah itu.

"Ini mengingatkanku pada masa aku dan Papa pergi berlayar tiap akhir pekan. Hanya kami berdua," katanya, dan aku bisa mendengar kerinduan dalam suaranya.

"Papa juga sering mengajak kami berlayar. Kurasa mustahil tumbuh besar di tanah ini tanpa mencintai Mediterania, ya kan?"

"Ya," jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari lautan.

Angin laut bermain-main dengan rambutnya dan memberi sedikit rona pada pipinya.

Ia tampak cantik… Bebas.

"Cocok denganmu."

Ia berbalik bingung. "Apa yang cocok denganku?"

"Kebebasan."

Ia tertawa.

Awalnya tawa kecil.

Lalu menyusul tawa lain, dan lainnya lagi, hingga ia menengadahkan kepalanya sambil tertawa.

"Kata lelaki yang menculikku di hari pernikahanku," ejeknya dengan wajah bersemu sebelum duduk di kursi dengan salah satu kaki terlipat, tampak santai dan… bebas.

"Kamu ada benarnya, Castelli kecil."

"Sangat benar," balasnya sebelum meraih gelas berisi jus jeruk.

"Tapi aku tetap pada ucapanku. Kamu tampak bebas."

"Tapi ini fatamorgana. Dan bukan cuma karena ini," katanya sambil menunjuk ke arahku lalu ke arah dirinya sendiri. "Kubilang begini karena…" ia menghela napas, "lahir dan dibesarkan dalam darah. Kurasa aku tak pernah benar-benar memahaminya, sampai sekarang."

"Aku tak paham maksudmu."

"Bahwa hidupku tak pernah menjadi milikku," katanya sementara pandangannya kembali tersesat di lautan. "Aku tak menentukan dengan siapa aku menikah. Aku tak boleh punya teman. Bahkan aku tak bisa bersekolah seperti anak-anak lain."

"Tidak?"

"Tidak. Belajar di rumah. Papa tak mau aku dikelilingi orang luar."

"Dan juga lelaki, kuduga," kataku, teringat kebiasaan kuno La Sagrada Familia.

"Tidak. Aku bahkan tak punya teman perempuan," gumamnya. "Tak ada tempat mencurahkan ketakutan atau harapanku. Tak ada," bisiknya. "Aku tak pernah datang ke pesta. Tak pernah menari dengan siapa pun. Tak pernah keluar dari negeri ini… Tak pernah masuk ke toko," ia tersenyum. Senyum yang sedih. "Hidupku bukan milikku… akhirnya aku paham."

Aku menggenggam tangannya.

Pandangannya terpaku pada pandanganku.

"Hidupmu adalah milikmu."

"Ya, tentu."

"Aku serius."

"Bisakah aku keluar dari rumah ini?" tanyanya. "Tidak. Tidak bisa," jawabnya sendiri. "Jangan bilang hidupku milikku sementara kamu sendiri hanyalah satu lagi gembok di antara sekian banyak yang menindih kepalaku."

Ucapannya menyakitkan lebih dari seharusnya, dan aku tak tahu kenapa.

Kulepaskan tangannya, dan rasanya buruk.

Kesedihan dan kepasrahan yang menyelubunginya mulai memengaruhiku juga, dan aku tak tahu kenapa.

Aku meraih ponsel.

Aku mencari sebuah lagu dan membiarkannya mengalun.

Alessia menatapku bingung.

"Kamu ngapain?"

"Kamu baru saja bilang tak pernah menari." Ia mengangguk pelan. "Ayo perbaiki itu."

Aku mengulurkan tangan.

Ia menunduk menatap jari-jariku. Lalu kembali menatapku.

"Dengan penculikku?"

"Aku satu-satunya lelaki yang tersedia dalam radius beberapa kilometer."

Tawa lepas dari bibirnya saat ia melirik anak buahku yang berjalan beberapa meter dari situ.

"Tak akan kubilang berkilo-kilometer."

"Satu-satunya lelaki dalam radius berkilo-kilometer yang bisa menyentuhmu tanpa mati saat mencobanya," aku meralat.

"Kurasa kamu ada benarnya."

"Aku punya banyak benarnya."

Ia meletakkan tangannya di atas tanganku dengan malu-malu. Seolah tak tahu persis apa yang harus dilakukan.

Dan, mungkin… ia memang tak tahu.

"Aku tak tahu caranya."

"Ikuti saja irama musiknya," bisikku saat menariknya mendekat ke tubuhku.

Ia begitu mungil sampai puncak kepalanya nyaris hanya mencapai dadaku.

Ia bergerak kaku sambil menatap kakinya.

"Tatap aku," pintaku.

"Aku tak mau menginjakmu."

"Tak akan terjadi apa-apa padaku," kataku.

Alessia mengangkat pandangan dan sejenak aku tersesat di kedua mata biru keabuan itu.

Indah.

Frankie Valli menyanyikan Can't Take My Eyes Off You saat aku memutar tubuhnya.

Ia tertawa saat rona menjalari pipinya, dan untuk pertama kalinya aku memahami makna lagu ini.

Aku tak bisa melepaskan pandanganku darinya.

Melodi lagu berganti dan aku mulai melompat bersamanya ke segala penjuru.

Tawanya dan tawaku berbaur saat kami melompat mengitari meja.

Alessia mengangkat kedua tangannya ke udara sambil menari dan melompat, menikmati embusan kebebasan ini.

Ini fatamorgana.

Aku tahu itu.

Ia pun tahu.

Tapi itu tak berarti kami tak boleh menikmatinya.

Kuraih tangannya dan kutarik ia kembali ke dalam pelukanku.

Kuletakkan satu tangan di punggung bawahnya dan kudekatkan ia padaku sebelum menuntunnya lembut menari di atas kakiku.

Lagu itu berakhir dan mulai mengalun Every Breath You Take dari The Police.

Less tersenyum.

"Sangat cocok, ya kan?" tanyanya sambil mengangkat alis pirangnya.

"Kenapa?" tanyaku, mengabaikan ironi saat itu.

"Oh, ayolah, kamu tahu. Ini lagu sempurna untuk seorang penculik."

Aku tersenyum lagi sebelum bergerak mengikuti irama lagu.

Kedua tangan Alessia naik ke bahuku dan jari-jarinya menyentuh rambut di tengkukku sementara kedua tanganku menemukan tempat di pinggangnya.

Kami bergerak mengikuti irama musik tanpa saling melepaskan pandangan.

Kami menghirup udara yang sama dan rasanya… menyenangkan.

Aku berputar lagi di bait terakhir.

Alessia menyandarkan wajahnya di dadaku sambil mengembuskan napas.

Lagu itu berakhir dan mulai mengalun Uptown Girl dari Billy Joel, dan kami kembali menari ke segala penjuru.

Rambutnya melayang di sekelilingnya dan sebuah senyum cantik menemaninya di setiap gerakan.

Beruntung sekali si Greco yang bodoh itu.

Lagu-lagu terus berdatangan dan kami tak bisa berhenti menari mengelilingi meja sampai kami berdua berkeringat.

Saat Marvin Gaye menyanyikan Ain't No Mountain High Enough, kami sudah kehabisan napas.

"Sarapan?" tawarku.

"Boleh sekali," katanya sambil berjuang mengatur napas.

Aku mengamatinya tertawa sambil menjatuhkan diri ke kursi.

Aneh sekali.

Aku tak pernah membayangkan adik Lucio Castelli bisa punya tawa yang mampu memenuhi seluruh ruangan.

Aku menunduk menatap cangkir kopiku.

Selama beberapa menit aku lupa di mana aku berada.

Aku lupa kenapa aku membawanya ke sini.

Aku bahkan lupa jeritan Cloe.

Dan itu… itu tak boleh kubiarkan.

Aku mengatupkan rahang.

Alessia Castelli bukan tamu. Bukan teman. Bukan perempuan yang bisa membuatku hanyut menari di tepi laut.

Ia satu-satunya kartu tersisa untuk merebut kembali adikku.

Dan itu tak boleh kulupakan.

Meski sebagian diriku mulai berharap bisa melupakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!