Indonesia
NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 27

Bab 27: Penawaran Keturunan Dewi, Keteguhan Hati Sang Pendekar, dan Rahasia Kitsune

​Keesokan harinya, sinar matahari pagi memancar cerah di atas kota perbatasan Aethelgard. Keadaan Ren telah membaik dengan sangat cepat berkat ketahanan fisik alami dari penempaan tulang Demigod, denyut pemulihan Demon Heart, serta ramuan herbal mujarab buatan Hephaestus. Luka-luka luar di dadanya telah menutup rapi, dan energi mananya telah terisi kembali secara utuh di level barunya, yaitu Level 17. Ren kembali mengenakan jubah hitam pengembaranya, mengikat pedang Pandora’s Eclipse di pinggang, dan memasang Topeng Bertanduk Iblis yang kini menjadi ciri khas utamanya.

​Saat Ren menginjakkan kaki kembali di area pertaruhan Koloseum Aethelgard, suasana di sekitar papan taruhan terasa sangat berbeda dibanding hari sebelumnya. Nama Darkness kini memicu pembicaraan hangat di antara para penonton dan petaruh. Pembantaian sadis atas Vargaz sang Serigala Besi pada hari sebelumnya membuat angka taruhan untuk nama Darkness melonjak tajam. Banyak orang yang mulai mempertaruhkan uang emas mereka pada sosok bertopeng bertanduk itu, meyakini bahwa ia adalah kuda hitam berbahaya di babak eliminasi kali ini.

​Pertandingan babak berikutnya segera diumumkan. Ren melangkah masuk ke tengah arena berpasir yang telah dibersihkan dari sisa-sisa darah pertarungan kemarin. Di hadapannya kini berdiri seorang petarung wanita dari Ras Elf. Wanita Elf itu bertubuh jangkung dan anggun, mengenakan zirah pelindung berwarna perak murni, serta memegang sepasang pedang tipis yang memancarkan pendar sihir petir yang teramat sangat padat. Fluktuasi energi dari wanita Elf ini menguar kuat, mengonfirmasi bahwa ia berada di Level 19—hanya satu tingkat di bawah puncak tingkatan dasar mortal.

​"Pertandingan dimulai!" teriak panitia arena.

​Wanita Elf itu bergerak cepat bagaikan kilat melintasi pasir arena. Tebasan-tebasan pedangnya melepaskan gelombang petir biru yang menyambar-nyambar dengan kecepatan tinggi. Namun, Ren bertarung dengan ketenangan yang jauh berbeda dari hari sebelumnya. Dengan mata kelabunya yang tajam di balik topeng dan pemahaman tingkatan barunya di Level 17, Ren membaca setiap celah pergerakan musuhnya dengan sangat presisi. Ren meliukkan tubuhnya, mengibaskan pedang Pandora’s Eclipse untuk membiaskan setiap tebasan petir, lalu mengeksekusi serangkaian pergerakan balik yang menekan pergerakan wanita Elf tersebut.

​Pertarungan berlangsung sengit selama beberapa menit. Ujung pedang tipis wanita Elf itu sempat menggores bahu jubah Ren, namun Ren membalas dengan melepaskan hentakan gelombang angin sihir dari sarung pedangnya yang merusak keseimbangan sang Elf. Dalam satu gerakan memutar yang teramat sangat cepat, Ren membelokkan tebasan pedang musuhnya, melangkah masuk ke jarak dekat, lalu mendaratkan pukulan telapak tangan berselubung mana ke dada sang Elf hingga pedang wanita itu terlempar jatuh ke pasir. Ren menempelkan ujung bilah Pandora’s Eclipse tepat di depan leher wanita Elf tersebut.

​"Pertandingan selesai! Pemenangnya adalah Darkness!" seru pembawa acara arena.

​Gemuruh sorak-sorai penonton meletus di sekeliling tribun. Namun, wanita Elf yang terduduk di pasir itu menatap Ren dengan raut wajah penuh keheranan dan kebingungan. Ia tahu betul aturan brutal Koloseum ini, di mana sebagian besar pemenang akan langsung menghabisi nyawa musuh yang telah hilang senjata demi memuaskan haus darah penonton.

​"Kenapa kau tidak membunuhku?" tanya wanita Elf itu dengan suara yang agak gemetar seraya menatap topeng bertanduk Ren. "Kau memiliki kesempatan penuh untuk memenggal leherku."

​Ren perlahan menurunkan pedangnya, memasukkannya kembali ke dalam sarungnya dengan bunyi clack yang halus.

​"Aku memiliki prinsip untuk tidak membunuh seorang wanita di dalam turnamen," jawab Ren dengan suara tenang dan datar di balik topengnya.

​Tanpa menunggu balasan dari wanita Elf tersebut, Ren berbalik dan melangkah pergi meninggalkan pasir arena menuju lorong keluar Koloseum.

​Ren berjalan menyusuri lorong-lorong batu kota Aethelgard yang ramai, berniat untuk langsung kembali ke gubuk rahasia Hephaestus untuk mengabarkan kemenangannya sekaligus berkonsultasi mengenai perkembangan kekuatannya. Namun, saat Ren melangkah masuk ke sebuah gang sempit yang sepi di antara dua bangunan batu tua, pergerakan kakinya mendadak terhenti.

​Sesosok pria berpakaian jubah hitam tanpa lambang berdiri di ujung gang, menghalangi jalan keluar Ren. Pria itu adalah Kael, bawahan kepercayaan Nona Kitsune.

​Ren secara naluriah memegang gagang pedang Pandora’s Eclipse di pinggangnya, menurunkan posisi tubuhnya ke dalam kuda-kuda tempur yang sigap.

​"Siapa kau? Jika kau dikirim oleh para penaruh Koloseum untuk menghadangku, kau memilih orang yang salah," tegas Ren dingin di balik topengnya.

​Kael meletakkan kedua tangannya di depan dada, membungkuk pelan tanpa memancarkan niat membunuh sedikit pun.

​"Tenanglah, Darkness," ujar Kael dengan suara yang datar namun sopan. "Aku datang ke sini bukan untuk bertarung atau membuat keributan denganmu. Aku diutus ke sini hanya untuk menyampaikan pesan bahwa Nona kami ingin bertemu denganmu."

​Ren mengerutkan alisnya di balik topeng. "Nona? Siapa nonamu?"

​"Nona Kitsune," jawab Kael singkat. "Beliau menunggumu di kediamannya."

​Ren menatap Kael dengan pandangan penuh selidik. Nama Kitsune asing di telinganya dalam konteks perbatasan ini, namun nalurinya menangkap keberadaan sesuatu yang sangat besar di balik nama tersebut.

​"Apa maksud dan tujuan dari pertemuan ini?" tanya Ren menuntut penjelasan. "Mengapa seorang pimpinan yang tidak kukenal mendadak memanggil petarung Koloseum seperti aku?"

​Kael menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak tahu apa maksud pasti dari Nona kami. Tugas saya hanyalah menyampaikan perintah dan mengantarmu. Yang jelas, Nona sangat ingin bertemu langsung dengan orang yang bernama Darkness. Keputusannya mutlak."

​Ren terdiam sejenak di balik topengnya, menimbang risiko dan kesempatan yang ada di hadapannya. Berada di benua asing membuat informasi menjadi komoditas yang sangat berharga. Jika sosok bernama Kitsune ini memiliki pengaruh besar, menolak secara mentah-mentah tanpa mengetahui peta kekuatan lokal bukanlah langkah yang bijaksana.

​"Baiklah," kata Ren seraya melepaskan cengkeramannya dari gagang pedang. "Tunjukkan jalannya."

​Kael mengangguk pelan, lalu berbalik melangkah memandu Ren menyusuri lorong-lorong rahasia kota, keluar dari batas benteng Aethelgard, dan membawa Ren menuju sebuah kawasan pegunungan yang diselimuti kabut tebal di sebelah utara.

​Setelah menyusuri jalan setapak berlubang selama hampir satu jam, mereka sampai di depan sebuah kediaman megah berarsitektur purba yang berdiri terisolasi di balik bukit kabut. Bangunan itu dilapisi kayu cendana hitam dan ukiran-ukiran naga serta rubah yang sangat detail.

​Begitu Ren melangkahkan kakinya melewati gerbang depan kediaman tersebut, seluruh tubuh Ren seketika merinding hebat!

​Dari dalam aula utama bangunan itu, Ren bisa merasakan pancaran tekanan energi dan aura keberadaan yang teramat sangat luar biasa dahsyat! Sensasi keberadaan ini begitu masif, begitu pekat, dan begitu luas hingga membuat udara di sekeliling Ren terasa menjadi sangat berat untuk dihirup. Dalam analisis mendalam Ren, aura yang memancar dari dalam bangunan ini jauh melampaui tekanan energi milik Anya yang berada di Level 20 Murni—bahkan melampaui skala kekuatan mortal mana pun yang pernah ditemui Ren sepanjang hidupnya! Itu adalah pancaran kekuatan tingkat tinggi yang berdiri di atas hukum benua.

​Kael membimbing Ren melangkah menyusuri lorong berkarpet merah hingga sampai di depan dua pintu kayu raksasa. Kael mendorong pintu tersebut pelan, memperlihatkan sebuah aula megah bertingkat yang dilapisi pualam putih dan tirai sutra tipis.

​Di atas sebuah takhta kayu berukir emas di ujung aula, duduk sesosok wanita dengan paras yang teramat sangat cantik dan seksi. Kulitnya seputih salju, bibirnya merah menyala, dan sepasang mata emas kemerahannya memancarkan pesona pemikat yang memabukkan. Di atas kepalanya terdapat sepasang telinga rubah berwarna perak, serta tujuh ekor rubah megah yang mengembang anggun di belakang tubuhnya.

​Kael melangkah maju, berlutut dengan satu kaki seraya menundukkan kepalanya penuh hormat.

​"Hamba menyembah Anda, Yang Mulia Nona Kitsune," ucap Kael. "Hamba telah membawa orang yang Anda inginkan ke hadapan Anda."

​Nona Kitsune menyandarkan tubuh anggunnya pada sandaran takhta, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memikat seraya menatap Ren yang berdiri tegap di tengah aula.

​"Terima kasih, Kael," ujar Nona Kitsune dengan suara merdu yang bergema halus di dinding aula. "Kau boleh pergi dan tinggalkan kami berdua."

​"Baik, Yang Mulia," sahut Kael sebelum berdiri dan melangkah mundur keluar aula, menutup pintu kayu raksasa rapat-rapat.

​Suasana di aula megah itu mendadak menjadi sangat hening. Nona Kitsune mengibaskan salah satu ekor peraknya pelan, memandangi sosok bertopeng bertanduk di hadapannya dari atas ke bawah.

​"Apakah kau yang bernama Darkness?" tanya Nona Kitsune mengawali percakapan.

​Ren berdiri kokoh, menatap lurus ke arah sepasang mata emas kemerahan Kitsune di balik Topeng Bertanduknya.

​"Ya," jawab Ren tegas dan singkat. "Aku Darkness. Lalu... apa tujuanmu memanggilku dan memintaku datang ke tempat ini?"

​Nona Kitsune terkekeh pelan, tawa renyahnya memancarkan riak sihir pemikat yang berhembus lembut di udara aula. Ia meletakkan jemari lentiknya di dagu, menatap Ren dengan binar mata yang penuh keterbukaan dan ketertarikan murni.

​"Aku tidak suka membuang-buang waktu dengan basa-basi yang tidak perlu," ujar Nona Kitsune seraya memperbaiki posisi duduknya yang memamerkan kurva tubuhnya yang seksi. "Aku akan langsung ke intinya saja. Darkness... oh, atau maksudku, Ren... aku menginginkanmu."

​BOOM!

​Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut wanita bertingkat Mythic di hadapannya, serta mendengar nama aslinya dipanggil secara eksplisit, seluruh kewaspadaan Ren meledak seketika!

​SWOOSH!

​Ren secara instan menarik pedang Pandora’s Eclipse separuh keluar dari sarungnya, memasang kuda-kuda tempur defensif penuh seraya meledakkan aura mananya di Level 17! Sepasang mata kelabu di balik topengnya berkilat tajam penuh ancaman.

​"Apa maksudmu?!" gertak Ren dengan suara dalam dan dingin. "Bagaimana kau bisa mengetahui nama asliku, dan apa yang kau maksud dengan menginginkanku?!"

​Nona Kitsune tidak menunjukkan rasa terkejut atau ketakutan sedikit pun melihat respon agresif Ren. Ia justru menyunggingkan senyuman manja seraya mengibaskan tangannya pelan di udara untuk menenangkan aura tegang Ren.

​"Bukan itu yang kumaksud, Pria Tampan," kelak Nona Kitsune dengan nada santai. "Kau tidak perlu memasang kuda-kuda perang seperti itu di hadapanku. Yang kumaksud dengan 'menginginkanmu' adalah... aku ingin kau menjadi suamiku."

​Mendengar penjelasan terus terang tersebut, Ren seketika tertegun diam di tempat. Kuda-kuda tempurnya mendadak membeku, dan raut wajah di balik topengnya dipenuhi oleh rasa kebingungan yang teramat sangat besar.

​"Apa...?! Suami?!" bisik Ren tak percaya. "Apakah kau sedang bercanda? Kita bahkan belum pernah bertemu atau mengenal satu sama lain sebelumnya!"

​Nona Kitsune berdiri dari takhtanya, melangkah turun menyusuri tangga pualam dengan gerakan yang teramat sangat anggun. Tujuh ekor peraknya bergerak meliuk-liuk di belakang tubuhnya, memancarkan aroma keharuman bunga purba yang menenangkan udara aula.

​"Aku tidak pernah bercanda tentang urusan takdir dan keturunan, Ren," jelas Nona Kitsune seraya berhenti berjarak beberapa meter di hadapan Ren. "Dengarkan aku baik-baik. Aku adalah keturunan murni dari Dewi Rubah Ekor Sembilan Purba. Namun, hingga saat ini, kekuatanku baru sanggup memunculkan tujuh ekor. Untuk membangkitkan ekor kedelapan dan kesembilan, serta mencapai puncak potensi garis keturunanku, aku membutuhkan ikatan jiwa dan keturunan dari seorang pria yang memiliki potensi jiwa absolut dan tekad ketahanan yang tidak terbatas."

​Nona Kitsune menatap lurus ke arah dada Ren, tempat Hati Iblis berdenyut.

​"Aku telah hidup selama ribuan tahun di dunia ini," lanjut Kitsune dengan nada suara yang sedikit redup namun jujur. "Selama ribuan tahun itu, aku belum pernah memiliki suami atau memberikan keturunan kepada garis keturunanku. Aku telah melihat ribuan ksatria, kaisar, dan pahlawan dari berbagai ras... namun tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki kejujuran jiwa, kegigihan fisik, dan pola kebangkitan energi murni seperti yang kau tunjukkan di Koloseum kemarin. Kau adalah wadah paling sempurna yang pernah kuketahui."

​Ren mendengarkan setiap patah kata penjelasan Nona Kitsune dengan saksama. Namun, setelah mendengar alasan tersebut, raut wajah Ren di balik topeng bertanduk kembali berubah menjadi sangat dingin dan mantap.

​Ren menggeser kakinya mundur setengah langkah, menyarungkan kembali pedang Pandora’s Eclipse sepenuhnya.

​"Penawaranmu sangat tidak masuk akal bagiku," tegas Ren tanpa ragu sedikit pun. "Aku menolaknya secara mutlak."

​Nona Kitsune sedikit menaikkan alisnya yang halus. "Menolak? Apakah kau tahu apa yang baru saja kau tolak, Ren?"

​"Aku menolaknya karena aku telah memiliki seorang istri yang sangat kucintai," jawab Ren dengan nada suara yang dipenuhi kehangatan dan kesetiaan murni pada Anya. "Istriku sedang menungguku di tempat asal kami bersama anak-anak kami. Hati dan jiwaku hanya milik istriku, dan aku tidak akan pernah mengkhianati ikatan suci kami demi alasan kekuatan atau keturunan apa pun."

​Nona Kitsune menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan godaan. Ia melangkah maju satu tapak lagi, mendekatkan wajah anggunnya ke arah samping topeng Ren.

​"Istri...?" goda Nona Kitsune dengan suara berbisik yang sangat halus. "Ren, kau berada di benua yang teramat sangat luas dan berbahaya. Di dunia luar ini, seorang pria kuat memiliki lebih dari satu pendamping adalah hal yang sangat lumrah. Aku tidak memintamu untuk melupakan istri pertamamu. Aku hanya memintamu membagikan potensi jiwamu denganku."

​Nona Kitsune mengibaskan tangannya ke udara, memunculkan bayangan proyeksi sihir yang menampilkan tumpukan kristal mana tingkat tinggi, gulungan sihir purba, batu tempaan tingkat mitos, serta akses ke seluruh jaringan kekuasaan wilayah utara.

​"Jika kau menerima tawaran ini dan menjadi suamiku..." bujuk Kitsune dengan nada teramat sangat tergiur, "...aku akan menyediakan seluruh sumber daya yang melimpah tanpa batas untuk perkembangan kekuatanmu. Kau bisa mencapai ranah Overlord atau Demi God dalam waktu yang jauh lebih cepat berkat penyokong dari seluruh kekuasaanku! Kau bisa melindungi apa pun yang ingin kau lindungi!"

​Namun, Ren tetap berdiri kokoh bagaikan karang di tengah samudra. Tatapan mata kelabunya tidak bergeming sedikit pun melihat tumpukan harta dan sumber daya luar biasa tersebut.

​"Simpan seluruh sumber dayamu," jawab Ren dengan nada tegas yang memotong ucapan Kitsune. "Kekuatan yang kudapatkan dari hasil mengorbankan kesetiaanku pada istriku adalah kekuatan palsu yang tidak bernilai. Aku bertarung dan menembus batas kekuatanku dengan tanganku sendiri, bukan dengan menjual harga diriku."

​Nona Kitsune menatap mata Ren lurus-lurus di balik celah topeng. Ia mencari garis kebohongan, ketakutan, atau kepura-puraan di dalam raut wajah pemuda Manusia itu—namun ia tidak menemukan apa pun selain keteguhan hati yang tak tergoyahkan.

​Kitsune menghela napas panjang, lalu terkekeh pelan seraya menggelengkan kepalanya penuh rasa kagum yang kian mendalam.

​"Luar biasa..." gumam Nona Kitsune. "Bahkan di hadapan kekayaan tanpa batas dan kecantikan keturunan Dewi Rubah... kau tidak bergeming sedikit pun demi istri yang menunggumu. Jiwamu benar-benar terbuat dari baja murni, Ren."

​Nona Kitsune mengibaskan tangannya, mendisosiasikan seluruh proyeksi harta sihir di udara. Ia melangkah mundur kembali ke arah tangga takhtanya.

​"Baiklah..." kata Nona Kitsune seraya berbalik menatap Ren dengan keanggunan seorang penguasa sejati. "Jika kau sangat keras kepala dan menolaknya hari ini, aku tidak akan memaksamu dengan kekerasan. Aku menghormati prinsip dan kesetiaan jiwamu."

​Nona Kitsune menyunggingkan senyuman hangat yang tidak lagi mengandung manipulasi.

​"Tapi ingat ini baik-baik, Ren... Pintuku akan selalu terbuka untukmu. Jika suatu hari nanti kau berada di dalam situasi sulit di benua luar ini, atau jika kau membutuhkan sumber daya dan bantuan yang tidak bisa kau selesaikan sendiri... datanglah kepadaku dan beritahu aku. Aku akan mengabulkan permintaanmu."

​Ren mengangguk pelan, memberikan penghormatan singkat atas kesopanan pemilik tempat tersebut.

​"Terima kasih atas tawaran dan penghormatanmu, Nona Kitsune," ujar Ren datar.

​"Kau diperbolehkan kembali sekarang," sahut Nona Kitsune seraya melambaikan tangannya pelan.

​Ren berbalik dan melangkah keluar dari aula megah tersebut, meninggalkan kediaman tertutup Kitsune di balik kabut tebal pegunungan.

​Setelah menempuh perjalanan kembali menyusuri perbatasan kota, Ren sampai di distrik kumuh sebelah barat dan melangkah masuk ke dalam gubuk kayu milik Hephaestus.

​CREAK...

​Di dalam ruangan bawah tanah, Hephaestus sedang sibuk menata botol-botol cairan sihir dan mengasah bilah perkakas tempaannya. Sang Dewa Pengrajin mendongak saat mendengar langkah kaki Ren yang masuk, lalu tersenyum lebar.

​"Oho! Kau sudah kembali, Darkness!" sapa Hephaestus riang. "Bagaimana pertarunganmu hari ini? Aku mendengar kabar bahwa kau memenangkan pertandingan melawan wanita Elf Level 19 itu tanpa meneteskan darahnya secara berlebihan!"

​Ren melepaskan Topeng Bertanduk Iblisnya, meletakkannya di atas meja kerja Hephaestus, lalu duduk di kursi kayu seraya menghela napas panjang.

​"Pertandingan berjalan lancar, Hephaestus," jawab Ren. "Namun... setelah pertandingan selesai, sesuatu yang sangat tidak terduga terjadi."

​Hephaestus menghentikan kegiatannya, menatap wajah serius Ren dengan rasa ingin tahu. "Apa yang terjadi?"

​"Aku dijemput oleh bawahan dari seseorang bernama Nona Kitsune," cerita Ren jujur. "Dia membawaku ke sebuah kediaman terisolasi di pegunungan utara."

​Begitu nama Kitsune terucap dari mulut Ren, tangan Hephaestus yang memegang alat pengasah mendadak membeku di udara. Raut wajah sang Dewa Pengrajin berubah menjadi sangat serius dan berbobot.

​"Kitsune...?" bisik Hephaestus penuh penekanan. "Kau bertemu dengan keturunan Dewi Rubah Ekor Sembilan itu?!"

​"Ya," sahut Ren seraya mengangguk. "Dia memanggilku dan memintaku untuk menjadi suaminya agar bisa memberikan keturunan untuk membangkitkan ekor kedelapan dan kesembilan garis keturunannya. Dia menjanjikan sumber daya melimpah, namun aku menolaknya secara mutlak karena aku memegang kesetiaan pada Anya."

​Hephaestus tertegun sejenak mendengarkan cerita Ren, sebelum akhirnya meletupkan tawa terkekeh yang keras!

​"BHAHAHAHA! Luar biasa!" gelak Hephaestus seraya menepuk mejanya keras-keras. "Kau menolak keturunan Dewi Rubah yang ditakuti dan dipuja oleh puluhan suku di benua ini?! Kau benar-benar memiliki nyali dari titanium, Nak!"

​Ren memiringkan kepalanya, memandangi Hephaestus dengan serius.

​"Hephaestus... siapa sebenarnya Nona Kitsune itu dalam peta kekuatan dunia yang sesungguhnya? Saat melangkah masuk ke kediamannya, aku merasakan tekanan energi yang teramat sangat masif dari dirinya—jauh melampaui skala kekuatan Level 20 mana pun yang pernah kutemui."

​Hephaestus menyapu janggutnya, menyunggingkan senyuman tipis seraya mengambil botol anggur tanah liatnya.

​"Perasaanmu tidak salah, Ren," jelas Hephaestus pelan. "Nona Kitsune bukanlah makhluk mortal biasa. Dia adalah eksistensi yang berada di Ranah Mythic Tingkat ke-13! Di benua ini, sosok dengan tingkat kekuatan Mythic seperti dirinya adalah penguasa tersembunyi yang sanggup meruntuhkan sebuah kerajaan besar hanya dengan satu jepitan jarinya."

​Ren menyipitkan matanya. Mendengar penjelasan Hephaestus, ingatan Ren mendadak terlempar kembali ke masa lalunya saat masih berada di desa terpencil di Benua Eldoria.

​"Tunggu..." bisik Ren pelan, ingatan purba merayap di benaknya. "Kitsune... Dewi Rubah... Aku mengingat sesuatu!"

​Hephaestus menatap Ren. "Apa yang kau ingat?"

​"Dulu... saat aku masih berada di desa Kepala Desa Boran, pernah menceritakan nya" kenang Ren dengan pandangan membalik ke masa lalu, "Kepala Desa Boran pernah menceritakan legenda purba tentang perang suku ras kuno. Dalam cerita itu, Boran menyebutkan nama sosok keturunan Dewi Rubah Ekor Sembilan yang mengembara melintasi batas benua dan memiliki pengaruh besar atas keseimbangan alam semesta..."

​Ren menatap Hephaestus lurus-lurus.

​"Apakah Nona Kitsune yang kutemui hari ini... adalah sosok yang sama dengan yang diceritakan oleh Kepala Desa Boran di masa lalu?"

​Hephaestus mengangguk pelan seraya meneguk anggurnya.

​"Dunia ini terhubung oleh benang-benang takdir yang sangat rumit, Ren," ujar Hephaestus penuh makna. "Cerita tua dari kepala desamu itu bukan sekadar dongeng pengantar tidur. Kitsune memang sosok purba yang telah lama menjelajahi benua-benua ini. Bahwa kau bertemu dengannya hari ini... dan bahwa Hati Iblismu merespons keberadaannya... adalah bukti bahwa perjalananku di benua luar ini telah mulai menyentuh tatanan rahasia dunia yang lebih besar."

​Hephaestus menepuk bahu Ren dengan tegas.

​"Kau telah membuat keputusan yang benar dengan mempertahankan kesetiamanmu pada istrimu, Ren. Kekuatan sejati seorang ksatria tidak diukur dari berapa banyak harta atau pendamping yang ia dapatkan dengan menjual jiwanya, melainkan dari seberapa teguh ia menjaga janji pada orang yang dicintainya."

​Ren menyunggingkan senyuman tipis, mengepalkan tangannya rapat-rapat. Rasa ragu di dalam dirinya musnah sepenuhnya, digantikan oleh kejelasan fokus yang teramat sangat murni.

​Perjalanannya di Koloseum Aethelgard masih berlanjut, dan tantangan yang lebih besar di benua luar siap menantinya di esok hari.

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!