Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Keputusan Tanpa Opsi

​Jemariku bergerak menari di atas papan ketik, mempertaruhkan seluruh ingatan murni dan logikaku tanpa bantuan satu pun petunjuk visual.

​Layar monitor raksasa di hadapanku memancarkan deretan peringatan berwarna merah yang berkedip ganas. Sebuah laporan darurat mengenai indikasi peretasan data server Vanguard baru saja mendarat di mejaku.

​Pusat pertahanan Vanguard Corp sedang berada di bawah gempuran peretasan tingkat tinggi, mengancam integritas data finansial triliunan rupiah milik perusahaan.

​Aku menatap rentetan angka yang merusak konfigurasi firewall itu dengan napas tertahan di tenggorokan. Hamparan angka dan baris kode hijau yang biasanya memenuhi penglihatanku hilang tanpa bekas.

​Sistem A.U.R.A yang selama ini menjadi senjata utamaku, penopang seluruh kecepatan analisis superku sejak aku diterima bekerja, kini mati total.

​Tidak ada hamparan teks yang melayang di udara. Tidak ada kotak opsi jawaban instan yang membantuku. Tidak ada peringatan titik lemah dari serangan musuh.

​Pandangan mataku sepenuhnya normal, kembali seperti diriku yang dulu sebelum insiden sengatan listrik itu terjadi. Ruang kosong di depan retinaku terasa begitu mengintimidasi, menyisakan gelombang kepanikan yang mulai meremas dada.

​Sistem A.U.R.A mengalami glitch, sebuah gangguan kelumpuhan fatal yang tidak pernah kuprediksi akan terjadi di saat yang paling krusial.

​Penyebab kelumpuhan ini bukanlah virus komputer eksternal, melainkan reaksi kimia dari dalam tubuh organiku sendiri. Sistem cerdas itu mati mendadak akibat kelebihan kadar dopamin pasca ciuman itu.

​Ingatan tentang kejadian di dalam kabin mobil beberapa saat lalu masih terpatri sangat tajam di benakku. Sakti memangkas jarak di antara kami dan mendaratkan ciuman lembut di bibirku, menyalurkan kerinduan yang selama ini ia tutupi di balik sikap dinginnya.

​Tindakan impulsif Sakti telah memicu lonjakan emosi asmara murniku. Emosi asmara murni yang mendominasi kesadaranku itu memaksa prosesor internal A.U.R.A bekerja melampaui batas kewajarannya. Sistem kecerdasan buatan itu kewalahan memproses perasaan manusiawi yang begitu pekat hingga akhirnya ia terpaksa memutus dayanya sendiri dan menjadi offline demi mencegah kerusakan permanen pada struktur otakku.

​Namun, musuh di luar sana tidak peduli dengan kondisi kelumpuhan sistemku.

​Seseorang dengan kemampuan siber luar biasa sedang menggempur pangkalan data Vanguard Corp tanpa ampun. Target mereka jelas: melumpuhkan operasional perusahaan ini secara total dari dalam.

​Tanpa pedoman kecerdasan buatan, aku dipaksa mengandalkan naluri dan kecerdasanku sendiri untuk menyelesaikan permasalahan kantor yang mendesak ini.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Tanganku terus mengetik dengan ritme yang semakin menggila di atas meja kaca. Keringat dingin merembes dari kedua pelipisku, menetes jatuh mengenai kerah kemeja kerjaku.

​Setiap detik penundaan sangat menentukan nasib puluhan ribu karyawan dan stabilitas posisi CEO Sakti. Aku menelusuri alur enkripsi rumit yang diserang oleh peretas tak dikenal tersebut.

​Aku memaksa otak organiku memproses ratusan variabel data secara bersamaan. Logika murni dan ingatan fotografisku yang tersisa menjadi satu-satunya tameng pelindung malam ini.

​Layar di depanku menampilkan ribuan baris log lalu lintas data yang bergerak sangat cepat. Seseorang berusaha menembus gerbang utama server secara paksa. Serangan ini memiliki ritme yang sangat terstruktur, membuktikan bahwa pelakunya adalah seorang peretas berkelas dunia.

​Aku menolak menyerah pada kepanikan. Mataku bergerak tajam menyapu seluruh sudut layar, mencari celah kerentanan di antara tumpukan kode musuh yang sengaja disamarkan.

​Tanpa bantuan fitur Zoom-In atau analisis visual dari Sistem A.U.R.A, aku harus membedah taktik serangan siber ini secara manual.

​Aku mulai memblokir jalur masuk pertama mereka. Jemariku mengetikkan baris perintah modifikasi pada gerbang keamanan sektor luar perusahaan.

​Serangan itu langsung berbelok. Musuh merespons perlawananku dengan sangat agresif dan fleksibel. Mereka meninggalkan gerbang utama dan mencoba meretas masuk melalui pintu belakang (backdoor) jaringan komunikasi staf.

​Jantungku berpacu menghantam tulang rusuk. Ketegangan absolut memenuhi ruang kerjaku di lantai tertinggi ini, menyisakan gema suara ketukan jariku.

​Aku memejamkan mata sesaat, memaksa diriku mengingat kembali seluruh struktur data kompleks yang pernah kuanalisis di hari-hari sebelumnya bersama A.U.R.A.

​Meski antarmuka A.U.R.A tidak lagi menuntun mataku, pengetahuannya ternyata telah mengendap dan tertanam secara permanen di dalam sel kelabu otakku. Aku ingat persis letak setiap titik buta sistem keamanan Vanguard.

​Aku membuka mata dan kembali mengetik serangkaian algoritma pertahanan baru. Aku membangun tembok virtual secara manual, melapisinya dengan enkripsi palsu untuk menjebak lalu lintas data musuh.

​Suara derak papan ketikku terdengar seperti rentetan tembakan yang membelah keheningan lantai lima puluh lima. Aku menutup setiap port akses yang dicoba ditembus oleh peretas tersebut tanpa memberikan kelonggaran seinci pun.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Pertarungan di dunia maya itu mencapai titik persimpangan paling kritis.

​Pola taktik musuh akhirnya tergambar utuh di dalam benakku. Mereka tidak bermaksud menghancurkan server utama secara frontal. Mereka sengaja memecah kode masuk ke dalam paket-paket kecil yang tidak mencurigakan untuk mengelabui sensor internal, lalu berencana menyatukannya kembali saat sudah berada di dalam pangkalan data rahasia.

​Otakku merangkai teka-teki logika tingkat tinggi itu dengan kecepatan yang menakjubkan, jauh melebihi batas kemampuan manusia biasa.

​Aku berhasil menyelesaikan pembacaan pola kebocoran data secara mandiri.

​Tanpa membuang waktu seperseribu detik pun, aku mengeksekusi protokol pemblokiran akhir. Aku menekan tombol enter dengan tekanan yang sangat kuat.

​Layar monitor berkedip sesaat. Deretan peringatan merah yang mengancam itu membeku, bergetar, lalu perlahan memudar hingga menghilang sepenuhnya dari layar.

​Status server pusat kembali menunjukkan garis indikator berwarna hijau stabil. Aliran data rahasia Vanguard Corp berhasil kuamankan dan kukunci rapat-rapat dalam lapisan kode baruku.

​Aku menghembuskan napas panjang, melepaskan seluruh ketegangan yang sedari tadi menyiksa paru-paruku. Tubuhku bersandar lemas pada punggung kursi kerja.

​Aku memenangkan perang siber ini. Aku menyelamatkan perusahaan murni menggunakan logika dan kecerdasanku sendiri, persis sebelum Sistem kembali menyala.

​Tiba-tiba, ruang pandanganku bergetar halus.

​Titik-titik cahaya hijau neon kembali bermunculan dari kehampaan ruang di depanku, memadat dan menyusun diri membentuk barisan teks holografik yang familiar.

​Sistem A.U.R.A telah beroperasi penuh setelah mengalami mati total.

​Teks hijau itu melayang tepat di depan retinaku. Namun, sistem kecerdasan buatan itu membawa sebuah pesan diagnostik mengejutkan yang belum pernah kulihat semenjak pertama kali ia aktif di kepalaku.

​Teks hijau muncul membawa pesan berbunyi: Evolusi Kemandirian Otak Inang Meningkat (Skor 92%).

​Aku menatap rentetan persentase tersebut dengan tubuh terpaku.

​Otakku tidak lagi sekadar menjadi ruang inang yang bergantung mutlak pada A.U.R.A. Selama sistem itu mati, struktur sarafku membuktikan bahwa ia telah beradaptasi secara ekstrem terhadap hantaran data raksasa.

​Aku menyerap kemampuan analitis super sistem itu dan menjadikannya bagian murni dari kecerdasanku sendiri. Kapasitas pemrosesan otak organiku telah berevolusi mendekati efisiensi sebuah mesin komputasi.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Keheningan pasca krisis di ruang kerjaku tiba-tiba terpotong oleh derap langkah kaki tergesa-gesa dari ujung koridor luar.

​Pintu ruanganku terbuka lebar. Sakti melangkah masuk ke ruanganku dengan raut wajah yang penuh ketegangan.

​Pria yang selalu memegang kendali atas segalanya itu kini terlihat kehilangan ketenangannya. Kemeja di balik setelan jas gelapnya tampak kusut. Kacamata peraknya memantulkan kilat kekhawatiran yang sangat mendalam saat matanya menangkap cahaya layar monitorku.

​Layar utama tersebut menampilkan laporan status pertahanan yang sepenuhnya aman. Tidak ada satu keping data pun yang berhasil dirampas oleh musuh kejam tersebut.

​Sakti tidak mempedulikan protokol profesionalisme saat ini. Jarak di antara kami terkikis habis saat ia melangkah cepat mendekati posisiku.

​Sebelum aku sempat membalikkan kursi untuk memberikan laporan lisan, Sakti sudah berada tepat di belakangku.

​Sakti merengkuh tubuhku erat dari belakang.

​Lengan kokohnya melingkari bahu dan leherku dengan sangat posesif. Hawa hangat dari tubuhnya terasa menembus kain pakaianku, memberikan rasa aman luar biasa yang seketika melunturkan sisa-sisa kepanikanku.

​Ia menyandarkan sisi wajahnya di puncak kepalaku. Napasnya terdengar menderu berat dan sedikit tidak beraturan.

​Pria pemimpin Vanguard Corp ini rela meruntuhkan seluruh tembok arogansinya demi menunjukkan sisi rentannya kepadaku secara terbuka.

​"Aku melihat peringatan daruratnya dari ruang kendali bawah," bisik Sakti dengan suara bariton yang serak. "Aku mengira kita akan kehilangan server ini. Tapi kau menahan mereka."

​Sembari menahan emosinya yang membuncah, ia mengutarakan rasa terimakasihnya atas penyelamatanku.

​Pelukannya semakin mengerat. Jemari Sakti mencengkeram bahuku dengan kuat, seolah memastikan bahwa aku benar-benar ada di sini dan tidak terluka sedikit pun akibat tekanan pikiran yang ekstrim.

​"Kau menyelamatkan perusahaanku lagi, Tera," lanjut Sakti pelan. "Kau berdiri di sini sendirian tanpa bantuan tim analis mana pun, dan kau berhasil menjatuhkan serangan itu."

​Aku memejamkan mata, membiarkan diriku sepenuhnya dihangatkan oleh perlindungannya.

​Sistem A.U.R.A di sudut mataku kembali menampilkan baris data tentang tingkat hormon ketegangan pria di belakangku ini, namun aku memilih untuk mengabaikannya. Malam ini, aku membuktikan bahwa aku tidak membutuhkan antarmuka buatan untuk membela pria yang kucintai. Aku hanya membutuhkan otak murniku, dan hatiku.

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!