Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.
Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.
Lalu, siapa Elara sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Suasana perusahaan yang sejak pagi diselimuti kecemasan, semakin menegangkan saat Faresta datang dengan langkah tegas dan tatapan tajam.
Aura dinginnya menguar kuat hingga beberapa karyawan yang sebelumnya membicarakannya langsung menundukkan kepala.
Tak hanya itu, kedatangan Faresta ternyata tidak sendiri. Beberapa anggota kepolisian berjalan di belakangnya seperti menunggu perintah.
Bisik-bisik langsung kembali terdengar saat Faresta berjalan melewati mereka.
“Apa yang terjadi?”
“Bukannya Tuan Faresta berada di kantor polisi? Kenapa sekarang justru datang bersama polisi?”
“Tapi, dilihat dari ekspresi Tuan Faresta seperti singa yang siap memangsa.”
“Sepertinya ada yang tidak beres dengan berita yang beredar.”
“Sudahlah, kita lanjut bekerja saja. Biarkan itu menjadi urusan para petinggi perusahaan.”
Sementara itu, di dalam ruang rapat, Dio, Liya, kepala keuangan dan beberapa petinggi lainnya sudah berkumpul.
Mereka mengira rapat darurat ini diadakan untuk membahas cara menyelamatkan perusahaan dari tuduhan kasus yang baru saja menjerat Faresta.
Tetapi, hingga saat pintu terbuka. Senyum tipis yang sempat muncul di wajah Liya perlahan menghilang saat melihat siapa yang datang.
Faresta berdiri tegak di ambang pintu dengan ekspresi tenang, seolah tuduhan yang sempat menyeret namanya sama sekali tidak mempengaruhinya.
Namun, yang lebih mengejutkan adalah beberapa anggota kepolisian yang masuk bersamanya.
Tubuh Liya langsung menegang. Begitu pula dengan Dio yang reflek duduk lebih tegak.
Sedangkan kepala keuangan mulai terlihat gelisah di tempat duduknya.
Faresta berjalan menuju kursi utama dan duduk dengan tenang. Tatapannya menyapu seluruh ruangan dan seketika suasana menjadi hening.
Tak ada yang berani membuka suara.
Faresta menyilangkan tangannya di depan dada dengan tenang.
“Saya harap kalian menikmati waktu tenang yang kalian miliki.”
Kalimat itu membuat beberapa orang saling bertatap bingung.
“Liya.”
Wanita itu langsung menoleh. “Iya, Tuan?”
“Masih ingin berpura-pura tidak tahu apa-apa?”
Jantung Liya berdegup kencang. Namun wanita itu tetap berusaha untuk tenang.
“Saya... tidak mengerti maksud anda.”
Faresta tersenyum tipis. “Bagus.”
Pria itu lalu memberi isyarat kepada salah satu anggota polisi. Seketika sebuah map berisi bukti diletakkan di atas meja.
Belum sempat siapapun bereaksi, layar di ujung ruangan menyala.
Sebuah rekaman mulai diputar.
Wajah Liya langsung kehilangan warna. Video itu memperlihatkan dirinya dan Dio yang tengah bertemu diam-diam dengan pihak Virel Group.
Tidak hanya itu. Satu per satu bukti lain mulai ditampilkan.
Transaksi ilegal. Percakapan rahasia. Pemindahan data perusahaan. Manipulasi laporan keuangan. Hingga bukti keterlibatan kepala keuangan dalam seluruh rencana tersebut.
Tangan sang kepala keuangan mulai bergetar.
Sedangkan Dio terlihat seperti baru saja dihantam batu gunung.
Ia mengira semua bukti itu telah hilang bersamaan dengan Arga.
Namun kini semuanya kembali muncul di hadapan mereka.
Tatapan Faresta berubah dingin. Jauh lebih dingin dari sebelumnya.
“Sekarang bagaimana? Apa kalian masih akan mengatakan bahwa kalian tidak tahu apa-apa?”
Ruangan kembali hening. Tak ada satupun yang menjawab pertanyaan Faresta. Para petinggi lain juga ikut bertanya-tanya bahkan mereka melemparkan tatapan tajam kearah ketiga pengkhianat itu. Karena ulah mereka bertiga, para petinggi itu juga hampir mengalami kerugian besar.
Liya masih menundukkan kepala, ia tidak berani menatap para petinggi yang tengah menatapnya tajam.
Sedangkan Dio mengepalkan tangannya erat. Untuk pertama kalinya mereka sadar bahwa semuanya telah berakhir.
“Dio, saya tidak menyangka kamu tega mengkhianati saya. Kamu orang yang paling saya percaya di perusahaan ini, banyak proyek yang saya kerjakan bersama kamu..." Faresta menghela nafasnya.
"...Saya sibuk mencurigai orang lain, sementara pengkhianatnya justru berdiri paling dekat dengan saya.”
Dio terkekeh pelan, tapi lama kelamaan kekehan itu berubah menjadi tawa yang merubah situasi.
Tawa keras yang menyimpan keputusasaan. Kebencian, dan rasa iri.
“Mengkhianatimu?” tanyanya dengan senyum pahit. “Apa kau yakin benar-benar menganggapku ada selama ini?”
Faresta mengernyit. Namun ia tetap memperhatikan Dio karena ingin tahu apa alasan sebenarnya.
“Aku bekerja untukmu selama bertahun-tahun. Menyelesaikan masalahmu. Menjalankan perintahmu.” Suara Dio mulai bergetar.
Tatapannya berubah tajam. “Tapi dimata semua orang aku hanya asistenmu. Mereka memuji kecerdasan Faresta Halvar. Mereka mengagumi keberhasilan Faresta Halvar. Mereka membicarakan kejeniusan Faresta Halvar. Tapi tidak ada yang pernah mengingat siapa yang berdiri di belakang semua keberhasilanmu itu.”
Faresta terdiam. Untuk pertama kalinya… ia menyadari bahwa rasa iri itu ternyata sudah tumbuh sangat lama di hati sang asisten.
“Saudari Liya, Saudara Dio, dan Saudara Rendra, kami harap anda semua bersikap kooperatif selama proses penyidikan berlangsung.”
Polisi segera menyela agar situasi tidak semakin memburuk.
Dio terduduk lemas di kursinya, namun kilatan emosi itu masih terlihat jelas. Amarahnya belum reda dan mungkin dendamnya semakin besar melebihi rasa irinya.
“Tidak, tidak. Saya tidak terlibat, ini… ini semua rencana mereka berdua, saya hanya menjalankan perintah.” Renda sang kepala keuangan berusaha untuk membela dirinya.
Pria itu bersikeras untuk tidak mengaku, ia masih tidak rela jika harus berurusan dengan polisi. Kekayaan yang ia miliki otomatis juga akan menghilang.
Namun, tepat ketika Rendra mengelak...
BRAK! Daun pintu menghantam dinding dengan keras, membuat seluruh percakapan di dalam ruang rapat seketika terputus.
Seketika semua pasang mata beralih ke sumber suara.
Faresta mengernyit, karena yang muncul bukan karyawan perusahaan. Melainkan…
Elara.
Gadis itu berdiri di ambang pintu dengan ekspresi tenang seperti biasa. Seolah kerusakan pintu yang baru saja ia buat bukanlah masalah besar.
“Elara,” gumam Faresta.
Namun yang lebih membuat seluruh ruangan membeku adalah sosok pria yang berdiri di belakangnya.
Wajahnya pria itu nampak lebam, tubuhnya penuh luka dan pakaiannya kotor. Bahkan masih terlihat jelas bekas darah yang menempel pada pakaiannya.
“Arga,” sambung Faresta terkejut.
“Apa aku terlambat, Kakak?”
Faresta berdiri dan hendak mendekati Elara. Namun langkahnya terhenti ketika Dio yang sejak tadi dipenuhi emosi mendadak berdiri dengan wajah pucat.
“Tidak mungkin…” gumamnya.
Tatapan Elara perlahan beralih ke arahnya, senyum tipis muncul di wajah gadis itu.
“Kenapa terlihat sangat terkejut?” Suara Elara terdengar lembut. Namun entah kenapa membuat bulu kuduk beberapa orang meremang.
“Bukankah kalian sudah berusaha keras untuk memastikan dia tidak akan pernah sampai ke sini?”
Dio membeku.
Sedangkan Liya langsung menoleh ke arahnya dengan wajah penuh keterkejutan.
“Siapa gadis sialan ini? Kenapa dia bisa masuk seenaknya di perusahaan?” geram Liya.
“Jaga ucapanmu, Nona Liya.” Suara tegas Faresta seketika membuat ruangan kembali hening dan suasana semakin tegang.
"Gadis yang kau hina itu adalah adikku!”
Mata Liya langsung melebar sempurna saat mengetahui identitas gadis di depannya.
Sementara itu, Arga yang masih berdiri dengan tubuh gemetar, mulai berjalan mendekat dengan langkah yang tidak stabil.
“Tuan… saya masih punya satu bukti lagi.”
Jantung Dio seolah berhenti berdetak. Karena ia tahu, jika bukti itu muncul. Maka bukan hanya dirinya yang akan jatuh. Tetapi juga orang yang selama ini bersembunyi di balik semua rencana ini.
Semua mata kini tertuju pada Arga yang berdiri dengan tubuh penuh luka.
Faresta menatap pria itu cukup lama sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Kalau begitu... tunjukkan!"
terbiasa hidup sendiri dia...jadi belum dieksplor emosinya🤔