Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12
Bab 12
Rahasia di Balik Pernikahan Clara
Di atas meja itu terdapat beberapa lembar foto.
Clara melangkah perlahan.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Foto pertama memperlihatkan dirinya saat masih menjadi gadis yang dikenal sebagai ratu jalanan.
Foto kedua memperlihatkan dirinya sedang mengendarai motor bersama kelompoknya.
Foto ketiga membuat langkah Clara terhenti.
Foto itu diambil belum lama ini.
Clara dan Fedro sedang berada di taman belakang rumah.
Mereka terlihat sedang tertawa.
Clara mengerutkan kening.
“Foto ini…”
Fedro mendekat.
“Diambil tiga hari lalu.”
Clara menatap suaminya.
“Bagaimana mungkin?”
Fedro mengambil foto itu.
“Karena seseorang mengawasi rumah kita.”
Di bawah foto terdapat tulisan kecil.
Kalian semakin dekat.
Clara bergidik.
Ia mengambil foto berikutnya.
Foto dirinya ketika sedang tidur.
Wajah Clara langsung pucat.
“Ini kamar kita.”
Fedro terdiam.
Foto itu memperlihatkan dirinya yang sedang tidur di samping Clara.
Tanggal di sudut foto menunjukkan foto tersebut diambil dua malam lalu.
“Dia masuk ke kamar kita?” tanya Clara dengan suara bergetar.
Fedro langsung mengepalkan tangan.
“Sepertinya.”
“Kenapa tidak ada yang melihat?”
“Aku akan meminta seluruh sistem keamanan diperiksa.”
Clara meletakkan foto itu.
“Fedro…”
“Hm?”
“Aku takut.”
Fedro menatapnya.
Bukan ketakutan terhadap musuh yang membuat Clara pucat.
Melainkan ketakutan karena seseorang telah masuk terlalu jauh ke dalam kehidupan mereka.
Seseorang tahu kapan mereka makan.
Kapan mereka pergi.
Kapan mereka tidur.
Bahkan seseorang mengetahui kamar baru mereka.
Fedro meraih tangan Clara.
“Aku di sini.”
“Tapi kamu juga bisa terluka.”
“Aku tahu.”
“Kalau orang itu menyerangmu?”
Fedro tersenyum tipis.
“Dia harus melewatiku terlebih dahulu.”
Clara menggeleng.
“Aku serius.”
“Aku juga.”
Fedro mengusap rambutnya.
“Tidak ada yang akan menyentuhmu.”
Clara menatapnya.
“Dan kalau aku tidak bisa melindungimu?”
“Kamu tidak perlu melindungiku setiap saat.”
“Kenapa?”
“Karena sesekali biarkan aku menjadi suamimu.”
Clara terdiam.
Fedro kemudian menunjuk tumpukan dokumen.
“Kita cari tahu semuanya malam ini.”
Clara mengangguk.
Mereka mulai memeriksa isi ruangan.
---
Di dalam lemari pertama terdapat berbagai dokumen lama.
Sebagian berhubungan dengan perusahaan keluarga Alexsander.
Sebagian lagi berkaitan dengan transaksi bisnis yang sudah bertahun-tahun berlalu.
Clara membuka salah satu map.
Matanya langsung tertuju pada sebuah nama.
Clara Evellyn.
Ia membeku.
“Fedro.”
Fedro segera mendekat.
“Apa?”
Clara menunjukkan dokumen tersebut.
“Namaku ada di sini.”
Fedro mengambilnya.
Dokumen itu ternyata merupakan laporan lama.
Di bagian atas tertulis:
SUBJEK PENGAMATAN: CLARA EVELLYN.
Clara merasa darahnya berhenti mengalir.
“Pengamatan?”
Fedro membaca halaman berikutnya.
Di sana terdapat beberapa informasi tentang dirinya.
Tempat sekolah.
Teman-teman.
Kegiatan geng motor.
Bahkan nama-nama orang yang pernah dekat dengannya.
Clara menatap suaminya dengan wajah tidak percaya.
“Siapa yang membuat ini?”
“Aku tidak tahu.”
“Fedro…”
“Aku benar-benar tidak tahu.”
Clara mengambil dokumen itu.
“Kalau kamu tidak tahu, kenapa ada di ruanganmu?”
Fedro terdiam.
Pertanyaan itu masuk akal.
Ia sendiri tidak memiliki jawaban.
“Aku tidak pernah membuat laporan tentangmu.”
Clara menatapnya.
“Lalu siapa?”
Fedro berjalan menuju lemari.
Ia membuka laci kedua.
Di dalam terdapat beberapa dokumen tambahan.
Salah satunya memiliki tanggal yang sama dengan dokumen pertama.
Fedro membukanya.
Ekspresinya berubah.
“Ini tidak mungkin.”
Clara mendekat.
“Apa?”
Fedro menyerahkan dokumen itu.
Clara membaca.
Rencana Pernikahan — Clara Evellyn dan Fedro Alexsander.
Clara terdiam.
Pernikahan mereka direncanakan bahkan sebelum mereka benar-benar dekat.
Ia menatap tanggal dokumen tersebut.
Tanggal itu lebih tua dari keputusan pernikahan mereka.
“Fedro…”
“Aku tidak tahu.”
“Jangan bilang itu lagi.”
Fedro menatap Clara.
“Aku tidak berbohong.”
“Kalau begitu jelaskan.”
“Aku tidak punya penjelasan.”
Clara menahan air mata.
“Jadi selama ini…”
Ia berhenti.
Fedro mendekat.
“Clara.”
“Apakah pernikahan kita memang sudah direncanakan?”
Fedro terdiam.
Clara mundur satu langkah.
“Aku ingin jawaban.”
“Aku juga sedang mencari jawabannya.”
“Tidak!”
Suara Clara meninggi.
“Aku tidak ingin mencari jawaban bersama orang yang mungkin menjadi bagian dari rahasia ini!”
Fedro terdiam.
Clara langsung menyesal.
Namun emosinya sudah terlanjur meledak.
“Aku minta maaf…”
“Tidak apa-apa.”
Fedro menarik napas.
“Aku mengerti.”
Clara menatapnya.
“Kalau kamu memang tidak tahu, kita cari tahu.”
Fedro mengangguk.
“Kita cari tahu.”
---
Mereka membuka dokumen berikutnya.
Di sana terdapat sebuah catatan.
Subjek Clara harus dijauhkan dari kelompok lamanya.
Clara membaca kalimat itu berkali-kali.
“Ini bukan sekadar pengawasan.”
Fedro mengangguk.
“Sepertinya seseorang ingin mengendalikan hidupmu.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu.”
Clara memejamkan mata.
Kemudian ia teringat ucapan Raka.
Aku datang untuk menyelamatkanmu.
Cari ruangan yang tidak pernah dibuka Fedro.
Clara menatap Fedro.
“Raka tahu tentang ruangan ini.”
“Berarti dia mungkin pernah masuk.”
“Kenapa?”
Fedro tidak menjawab.
Clara berjalan menuju rak paling ujung.
Ia melihat sebuah kotak kayu.
Kotak tersebut tidak terkunci.
Clara membukanya.
Di dalam terdapat sebuah gelang lama.
Clara langsung mengenalinya.
“Ini milikku.”
Fedro mendekat.
“Kamu yakin?”
Clara mengambil gelang itu.
“Aku kehilangan ini bertahun-tahun lalu.”
“Di mana?”
“Di tempat latihan geng.”
Clara memandangi gelang tersebut.
“Aku mencarinya berhari-hari.”
Di bawah gelang terdapat secarik kertas.
Clara membukanya.
Barang ini ditemukan di lokasi kejadian pada malam Clara meninggalkan dunia geng motor.
Clara membeku.
“Malam itu…”
Fedro menatapnya.
“Malam apa?”
Clara terdiam cukup lama.
“Aku belum pernah menceritakan semuanya kepadamu.”
“Aku tahu.”
Clara menarik napas.
“Waktu itu aku memang meninggalkan geng.”
“Kenapa?”
“Karena seseorang mencoba membunuhku.”
Fedro langsung menatapnya tajam.
“Apa?”
Clara mengangguk.
“Aku sedang berkendara pulang. Ada dua motor mengejarku.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu.”
“Lalu?”
“Mereka mencoba membuatku jatuh.”
Clara menggenggam gelang itu.
“Aku berhasil melarikan diri, tapi motorku rusak.”
“Raka?”
“Dia datang setelah itu.”
Fedro terdiam.
“Dia yang menolongmu?”
“Iya.”
Clara mengangguk.
“Dia membawa aku ke tempat aman.”
“Lalu apa hubungannya dengan pernikahan kita?”
“Aku tidak tahu.”
Fedro mengambil sebuah foto yang berada di dalam kotak.
Foto tersebut memperlihatkan Clara dan Raka.
Namun di belakang mereka terdapat sebuah mobil hitam.
Clara menatap foto itu.
“Aku ingat mobil ini.”
“Kapan?”
“Malam itu.”
Fedro mengambil foto tersebut.
“Berarti seseorang mengikuti kalian.”
Clara mengangguk.
“Sepertinya.”
---
Tiba-tiba suara pintu depan rumah terdengar.
Brak!
Clara dan Fedro langsung menoleh.
Kemudian terdengar suara langkah kaki.
Fedro segera mematikan lampu ruangan.
“Jangan bergerak.”
Clara berdiri di belakangnya.
Langkah kaki semakin dekat.
Seseorang masuk ke rumah.
Fedro memberi isyarat kepada Clara agar tetap diam.
Suara pria terdengar dari luar.
“Cari ruangannya.”
Clara membelalakkan mata.
Mereka datang untuk mencari sesuatu.
Dua orang terlihat melewati lorong.
Fedro menunggu sampai mereka semakin dekat.
Kemudian ia keluar dari ruangan.
“Berhenti.”
Kedua pria itu terkejut.
Salah satunya mencoba melarikan diri.
Fedro berhasil menangkapnya.
Terjadi perkelahian singkat.
Clara berdiri di ambang pintu.
Ia melihat salah satu pria mengeluarkan benda tajam.
“Fedro!”
Pria itu mencoba menyerang.
Fedro menghindar dan menjatuhkannya.
Namun pria kedua berhasil berlari.
Clara mengejarnya.
“Berhenti!”
Pria itu berusaha membuka pintu belakang.
Clara langsung menendang kakinya hingga ia kehilangan keseimbangan.
Pria itu jatuh.
Clara menahan tangannya.
“Jangan bergerak!”
Pria tersebut tertawa.
“Kamu masih seperti dulu.”
Clara membeku.
“Apa?”
“Kamu masih punya refleks yang sama.”
Clara menatapnya.
“Kamu mengenalku?”
Pria itu tersenyum.
“Kami sudah mengawasimu sejak lama.”
Fedro datang.
“Siapa yang menyuruh kalian?”
Pria itu tidak menjawab.
Fedro menatapnya dingin.
“Jawab.”
Pria itu hanya tertawa.
“Kalian tidak akan pernah menemukan kebenaran.”
Kemudian terdengar suara sirene.
Anak buah Fedro datang dan membawa kedua pria tersebut pergi.
Clara berdiri diam.
Fedro menghampirinya.
“Kamu tidak terluka?”
Clara menggeleng.
“Aku baik-baik saja.”
Fedro memeluknya.
Namun kali ini Clara tidak membalas pelukan itu.
Pikirannya terlalu penuh.
---
Beberapa jam kemudian, rumah kembali tenang.
Kedua pria yang tertangkap dibawa untuk diperiksa.
Namun mereka tidak memberikan informasi berarti.
Clara duduk di ruang keluarga.
Fedro duduk di sampingnya.
“Aku ingin mengatakan sesuatu.”
Clara menoleh.
“Apa?”
“Aku menemukan sesuatu sebelum mereka masuk.”
Fedro mengambil sebuah amplop.
“Ini ditemukan di ruang rahasia.”
Clara membukanya.
Di dalam hanya ada satu lembar surat.
Tulisan tangannya berbeda dari surat Raka.
Fedro, jika kau membaca surat ini, berarti Clara sudah mengetahui tentang ruangan itu.
Fedro mengerutkan kening.
Ia membaca lebih lanjut.
Aku tahu kau mencintainya. Tetapi pernikahanmu dengannya memiliki alasan yang tidak pernah kau ketahui.
Clara menahan napas.
Keluarga Alexsander memiliki musuh lama. Musuh tersebut mencari seorang gadis yang membawa bukti tentang sebuah transaksi besar.
Clara menatap Fedro.
“Gadis itu…”
Fedro melanjutkan membaca.
Gadis itu adalah Clara.
Clara membeku.
“Aku?”
Fedro mengangguk perlahan.
Surat tersebut berlanjut.
Saat Clara masih muda, ia tanpa sengaja melihat sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia lihat. Ingatannya menjadi ancaman bagi orang-orang tertentu. Karena itu, Clara harus dilindungi.
Clara menutup mulutnya.
“Jadi…”
Fedro membaca bagian terakhir.
Pernikahan kalian adalah cara paling aman untuk menempatkan Clara di bawah perlindungan keluarga Alexsander.
Clara merasa dadanya sesak.
Ia menatap Fedro.
“Jadi aku menikah denganmu karena perlindungan?”
Fedro menggeleng.
“Tidak.”
“Tapi suratnya…”
“Aku memang menikahimu karena aku mencintaimu.”
Clara menangis.
“Lalu kapan kamu tahu?”
“Aku tidak pernah tahu tentang rencana itu.”
“Bagaimana bisa?”
Fedro menggenggam wajahnya.
“Karena aku benar-benar jatuh cinta kepadamu tanpa mengetahui semua ini.”
Clara menangis semakin deras.
“Kalau begitu kenapa keluargamu mengawasi aku?”
Fedro terdiam.
“Itu yang harus kita cari tahu.”
---
Keesokan harinya, Fedro pergi menemui ayahnya.
Clara ikut.
Mereka tiba di rumah utama keluarga Alexsander.
Ayah Fedro sedang duduk di ruang kerja.
Begitu melihat keduanya, wajah pria tua itu berubah.
“Kalian datang.”
Fedro langsung bertanya.
“Ayah tahu tentang Clara?”
Pria itu terdiam.
Clara menatapnya.
“Ayah tahu?”
Ia akhirnya menghela napas.
“Aku tahu sebagian.”
Fedro mengepalkan tangan.
“Kenapa tidak pernah mengatakan kepadaku?”
“Karena aku ingin melindungi kalian.”
“Dengan berbohong?”
“Aku tidak punya pilihan.”
Clara melangkah maju.
“Siapa yang mengejar saya?”
Ayah Fedro menatapnya lama.
“Orang-orang dari masa lalu keluarga kami.”
“Kenapa saya?”
“Karena ayahmu.”
Clara membeku.
“Ayah saya?”
Pria itu mengangguk.
“Ayahmu pernah bekerja sama dengan keluarga Alexsander.”
Clara mengerutkan kening.
“Aku tidak pernah tahu.”
“Karena itu sengaja disembunyikan.”
“Dalam urusan apa?”
Ayah Fedro berdiri.
“Transaksi besar.”
“Transaksi apa?”
“Data.”
Clara terdiam.
“Data apa?”
“Data perusahaan dan jaringan kriminal yang bisa menghancurkan banyak orang.”
Fedro mengerutkan kening.
“Dan ayah Clara memiliki bukti?”
“Ya.”
Clara menatap kosong.
“Lalu kenapa saya menjadi target?”
“Karena sebelum ayahmu meninggal, dia menyimpan salinan bukti tersebut.”
“Di mana?”
Ayah Fedro menatap Clara.
“Tidak ada yang tahu.”
Clara menggeleng.
“Aku tidak pernah melihatnya.”
“Tapi mungkin kamu pernah.”
Clara terdiam.
Tiba-tiba kepalanya terasa sakit.
Sebuah bayangan muncul.
Seorang pria.
Sebuah ruangan.
Sebuah meja.
Dan sebuah kotak hitam.
Clara memegang kepalanya.
“Clara!”
Fedro menangkap tubuhnya.
“Aku pernah…”
“Apa?”
“Aku pernah melihat kotak itu.”
Semua orang terdiam.
“Kapan?”
Clara menutup mata.
“Waktu aku masih kecil.”
---
Malam itu, Clara kembali ke kamar.
Namun ia tidak bisa tidur.
Kenangan masa kecilnya perlahan muncul.
Ia ingat sebuah rumah lama.
Ia ingat ayahnya sedang bertengkar dengan seseorang.
Ia ingat sebuah kotak.
Dan sebelum semuanya menjadi gelap, ia mendengar suara ayahnya.
“Kalau sesuatu terjadi padaku, jangan berikan ini kepada siapa pun.”
Clara membuka mata.
Ia terengah-engah.
Fedro langsung bangun.
“Kamu kenapa?”
“Aku ingat.”
“Apa?”
“Ayahku menyimpan sesuatu.”
“Di mana?”
Clara memegang kepalanya.
“Di rumah lama.”
Fedro langsung bangkit.
“Kita pergi sekarang.”
Clara mengangguk.
---
Mereka tiba di rumah lama Clara menjelang tengah malam.
Rumah itu sudah lama tidak ditempati.
Clara masuk perlahan.
Setiap sudut membuat kenangan masa kecilnya muncul.
Ia berjalan menuju kamar ayahnya.
Kemudian berhenti di depan sebuah lemari.
“Ayah selalu menyimpan sesuatu di sini.”
Clara membuka laci.
Tidak ada apa-apa.
Ia membuka laci kedua.
Kosong.
Laci ketiga juga kosong.
Clara mengerutkan kening.
Kemudian melihat bagian bawah lemari.
Ada celah kecil.
Fedro membantu menggesernya.
Di balik lemari terdapat kotak hitam kecil.
Clara langsung membeku.
“Itu.”
Fedro mengambilnya.
Kotak tersebut terkunci.
Clara menyentuh kalung yang diberikan kepadanya bertahun-tahun lalu.
Raka pernah mengatakan kalung itu adalah kunci.
Clara melepaskannya.
Ternyata bagian liontin dapat dibuka.
Di dalamnya terdapat sebuah kunci kecil.
Clara memasukkan kunci tersebut ke lubang kotak.
Klik.
Kotak terbuka.
Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk dan surat.
Clara mengambil surat.
Tulisan ayahnya membuat matanya langsung berkaca-kaca.
Untuk Clara.
Jika suatu hari kamu menemukan kotak ini, berarti waktunya sudah tiba untuk mengetahui kebenaran.
Clara menangis.
Fedro berdiri di sampingnya.
Ayah tidak meninggalkanmu karena tidak menyayangimu. Ayah menjauhkanmu dari kehidupan keluarga karena ingin kamu hidup normal.
Clara menggigit bibir.
Namun ada sesuatu yang harus kamu ketahui.
Orang yang menghancurkan keluarga kita bukan musuh dari luar.
Clara membeku.
Fedro ikut membaca.
Dia adalah seseorang yang pernah kita percaya.
Clara menatap Fedro.
“Lagi-lagi orang yang kita percaya.”
Fedro mengangguk.
Mereka membaca bagian terakhir.
Dan jika suatu hari kamu menikah dengan seseorang dari keluarga Alexsander, jangan pernah percaya kepada orang yang mengatakan pernikahan itu hanya kebetulan.
Clara merasa seluruh tubuhnya membeku.
Fedro menatapnya.
“Ada sesuatu yang lebih besar.”
Clara mengangguk.
“Dan kita belum menemukan jawabannya.”
Tiba-tiba ponsel Fedro berdering.
Sebuah pesan masuk.
Selamat. Kalian menemukan kotaknya.
Pesan kedua masuk.
Sekarang datang ke tempat terakhir Raka pernah menyelamatkan Clara.
Pesan ketiga.
Datang sebelum tengah malam. Sendirian.
Fedro menatap layar.
Clara berdiri.
“Aku ikut.”
“Tidak.”
“Fedro.”
“Ini bisa menjadi jebakan.”
“Kalau begitu kita pergi bersama.”
Fedro menatapnya cukup lama.
Akhirnya ia mengangguk.
“Baik.”
Mereka berjalan keluar rumah.
Namun sebelum masuk mobil, Clara berhenti.
“Fedro.”
“Hm?”
“Kalau nanti kita menemukan sesuatu yang membuat semuanya berubah…”
Fedro mendekat.
“Aku tetap memilihmu.”
Clara menatapnya.
“Walaupun pernikahan kita ternyata dimulai dari sebuah rencana?”
Fedro menggenggam tangannya.
“Perasaanku tidak pernah direncanakan.”
Air mata Clara jatuh.
Fedro menghapusnya.
“Yang direncanakan mungkin pernikahan kita.”
Ia menatap mata Clara.
“Tapi mencintaimu adalah keputusan yang aku buat sendiri.”
Clara tersenyum di tengah air matanya.
“Aku juga memilihmu.”
Mereka masuk ke mobil.
Mesin dinyalakan.
Mobil melaju menuju tempat yang tidak mereka ketahui.
Menuju jawaban tentang masa lalu Clara.
Menuju rahasia keluarga Alexsander.
Dan mungkin…
menuju orang yang selama ini menjadi dalang dari semua kejadian.
Namun dari kejauhan, sebuah mobil hitam kembali mengikuti mereka.
Seseorang di dalamnya sedang menelepon.
“Clara dan Fedro sudah berangkat.”
“Bagus.”
“Apakah kita lanjutkan rencana?”
Suara di seberang telepon tertawa pelan.
“Ya.”
“Bagaimana dengan Raka?”
“Biarkan dia datang.”
“Bukankah dia bisa mengacaukan semuanya?”
“Justru itu yang kita inginkan.”
Orang tersebut memandang foto Clara yang ada di tangannya.
“Karena malam ini…”
Ia tersenyum.
“Clara akhirnya akan mengetahui siapa orang yang sebenarnya selama ini melindunginya.”
Mobil hitam itu melaju mengikuti kendaraan Clara dan Fedro.
Tanpa mereka sadari, perjalanan malam tersebut bukan hanya akan membuka rahasia masa lalu.
Tetapi juga akan menguji cinta mereka.
Karena ada satu kebenaran yang jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan.
Kebenaran bahwa sejak awal, seseorang memang sengaja mempertemukan Clara dan Fedro.
Dan jika semua rahasia terbuka…
mereka harus memilih.
Tetap mempertahankan pernikahan yang dibangun di atas sebuah rencana…
atau memperjuangkan cinta yang ternyata tumbuh tanpa pernah direncanakan.
Bersambung…