Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Nadya membuka pintu mobilnya dengan gerakan cekatan, memastikan kenyamanan Armand yang kini duduk di kursi penumpang depan.

Armand masuk ke dalam mobil dengan senyum tipis yang menyiratkan rasa canggung sekaligus kelegaan yang teramat sangat.

Setelah memastikan suaminya duduk dengan aman, Nadya menutup pintu mobil lalu berbalik menghadap kedua orang tuanya yang berdiri mendampingi mereka hingga ke area pelataran parkir rumah sakit.

Dengan takzim, Nadya mencium punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.

"Nadya pamit dulu yah, Bu, Ayah," ucap Nadya lembut.

Sang ibu merengkuh pundak putrinya penuh kasih, sementara sang ayah tersenyum hangat penuh restu.

"Iya sayang, ayah doakan semoga kalian lekas diberi momongan," ujar sang ayah mendoakan dengan tulus.

Nadya tersipu malu-malu, pipinya merona merah di balik kerudung putih yang ia kenakan.

Ia lantas melambaikan tangan sesaat sebelum berputar dan masuk ke kursi pengemudi.

Mesin sedan mewah itu berderu halus membelah udara siang.

Kemudian Nadya melajukan mobilnya menuju ke rumah suaminya.

Sesampainya di rumah Armand, suasana gang yang biasanya relatif tenang tampak berbisik-bisik.

Banyak tetangga yang melihat Armand yang diantar oleh Nadya menggunakan sedan hitam mewahnya.

Tatapan penjelajah dari warga sekitar langsung tertuju pada kendaraan mengkilap dan dua orang yang baru saja keluar darinya.

"Bukankah itu wanita kemarin malam yang meminta tolong?" bisik seorang ibu tetangga di pinggir jalan pada kerabat di sebelahnya.

Mereka menganggukkan kepalanya seraya berbisik seru, menyusun spekulasi dari rentetan kejadian tragis dan aneh yang menimpa rumah sederhana itu sejak semalam.

"Eh dengar-dengar Sarah menjual suaminya," timpal tetangga yang lain dengan nada nyaring yang samar-samar menembus udara siang.

Deg!

Kata-kata itu menghantam pendengaran Armand bagai cambukan keras.

Armand menundukkan kepalanya dalam-dalam, mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat rasa malu dan luka semalam kembali mencubit dadanya di hadapan para tetangga.

Melihat perubahan raut wajah suaminya, Nadya menggenggam tangan suaminya dengan erat dan penuh kehangatan, memberikan perlindungan serta ketegasan bahwa pria itu kini tidak lagi berdiri sendiri.

"Ayo mas, masuk," bisik Nadya lembut namun mantap, menuntun Armand melangkahkan kaki menerobos tatapan penuh selidik warga sekitar.

Namun, baru masuk ke rumah dan melintasi ambang pintu ruang tamu yang bersahaja, mereka dikejutkan dengan kedatangan ibu Sarah—Ibu Mirna—yang tiba-tiba muncul dari arah dalam dengan wajah berang dan tangan bersedekap.

"Armand, dimana Sarah?!" semprot Ibu Mirna tanpa basa-basi, matanya memelototi sosok di samping menantunya.

"Dan siapa wanita ini?! Kamu berselingkuh?!"

"Bu, duduk dulu," ucap Armand berusaha menahan emosinya yang mulai bergejolak, mencoba mengurai ketegangan di dalam rumah.

"Walah, kamu itu sudah miskin, bawa LC lagi ke rumah!" tuduh Ibu Mirna penuh penghinaan, menunjuk-nunjuk wajah Nadya tanpa tahu siapa wanita anggun di hadapannya.

"Bu!!" potong Armand keras, suaranya meninggi memotong cacian mertuanya.

"Dia istriku! Asal ibu tahu, Sarah menjualku dan dia sudah aku ceraikan!"

Ibu Mirna salah tingkah. Matanya membelalak kaget mendengar kenyataan pahit bahwa putrinya telah menjatuhkan harga diri keluarga, sekaligus terkejut menyadari status wanita kaya di hadapannya. Namun, rasa serakahnya dengan cepat mengalahkan rasa malunya.

"Lalu mana bagianku?!" tuntut Ibu Mirna tanpa rasa dosa, menadahkan tangannya di depan Armand.

"Astaghfirullah, Bu..." elus dada Armand menatap mertuanya tak percaya.

"Minta ke Sarah, jangan ke saya!"

Nadya yang dari tadi diam mendengarkan segala makian dan keserakahan wanita tua itu akhirnya melangkah maju.

Raut wajah CEO anggun itu mendadak dingin dan memancarkan wibawa yang menekan.

Dengan tenang namun penuh intonasi tak terbantahkan, ia langsung mengusir Ibu Mirna dari rumah suaminya.

"Silakan keluar dari rumah ini sekarang juga sebelum saya memanggil pihak berwajib atas tindakan menerobos masuk dan pencemaran nama baik!" tegas Nadya menunjuk pintu keluar.

Terkejut dan tersudut oleh ketegasan Nadya, Ibu Mirna mundur beberapa langkah sambil melotot penuh kebencian.

"Awas kalian!" ancam Ibu Mirna dengan napas memburu, lalu menghentakkan kakinya melangkah keluar dari rumah tersebut dengan hati bersungut-sungut.

Ibu Mirna keluar dengan wajah penuh amarah, membanding-bandingkan nasib dan menahan malu di hadapan para tetangga yang memandanginya.

Ia sama sekali tidak tahu keberadaan putrinya yang sekarang sudah mempunyai rumah mewah di kawasan elit dari hasil menjual kehormatan suaminya.

Di dalam rumah, suasana perlahan mereda. Nadya berjalan menuju dapur sederhana, mengambil air minum, dan memberikan kepada suaminya yang masih terduduk lemas di kursi kayu.

"Mas, diminum dulu," tutur Nadya lembut sambil menyodorkan segelas air putih hangat.

Armand menerima gelas itu dengan tangan bergetar pelan.

Ia meminumnya sedikit, lalu menatap istrinya dengan sorot mata yang penuh rasa bersalah.

"Dek, maaf. Aku,"

"Mas Armand tidak bersalah," sela Nadya cepat namun menenangkan, memotong nada keputusasaan dari bibir suaminya.

"Mas," panggil Nadya lagi dengan nada yang lebih serius.

"Ada apa, dek?" sahut Armand seraya mendongak.

"Mas mau pindah rumah?"

Armand mengerutkan keningnya cemas.

"Maksud adek, mau beli rumah?"

Nadya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis.

"Bukan beli rumah, Mas. Saya ada rumah dekat stadion. Di sini Mas Armand banyak tekanan," ujar Nadya penuh pertimbangan, mengingat betapa riuhnya bisik-bisik tetangga dan potensi gangguan dari keluarga Sarah di kontrakan sempit ini.

Armand tertunduk. "Dek, Mas malu malah merepotkan kamu."

"Mas, ini tidak merepotkan sama sekali. Mas mau, ya?" bujuk Nadya dengan tatapan tulus dan penuh harapan.

Armand terdiam sejenak. Ia memandangi setiap sudut rumah kontrakannya—dinding-dinding kayu lapuk yang kini terasa mencekik dan menyimpan begitu banyak kenangan menyakitkan bersama Sarah.

Tempat ini bukan lagi rumah, melainkan jejak luka yang siap merobek hatinya kapan saja.

Perlahan, Armand menganggukkan kepalanya. "Iya, Dek. Mas mau."

Mendengar persetujuan suaminya, Nadya langsung menghubungi Siska untuk menyiapkan rumah baru agar siap dihuni hari ini juga.

Tidak butuh waktu lama, anak buahnya datang dengan truk engkel kecil untuk membantu membawa barang-barang Armand yang tidak seberapa ke rumah baru.

Setelah semua barang berharga dan pakaian Armand selesai dikemas, Nadya menggandeng jemari suaminya menuju mobil.

"Ayo Mas, kita ke rumah baru," ajak Nadya dengan senyum merekah.

Melihat Armand yang bersiap pergi membawa tas-tasnya, beberapa tetangga yang sejak tadi menyimak di luar rumah merasa kasihan pada Armand.

Pria bersahaja itu dikenal baik dan rajin di lingkungan mereka, sangat kontras dengan perangai mantan istrinya.

Seorang ibu tetangga sepuh mendekati mobil dan memegang lengan Nadya dengan mata berkaca-kaca.

"Mbak, titip Mas Armand, ya. Kasihan dia, Mbak. Sarah sudah keterlaluan," bisik ibu tersebut penuh haru.

Nadya menganggukkan kepalanya mantap. "Pasti, Bu. Terima kasih banyak atas perhatiannya selama ini."

Dengan helaan napas lega, sedan hitam itu perlahan bergulir meninggalkan gang sempit dan kenangan pahit, membawa Armand menuju babak kehidupan baru yang lebih layak dan dihormati di sisinya.

Perjalanan menuju ke rumah baru berlangsung dalam keheningan yang nyaman, diiringi deru halus mesin mobil yang membelah jalanan kota.

Armand menatap jendela, memperhatikan pepohonan dan bangunan yang berlari cepat di luar, sementara pikirannya berkecamuk oleh rasa canggung yang teramat besar.

"Dek, mas malu sama kamu. Mas belum bisa memberikan apa-apa," bisik Armand lirih, menyuarakan rasa tidak enaknya sebagai seorang suami yang merasa belum sanggup menyejajarkan posisinya.

Mendengar ucapan tulus namun sarat keputusasaan itu, Nadya meminggirkan mobilnya ke tepi jalan yang agak lengang.

Ia mematikan sein, lalu menoleh sepenuhnya menatap wajah suaminya dengan lekat.

"Mas, jangan malu. Bukankah mas masih bisa memberikan aku nafkah lahir dan batin?" tutur Nadya lembut namun tegas, mengikis habis keraguan yang melingkupi batin pria di sampingnya.

Armand menganggukkan kepalanya pelan, tersentuh oleh pemikiran dan kedewasaan istrinya.

Di dalam hatinya, ia masih tidak menyangka jika ia akan dimanjakan oleh istri barunya yang begitu memuliakannya sebagai seorang lelaki.

Nadya kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah baru mereka.

Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di rumah yang sederhana namun asri.

Halaman depannya dihiasi rumput hijau yang rapi dan beberapa tanaman hias yang menyegarkan pandangan, sangat jauh dari kesan bising dan mencekik seperti tempat tinggalnya yang dulu.

"Dek, rumah ini pasti mahal?" tanya Armand polos sewaktu mengamati arsitektur bangunan yang begitu tertata rapi.

Nadya tersenyum tipis, tidak ingin suaminya terbebani oleh nominal angka.

"Ayo mas, kita masuk dulu," ajaknya lembut.

Nadya membuka pintu rumah baru mereka, menuntun Armand melangkah masuk menyusuri ruang tamu yang bersih dan harum.

Langkah Nadya berhenti di depan sebuah ruangan berdinding kaca buram di sudut rumah, lalu membuka pintunya lebar-lebar.

Armand menatap tanpa berkedip sama sekali. Matanya membelalak tak percaya menyaksikan isi ruangan tersebut.

"Ini ruang menjahit Mas Armand," ucap Nadya berseri-seri.

Di dalam ruangan berpendingin udara itu, tersusun rapi beberapa mesin jahit modern—mulai dari mesin jahit highend, mesin obras otomatis, gantungan baju berdiri, meja potong pola yang luas, hingga lemari kaca penuh dengan bermacam rol benang dan kain berkualitas tinggi.

Ini adalah ruang lengkap jahit yang selama ini Armand inginkan di dalam mimpi-mimpinya yang paling liar.

"Dek," panggil Armand dengan suara tercekat, kaca-kaca air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.

Nadya mengusap pelan lengan suaminya. "Sudah, jangan menangis. Sekarang mas istirahat dulu, aku akan memasak makan malam."

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!