Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK LANGKAH KE RUMAH LAMA
Langkah kakiku menyusuri jalanan kompleks perumahan yang rindang. Pohon-pohon maple yang berbaris di sepanjang trotoar mulai menggugurkan dedaunan berwarna jingga kecokelatan, merenyek halus setiap kali tertimpa sol sepatuku. Udara sore ini terasa lumayan dingin, tetapi bukan dingin dari angin musim gugur yang membuat dadaku sesak, melainkan dingin dari rasa gelisah yang terus menggerogoti hatiku sejak kemarin.
Pesan isyarat tangan Kaito di lorong lantai dua itu—[Sampai jumpa Hana, nikmati waktumu bersama Haruto]—terus berputar tanpa henti di dalam kepalaku bagai kaset rusak.
Aku tidak bisa membiarkannya berakhir seperti itu. Aku tidak sanggup jika keheningan di antara kami berubah menjadi tembok tebal yang tak tertembus. Maka sore ini, tanpa memberitahu Haruto, aku memutuskan untuk mendatangi satu-satunya tempat yang paling memahami masa laluku: rumah Kaito.
Pagar besi berwarna hitam itu masih sama seperti dulu. Ada goresan kecil di bagian bawahnya—bekas sepedaku yang menabraknya saat kami masih duduk di sekolah dasar. Aku berdiri mematung di depan gerbang selama beberapa menit, memilin ujung lengan bajuku dengan jemari yang mendadak dingin.
Dengan keberanian yang tersisa, aku mengulurkan tangan dan memencet bel di samping pagar.
Ting-tong.
Suara bel bergema pelan dari dalam rumah. Tidak ada jawaban selama beberapa detik. Aku memejamkan mata, berpikir bahwa mungkin Kaito belum pulang dari laboratorium kampus. Namun, saat aku baru saja hendak membalikkan badan untuk menyerah, suara selot pintu yang ditarik terdengar nyaring.
Pintu depan terbuka. Sosok tinggi itu muncul di ambang pintu.
Kaito mengenakan kaus polos berwarna abu-abu longgar dan celana kain hitam. Rambutnya agak berantakan, dan kacamata berbingkai tipis masih bertengger di pangkal hidungnya. Di tangan kanannya, ia memegang selembar kain lap bersih.
Mata Kaito membelalak pelan saat mendapati sosokku berdiri di luar pagar. Binar terkejut yang sangat murni terpancar dari sorot matanya, sebelum dengan cepat ia kuasai kembali menjadi raut wajah yang tenang.
Kaito melangkah cepat melintasi halaman kecil, membuka kait pagar besi itu.
[Hana?] jemari Kaito bergerak di udara dengan keraguan yang halus. [Kenapa kamu di sini? Sendirian? Mana Haruto?]
Mendengar nama Haruto disebut pertama kali oleh gerakan tangannya, dadaku terasa sedikit berdenyut nyeri. Aku mengangkat kedua tanganku, jemariku menari pelan membalasnya lewat isyarat yang sudah kami gunakan sejak kami kecil:
[Aku ingin bertemu denganmu, Kaito. Apakah aku mengganggu waktumu?]
Kaito menatap gerakan tanganku sejenak, lalu matanya beralih menatap lekat mataku. Ada hembusan napas pelan yang keluar dari bibirnya—sebuah helaan napas yang menyembunyikan kelelahan dan kerinduan yang teramat dalam. Kaito menggelengkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sangat lembut.
[Mana mungkin kamu mengganggu. Masuklah, di luar dingin.] Kaito menggeser tubuhnya, membukakan jalan lebar-lebar untukku.
Aku melangkah masuk menembus pintu rumahnya. Aroma yang sangat familiar langsung menyapa indra penciumanku—campuran aroma kayu cendana, teh herbal, dan sedikit jejak cat minyak dari ruang melukisnya di lantai atas. Rumah ini tidak banyak berubah. Lemari kayu tua di sudut ruang tamu, foto-foto masa kecil kami yang terpajang di dinding, serta karpet bulu krem yang dulu sering kami jadikan tempat rebahan sambil membaca komik.
"Duduklah dulu," bisik Kaito sangat pelan—suara serak khasnya yang jarang sekali ia gunakan kecuali saat kami benar-benar hanya berdua.
Aku duduk di atas sofa empuk, memperhatikan Kaito yang berjalan ke arah dapur kecilnya. Dari balik meja konter, aku melihat jemarinya bergerak cekatan menyeduh dua cangkir teh. Ia memasukkan sejumput daun chamomile dan sedikit madu—racikan teh khusus yang selalu ia buatkan untukku sejak kecil setiap kali udaranya dingin agar tenggorokanku tetap hangat.
Kaito kembali ke ruang tamu, membawa nampan kayu kecil. Ia meletakkan cangkir teh yang masih mengepulkan uap hangat di depanku.
[Minumlah. Ini bagus untuk napasmu,] gerak tangan Kaito memberi tahu.
Aku memegang cangkir keramik itu dengan kedua tanganku, membiarkan rasa hangatnya merayap ke telapak tanganku yang kaku. Aku menatap Kaito yang kini duduk di kursi kayu berseberangan denganku. Ada jarak sekitar dua meter di antara kami—sebuah jarak yang sengaja Kaito ciptakan.
Biasanya, jika kami berdua di rumah ini, Kaito akan duduk tepat di sampingku di atas sofa, membiarkan bahu kami bersentuhan, atau duduk bersila di lantai di depan kakiku. Namun sore ini, ia memilih duduk di kursi terpisah, melipat tangannya dengan sangat sopan di atas pangkuan.
Kesopanan Kaito yang begitu teratur justru membuatku merasa terasing.
Aku meletakkan cangkir tehku kembali ke atas meja. Aku mengangkat kedua tanganku ke udara, mulai menggerakkan jemariku untuk menyampaikan apa yang membakar dadaku sejak kemarin:
[Kaito... kenapa kemarin kamu pergi begitu saja di kampus?] gerak tanganku agak gemetar. [Kenapa kamu memberiku isyarat seperti itu? Kamu seperti... ingin pamit pergi dariku.]
Kaito menatap gerakan tanganku tanpa berkedip. Raut wajahnya tetap tenang, tetapi aku melihat ada jeda waktu yang cukup lama sebelum ia membalas isyaratku.
[Aku tidak pamit, Hana,] jemari Kaito menari dengan sangat perlahan dan rapi di udara. [Aku hanya tidak ingin mengganggu momenmu. Kamu kelihatan bahagia bersama Haruto. Dia menjagamu dengan sangat baik, kan?]
[Tapi kamu temanku! Kamu sahabatku sejak kecil!] balasku cepat, isyarat tanganku meninggi dan mataku mulai berkaca-kaca oleh keputusasaan. [Kenapa kamu harus menghindar dariku seolah-olah kita ini orang asing?]
Kaito menatap mataku yang mulai digenangi air mata. Binar matanya bergetar hebat untuk sepersekian detik. Kaito menurunkan tangannya ke atas lutut, mengepalkan jemarinya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
[Aku tidak menghindar, Hana,] isyarat Kaito bergerak makin lambat, seolah setiap gerakan jarinya membawa beban berat yang harus ia tahan. [Aku hanya memberi ruang. Dulu, tugas menjagamu adalah tanggung jawabku karena tidak ada orang lain di sisimu. Tapi sekarang, sudah ada Haruto. Dia pacarmu. Kamu harus belajar bergantung padanya, bukan terus-menerus melihat ke arahku.]
Kata-kata isyarat itu terpatri tegak di udara, menghantam dadaku tanpa ampun.
Bukan terus-menerus melihat ke arahku.
Apakah selama ini Kaito tahu bahwa mataku selalu mencarinya? Apakah ia tahu bahwa di tengah riuh perhatian Haruto yang melimpah, hatiku justru selalu merindukan keheningannya?
Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam. Semangkuk air mata yang kutahan akhirnya menetes jatuh, membasahi kain celanaku. Aku merasa sangat egois. Aku menginginkan perhatian Haruto yang hangat, tetapi di saat yang sama, aku tidak sanggup melepaskan Kaito dari duniaku.
Melihatku menangis, Kaito bergerak refleks. Ia bangkit dari kursinya, melangkah maju dua tapak menuju arahku. Tangannya terangkat ke udara, hendak mengusap puncak kepalaku—kebiasaan lama yang selalu ia lakukan setiap kali aku menangis karena sakit atau sedih.
Namun, di tengah udara, tangan Kaito membeku.
Kaito menatap tangannya sendiri yang mengambang di udara, lalu melirik ke arah jariku yang melingkar polos, namun penuh dengan bayang-bayang kehadiran Haruto. Dengan senyuman paling pahit yang pernah kulihat dari wajahnya, Kaito menarik kembali tangannya perlahan-lahan. Ia meremas jemarinya sendiri, membatalkan niat untuk menyentuhku.
[Jangan menangis, Hana,] Kaito menyampaikan isyarat itu dari jarak setengah meter, tanpa sentuhan fisik sedikit pun. [Tehmu nanti dingin. Minumlah.]
Aku mengusap air mataku kasar menggunakan punggung tangan, mengangguk pelan. Aku berdiri dari sofa, merasa bahwa keberadaanku di sini mungkin memang hanya makin menyiksa kami berdua dengan kecanggungan ini.
"Aku... pulang dulu," melalui bahas isyarat yang ku keluarkan.
Kaito mengangguk pelan. Ia tidak menahanku. Kaito berjalan di sampingku, menuntunku menuju pintu depan.
Saat aku berdiri di ambang pintu untuk mengenakan sepatuku, mataku tak sengaja melirik ke arah meja kerja Kaito yang berada di sudut ruang tamu dekat jendela. Di atas meja kayu itu, tumpukan buku-buku hukum tersusun rapi. Namun, di samping tumpukan buku itu, ada sebuah kotak obat plastik kecil transparan dan selembar kertas resep dokter yang posisinya agak terbalik.
Di samping kotak obat itu, terdapat sebuah kanvas lukisan berukuran sedang yang ditutupi kain blacu putih. Namun, angin sore yang bertiup dari pintu terbuka sedikit menyingkap bagian bawah kain itu.
Di balik kain penutup itu, aku melihat sapuan warna cat minyak yang sangat kukenal: gaun merah mudaku, dan syal rajut krem milik Kaito. Lukisan itu adalah lukisan sosokku yang sedang berdiri di bawah pohon maple. Sebuah lukisan yang belum sepenuhnya selesai, namun dilukis dengan setiap detail yang teramat presisi.
Jantungku berdegup kencang. Obat apa itu? Dan kenapa Kaito melukisku lagi secara sembunyi-sembunyi?
Sebelum aku sempat melangkah mendekat ke arah meja kerja itu untuk melihat lebih jelas, Kaito dengan sangat halus menggeser posisi tubuhnya, berdiri tepat menutupi sudut pandangku ke arah meja kerjanya.
[Hana, harinya makin sore. Udara luar makin dingin,] isyarat tangan Kaito mengalihkan perhatianku kembali padanya.
Kaito tersenyum sebuah senyuman yang sangat hangat, manis, namun dipenuhi oleh kepasrahan yang teramat dalam. Senyuman yang sama seperti saat ia membantuku bernapas di masa kecil kami.
[Pulanglah dengan hati-hati,] lanjut Kaito lewat gerak jarinya.
Aku menatap mata Kaito lekat-lekat, mencari kebohongan atau rasa sakit di sana, tetapi Kaito menyembunyikannya dengan sangat sempurna di balik kacamata tipisnya.
[Terima kasih untuk tehnya, Kaito,] balasku lewat isyarat tangan yang pelan.
Kaito mengangguk, mengantarku hingga ke luar pagar besi hitamnya. Aku melangkah pergi menyusuri trotoar kompleks, membalikkan badan sesekali. Kaito masih berdiri di sana, di depan gerbang rumahnya, memegang pagar dengan satu tangan sambil menatap langkah kakiku yang makin menjauh.
Di bawah langit sore yang kian menggelap dan angin dingin yang makin menusuk kulit, aku berjalan pulang dengan dada yang terasa jauh lebih sesak daripada saat aku datang. Aku berhasil menemui Kaito, tetapi ada sebuah ketakutan baru yang mulai bertunas di dalam batinku.
Ada sesuatu yang Kaito sembunyikan dariku. Sesuatu yang sangat besar di balik senyuman hangat dan keheningannya yang teratur. Dan ketakutan terbesar dalam hidupku adalah... saat aku berhasil membongkar rahasia itu nanti, aku sudah tidak lagi memiliki waktu untuk memperbaikinya.