Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM OF HER HEART

SISTEM OF HER HEART

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Cintapertama
Popularitas:927
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Satu sengatan listrik tak membunuh Tera, melainkan menanamkan sistem kecerdasan buatan (AI) di otaknya. Berbekal keajaiban ini, ia menyusup ke Vanguard Corp sebagai asisten eksklusif dan menaklukkan Sakti, CEO tampan yang sedingin es. Namun, mampukah Tera terus menyembunyikan rahasia di kepalanya saat sang miliarder mulai jatuh cinta pada "kecerdasannya"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Jebakan Pesta Kebudayaan

​Kilatan lampu kamera jurnalis menyilaukan mata saat para tamu melangkah memasuki area pameran kebudayaan.

​Karpet merah membentang panjang melintasi lobi gedung galeri seni nasional. Para tamu yang hadir malam ini adalah representasi dari puncak piramida sosial. Para miliarder, pejabat tinggi, dan petinggi dewan komisaris saling bertegur sapa, memamerkan pengaruh dan kekayaan mereka melalui balutan busana desainer papan atas.

​Aku melangkah dengan postur tegak sempurna, tepat di sisi Sakti.

​Gaun malam berbahan sutra hitam pekat membalut tubuhku, memberikan kontras yang sangat tajam dengan setelan jas abu-abu perak yang dikenakan Sakti. Tanganku bertaut ringan pada lengannya. Jari-jari Sakti sesekali memberikan tekanan protektif, memastikan tidak ada satu pun jurnalis yang berani mendekati atau melontarkan pertanyaan provokatif ke arah kami.

​[Memindai Area Eksibisi Utama.]

​[Mengidentifikasi 300 Tamu Undangan. Mendeteksi 24 Kamera Keamanan Beresolusi Tinggi. Titik Fokus Ancaman: Terdeteksi.]

​Teks hijau dari sistem A.U.R.A menyala di sudut mataku, memetakan seluruh ruangan raksasa ini dalam bentuk cetak biru tiga dimensi di dalam pikiranku.

​Ancaman itu berada di area tengah pameran.

​Di sana, di antara pajangan artefak kuno, Ajkaro berdiri dengan penuh wibawa. Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas tradisional yang sangat mewah. Matanya yang setajam elang langsung mengunci keberadaanku sejak aku melangkah melewati pintu masuk.

​Tatapan Ajkaro memancarkan penolakan dan permusuhan yang sangat absolut. Pesan ancaman yang ia kirimkan ke ponselku tadi malam bukan sekadar gertakan kosong. Pria itu siap mengeksekusi rencananya malam ini.

​Dan ia tidak bekerja sendirian.

​Tepat di sebelah Ajkaro, Caremel berdiri memamerkan gaun emasnya yang berkilau. Wanita sosialita itu menyunggingkan senyum kemenangan saat melihat kami mendekat.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Sakti menuntunku menyusuri koridor utama pameran, mengabaikan sebagian besar kolega bisnis yang berusaha mencari perhatiannya.

​Tujuan Sakti hanya satu, memberikan penghormatan formal kepada ayahnya sebelum kami menyingkir ke area privat.

​"Malam, Ayah," sapa Sakti dengan nada bariton yang kaku dan formal saat kami tiba di hadapan Ajkaro.

​Ajkaro tidak membalas sapaan putranya. Pria tua itu melipat tangan di belakang punggung, menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan raut wajah merendahkan.

​"Sakti," suara Ajkaro menggema berat, menarik perhatian beberapa pengusaha senior di sekitar kami. "Kupikir kau sudah belajar dari insiden Gala Bisnis sebelumnya. Membawa seorang karyawan administrasi rendahan ke acara kenegaraan seperti ini adalah sebuah penghinaan terhadap keluarga kita."

​Sakti mengeras. Otot rahangnya menonjol tajam. Genggaman tangannya di lenganku seketika berubah menjadi cengkeraman kokoh.

​"Tera bukan karyawan rendahan," balas Sakti dengan nada dingin yang mengancam. "Dia adalah asisten khususku, dan dia memiliki lebih banyak kelas dibandingkan sebagian besar tamu yang hadir di sini."

​Caremel tertawa kecil, menutup mulutnya dengan gaya dibuat-buat.

​"Tentu saja, Sakti," potong Caremel melangkah maju. "Nona Tera selalu pandai mencari perhatian. Tapi galeri seni ini bukanlah ruang rapat perusahaan. Artefak di ruangan ini bernilai sejarah tinggi, sangat rapuh, dan tidak bisa dinilai hanya dengan angka-angka."

​Caremel menatapku dengan kilat kelicikan yang sangat pekat.

​"Mari kita lihat apakah Nona Tera tahu cara menghargai sejarah, atau dia hanya akan menghancurkannya."

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Tanpa peringatan, Caremel berbalik dan melangkah mendekati sebuah pilar pajangan yang berada tepat di belakangku.

​Pilar marmer putih itu menopang sebuah mahkota emas kuno peninggalan kerajaan masa lampau. Artefak itu tidak dilindungi oleh kotak kaca, hanya dibatasi oleh tali beludru merah pendek. Nilai historis dan materi dari mahkota itu mencapai angka puluhan miliar rupiah.

​Sistem A.U.R.A di dalam kepalaku langsung memberikan sinyal peringatan bahaya berwarna merah terang.

​[Peringatan: Pergerakan Agresif Terdeteksi dari Kuadran Kiri. Subjek Caremel Memasuki Zona Kritis Artefak.]

​Caremel sengaja mendekatkan tubuhnya ke arahku. Wanita itu memutar bahunya seolah sedang berbicara dengan salah satu tamu lain, namun kakinya melangkah mundur dengan kecepatan yang diperhitungkan dengan sangat matang.

​Tubuh Caremel menabrak bahuku dengan keras.

​Aku berhasil mempertahankan keseimbanganku karena sistem secara otomatis mengunci otot betisku. Namun, Caremel memalsukan sebuah jeritan panik. Wanita itu membuang tubuhnya ke belakang, mengayunkan tangan kirinya tepat ke arah pilar marmer pajangan tersebut.

​Ujung jarinya menghantam pilar itu dengan tenaga yang cukup kuat untuk menggoyahkan keseimbangannya.

​Pilar marmer itu miring. Mahkota emas kuno di atasnya meluncur jatuh ke lantai.

​Suara dentingan logam keras bergema menembus seluruh ruangan galeri. Ornamen batu rubi di bagian ujung mahkota itu pecah berkeping-keping menghantam lantai granit.

​Kepanikan massal meledak seketika.

​"Astaga!" jerit Caremel histeris. Wanita itu jatuh terduduk di lantai, menunjuk ke arahku dengan tangan bergetar. "Apa yang kau lakukan, Tera?! Kau mendorongku dan menghancurkan artefak itu!"

​Seluruh tamu undangan terkesiap. Kamera jurnalis berbalik arah, menembakkan ratusan kilatan blitz ke arah mahkota yang rusak dan wajahku.

​Ajkaro melangkah maju dengan wajah murka.

​"Panggil keamanan!" perintah Ajkaro dengan suara menggelegar. "Tahan wanita ini! Kehadirannya di sini hanya membawa kehancuran dan rasa malu bagi nama baik Vanguard!"

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Sakti langsung bergerak memosisikan tubuh besarnya tepat di depanku, menghalangi pandangan kamera jurnalis dan para tamu yang mulai berkerumun.

​"Tidak ada yang boleh menyentuhnya," desis Sakti dengan kekejaman absolut. Mata pria itu menyapu seluruh petugas keamanan galeri yang berniat mendekat.

​"Bukti sudah sangat jelas, Sakti!" bentak Ajkaro menunjuk ke arah pecahan rubi di lantai. "Dia mendorong Caremel. Wanita tidak berkelas ini baru saja menghancurkan aset sejarah negara. Dia harus diserahkan ke pihak berwajib sekarang juga!"

​Caremel pura-pura terisak, ditolong berdiri oleh beberapa rekannya. "Aku tidak menyangka dia akan sekasar itu hanya karena aku mengingatkannya soal etika, Pak Ajkaro."

​Aku berdiri tenang di belakang punggung Sakti. Aku tidak gemetar, tidak menangis, dan tidak memohon pembelaan.

​Rasa sakit akibat migrain di pelipisku memang masih tersisa, namun sistem A.U.R.A bekerja dengan sempurna.

​[Mengaktifkan Mode: Zoom-In High Speed Capture.]

​[Menarik Data Visual dari Memori Jangka Pendek Inang.]

​[Meretas Jaringan Keamanan Galeri. Mengunduh Rekaman Kamera Sudut 4 dan Sudut 7.]

​Teks hijau menyala berjejer cepat di retinaku. Sistem mencocokkan rekaman pergerakan yang ditangkap oleh mataku dengan rekaman CCTV dari arah berlawanan.

​Hanya butuh tiga detik bagiku untuk menyusun seluruh bukti manipulasi murahan ini.

​Aku melangkah dari balik punggung Sakti, berdiri tepat berhadapan dengan Ajkaro dan Caremel.

​"Saya sarankan Anda menghentikan sandiwara ini sebelum Anda mempermalukan diri Anda sendiri di depan puluhan jurnalis nasional, Nona Caremel," ucapku dengan volume suara yang sangat stabil, membelah hiruk-pikuk kepanikan di ruangan itu.

​Caremel melotot marah. "Sandiwara?! Kau menghancurkan barang berharga ini dan masih berani memfitnahku?!"

​Aku tidak mempedulikan teriakan Caremel. Aku mengambil ponsel dari dalam tas tanganku. Jemariku mengetik rentetan kode akses dengan kecepatan luar biasa.

​[Sinkronisasi Layar Ponsel Inang dengan Sistem Proyektor Utama Galeri Berhasil.]

​Layar raksasa di dinding utama galeri, yang tadinya menampilkan profil para seniman, mendadak berkedip. Tampilan layar itu berubah total, menayangkan rekaman CCTV dari sudut atas pilar marmer.

​"Mari kita lihat siapa yang sebenarnya tidak memiliki etika," tegasku.

​❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖

​Seluruh mata di dalam galeri raksasa itu tertuju pada layar proyektor.

​Rekaman itu diputar dalam kecepatan sangat lambat. Kualitas resolusi tinggi memperlihatkan setiap detail pergerakan dengan sempurna.

​Terlihat jelas di layar, aku sedang berdiri dengan posisi kaki dan bahu yang tidak memberikan dorongan tenaga sama sekali. Justru Caremel yang dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya sendiri.

​Dan bukti yang paling mematikan muncul di detik berikutnya.

​Rekaman tersebut di-zoom hingga menyorot tangan kiri Caremel. Terlihat dengan sangat jelas bagaimana jari-jari tangan Caremel mencengkeram pinggiran pilar marmer dan menariknya dengan paksa saat ia terjatuh, memastikan mahkota itu ikut jatuh bersamanya.

​Keheningan mutlak mencekik seluruh ruangan.

​Bukti digital itu tidak bisa dibantah. Caremel menjebak dirinya sendiri demi sebuah skenario murahan untuk menjatuhkanku.

​Wajah Caremel kehilangan seluruh warna darahnya. Wanita itu mematung, mulutnya terbuka, matanya bergerak panik menyapu para jurnalis yang kini mengarahkan lensa kamera kepadanya.

​Bisik-bisik keterkejutan dan cibiran sinis mulai meledak dari kerumunan tamu elit.

​"Itu... itu pasti rekaman palsu!" jerit Caremel putus asa, suaranya melengking kehilangan kendali. "Tera meretas layarnya! Dia memanipulasi video itu!"

​Aku menyimpan ponselku kembali ke dalam tas dengan gerakan elegan.

​"Itu adalah rekaman mentah dari kamera keamanan bernomor tujuh milik galeri ini, Nona Caremel," balasku dingin. "Pihak kepolisian bisa memverifikasi kode waktunya sekarang juga. Anda berhadapan dengan ancaman pidana perusakan aset sejarah secara sengaja."

​Aku memutar tubuhku, menatap lurus ke arah Ajkaro.

​Pria paruh baya itu berdiri kaku. Wajah tegasnya dipenuhi oleh gurat kemarahan yang tertahan, namun ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun untuk membela Caremel. Ajkaro sadar betul bahwa posisinya terjepit oleh kebenaran fakta di depan ratusan saksi mata.

​Sakti melangkah mendekatiku. Pria itu menatap ayahnya dengan sorot kekecewaan dan peringatan mutlak.

​Tanpa perlu mengeluarkan perintah, tim keamanan galeri kini melangkah mendekati Caremel, bukan untuk menolongnya, melainkan untuk mengamankannya dari kemarahan para kurator.

​Caremel dipermalukan secara terbuka di hadapan media dan keluarga besar Sakti, menghancurkan seluruh sisa harga diri dan status sosial yang selama ini ia banggakan.

1
Lilik Sunaryo
TERA OH TERA
TERA itu ......

T = Tidak semudah membalikkan telapak
tangan
E = Emang aku harus bekerja keras
R = Retasan perusahaan sudah aman
A = Apakah Ajkaro akan memecatku Sakti?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!