Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

SISTEM MATA SAKTI RAJA GIOK

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Jeritan histeris dari puluhan wanita sosialita memecah keheningan galeri yang tadinya dipenuhi alunan musik klasik elegan tersebut.

Debu semen abu-abu dan pewarna tekstil hijau berhamburan mengotori karpet sutra mahal serta gaun-gaun mewah para tamu elit ibu kota.

Bos besar pemilik galeri itu menatap serpihan batu seharga delapan puluh miliar miliknya dengan mata melotot nyaris keluar dari rongganya.

Napas pria paruh baya yang diketahui bernama Tuan Haris itu tersengal-sengal menahan amarah dan kepanikan yang meledak secara bersamaan.

"Tangkap pemuda udik itu sekarang juga dan patahkan kedua kakinya!" teriak Tuan Haris dengan wajah memerah seperti kepiting rebus.

"Dia baru saja menghancurkan pusaka tak ternilai titipan pejabat negara, tembak dia di tempat jika berani melawan!" perintahnya dengan sangat beringas.

Keempat pengawal raksasa berjas hitam itu langsung merogoh saku dalam mereka dan mencabut pistol kaliber besar secara serentak.

Klak klak klak.

Namun sebelum moncong pistol mereka sempat terarah lurus, Kapten Codet dan pasukannya sudah bergerak jauh lebih cepat layaknya bayangan mematikan.

Wush.

Bugh bugh.

Kapten Codet mendaratkan tendangan memutarnya yang sangat brutal tepat ke rahang pengawal pertama hingga pria raksasa itu terpental menabrak etalase kaca.

Prang.

Pecahan kaca berhamburan menimpa tubuh pengawal yang langsung pingsan dengan rahang bergeser tersebut.

Tiga pengawal tersisa terkejut dan mencoba menarik pelatuk senjata mereka ke arah dada Kapten Codet.

Gibran tidak membiarkan pasukannya bertarung sendirian dan langsung melesat maju dengan kecepatan refleks tingkat dewanya.

Brak krek.

Tangan kiri Gibran mencengkeram pergelangan tangan pengawal kedua dan mematahkannya ke arah belakang hanya dengan satu putaran pelan.

"Aaaargh! Tanganku!"

Jerit pengawal itu menjatuhkan pistolnya ke atas karpet merah galeri.

Gibran menangkap pistol yang jatuh itu di udara lalu memukulkan gagang besinya dengan telak ke pelipis pengawal ketiga.

Bruk.

Pengawal ketiga langsung tumbang mencium lantai tanpa sempat mengeluarkan suara rintihan sedikit pun.

Pengawal terakhir yang melihat monster berjas hitam itu membantai rekan-rekannya langsung gemetar ketakutan hingga mengompol di celana.

Ia membuang senjatanya ke lantai dan berlutut memohon ampun dengan kedua tangan diangkat tinggi-tinggi ke udara.

Pertarungan tidak seimbang itu berakhir hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik saja di depan mata ratusan elit politik ibu kota.

Tuan Haris mundur beberapa langkah dengan wajah seputih kertas melihat empat algojo andalannya dihabisi seperti anak kecil.

"K-kau berani melakukan kekerasan bersenjata di ring satu ibu kota negara? Kau pasti akan dihukum mati besok pagi!" ancam Tuan Haris dengan suara bergetar.

Gibran melemparkan pistol rampasannya ke sudut ruangan dan berjalan santai mendekati pria licik pencuci uang tersebut.

"Aku justru sedang membantu negara membersihkan sampah-sampah koruptor yang bersembunyi di balik meja pameran ini Tuan Haris."

"Bima, periksa sisa batu yang ada di etalase tengah itu dan umumkan hasilnya kepada para pejabat tolol di ruangan ini," perintah Gibran tanpa menoleh.

Bima yang tadinya bersembunyi di belakang punggung Aurel langsung tersentak kaget mendengar namanya dipanggil.

Pemuda kurus itu mengumpulkan segenap keberaniannya dan berjalan menghampiri deretan batu giok yang dijaga ketat tadi.

Srek srek.

Bima menggosok permukaan salah satu batu merah delima seharga dua puluh miliar menggunakan saputangan basah dari sakunya.

Warna merah dari batu itu langsung luntur menempel di saputangan putih Bima, meninggalkan batu kali biasa yang berwarna kusam pucat.

"Semua batu di etalase utama ini seratus persen palsu Bos Gibran!" teriak Bima dengan suara melengking agar terdengar oleh semua orang.

"Mereka menggunakan teknik suntik warna kimia yang biasa dipakai oleh penipu jalanan, tidak ada satu pun giok asli di sini!" lapor Bima dengan sangat yakin.

Para pejabat dan pengusaha yang tadinya panik kini berubah menjadi sangat murka menatap ke arah Tuan Haris.

Mereka memang tahu tempat ini sering melebih-lebihkan harga, namun mereka tidak menyangka bahwa barang yang dijual adalah batu got murni tanpa nilai sepeser pun.

"Haris keparat! Kau berani menipuku lima belas miliar minggu lalu untuk batu palsu ini?!" bentak seorang pejabat kementerian dengan urat leher menonjol.

"Kembalikan uang kami semua atau aku akan menyuruh polisi menyegel galeri busukmu ini malam ini juga!" ancam seorang istri jenderal yang merasa ditipu mentah-mentah.

Tuan Haris langsung jatuh berlutut memegangi kepalanya yang terasa mau pecah mendengar ancaman beruntun dari para pelanggannya.

Skandal pencucian uangnya telah terbongkar secara brutal ke hadapan publik dan karir politiknya dipastikan akan mati membusuk di dalam penjara.

"Maafkan saya Tuan-Tuan! Ini semua adalah perintah dan barang pasokan dari Ketua Asosiasi Giok Nasional!" rengek Tuan Haris mencoba melempar kesalahan.

Namun tidak ada satu pun orang yang peduli dengan alasannya, para pejabat itu sudah terlanjur merasa dipermalukan dan dirugikan miliaran rupiah.

Gibran hanya tertawa pelan menikmati pemandangan saling tikam antar tikus-tikus ibu kota yang sedang panik tersebut.

Hahahaha.

"Ini adalah hukuman pertama bagi Asosiasi Nasional karena berani mengganggu arus kas perusahaanku," batin Gibran dengan rasa puas yang absolut.

Gibran berbalik badan bersiap mengajak Aurel dan pasukannya untuk meninggalkan tempat kotor yang sebentar lagi akan digerebek aparat itu.

Namun saat ia membalikkan tubuhnya, Sistem Mata Sakti tiba-tiba berdengung sangat tajam memperingatkan adanya fluktuasi energi di tempat yang tidak terduga.

[Peringatan. Fluktuasi energi tingkat dewa terdeteksi dalam radius lima meter di arah jam empat.]

[Kualitas: Giok Ungu Bintang Jatuh tanpa serat. Nilai taksiran dasar: Delapan ratus miliar rupiah.]

Langkah Gibran langsung terhenti seketika seolah telapak kakinya terpaku kuat ke lantai marmer tersebut.

Angka delapan ratus miliar rupiah adalah penemuan paling gila yang pernah diberikan oleh sistemnya selama ini.

Gibran menyipitkan matanya dan mengikuti arah pendaran cahaya ungu terang yang hanya bisa dilihat oleh dirinya sendiri itu.

Cahaya magis itu ternyata berasal dari sebuah batu hitam legam berukuran sangat kecil sebesar kepalan tangan bayi.

Batu itu sama sekali tidak dipajang di dalam etalase kaca yang dijaga ketat. Batu hitam jelek itu hanya dibiarkan tergeletak begitu saja di atas meja registrasi dekat pintu keluar, digunakan sebagai penindih tumpukan kertas brosur agar tidak terbang.

Gibran berjalan santai mendekati meja registrasi tersebut dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana. Ia mengambil batu hitam legam penindih kertas itu dan menimang-nimangnya dengan senyum penuh arti.

"Tuan Haris, apakah barang-barang di tempat ini menganut sistem lelang atau bisa kubeli langsung dengan harga pas?" tanya Gibran dengan suara keras.

Tuan Haris yang sedang menangis memohon ampun kepada para pejabat itu menoleh dengan wajah kebingungan.

"Semua barang di luar etalase kaca adalah barang hiasan bebas yang bisa dibeli dengan harga tertera di label bawahnya!" jawab Tuan Haris ketus menahan sakit kepala.

Gibran membalikkan batu hitam itu dan melihat sebuah stiker putih kecil bertuliskan angka sepuluh juta rupiah.

Ia mengeluarkan segepok uang tunai seratus ribuan dari balik jasnya dan melemparkannya tepat ke wajah Tuan Haris.

Bruk.

"Ini sepuluh juta tunai untuk membeli batu penindih kertas di mejamu ini, transaksinya sah di depan semua saksi," ucap Gibran dengan seringai kemenangan.

Tuan Haris menatap uang yang berserakan di karpet itu dengan tatapan kosong karena pikirannya sedang sangat kacau.

Bima yang penasaran langsung berlari mendekati Gibran dan mengamati batu hitam kecil di tangan bosnya tersebut. Pemuda berkacamata itu mengerutkan keningnya, lalu matanya tiba-tiba melotot sempurna hingga kacamatanya nyaris terjatuh ke lantai.

"B-bos Gibran... Bintik-bintik putih di kulit batu hitam ini... Jangan bilang ini adalah batu meteorit purba dari pegunungan utara?" bisik Bima dengan suara bergetar nyaris putus asa. Gibran mengangguk pelan mengkonfirmasi penglihatan luar biasa dari kepala divisi mudanya tersebut.

"Kau memang pantas kubayar mahal Bima, mata alamimu bahkan bisa menyadari apa yang disia-siakan oleh para elit kotor ini." Bima menelan ludah dengan susah payah lalu menoleh menatap Tuan Haris dengan pandangan iba yang sangat menyedihkan.

"Tuan Haris, Anda baru saja menjual inti Giok Ungu Bintang Jatuh bernilai nyaris satu triliun rupiah hanya dengan harga sepuluh juta perak," teriak Bima tidak bisa menahan rasa takjubnya. Suasana galeri yang tadinya riuh mendadak menjadi hening kembali seperti kuburan mati.

Semua orang menatap batu hitam kecil di tangan Gibran dengan mulut menganga tidak percaya. Giok Ungu Bintang Jatuh adalah material paling langka di bumi yang biasanya hanya dimiliki oleh para raja atau kaisar di zaman kuno.

Tuan Haris mencoba mencerna kata-kata Bima dengan otak yang terasa sangat lambat dan buntu. Ia menemukan batu hitam itu secara tidak sengaja di pinggir jalan tol tahun lalu dan memakainya sebagai penindih kertas karena bentuknya berat dan padat.

"S-satu triliun? K-kau menipuku! Itu cuma batu got biasa!" teriak Tuan Haris merangkak maju mencoba merebut kembali batu tersebut. Namun Kapten Codet langsung menendang dada Tuan Haris hingga pria itu jatuh telentang mencium debu karpet.

Bugh.

"Transaksinya sudah sah Tuan Haris, kau sendiri yang menyebutkan peraturannya di depan semua pejabat ini," ucap Gibran menyimpan batu ungu itu ke dalam saku jasnya dengan sangat hati-hati.

Tuan Haris menatap langit-langit galeri dengan tatapan kosong mengerikan. Rasa penyesalan yang bertubi-tubi karena kehilangan nyaris satu triliun rupiah dan ancaman penjara seumur hidup akhirnya menghancurkan kewarasannya secara total.

Dada pria paruh baya itu naik turun dengan sangat cepat, lalu ia memuntahkan gumpalan darah kental bercampur empedu ke atas lantai.

Uhuk.

Tuan Haris langsung pingsan tak sadarkan diri dengan mata terbuka lebar menatap kehancuran galeri kebanggaannya.

Aurel berjalan mendekati Gibran dan menggandeng lengan pria itu dengan senyum yang sangat menawan dan bangga.

"Kurasa kunjungan kita ke ibu kota hari ini sudah mendapatkan hasil panen yang lebih dari cukup Gibran."

"Mari kita pulang sekarang sebelum Asosiasi Nasional mengirimkan pasukan pembunuhnya yang sebenarnya kemari," bisik Aurel merapatkan tubuhnya.

Gibran mengangguk setuju dan berjalan memimpin pasukannya keluar dari pintu utama galeri dengan langkah yang sangat berwibawa.

"Biarkan mereka datang mencariku Nona Aurel, karena aku sudah memiliki modal senjata baru yang akan membakar habis markas mereka bulan depan."

Rombongan Raja Giok itu meninggalkan ibu kota negara dengan membawa harta rampasan terbesar dalam sejarah perdagangan batu malam itu.

1
nadymaddy
💚💟
setiawan
🤩🥳
nurul khusna
🌹🥳
fitri
semangat gibran🥰
pricilia
seru banget🥰
gofur
sangat menarik ingin cepat di lanjutkan crita nya
sasa
💕💋
yani
🥳🥳
samuel df
mantap kaka 😘
clara
mantap
DD
bab ini diulang ya Thor 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!