Indonesia
NovelToon NovelToon
Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Kesalahan Semalam Menjadi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Muarofah

Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.

Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.

Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33

📖 BAB 33: UJIAN KESETIAAN

Pagi itu, sinar matahari masuk menyelinap lewat celah tirai jendela ruang kerja Dika, menyoroti tumpukan berkas yang tertata rapi di atas meja kayu jati yang besar. Dika sedang duduk tenang, menandatangani dokumen penting sambil sesekali mengangkat telepon untuk mengarahkan urusan kantor. Ia tampak sibuk namun tetap tenang, wibawanya terpancar jelas dari setiap gerak-geriknya yang terukur. Belakangan ini namanya semakin dikenal luas, bukan hanya sebagai pengusaha muda yang sukses, melainkan juga sebagai pria yang setia dan penuh kasih sayang pada keluarganya.

Namun, di tengah segala kemajuan dan pujian yang datang, takdir masih ingin menguji kekuatan ikatan yang telah mereka bangun bersama.

Pintu ruangan terbuka perlahan, dan seorang wanita masuk dengan senyum yang dibuat-buat manis. Namanya adalah Sari, rekan kerja dari mitra bisnis yang baru saja menjalin kerja sama dengan perusahaan Dika. Ia berpakaian rapi namun berlebihan, wajahnya dandan cantik dengan riasan yang mencolok, dan tatapannya seolah penuh perhatian yang lebih dari sekadar urusan pekerjaan.

"Selamat pagi, Pak Dika," sapanya lembut, suaranya sengaja dibuat merayu. "Saya membawa berkas perjanjian yang sudah disiapkan tim kami. Ada beberapa poin yang perlu kita bahas langsung."

Dika mengangguk sopan, menunjuk kursi di hadapannya. "Silakan duduk, Mbak Sari. Terima kasih sudah dibawakan."

Sari duduk perlahan, namun posisinya sedikit miring ke arah Dika, matanya terus menatap wajah pria itu dengan pandangan yang tidak lagi menyembunyikan ketertarikannya. Saat menyerahkan berkas, tangannya sengaja menyentuh jari Dika lebih lama dari yang seharusnya.

"Pak Dika benar-benar luar biasa," ucapnya tiba-tiba, tidak langsung membahas pekerjaan. "Saya sudah banyak bertemu pengusaha, tapi belum pernah ada yang sebaik, seberwibawa, dan setampan Bapak. Ibu Dika pasti sangat beruntung sekali."

Dika tersenyum tipis, menarik tangannya perlahan dan kembali fokus pada kertas di hadapannya. "Kami saling melengkapi, Mbak. Kesuksesan saya juga berkat dukungan istri saya."

"Ah, masa sih?" Sari tertawa kecil, seolah meremehkan sedikit. "Tapi kan Bapak sendiri yang bekerja keras, Bapak sendiri yang mengambil keputusan besar. Wanita mana yang tidak akan bangga memiliki suami seperti Bapak? Jujur saja, saya sering iri mendengar cerita tentang Bapak."

Perkataan itu mulai melenceng dari urusan bisnis. Dika merasakan ada yang tidak beres, namun ia tetap berusaha bersikap profesional. "Mari kita bahas poin perjanjiannya dulu ya, Mbak. Supaya tidak terlambat."

Namun Sari seolah tidak mendengar ajakan itu. Ia maju sedikit ke depan, suaranya semakin merendah dan penuh rayuan.

"Kenapa begitu kaku, Pak? Kita kan sudah sering bekerja sama. Bolehkah saya jujur? Sejak pertama kali bertemu, saya sudah terpesona pada Bapak. Saya tahu Bapak sudah beristri, tapi bukankah perasaan itu tidak bisa dipaksa? Mungkin Bapak tidak menyadari, tapi saya bisa memberikan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang mungkin Bapak butuhkan tapi tidak didapatkan di rumah."

Dika menghentikan gerakannya seketika. Ia mengangkat wajah perlahan, tatapannya yang tadi ramah kini berubah menjadi dingin dan tegas.

"Mbak Sari," ucapnya pelan namun berat, setiap kata terucap dengan jelas. "Saya menghargai kejujuran Anda, tapi saya harap Anda bisa menjaga batasan. Saya adalah suami dari Raina, dan saya mencintai istri saya sepenuh hati. Tidak ada yang bisa saya terima selain sebagai rekan kerja saja. Jangan pernah bicara seperti itu lagi."

Sari sedikit terkejut, namun ia belum menyerah. Ia bangkit berdiri, berjalan mengelilingi meja hingga berdiri tepat di samping kursi Dika. Tangannya hampir menyentuh bahu Dika.

"Jangan menolak dulu, Pak," bisiknya. "Siapa tahu Bapak hanya merasa terikat janji saja, bukan lagi cinta. Saya siap menunggu, saya siap memberikan segalanya untuk Bapak. Saya tidak akan merepotkan rumah tangga Bapak, saya hanya ingin Bapak tahu ada orang yang lebih mengerti Bapak."

Dika segera berdiri tegak, menjauhkan diri menjauh dari jangkauan wanita itu. Wajahnya kini serius, tidak ada lagi keraguan atau kelembutan yang disalahartikan.

"Cukup!" tegurnya tegas. "Cinta itu bukan tentang siapa yang datang belakangan atau siapa yang lebih mengerti, melainkan tentang kesetiaan pada janji yang sudah diucapkan di hadapan Tuhan dan manusia. Raina adalah wanita yang setia menemaniku saat aku belum memiliki apa-apa. Dia yang menangis bersamaku saat jatuh, dia yang bersorak bahagia saat aku bangkit. Bagaimana mungkin aku bisa mengkhianati hati yang begitu tulus?"

Ia menatap lekat mata Sari, membuat wanita itu terdiam malu sekaligus takut.

"Jika tujuan Anda ke sini hanya untuk urusan pekerjaan, silakan kita selesaikan dengan profesional. Tapi jika maksud Anda lain, saya minta maaf, saya tidak bisa melayaninya. Saya sangat mencintai istri saya, dan tidak ada satu pun alasan yang cukup kuat untuk mengubah perasaan itu."

Sari pucat pasi, sadar bahwa usahanya sia-sia. Ia menunduk, meminta maaf dengan suara tertahan, lalu segera bergegas keluar dari ruangan itu dengan perasaan malu yang luar biasa.

Namun Dika tidak bisa tenang begitu saja. Meski ia menolak dengan tegas, ia tahu hal seperti ini bisa saja dimanipulasi atau disalahpahami orang lain. Dan yang paling penting, ia tidak ingin ada ragu sedikit pun di hati Raina. Ia tidak ingin ada rahasia sekecil apa pun di antara mereka.

Sore itu, segera setelah urusan pekerjaan selesai, Dika pulang lebih awal dari biasanya. Saat masuk ke rumah, ia langsung mencari sosok istrinya. Ia menemukan Raina sedang duduk di beranda, merajut baju untuk anak mereka dengan tenang. Cahaya matahari sore menyinari wajahnya yang damai.

Melihat Dika pulang lebih awal, Raina tersenyum ramah. "Kok sudah pulang, Mas? Ada yang kurang beres kah?"

Dika tidak langsung menjawab. Ia duduk di samping istrinya, menggenggam kedua tangan Raina, lalu menatapnya dalam-dalam.

"Sayang," ucapnya lembut namun serius. "Ada hal yang harus aku sampaikan padamu. Aku tidak ingin ada rahasia, sekecil apa pun, di antara kita."

Raina mengerutkan kening sedikit, namun tetap tenang. "Apa itu, Mas? Katakan saja."

Dika menceritakan semuanya secara jujur dan lengkap. Tentang kedatangan Sari, tentang perkataan wanita itu, tentang rayuannya, dan tentang bagaimana ia menolaknya dengan tegas. Ia tidak menyembunyikan sepatah kata pun, tidak memperindah atau mengurangi apa pun.

Setelah selesai bercerita, dada Dika terasa lega namun sekaligus cemas melihat reaksi istrinya. Namun Raina tidak marah, tidak menangis, dan tidak memarahinya. Ia justru tersenyum lembut, lalu mengusap pipi suaminya dengan penuh kasih sayang.

"Terima kasih sudah jujur padaku, Mas," ucapnya pelan. "Terima kasih sudah menjaga hati kita berdua. Aku tidak ragu padamu, aku tidak curiga padamu. Aku tahu siapa kamu, aku tahu seberapa besar cintamu padaku. Dan aku tahu, cobaan seperti ini hanyalah cara Tuhan menunjukkan betapa kokohnya pondasi rumah tangga yang kita bangun."

Air mata bahagia menetes di pipi Dika. Ia memeluk Raina erat sekali, seolah ingin menyatukan seluruh jiwa mereka.

"Kamu percaya padaku?" suaranya bergetar.

"Sepenuhnya," jawab Raina mantap. "Karena kesetiaanmu bukan hanya janji di bibir, tapi terbukti dari setiap tindakanmu setiap hari. Masalahnya bukan pada orang yang datang mencoba merusak, tapi pada seberapa kuat kita memegang janji kita. Dan aku tahu, kita akan selalu kuat."

Malam itu, mereka berdoa bersama di hadapan Tuhan, memohon agar selalu dijauhkan dari kejahatan hati dan ujian yang melebihi kekuatan mereka. Namun mereka juga bersyukur, karena ujian itu justru semakin menguatkan keyakinan mereka bahwa cinta sejati tidak akan tergoyahkan oleh godaan apa pun.

Dika membuktikan bahwa kesetiaan bukan berarti tidak ada orang lain yang datang, melainkan memilih untuk tetap setia pada satu hati yang telah berbagi suka dan duka bersamanya. Dan Raina membuktikan bahwa kepercayaan adalah kekuatan terbesar yang menjaga cinta tetap hidup dan abadi.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!