**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Akan Pergi
“Jadi, sebelum Kakak menuduhku manja, coba cari tahu dulu bagaimana adik Kakak ini bertahan hidup.” Ucap Haselyn dengan suara lantang
Faeyza kembali menoleh ke arah adiknya. Tatapannya penuh amarah dan meremehkan “Kamu itu cuma anak manja! Nggak akan bisa apa-apa tanpa bantuan Mama!” bentaknya sambil menunjuk wajah Haselyn.
Ucapan itu menjadi titik terakhir yang menghancurkan kesabaran Haselyn. Selama bertahun-tahun ia memilih diam. Selama bertahun-tahun ia menelan semua tuduhan, perbandingan, dan perlakuan yang tidak adil. Namun kali ini, ia tidak ingin lagi menjadi orang yang terus mengalah.
“Jangan samakan aku dengan Kakak.” Suaranya terdengar dingin, tetapi penuh tekanan.
“Aku bukan Kakak yang menikah dengan semua biaya ditanggung Mama dan Papa.” Ruangan mendadak sunyi. Kenangan itu kembali berputar jelas di kepalanya.
Saat ia memohon agar diizinkan masuk ke SMP impiannya, permintaannya ditolak mentah-mentah. Alasannya sederhana, tetapi begitu menyakitkan, uang keluarga sedang difokuskan untuk pernikahan Faeyza. Kakaknya baru lulus kuliah, belum memiliki pekerjaan, dan seluruh biaya pernikahannya ditanggung sepenuhnya oleh kedua orang tua mereka. Sementara Haselyn harus mengubur impiannya sendiri.
Ia menatap Faeyza tanpa berkedip. “Bahkan setelah menikah, Kakak masih bekerja di perusahaan Mama.”
Haselyn tertawa pelan, tawa yang terdengar pahit. “Dan itu pun bukan karena Kakak mampu, tapi karena Mama yang memberi tempat.” Wajah Faeyza berubah.
Haselyn melangkah satu langkah mendekat. “Kalau bukan karena Mama, apa Kakak yakin bisa bertahan di sana? Bukankah Kakak berkali-kali mendapat teguran karena pekerjaan Kakak berantakan?” Setiap kata yang keluar dari bibir Haselyn terasa seperti pisau yang selama ini ia simpan rapat.
“Aku nggak pernah bergantung pada siapa pun.” Matanya memerah, tetapi sorotnya tetap tegas.
“Jadi jangan pernah menyebutku manja, kalau Kakak sendiri tahu siapa yang selama ini paling banyak bergantung pada Mama.”
Ruangan itu kembali diliputi keheningan. Untuk pertama kalinya, Haselyn tidak hanya membela dirinya. Ia membalas semua luka yang selama ini dipendam sendirian.
Faeyza jelas tidak terima dengan ucapan adiknya. Meskipun jauh di dalam hatinya ia tahu sebagian dari kata-kata Haselyn adalah kebenaran, harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakuinya. Tanpa bantuan kedua orang tuanya, ia mungkin tidak akan memiliki penghasilan tetap. Berkali-kali ia mencoba melamar pekerjaan di perusahaan lain, tetapi selalu gagal. Pada akhirnya, ia hanya bisa bekerja di perusahaan milik keluarganya sendiri.
“Kamu memang adik yang kurang ajar dan nggak tahu diri!” bentak Faeyza, wajahnya memerah karena emosi. “Berani-beraninya kamu ngomong begitu sama kakakmu!”
Ia melangkah mendekati Haselyn, tatapannya penuh amarah. “Kamu pikir kamu bisa hidup sendiri? Jangan mimpi! Kamu nggak mungkin bisa bertahan tanpa bantuan Mama. Jadi sadar diri dan belajar sopan sama kakakmu!”
Haselyn hanya mendecih pelan. Tatapannya tetap tenang, tetapi sorot matanya terasa begitu dingin. “Mungkin Kakak nggak bisa,” ucapnya pelan namun tegas, “tapi aku bisa.” Kalimat itu meluncur tanpa keraguan sedikit pun. Karena Haselyn tidak sedang menyombongkan diri. Ia sedang mengatakan kenyataan.
Biaya sekolahnya, uang sakunya, buku-bukunya, bahkan hampir seluruh kebutuhannya selama bertahun-tahun telah ia tanggung sendiri. Ia sudah belajar berdiri di atas kakinya sendiri jauh sebelum keluarganya menyadari bahwa ia sedang berjuang sendirian.
“Sudah cukup!” Teriakan Mama Mayrah menggema di ruang tengah. “Jangan bertengkar lagi!” Suasana yang sejak tadi memanas mendadak terdiam.
Mama Mayrah memijat pelipisnya, wajahnya terlihat lelah. Ia hanya ingin menegur Haselyn karena dianggap tidak sopan, tetapi pertengkaran itu justru berubah menjadi perdebatan yang semakin sulit dikendalikan.
Ia menoleh tajam ke arah putri bungsunya. “Hasel, minta maaf sama kakakmu.” Nada suaranya tegas, nyaris seperti perintah.
Haselyn menutup mata sejenak. Tangannya mengusap wajahnya pelan, berusaha menahan amarah yang terus mendidih di dalam dada. Ketika ia kembali membuka mata, tatapannya terasa jauh lebih tajam.
“Aku akan minta maaf,” katanya perlahan, “kalau Kak Faeyza minta maaf sama aku lebih dulu.” Ruangan itu kembali sunyi.
Haselyn mengangkat dagunya sedikit. “Karena aku juga punya harga diri.” Suaranya tidak lagi tinggi. Justru ketenangan itulah yang membuat ucapannya terdengar jauh lebih menusuk.
“Seharusnya kamu yang minta maaf!” balas Faeyza dengan suara meninggi. “Kenapa malah Kakak yang harus minta maaf duluan? Jelas-jelas kamu yang salah!”
Haselyn tertawa pendek. Tawa yang sama sekali tidak mengandung rasa geli. “Karena aku nggak pernah hura-hura pakai uang Mama!” teriaknya. Suara Haselyn menggema di seluruh ruangan.
“Jadi tarik ucapan Kakak barusan. Sepeser pun aku nggak pernah memakai uang Mama untuk diriku sendiri!” Dadanya naik turun menahan amarah. Tuduhan itu bukan sekadar menyakitkan. Tuduhan itu menghina semua kerja keras yang telah ia lakukan diam-diam selama bertahun-tahun.
“Hasel!” bentak Mama Mayrah. “Jaga bicara kamu! Nggak sopan!”
Haselyn menoleh ke arah ibunya. Matanya memerah, tetapi sorotnya dipenuhi kekecewaan yang jauh lebih besar daripada kemarahan.
Perlahan ia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah Faeyza, tetapi pandangannya tetap tertuju pada Mama Mayrah. “Mama seharusnya yang paling tahu.” Suaranya mulai bergetar.
“Mama tahu aku nggak pernah memakai uang Mama untuk kebutuhanku.” Haselyn menelan ludah, berusaha menahan sesak di dadanya.
“Jadi kenapa Mama diam saja?” Ruangan itu kembali sunyi.
“Kenapa Mama membiarkan Kak Faeyza terus menuduhku seperti ini?” Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tetapi ia menahannya mati-matian.
“Aku cuma minta Mama mengatakan yang sebenarnya.” Suara Haselyn melemah.
“Katakan pada Kak Faeyza kalau aku nggak pernah meminta uang Mama untuk tas, sepatu, atau hal-hal yang dia tuduhkan.” Ia menarik napas panjang, lalu menatap ibunya dengan tatapan yang penuh harap.
“Sekali saja… bela aku, Ma.” Kalimat terakhir itu keluar begitu pelan. Namun justru itulah yang paling menyakitkan.
Karena di balik amarah Haselyn, yang sebenarnya ia inginkan bukan kemenangan. Ia hanya ingin ibunya mengakui kebenaran dan membela dirinya, meski hanya sekali.
“Ah, sudahlah, Mah,” ejek Faeyza sambil menyilangkan tangan di dada. “Dia itu memang sombong. Coba saja suruh dia hidup sendiri tanpa bantuan Mama. Mana mungkin dia bisa?” Setiap kata yang keluar dari mulut Faeyza seperti menyulut api di dada Haselyn.
Amarah yang selama ini ia pendam akhirnya mencapai batasnya. Haselyn menatap kakaknya dengan mata yang memerah. “Baik!”
Suaranya menggema di seluruh rumah. “Akan aku buktikan kalau aku bisa hidup tanpa bantuan keluarga ini!” Napasnya memburu, dadanya naik turun menahan sesak.
“Aku juga sudah muak tinggal di keluarga yang nggak pernah mau mengerti aku!” Tanpa menunggu jawaban siapa pun, Haselyn berbalik dan berlari menuju kamarnya.
Langkahnya terdengar keras menghantam anak tangga. Ia membuka pintu kamar dengan kasar, lalu mulai memasukkan pakaian, dokumen, dan barang-barang penting ke dalam koper. Tangannya gemetar, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan, tetapi ia tidak berhenti.
Cukup. Ia sudah terlalu lama bertahan di rumah yang selalu membuatnya merasa tidak diinginkan.