Kirana Aruni menjadi korban atas rencana busuk ibu tirinya setelah terjebak dalam
sebuah malam kelam bersama Edgar Ganendra, pewaris tunggal Ganendra Group,
yang kehilangan kendali akibat dibius musuhnya.
Dianggap membawa aib, Aruni diusir oleh ayahnya atas hasutan ibu tirinya.
Tujuh tahun kemudian, Aruni membesarkan
putra kembarnya seorang diri. Mengetahui perjuangan sang ibu, kedua bocah jenius
itu diam-diam meretas data untuk mencari ayah kandung mereka. Hasilnya mengarah pada satu nama besar, yakni Edgar Ganendra, Presiden Direktur Ganendra Group.
Di sisi lain, Edgar tak pernah berhenti mencari wanita dari malam itu. Ia ingin menebus kesalahannya sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi, bahwa ia bukanlah pria impoten.
Saat si kembar mulai menyusun rencana untuk mempertemukan kedua orang tua mereka, masa lalu yang penuh fitnah dan luka
kembali terbuka.
Mampukah mereka menyatukan kembali keluarga yang telah lama terpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
"Lihat ini, Zayyan," bisik Rayyan seraya menunjuk sebuah artikel berita lawas berangka tujuh tahun yang lalu. "Di sini tertulis, kasus David Ganendra ditutup juga karena saksi kunci mendadak menghilang tanpa jejak sebelum persidangan dimulai, rupanya selain Tuan David tidak mengakui perbuatannya, hilangnya saksi kunci ini menguntungkan dirinya"
Zayyan mendekatkan wajahnya ke layar. "Saksi kunci? Siapa, Kak? Apakah saksi kunci itu... Bunda?"
Rayyan mengangguk pelan dengan raut wajah yang mendadak amat serius. "Aku hampir 100% yakin itu Bunda. Waktunya sangat pas dengan kepindahan Bunda dan Bik Sumi ke desa ini, serta pengubahan data kependudukan oleh Paman Rama. Paman Rama menyembunyikan Bunda dari David Ganendra!"
"Tapi Kak," Zayyan menyela dengan napas tertahan. "Kalau David Ganendra ini keluarganya Ayah, berarti dia juga musuhnya Ayah? Atau... Ayah tahu soal ini?"
"Ayah pasti tahu, tapi mungkin Ayah tidak tahu kalau Bunda yang disembunyikan Paman Rama adalah orang yang sama dengan saksi kunci itu," analisis Rayyan cepat. Jemari kecilnya bergerak lincah mengetikkan beberapa perintah enkripsi di laptopnya. "Aku harus mengirimkan data anonim ini ke email pribadi Ayah dan Paman Rama secara bersamaan. Mereka berdua harus bergerak cepat sebelum musuh menemukan tempat ini!"
Sementara itu di luar ruko, pria berpakaian serba hitam itu menurunkan kameranya setelah meninjau hasil jepretannya. Ia kemudian menempelkan earphone nirkabel ke telinganya dan menekan tombol panggil.
"Lapor, Tuan David," bisik pria itu dengan suara berat. "Saya sudah menemukan wanita bernama Aruni di daerah Sukamakmur. Dia menjalankan usaha laundry kecil-kecilan di sebuah ruko."
Di seberang telepon, suara kekeh dingin David Ganendra terdengar memekakkan telinga. "Bagus sekali. Apakah ada anak-anak di sekitarnya? Edgar belakangan ini sangat sering memantau daerah sana."
"Sejauh ini saya hanya melihat wanita itu dan seorang pekerja wanita lainnya. Anak-anak tidak kelihatan di luar, Tuan," jawab mata-mata itu jujur.
"Jangan gegabah," perintah David dengan nada penuh intrik jahat. "Ambil foto lebih banyak dan cari tahu siapa saja yang sering mengunjungi ruko itu. Jika wanita itu benar-benar saksi kunci yang dulu dilindungi polisi busuk itu, dia adalah kartu AS terbesar kita untuk menghancurkan Edgar dan Fernando sekaligus!"
"Baik, Tuan David. Saya akan terus mengawasi dari sini."
Pria misterius itu kembali menaikkan kameranya, membidik tepat ke arah Aruni yang sedang menyeka keringat di dahinya. Tanpa disadari oleh siapa pun di ruko itu, pusaran bahaya yang jauh lebih besar dari masa lalu kini siap menerjang kehidupan tenang mereka di Sukamakmur.
*
*
Di markas kepolisian Jakarta, Rama terlonjak dari kursi kerjanya saat bel peringatan berbunyi nyaring dari layar monitor pengawas. Di saat yang hampir bersamaan, bunyi notifikasi e-mail berdering khusus di ponselnya.
Satu detik kemudian, di gedung Ganendra Group, ponsel Edgar yang tergeletak di atas meja kaca mahoni juga bergetar hebat menerima notifikasi e-mail dari pengirim anonim yang sama.
Edgar membuka pesan itu lebih dulu. Matanya membelalak membaca barisan analisis tajam serta dokumen lampiran mengenai kasus David Ganendra tujuh tahun lalu, lengkap dengan korelasi data kependudukan Aruni yang diubah secara rapi. Di bagian paling bawah e-mail tertulis pesan singkat:
"Ayah, musuh masa lalu mulai mengepung Bunda. Jangan biarkan Bunda terluka lagi.
— R & Z"
"Harry! Siapkan mobil sekarang juga!" teriak Edgar berdiri hingga kursinya terdorong keras. Tangannya gemetar menahan amarah dan kekhawatiran yang membakar dadanya.
Sementara itu di ruang kerjanya, Rama menatap layar monitor CCTV yang terhubung dengan kamera tersembunyi di sekitar ruko Sukamakmur. Kamera keamanan mencetak indikator merah, menangkap keberadaan seorang pria berpakaian serba hitam yang bersembunyi di balik pohon mahoni besar sambil mengarahkan lensa tele ke arah Aruni.
Ponsel Rama mendadak berdering. Nama Edgar Ganendra tertera di layar.
"Kau sudah terima e-mail dari si kembar dan melihat rekaman CCTV nya, Komisaris?!" cecar Edgar tanpa basa-basi begitu panggilan terhubung.
"Aku sudah melihatnya, Tuan Edgar," jawab Rama dingin namun tegas seraya meraih pistol dinas dan kunci mobilnya. "Anak buah David sudah ada di depan ruko Aruni detik ini juga."
"Aku sedang menuju Sukamakmur bersama tim pengawal pribadi! Jangan bertindak gegabah sampai aku tiba!" tegas Edgar dengan napas memburu.
"Keselamatan Aruni dan si kembar tidak bisa menunggu mobil mewah mu menembus kemacetan Jakarta, Edgar!" tembak Rama tajam. "Tim intelijenku yang ada di lapangan sudah kuperintahkan untuk menyergap penyusup itu sekarang juga. Kau fokus saja menyusun perlindungan hukum untuk Aruni!"
Klik!
Rama mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Tanpa membuang waktu, Rama berlari keluar ruangan sambil memberikan instruksi lewat HT-nya.
"Semua unit di Sukamakmur, amankan sasaran di balik pohon mahoni! Lindungi ruko Aruni sekarang!"
Di saat dua pria perkasa itu melesat menuju Sukamakmur dengan kepanikan luar biasa, si kembar di rumah bik Sumi menatap layar laptop mereka yang telah berhasil meretas transmisi CCTV tersebut.
"Paman Rama dan Ayah sudah bergerak, Kak!" seru Zayyan dengan napas tertahan.
Rayyan mengepalkan tangan mungilnya, menatap lurus gambar penyusup di layarnya. "Bagus. Sekarang tinggal kita pastikan... Bunda tidak boleh tahu apa-apa agar beliau tidak panik."
Anak buah Rama yang menyamar sebagai warga lokal bergerak cepat tanpa menimbulkan kegaduhan. Pria berjaket hitam di balik pohon mahoni itu tak sempat melarikan diri ketika dua petugas berpakaian preman mengepung dan membekuknya secara senyap dari belakang. Kamera berlensa tele dan ponsel milik penyusup itu langsung disita sebelum ia diseret masuk ke dalam mobil dinas kepolisian yang tak bertanda.
Di dalam ruko, Aruni yang sedang menyetrika tumpukan pakaian pelanggan sama sekali tak menyadari drama penyergapan yang baru saja terjadi beberapa meter di depan matanya.
Namun, kedamaian itu pecah saat deru mesin mobil yang saling berkejaran terdengar berhenti secara mendadak di pekarangan.
Pintu ruko terdorong kasar. Rama melangkah masuk terlebih dahulu dengan napas memburu dan rahang mengeras, disusul beberapa detik kemudian oleh Edgar yang datang bersama Harry dan dua pengawal pribadinya. Wajah Edgar pucat pasi, matanya liar memindai seluruh ruangan sampai akhirnya pandangannya terkunci pada Aruni.
Aruni yang kaget setengah mati hampir saja menjatuhkan setrika di tangannya. Larasati bahkan sampai terlonjak dari kursi kasir.
"Kak Rama? Om Edgar?" Aruni menatap bingung ke arah dua pria yang berdiri berdampingan dengan aura ketegangan yang membumbung tinggi. "Ada apa ini? Kenapa kalian datang bersamaan seperti ini?"
Tanpa memedulikan keberadaan Rama, Edgar melangkah lebar memangkas jarak. Dengan gerakan impulsif penuh rasa cemas, ia langsung meraih kedua bahu Aruni dan memeriksanya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kamu tidak apa-apa, Aruni? Ada yang terluka? Ada orang mencurigakan yang mendekatimu tadi?" cecar Edgar bertubi-tubi dengan suara bergetar.
Aruni terpaku, wajahnya memerah akibat sentuhan mendadak Edgar di depan banyak orang. "A...aku baik-baik saja, Om Edgar... Tidak ada apa-apa di sini. Kenapa Om panik sekali?"
Rama berdeham keras, menatap tajam ke arah tangan Edgar yang masih bertengger di bahu Aruni. "Lepaskan tanganmu, Tuan Edgar. Kau membuat Aruni takut."
Edgar menyadari sikap agresifnya, lalu perlahan menarik tangannya kembali meski matanya masih menyiratkan kecemasan yang mendalam.
Dari balik tangga lantai dua, si kembar mengintip pelan, mereka secara sembunyi-sembunyi berhasil menyusup masuk ke dalam ruko lewat pintu belakang dan diantar oleh tukang ojeg dari rumah Bik Sumi. Rayyan dan Zayyan saling melempar pandangan lega melihat kedua sosok pelindung mereka sudah tiba di lokasi.
"Si kembar di mana?" tanya Rama dengan suara yang tenang namun tegas.
"Ada di rumah Bik Sumi, Kak. Mereka sedang agak demam dari tadi pagi," jawab Aruni polos.
Edgar dan Rama langsung saling menatap. Keduanya paham betul bahwa demam si kembar hanyalah pengalihan, karena dua bocah jenius itulah yang baru saja menyelamatkan ibu mereka dari intaian anak buah David melalui peretasan data dan sinyal darurat.
"Aruni, kemasi barang-barangmu dan anak-anak sekarang," potong Edgar tegas tanpa kompromi. "Tempat ini sudah tidak aman lagi untuk kalian."
Aruni membelalakkan mata. "Maksud Om Edgar apa? Kenapa tiba-tiba aku harus kemas-kemas? rumahku dan tempat usahaku di sini!"
"Kali ini Tuan Edgar benar, Aruni," sela Rama serius, melangkah mendekat. "Orang-orang dari masa lalu yang berbahaya sudah menemukan keberadaan mu di Sukamakmur. Pria yang mengintai mu di seberang jalan baru saja ditangkap oleh timku."
Deg!
Wajah Aruni seketika pucat pasi. Memori kelam masa lalu yang berusaha ia kubur dalam-dalam mendadak mencuat kembali, membuat tubuhnya gemetar hebat di hadapan kedua pria tersebut.
Bersambung...
untuk aldo, dona, nova dan david beri hukuman siksa dan mati🤭🤭🤭
puji Tuhan, hubungan Aruni dan papa kandungnya sudah membaik