Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Di kantor, Regantara duduk di balik meja kerjanya yang luas, sambil menatap beberapa lembar laporan keuangan di atas meja.
Pintu ruang kerjanya terbuka pelan, sebelum akhirnya Alaric melangkah masuk dengan tablet tipis di tangannya.
"Tuan, Nyonya Zara mengikuti sebuah komunitas ternama." lapor Alaric dengan membungkuk sopan.
Regantara menghentikan gerakan penanya. Tanpa mendongak, ia langsung bertanya dengan suara berat yang tenang.
"The Sapphire Club?"
Alaric sedikit terkejut karena tebakan tuannya benar, namun dengan cepat ia menguasai diri.
"Benar, Tuan. Nyonya Zara baru saja diresmikan sebagai anggota baru oleh Ibu Kirana siang ini dan nona Selene juga berada di lokasi yang sama."
Regantara menyandarkan tubuhnya di kursi mewahnya, ia menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan kepuasan.
"Bagaimana reaksinya?"
"Laporan dari tim pengawas di lapangan menyebutkan bahwa nona Selene sangat terguncang." lanjut Alaric, membaca poin-poin laporan di tabletnya. "Nona Selene juga sempat masuk ke kamar mandi untuk menghubungi Ibunya secara histeris, karena kehadiran Nyonya Zara yang menjadi pusat perhatian." jelasnya.
Tawa rendah dan dingin lolos dari bibir Regantara. Pria itu memutar-mutar pena di tangannya, lalu menatap ke arah pemandangan kota yang tampak padat oleh lalu lalang kendaraan.
"Istriku tahu betul cara menusuk di tempat yang paling menyakitkan." gumam Regantara penuh minat. "Selene menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun posisinya di komunitas itu, dan Zara cukup datang membawa nama belakangku untuk meruntuhkan semuanya dalam satu jam."
"Apakah kita perlu mengambil tindakan untuk menghentikan pergerakan Roselin atau Tuan Hendra setelah ini, Tuan?" tanya Alaric.
Regantara menggelengkan kepalanya pelan, mata elangnya berkilat penuh bahaya.
"Tidak perlu, biarkan mereka panik." ujar Regantara. "Semakin mereka panik, semakin cepat mereka membuat keputusan bodoh. Awasi saja pergerakan dana Adhitama Corp dan pastikan tidak ada seorang pun di club itu yang berani menyenggol Nyonya Benedict jika mereka masih sayang pada bisnis keluarga mereka."
"Baik, Tuan." sahut Alaric patuh.
"..."
Alaric terdiam sebentar, lalu melanjutkan ucapannya.
"Tuan, Kakek anda juga menghubungi. Beliau mengatakan kenapa anda repot-repot membantu Nyonya Zara untuk menghancurkan keluarganya sendiri?"
Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu, gerakan tangan Regantara yang tadinya memutar-mutar pena berhenti mendadak hingga membuat udara di sekitarnya seolah beku dalam hitungan detik.
Pria tua itu, kakeknya bukanlah sekadar sebutan untuk seorang kerabat tua. Dia adalah Jenderal Benedict sang patriak, mantan penguasa yang telah membangun pondasi kekuasaan bisnis dan jaringan gelap Benedict sebelum menyerahkan takhta kepemimpinan itu kepada Regantara.
"Kakek?" Regantara mengulangi kata itu dengan nada datar.
Ia meletakkan penanya ke atas meja.
"Apa lagi yang Kakek katakan?" tanya Regantara, sambil memiringkan kepalanya sedikit.
Alaric menundukkan kepalanya lebih dalam, untuk menjaga nada suaranya agar tetap stabil.
"Tuan Jenderal menyampaikan bahwa keluarga Adhitama terlalu kecil untuk menyita perhatian Anda, beliau khawatir pernikahan dan urusan pribadi ini justru mengganggu fokus Anda dalam ekspansi bisnis Benedict Group di Eropa."
Regantara menyunggingkan senyuman dingin yang kerap membuat para musuhnya bergidik ketakutan.
"Kakek selalu berpikiran sangat praktis, dia melihat Adhitama sebagai serangga kecil yang hanya perlu diinjak untuk disingkirkan. Tapi dia tidak melihat potensi dari wanita yang kunikahi." ujar Regantara dengan suara beratnya.
Regantara berdiri dari kursi kebesarannya, ia melangkah santai menuju kaca jendela besar yang memperlihatkan pemandangan di bawah sana, kedua tangannya disilangkan di balik punggung.
"Kirimkan pesan balasan untuk Kakek." perintah Regantara tanpa menoleh. "Katakan padanya, aku tidak sedang membantunZara secara cuma-cuma. Aku sedang menempa dan menguji calon Ratu yang akan mendampingiku memimpin klan Benedict." jelasnya.
Pria itu memiringkan wajahnya sedikit, kilat mata elangnya memantul tajam di kaca jendela.
"Jika Zara mampu merebut kembali haknya dan menghancurkan keluarga Adhitama hanya dengan memanfaatkan namaku, maka dia layak berdiri di sampingku. Tapi jika dia gagal..." Regantara menjeda sejenak, sebelum akhirnya sebuah senyum culas terukir di bibirnya. "...aku sendiri yang akan menggulungnya bersama keluarga Adhitama."
.
Di dalam pameran yang penuh gelak tawa para sosialita, Zara mendadak tertegun.
Tengkuknya tiba-tiba meremang, sensasi dingin itu merayap hingga ke tulang punggungnya, seolah-olah ada sesuatu yang tak kasat mata dari kejauhan yang sedang memperhatikannya.
Ia perlahan memutar tubuhnya, melangkah menjauh dari kerumunan anggota The Sapphire Club yang masih riuh berdiskusi.
Zara berdiri di dekat jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota.
Dari lantai atas bangunan ini, ia bisa melihat jalanan ibu kota terlihat begitu sibuk. Pikirannya tiba-tiba melayang jauh, membayangkan Regantara.
Zara tahu betul, Regantara Benedict sebenarnya bukan hanya sekadar penyelamat.
Pria itu bisa dibilang adalah tebing curam dan api yang membara, menikah dengannya dan menggunakan namanya sama saja seperti menandatangani kontrak dengan akhir yang tentunya tidak bisa dikatakan bahagia.
Zara mengusap lembut dadanya yang terasa sedikit sesak.
"Apapun yang terjadi di masa depan... aku siap dengan segala risikonya." batin Zara dengan jari tangan yang mengepal erat di samping gaun indahnya.
Kenangan pahit dari masa lalu mendadak berputar cepat di kepala Zara.
Senyuman palsu Roselin, ketidakadilan Hendra Adhitama, dan tawa ejekan Selene, semuanya datang bertubi-tubi menghantam kepalanya bagaimana tusukan jarum.
Segala rasa sakit, air mata, dan penderitaan Zara setelah kehilangan ibunya sudah cukup menjadi bahan bakar untuk dendam pribadinya.
Jika harga yang harus ia bayar untuk membalaskan semua rasa sakit itu adalah menyerahkan dirinya ke dalam cengkeraman Regantara, maka ia akan menyambutnya tanpa rasa ragu sedikit pun. Asalkan semuanya berjalan sesuai apa yang ia mau, kehancuran ayahnya.
"Zara?"
Suara lembut Kirana memecah lamunannya.
Ketua club itu berjalan mendekat dengan senyum hangat, sambil membawa dua cangkir teh.
"Kamu melamun? Apakah acaranya membosankan?"
Zara berbalik perlahan. Tatapan matanya yang tadi sempat penuh tekad kini kembali melembut.
"Tidak sama sekali, Tante Kirana, saya hanya sedang menikmati pemandangan... dan memikirkan betapa indahnya langkah awal saya karena bergabung di komunitas ini." sahut Zara sambil menyunggingkan senyuman tipisnya.
.
Sedangkan di sebuah kediaman mewah yang tampak tenang di pinggiran kota, Jenderal Benedict duduk di kursi yang lembut tapi mewah. Tangannya yang dipenuhi kerutan namun masih terlihat kokoh itu memegang ponsel khusus.
Pesan balasan dari Alaric baru saja masuk dan terbaca di layarnya.
Seketika, sebuah tawa renyah, meluncur dari tenggorokan sang patriak.
"Hahaha..."
Tawa itu makin keras, bergema di ruang kerja pribadinya yang biasanya sehening kuburan.
Nakula, asisten pribadi kepercayaan Jenderal yang sudah mengabdi selama tiga puluh tahun dan sedang merapikan dokumen di sudut ruangan, seketika membeku. Matanya membelalak kaget.
Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah mendengar Tuan Besar Jenderal tertawa lepas seperti itu, terakhir kali mungkin saat Regantara berhasil merebut aliansi bisnis Asia Tenggara dua tahun lalu.
"Tuan Besar? Apakah ada kabar yang menggelikan dari kantor pusat?" panggil Nakula penuh keheranan, ia melangkah mendekat dengan sangat hati-hati.
Jenderal menyandarkan punggungnya, sambil menyapu sudut matanya yang sedikit berair karena tertawa dengan ibu jarinya, lalu meletakkan ponselnya di meja.
"'Menghancurkannya bersama Adhitama jika gagal..." ulang Jenderal menirukan isi pesan Regantara, ia terkekeh pelan. "Anak itu... dia sama sekali tidak berubah, masih sangat arogan dan merasa bisa mengendalikan segalanya."
Jenderal memutar-mutar gelas kristal berisi wiski di tangannya, ia menatap pendar cairan keemasan itu dengan mata yang sangat tajam.
"Hah, awas saja kalau tiba-tiba dia jatuh cinta pada gadis kecil itu, aku yang akan tertawa paling keras!" seru Jenderal dengan sisa tawa di bibirnya.
Ia melirik ke arah Nakula yang kini ikut tersenyum tipis.
"Biasanya kan posisi seperti ini... pria-pria keras kepala dari Benedict selalu merasa paling tangguh. Dulu ayahnya juga begitu. Bilangnya cuma mau memanfaatkan, cuma investasi strategis tapi begitu wanita itu terluka sedikit saja, seluruh dunia mau dibakar."
Jenderal menyesap wiskinya perlahan, lalu menyunggingkan senyuman penuh arti.
"Gadis Adhitama itu, siapa namanya? Zara?" tanya Jenderal.
"Benar, Tuan Besar. Nyonya Zara." jawab Nakula.
"Zara..." gumam Jenderal matanya menerawang.
"Kalau dia punya keberanian untuk masuk ke sarang serigala dan memanfaatkan Regantara balik, artinya gadis itu bukan kelinci biasa. Nakula, siapkan jamuan makan malam keluarga besar minggu depan. Aku ingin melihat sendiri seberapa tangguh calon Ratu yang dibawa cucuku itu."