Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)
Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.
Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)
Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Matahari sore perlahan mulai tenggelam di ufuk barat ibu kota, menyisakan guratan warna jingga keemasan yang memantul indah di atas permukaan kaca-kaca pencakar langit. Di lantai 50 Ar-Rasyid Tower, keheningan yang menenangkan kembali menguasai ruangan penthouse. Badai media yang sempat mengamuk sejak subuh tadi kini melandai drastis, berganti dengan gelombang pujian dan permohonan maaf publik dari berbagai portal berita ternama.
Melalui rilis pers resmi yang dikeluarkan oleh departemen hukum Ar-Rasyid Group, seluruh bukti kejahatan siber yang melibatkan agensi humas bayaran Jessica Pranata telah diserahkan secara terbuka kepada pihak kepolisian. Nama baik Azalea Label tidak hanya dibersihkan secara total, tetapi juga melambung tinggi. Kredibilitas Keisha Azalea Pramesti sebagai perancang busana yang berintegritas dan memiliki karya orisinal justru semakin diakui di mata publik.
Keisha berdiri di dekat jendela kaca raksasa di ruang tengah, menatap hamparan pemandangan Jakarta yang perlahan mulai dipenuhi kelap-kelip lampu kota. Di tangannya, seangkut teh melati hangat menguapkan aroma yang menenangkan saraf-sarafnya yang tegang sepanjang hari. Untuk pertama kalinya sejak kepindahannya ke penthouse ini, Keisha merasakan sebuah helaan napas lega yang menghangatkan dadanya.
Suara langkah kaki yang teratur dan tegas di atas lantai marmer membuyarkan lamunan Keisha. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang baru saja melangkah masuk dari koridor utama. Aroma khas cedarwood dan mint yang kental sudah lebih dulu menyapa indra penciumannya.
Alexander Ar-Rasyid melangkah mendekat. Pria itu telah melepaskan jas kerjanya, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung kaku hingga sebatas siku. Dua kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan garis lehernya yang kokoh dan santai—sebuah pemandangan langka yang memperlihatkan sisi manusiawi sang CEO di luar kedok kaku korporatnya.
Alex berdiri beberapa jengkal di samping Keisha, menyandarkan sebelah tangannya di dinding kaca sambil ikut menatap pemandangan kota di bawah sana.
"Kau tidak memeriksa ponselmu?" tanya Alex, suaranya terdengar lebih rendah dan lembut dari biasanya. "Siska, manajer butikmu, sudah mencoba menghubungimu belasan kali sejak jam empat sore. Berita kemenangan hukum kita membuat pesanan pre-order koleksi terbarumu melonjak tiga ratus persen."
Keisha menoleh perlahan, menatap profil samping wajah suaminya. Sinar redup senja menimpa rahang tegas pria itu, menciptakan bayangan tipis yang membuat ketampanan maskulinnya terlihat begitu dramatis.
"Aku sudah bicara dengan Siska beberapa menit yang lalu," jawab Keisha, bibirnya mengukir senyuman tipis yang sangat tulus—senyuman pertama yang ia tunjukkan pada Alex tanpa dibungkus rasa curiga atau emosi defensif. "Dia sampai menangis di telepon. Aku... aku masih belum bisa mempercayai seberapa cepat situasi ini berbalik."
Keisha menghentikan ucapannya sejenak. Ia memutar tubuhnya menghadap Alex sepenuhnya, menundukkan kepalanya sedikit sebelum kembali menatap mata kelam pria di hadapannya.
"Terima kasih, Alexander," ucap Keisha pelan namun penuh dengan kesungguhan. "Aku tahu kau melakukan investigasi itu untuk melindungi reputasi perusahaanmu. Tapi apa yang kau lakukan di ruang rapat tadi... cara kau berdiri di depanku dan melindungiku di hadapan para direksi itu... aku sangat menghargainya."
Alex tertegun sejenak. Mendengar kata "terima kasih" yang diucapkan dengan begitu tulus dari bibir wanita yang biasanya selalu menyemburkan kata-kata pedas dan tantangan padanya itu memberikan rasa asing yang bergetar hebat di dalam dadanya. Pria yang terbiasa mengendalikan pergerakan saham bernilai triliunan rupiah itu mendadak merasa lidahnya kaku hanya karena sebuah senyuman tulus dari istrinya.
Alex berdeham pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya yang mulai berdetak di luar ritme normal. Pria itu menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di dada.
"Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai seorang pria dan pemimpin," balas Alex dengan nada datar yang dibuat-buat, meskipun sorot matanya tidak bisa berbohong. "Lagipula, aku tidak pernah membiarkan ada orang luar yang mencoba menyentuh atau merusak apa pun yang terikat dengan nama Ar-Rasyid. Termasuk dirimu, Keisha."
Keisha terkekeh kecil—sebuah tawa merdu yang berdering bagaikan dentang lonceng porselen di keheningan ruangan. "Kau ini benar-benar tidak bisa menerima ucapan terima kasih tanpa menyisipkan kesombonganmu itu, ya?"
Alex memiringkan kepalanya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang begitu memikat. "Itu bukan kesombongan, Nyonya Ar-Rasyid. Itu disebut fakta."
Keisha menggelengkan kepalanya pelan, namun ia tidak lagi merasa jengkel. Dinding permusuhan yang berdiri kokoh di antara mereka sejak hari pertama kini telah runtuh, menyisakan fondasi baru yang dipenuhi oleh rasa saling menghormati dan ketertarikan tak terungkapkan yang kian mendalam.
Secara tidak sadar, Alex melangkah maju satu langkah. Jarak di antara mereka kini begitu dekat hingga Keisha bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh tinggi sang CEO. Tangan kanan Alex terangkat perlahan, jemarinya yang panjang dan kokoh bergerak menyelipkan sehelai rambut cokelat Keisha yang terlepas ke belakang daun telinganya. Sentuhan lembut itu begitu kaku namun sangat berhati-hati, seolah-olah Alex takut jika jemarinya yang kasar akan merusak keindahan porselen wanita di hadapannya.
Keisha menahan napasnya. Kulit pipinya terasa membara tepat di mana punggung jari Alex sempat bersentuhan secara tidak sengaja dengan kulitnya. Manik mata cokelat Keisha terkunci rapat dalam tatapan mata hitam Alex yang kini menyala oleh gelombang emosi yang sangat intens.
"Alex..." bisik Keisha pelan, hampir seperti desahan angin.
"Pernikahan ini mungkin berawal dari selembar kertas kontrak konyol, Keisha," bisik Alex dengan suara bariton yang dalam dan serak, tatapannya turun menatap bibir merona milik istrinya. "Tapi aku mulai berpikir bahwa keberadaanmu di rumah ini bukanlah sebuah kesalahan."
Dada Keisha bergemuruh hebat. Seluruh argumen logika dan pertahanan diri yang telah ia bangun mati-matian mendadak leleh di bawah tatapan memabukkan pria itu. Di saat bibir Alex mulai merendah mendekati bibirnya, dan di saat udara di antara mereka terasa begitu membakar...
Kringgg! Kringgg!
Suara dering nyaring dari ponsel pintar milik Alex yang diletakkan di atas meja makan mendadak memecahkan sihir romantis yang sedang terjalin di antara mereka.
Keisha tersentak kaget, secara refleks melangkah mundur dua langkah dengan wajah yang merona merah padam. Alex menghentikan pergerakannya, memejamkan mata sejenak sambil mengembuskan napas panjang yang sarat akan rasa frustrasi yang luar biasa. Pria itu mengepalkan tangannya di udara sebelum akhirnya berbalik dan melangkah kaku menuju meja untuk meraih ponselnya.
Siapa pun yang berani mengganggu momen langka ini akan dipastikan menerima kemarahan besar dari sang CEO.
Namun, begitu Alex melihat nama yang tertera di layar ponselnya, ekspresi wajahnya yang jengkel seketika berubah menjadi kaku dan penuh kedisiplinan.
Nama panggilan di layar: Kakek Raden Ar-Rasyid.
Alex mengangkat telepon itu dan menempelkannya ke telinga. "Selamat malam, Kakek."
“Alexander!” suara tua yang sangat berwibawa dan dominan bergema nyaring dari seberang sambungan telepon, bahkan bisa terdengar samar oleh Keisha yang berdiri beberapa meter di sana. “Aku sudah membaca berita hari ini. Kau dan istrimu menangani skandal itu dengan cukup mengesankan. Tapi jangan senang dulu.”
Dahi Alex berkerut tipis. "Apa maksud Kakek?"
“Ujian sesungguhnya bukan di media atau di hadapan dewan direksi, Alex,” jawab sang Kakek dengan kekehan berat yang penuh intrik. “Mulai besok malam, kau dan Keisha wajib menginap di kediaman utama Ar-Rasyid di Bogor selama akhir pekan. Seluruh keluarga besar, sepupu-sepupumu, dan bibi-bibimu akan berkumpul di sini untuk merayakan ulang tahun pernikahan Kakek. Ini saatnya kami menilai langsung apakah pernikahan kalian ini nyata... atau hanya akting murah demi mempertahankan kursimu sebagai CEO.”
Suasana di dalam penthouse seketika berubah menjadi tegang kembali.
"Kakek, kami memiliki jadwal kerja yang padat akhir pekan ini—" Alex mencoba mengelak.
“Tidak ada alasan!” potong sang Kakek tegas tanpa bantahan. “Bawa istrimu besok sore. Jika kalian tidak muncul, Kakek akan menganggap kau telah membohongi seluruh keluarga dan surat keputusan pencopotanmu dari posisi CEO akan langsung ditandatangani malam itu juga. Paham?”
Klik.
Sambungan telepon diputus sepihak oleh sang patriarch keluarga Ar-Rasyid.
Alex meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan gerakan pelan. Ia mengusap wajahnya yang tampak lelah, lalu memutar tubuhnya menatap Keisha yang kini memandanginya dengan raut wajah penuh tanya dan kegelisahan.
"Ada apa, Alex? Siapa yang menelepon?" tanya Keisha cemas.
Alex menatap istrinya lekat-lekat, menyadari bahwa ketenangan yang baru saja mereka nikmati selama beberapa jam hanyalah jeda singkat sebelum badai besar yang sesungguhnya menghantam mereka.
"Kakek," jawab Alex dengan nada suara yang kembali dingin dan berwibawa. "Dia menuntut kita untuk menginap di kediaman utama keluarga besar Ar-Rasyid akhir pekan ini."
Keisha menelan ludahnya kaku. "Keluarga besar? Kediaman utama?"
"Ya," lanjut Alex sambil melangkah mendekati Keisha kembali. "Dan di sana, kita akan berhadapan dengan puluhan anggota keluarga Ar-Rasyid yang lapar akan takhta perusahaan—orang-orang yang akan mengawasi setiap gerak-gerik, tatapan, dan sentuhan kita selama dua puluh empat jam penuh untuk membuktikan bahwa pernikahan kita adalah palsu."
Keisha menarik napas dalam-dalam. Jika di hadapan media dan publik mereka bisa berpura-pura dengan mudah, tinggal di bawah satu atap bersama sanak keluarga yang haus kekuasaan dan pandai membaca kepalsuan adalah ujian tingkat tertinggi bagi pernikahan kontrak mereka.
Alex mengulurkan tangannya ke arah Keisha. "Apakah kau siap memasuki kandang serigala yang sesungguhnya bersamaku, Nyonya Ar-Rasyid?"
Keisha menatap uluran tangan itu sejenak, lalu menyambutnya dengan cengkeraman yang erat dan tegas, memancarkan kilat keberanian yang menyala kembali di matanya.
"Aku tidak pernah takut pada serigala, Alexander," jawab Keisha mantap. "Mari kita tunjukkan pada mereka bagaimana sandiwara terbaik ini dimainkan."