Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman dari Kegelapan dan Kebohongan Manis di Dalam Mobil
Mobil sedan hitam keluarga Leonhart membelah jalanan kota yang berangsur sepi malam itu. Lampu-lampu jalan memancarkan pendar kuning yang bergantian menerobos masuk melalui kaca jendela, menciptakan bayangan lembut di dalam kabin mobil.
Di kursi belakang, Lala terlelap di balik selimut tipis bertekstur lembut. Kepalanya bersandar manis pada boneka pandanya, napasnya teratur dan halus khas anak kecil yang kelelahan setelah seharian bermain di acara piknik.
Mila menoleh ke belakang, mengelus lembut puncak kepala Lala dengan penuh kasih sayang, memastikan putrinya berada dalam posisi tidur paling nyaman. Ia lalu berbalik dan menatap Chiko yang sedang menyetir dengan tenang.
"Papah..." panggil Mila pelan, suaranya sangat lembut agar tidak mengusik tidur Lala. "Melihat Lala tidur nyenyak begini... Bunda rasanya lega sekali. Hari ini indah sekali, ya?"
Chiko melirik Mila lewat kaca spion tengah, mengulas senyum tulus yang membuat sudut matanya berkerut hangat di balik kacamata tebalnya. "Iya, Bunda. Hari Minggu ini terasa sempurna. Selama Papa bisa melihat Bunda dan Lala tersenyum, semua rasa lelah Papa langsung hilang."
Mila tersenyum manis. Tanpa ragu, ia mengulurkan tangannya dan meletakkannya di atas jemari Chiko yang sedang memegang tuas transmisi. Chiko membalas genggaman itu dengan hangat, membiarkan jemari mereka saling bertaut erat dalam diam.
Namun, kedamaian manis di dalam mobil itu mendadak terganggu oleh sebuah sinyal tak kasat mata.
*BZZZZT.*
Di kursi belakang, bando telinga panda yang tergeletak di samping Lala bergetar sangat halus dengan frekuensi mikro tak terdengar.
Di saat bersamaan, jam tangan *Hello Panda* milik Lala menerima transmisi frekuensi terenkripsi tingkat tinggi. Transmisi itu memancarkan gelombang yang langsung memicu respons otomatis pada jam tangan kemeja Chiko dan ponsel terenkripsi milik Mila yang tersimpan rapat di dalam tasnya.
*BZZZT.*
Layar jam kemeja Chiko berkedip kilat memperlihatkan simbol sandi darurat berwarna merah, sementara ponsel Mila bergetar dengan pola getaran khusus tiga kali berturut-turut.
Seketika itu juga, Chiko dan Mila membeku.
Chiko dengan cepat menyembunyikan cengkeraman tangannya di kemudi. Melalui Lensa Pintar di kacamatanya, sebuah pesan teks terenkripsi dari jaringan Pentagon terpapar di sudut penglihatannya:
`[PERINGATAN: Sinyal Pengintai Proyek 'Pandora' Terdeteksi Aktif. Laboratorium Utama Telah Melacak Area Kota Anda.]`
*‘Proyek Pandora... Laboratorium yang menciptakan Lala?!’* batin Chiko histeris dalam diam. Jantungnya berdegup kencang, namun ia meremas kemudi dengan kuat untuk menutupi rasa paniknya di depan Mila. *‘Bagaimana bisa mereka melacak kota ini?! Aku harus memperkuat perisai satelitku tanpa membuat Mila curiga kalau aku ini agen siber!’*
Di sisi lain, Mila yang merasakan ponselnya bergetar langsung menarik tangannya dari genggaman Chiko secara perlahan. Ia menyilangkan tangan di dada, memijat pelipisnya seolah-olah sedang mengantuk, padahal jarinya sedang menekan tombol sensor di balik tasnya untuk membaca pesan terenkripsi dari *Black Crimson*:
`[Laporan Khusus: Organisasi Laboratorium Utama mengirim tim pengintai tingkat tinggi untuk mencari keberadaan Subject 04.]`
Mila menyipitkan matanya tajam, dada indahnya naik turun menahan amarah yang membakar. *‘Orang-orang brengsek dari Laboratorium Utama... Mereka berani menampakkan diri lagi?! Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh rambut Lala sedikit pun!’* batin Mila dingin seraya menyentuh ujung pisau di balik gaunnya. *‘Tapi aku harus menggerakkan pasukan Black Crimson secara tersembunyi, jangan sampai Chiko tahu kalau aku Ratu Viper!’*
Chiko dan Mila saling melirik kilat dari sudut mata masing-masing, lalu cepat-cepat kembali mengalihkan pandangan ke depan dengan napas sedikit tertahan.
"M-maksud Papa... Bunda kelihatannya agak pucat? Apa Bunda capek?" tanya Chiko dengan suara canggung, mencoba berakting sebagai suami peka yang perhatian.
"E-eh? Tidak kok, Papa. Bunda cuma sedikit pusing karena angin malam," balas Mila cepat dengan tawa kaku, memasang raut wajah ibu rumah tangga yang lembut. "Papa fokus menyetir saja, ya?"
"Ah... iya, Bunda. Papa setir pelan-pelan ya," jawab Chiko sambil pura-pura membetulkan posisi kacamatanya yang tidak miring.
Di kursi belakang, Lala perlahan membuka sebelah matanya yang bulat. Bando telinga pandanya memancarkan kedipan cahaya biru mikro yang sangat redup. Melalui pindaian layarnya, Lala sudah menangkap dua pergerakan sinyal terenkripsi yang berputar di sekitar mobil mereka, serta kepanikan yang tersembunyi di dalam pikiran Papa dan Bundanya.
*‘Wah... Paman-paman jahat dari Laboratorium Utama benar-benar mau mengganggu kedamaian keluarga kita ya...’* batin Lala dengan senyuman cerdik yang sangat tenang.
Lala mengusap matanya polos, lalu menggeliat pelan seolah baru terbangun dari tidur.
"Papa... Bunda..." panggil Lala dengan suara serak-serak menggemaskan.
Chiko dan Mila spontan menoleh ke belakang secara bersamaan, kembali menampilkan raut wajah orang tua yang hangat dan penuh kasih sayang.
"Iya, Lala Sayang? Sudah bangun?" tanya Mila lembut.
"Ada apa, Pahlawan Panda?" sahut Chiko hangat.
Lala memeluk boneka pandanya erat-erat, menyunggingkan senyuman paling manis di dunia.
"Nanti kalau sampai rumah... Papa dan Bunda kunci pintunya yang rapat ya?" pinta Lala polos dengan mata berbinar. "Soalnya kata bando panda Lala... malam ini bakal ada angin kencang di luar!"
Chiko dan Mila saling pandang sejenak. Kedua orang tua berdarah dingin itu tersenyum hangat, mengangguk bersamaan tanpa sedikit pun menyadari arti mendalam di balik ucapan putri genius mereka.
"Siap, Pahlawan Panda. Pintu rumah akan Papa kunci rapat-rapat," janji Chiko tulus.
"Tidak akan ada 'angin kencang' yang bisa masuk ke rumah kita, Sayang," tambah Mila penuh penekanan.
Lala kembali menyandarkan kepalanya di boneka pandanya, menahan tawa bahagia di dalam hati.
*‘Papa siapkan perisai satelit, Bunda siapkan pasukan Viper, dan Lala siapkan kejutan EMP terbesar di kotak pensil!’* batin Lala riang luar biasa. *‘Siapa pun yang berani mengganggu keluarga Leonhart... siap-siap Lala buat kapok seribu persen!’*
Bersambung..