Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Harus Tahu Kebenarannya
"Masa lalu ibu ikut sampai ke pasar, Nek."
Seroja berbisik pelan. Ia duduk bersila di atas tikar pandan. Angin dingin menerobos celah dinding bambu. Dari bilik sebelah, napas Siti terdengar teratur. Ibunya sudah tertidur pulas usai kelelahan menahan tegang di toko kain siang tadi.
Nenek Warni menghentikan putaran tasbihnya. Perempuan tua itu membuka mata. Cahaya lampu teplok menyorot wajah keriputnya. Ia menatap cucunya lama. Ia tidak terkejut, seolah sudah menunggu kalimat itu keluar dari mulut Seroja.
"Laki-laki pakai baju bagus cari ibumu?" tebak Nenek Warni. Suaranya serak.
Seroja mengangguk. Tangannya meremas ujung kain lurik. "Dia berdiri di seberang toko. Tatapannya ke Ibu beda. Matanya merah. Seroja harus tahu kebenarannya malam ini juga, sebelum kita salah langkah dan bahayakan Ibu."
Nenek Warni menghela napas. Ia meletakkan tasbih, lalu tertatih bangkit dari duduk. Ia berjalan ke sudut gubuk dan membuka peti kayu jati tua. Engselnya berderit nyaring. Bau kapur barus menyeruak mengalahkan aroma minyak tanah. Dari dasar peti, tangannya mengangkat bungkusan kain putih.
Nenek Warni kembali duduk. Ia membuka bungkusan itu. Isinya Al-Qur'an tua bersampul kulit kusam. Jari kasarnya menyibak halaman tengah, mengambil selembar kertas kekuningan yang terlipat rapi bersama sobekan kain beludru seukuran telapak tangan.
"Kakekmu orang yang hati-hati, Nduk," ucap Nenek Warni. Ia menyerahkan kertas rapuh itu. "Tahun empat puluh delapan, Belanda masuk serang desa. Kakekmu lari tembus Hutan Jati tengah malam. Hujan deras. Di bawah pohon jati besar, dia dengar tangis bayi."
Seroja membuka lipatan kertas itu pelan-pelan. Kertasnya nyaris sobek, tintanya memudar. Tapi tulisan tegak bersambung Kakek Hadi masih terbaca jelas.
Ditemukan anak perempuan. Menangis kedinginan di bawah pohon jati malam Jumat Kliwon. Tidak ada ayah ibunya. Kami angkat jadi anak kami sendiri. Kami namakan Siti.
Seroja membaca kalimat itu berulang kali. Rahangnya mengeras menahan haru.
Nenek Warni mengusap sudut matanya. "Ibumu dibungkus selimut beludru tebal ini. Kain mahal, bukan buatan orang biasa. Kakekmu tahu itu pasti anak orang penting yang terpisah pas ngungsi. Tapi dia tidak berani cari keluarganya. Keadaan kacau. Kami takut Ibumu diambil tentara."
Seroja menatap sobekan beludru di pangkuan neneknya. Warna merah marunnya kusam. Di sudut kain ada sulaman benang emas berbentuk perisai dan motif padi. Di tengahnya tersulam deretan huruf.
B R O T O J O Y O.
"Brotojoyo," eja Seroja pelan. Ia menahan napas.
Itu nama belakang Kakek Hadi. Nama yang ia pakai sekarang. Tangannya meraba sulaman emas itu.
"Kakekmu kasih nama belakangnya sendiri ke ibumu, biar orang desa tidak curiga," jelas Nenek Warni. "Nama aslinya memang sudah nempel di selimut bayi itu."
Seroja menggigit bibir bawahnya. Kakek Hadi melindungi bayi terlantar itu seumur hidup. Sekarang gilirannya menjaga Siti.
Membawa Siti ke pria safari itu tanpa persiapan sama saja melempar ibunya ke lubang masalah. Seroja butuh bukti. Ia harus mencari tahu latar belakang pria itu lebih dulu.
Pagi harinya kabut masih tebal. Seroja duduk di amben bambu depan rumah. Ia memanggil Doni. Anak laki-laki tiga belas tahun itu keluar dari dapur membawa segelas air. Tubuhnya kurus, tapi sorot matanya tajam. Belakangan ini Doni rajin membaca catatan pembukuan pertanian Seroja.
"Doni, bantu Mbak sebentar," panggil Seroja, menepuk ruang kosong di sebelahnya.
Doni duduk menyilang kaki. "Bantu apa, Mbak?"
Seroja mengeluarkan sobekan kain beludru dari stagennya. Ia meletakkannya di atas meja kayu, lalu menyodorkan kertas kosong dan pensil.
"Gambar ulang lambang perisai dan huruf ini," perintah Seroja pelan, waspada agar ibunya di dalam tidak mendengar. "Harus sama persis. Bentuk perisai, posisi padi, semuanya. Mbak tidak berani bawa kain asli ini ke pasar."
Doni mengambil pensil itu. Ia menunduk menatap kain beludru. Tangannya bergerak lincah di atas kertas. Guratan pensilnya tegas dan cepat.
Seroja memperhatikan sepupunya. Siang nanti, ia akan memberikan gambar ini ke Bagas. Sepupunya itu punya banyak kenalan kuli panggul di pasar induk. Mereka akan mencari tahu asal-usul logo ini. Kalau pria safari itu pengusaha besar, bisnisnya pasti berbekas di pasar kota.
Lima belas menit kemudian, Doni meletakkan pensil. Ia meniup sisa serbuk karbon dari kertas.
"Sudah, Mbak."
Seroja mengambil kertas itu. Gambarnya rapi. Perisai, padi, dan tulisan Brotojoyo tergambar jelas. Seroja tersenyum lega.
Namun, senyumnya hilang saat menatap wajah Doni.
Anak itu memiringkan kepala, keningnya berkerut. Ia merampas kertas itu dari tangan Seroja, mendekatkannya ke wajah untuk memastikan sesuatu.
"Ada apa, Doni?" tanya Seroja.
Doni menelan ludah. Matanya membelalak. "Mbak Seroja dapat kain ini dari mana?"
"Bukan urusanmu. Kenapa dengan gambarnya?" desak Seroja.
"Doni pernah lihat lambang ini," jawab Doni cepat. "Tiga hari lalu pas Doni ikut Mas Bagas ke pasar induk. Ada truk turunin barang di los tekstil."
Doni menunjuk lengkungan perisai di kertas itu.
"Lambang ini tercetak besar di bak samping truk. Di karung-karungnya juga. Itu perusahaan kain besar dari Jakarta, Mbak. Namanya Argo Broto."
seroja nggak bisa bela diri kah...?