*THE HEIR'S MISTAKE*
*Kesalahan Sang Pewaris*
Mereka tidak pernah ditakdirkan untuk saling mencintai.
Dia adalah pewaris keluarga terpandang. Dingin, arogan, dan punya reputasi buruk.
Pertunangan yang diatur kedua orang tuanya adalah mimpi buruknya.
Dia adalah gadis baik-baik, putri dari sahabat orang tuanya.
Sama-sama benci perjodohan ini. Sama-sama ingin bebas.
Sampai satu malam menghancurkan segalanya.
Alkohol. Amarah. Dan satu kesalahan besar.
Dia hamil. Tanpa pernikahan. Tanpa cinta.
Penuh benci dan malu, dia memilih pergi.
Menghilang selama 5 tahun. Membesarkan anak itu sendirian.
Bersumpah tidak akan pernah kembali.
Kini dia kembali. Lebih kuat. Lebih dingin.
Menggandeng tangan putra yang wajahnya mirip sekali dengan sang pewaris.
Dia tidak butuh istri.
Tapi dia akan melakukan apa saja demi anaknya...
Bahkan jika itu berarti berlutut di hadapan wanita yang bersumpah akan membencinya selamanya.
_Beberapa kesalahan tidak bisa dihapus.
Kau harus menikahinya._
---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu
# Bab 1
Leon melempar selimut yang sudah basah kuyup. Membuangnya ke sembarang arah.
"Iya... iyaaaa!" Pria tiga puluh lima tahun itu melangkah dengan gontai menuju kamar mandi.
Meskipun kesal, ia tak mampu marah pada wanita yang paling menyayangi dirinya itu.
Satu jam kemudian, Leon selesai mandi. Ia kini berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya.
'Cakep-cakep gini dijodohin! agh Mama...' Leon merutuk, tak bisa melawan keinginan sang Mama.
Tap tap tap
Deru langka Leon, membuat Mama yang menunggu di ruang tamu langsung berbalik.
Dilihatnya, sang putra. Sudah keren, sudah cakep pasti calon yang dijodohkan tak akan menolak. Bila tak suka dengan putra kesayangannya itu, pasti punya masalah dengan penglihatannya, batin Mama Leon.
"Ayo, Ma!" Leon meraih sandwich yang ada di meja. Memakannya sambil jalan menuju mobil.
Mama Yesy pun mengikuti putranya dari belakang, sambil memegang botol mineral untuk Leon.
Ketika sandwich yang ada di tangannya habis, Leon meraih botol minuman yang diulurkan sang Mama.
"Nanti kalau sudah menikah jangan kayak gini!" cibir Mama.
"Hemmm...!" Leon nampak acuh. Menikah lagi menikah lagi, ia enggan sebenarnya di suruh menikah.
Sambil mendengarkan celotehan sang Mama yang terus saja mengompori dirinya agar segera menikah, Leon menatap ke depan. Ia fokus pada kendaraan warna merah yang ia jalankan.
Kurang dari satu jam, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah. Sebuah hunian yang cukup sederhana.
Leon bisa memastikan bahwa kamar mandinya lebih besar dari pada ruang tamu rumah di depannya kini.
Benar-benar rumah yang kecil, hanya pohon mangga yang mengelilinginya yang besar-besar.
'Apa Mama gak salah rumah?' batin Leon ketika mobilnya masuk halaman rumah sederhana nan asri tersebut.
"Bener, Ma ini rumahnya?"
Leon menatap Mamanya lekat-lekat, tak percaya. Mamanya yang glamour dan high class itu memiliki teman... ya bisa dibilang di bawah rata-rata.
"Bener, udah. Ayo masuk!"
Mama Yesy tak peduli pada tatapan aneh sang anak. Ia memang sengaja, karena orang yang ia datangi saat ini adalah temannya saat dulu Mama masih di kampung.
Mereka teman main saat ke kecil, dan beberapa bulan lalu. Mama baru tahu dan bertemu kembali dengan sahabat baiknya itu. Karena sebuah masa lalu, Mama berniat menjodohkan anaknya.
Tidak ingin cerita panjang lebar demi memuaskan tanda tanya sang anak. Mama memilih diam untuk waktu yang tak di tentukan.
Nanti ada saatnya, ia akan cerita apa yang terjadi sebenarnya.
"Assalamualaikum..."
Mama mengetuk pintu sambil mengucap salam.
"Gak ada orangnya, Ma. Ayo pulang saja."
Leon agak ogah-ogahan, dilihat dari rumahnya. Dia bisa mengira, nanti yang muncul dari dalam orang-orang seperti apa.
Apalagi teman Mamanya dari kampung, pasti model-model yang kampungan gitu. Kepang dua dengan baju lusuh, wajah kusam, jerawat. Ah.. jelek banget pastinya. Ndeso dan norak!
Belum apa-apa isi kepala Leon sudah membayangkan bagaimana rupa calon gadis yang akan dijodohkan dengannya.
"Kamu ini... sabar sedikit kenapa! Tadi Mama sudah janjian, pasti mereka ada di dalam.
Saat Mama sibuk mengomeli putranya, suara pintu terbuka membuat dua orang tersebut langsung menoleh ke sumber suara.
"waalaikumsalam... Mbak Yesy, selamat datang."
Seorang wanita dengan pakaian sederhana menyambut mereka. Mama Yesy pun langsung memeluk sahabat lamanya itu.
Sedangkan Leon mengembalikan seutas senyum yang dilempar si pemilik rumah.
"Mari masuk!" ajak Mamanya si Hanum.
Dengan enggan Leon melangkah ke dalam, 'Tuh kan, dari luar aja dah kelihatan. Rumahnya kecil banget. Ini Mama apa gak salah orang?' gumam Leon sembari menyisir seluruh sudut ruangan.
Tidak ada benda mewah di dalam rumah itu, semua terlihat usang. Bolak-balik ia menatap wajah sang Mama, seolah menuntut jawab. Ini beneran?
Mama yang mendapat tatapan serius, tidak peduli pada putranya tersebut. Ia memilih asik mengobati rindu kampung halaman dengan mengobrol sama Bu Ratih, Ibunya Hanum. Gadis yang akan dijodohkan dengan Leon.
Dari namanya saja udah bau kampung, rasanya Leon ingin meninggalkan rumah itu saja.
"Silahkan di minum."
Seorang wanita, berusia 25 tahun keluar membawa nampan berisi minuman.
Mata Leon tertuju pada gadis yang usianya terpaut 10 tahun dengannya itu.
'Edan!' pekiknya dalam hati.
Kakinya ingin lari secepat kilat, masa iya. Mamanya akan menjodohkan dirinya dengan gadis yang ada di depannya ini. Ini tak lebih cantik dari office girls nya di kantor. 'Mama... Mama, pakai kacamata dulu kalau mau pilih calon mantu!' ia merutuk pada Mama yang malah asik ngobrol ngalor-ngidul tak jelas.
"Sulis, mana Mbak Hanum. Ada tamu, suruh keluar!"
Mata Leon terbelalak, ia salah duga. Ternyata bukan itu gadis yang akan dikenakan padanya.
Sempat menelan ludah karena praduganya, kini ia menatap lekat-lekat. Ingin melihat siapa yang akan dijodohkan dengannya.
Sebenarnya Mama sudah memberikan fotonya. Tapi ia belum membuka, masih tertata rapi dalam amplop coklat di atas meja kamarnya.
Semalam ia main sampai subuh, hingga belum sempat menyentuh amplop tersebut.
Dari ruang tamu yang kecil itu, Leon bisa merasakan derap langkah yang semakin dekat.
'Itu pasti dia!' gumamnya.
Kali ini yang keluar memang Hanum, gadis muda yang lagi mekar-mekarnya. Hanum kini berusia 25 tahun. Ia baru lulus kuliah dua tahun lalu.
Kalau bukan karena kepandaiannya, mungkin Hanum tak bisa menyelesaikan S2-nya.
Mungkin Bu Ratih tak akan mampu membiayai uang kuliah putrinya sendiri. Sebab selain mendapat beasiswa, Hanum juga bekerja part time di saat ia masih kuliah.
Dari cerita Bu Ratih itulah, Mama Yesy mulai melirik putri kawannya tersebut. Apalagi, Leon baginya. Hanya tau main saja, menghamburkan uang dan tak tentu arah.
Ingin anaknya berumah tangga dengan wanita yang baik-baik. Hanum merupakan kandidat yang tepat pilihan Mama.
Di sisi lain, sejak tadi Leon terus menatap dengan jeli calon yang akan ia nikahi.
Tidak jelek, tidak gosong. Coba kalau dibawa ke salon, dipoles dikit-dikit pasti lumayan buat diajak kondangan, batin Leon.
Sementara itu, Hanum yang sejak tadi merasa Leon terus menatapnya merasa geram. Mata itu, mata yang tertuju padanya tanpa kedip. Ingin ia colok saja!
Kalau bukan perintah Ibunya, lebih baik ia kawin lari bersama pacarnya. Mas Indra, seniornya di kampus dulu. Namun kini masih di luar pulau. Rasanya Hanum ingin menolak mentah-mentah kehadiran tamu di depannya ini.
"Hanum, duduk lah sebelah sini." Mama Yesy menarik lengan Hanum dengan lembut. Membuat gadis berkacamata itu tak kuasa menolak.
Hanum pun menurut, dengan hati yang berat ia memancarkan senyum palsu.
"Sekarang sibuk apa, Num?" tanya Mama Leon.
"Hanya mengurus usaha kecil-kecilan Tante."
"Wah, masih mudah... sudah punya usaha. Pintar banget kamu." Mama Leon terus memegang tangan Hanum.
Hal itu membuat Hanum makin tak enak dan tak nyaman.
'Hebat apa... Ish!' Leon terus saja merutuk.
"Oh ya, kenalin! Ini putra Tante, Ibumu pasti sudah cerita kan... maksud dan tujuan kami ke sini?"
Hanum menatap Ibunya, kemudian menundukkan wajahnya. Ia belum memperhatikan wajah calon suaminya dengan saksama. Karena belum apa-apa ia sudah menaruh lebel benci pada pria yang akan menjadi suaminya.
Dengan malas, Leon mengulurkan tangannya. "Leon!"
"Hanum."
Mata keduanya pun saling bertemu, 'Memang sih jauh lebih cakep dari Mas Indra, tapi dilihat dari tampannya sih model-model buaya!' gumam Hanum.
'Lumayan, diamplas dikit gak malu-maluin!' batin Leon.
Apakah mereka akan menikah?
dan Leon sudah tidak di marahin lagidi usir di dorong dan tidak pakai baju ya hanya koloran saja wong kadung nesu ga ngertio ulah calon Leon Junior 👍👍🌹🌹😂😂
Su TREMOSI. hampir meledak kaya gunung Krakatau ,,, memuntahkan lahar koyo wedus gembel 😆 gregeten sama dua orang itu,,,,sudah di panghil sayang ga terima,,,di galak i mewek,,,di belani hanya pakai kolor ijo. ngopo ga pakai kaca mata riben nya Hanum Leon,,,,,biar kocak. ,
coba acak cerita bagaimana awal ketemu nya ,,,tapi lagi senang ketemu pak Su nya beruntung Lo ga di bikin amnesia. sapa sang jawara penulis 😂 baik Lo Jeng Sept
wong di buat jebur berenang lama,,
mempermain kan wanita Ahir sekarang
sedang di uji,, kasian Hanum dan Shian
sabar ya shean ,,,jadi kantor nya siapa yang pegang,,,apa di jarah
anak dan istrinya berpisah dalam keadaan tidak tau mati opa urip,,,😭😭 penuh air mata
namanya juga pELaKoR dan dia juga mau balas dendam menggunakan anak pria lain dodol kuprettt Leon,,,
Leonardo ko ga cerds si sewa dong mata mata,,,masa percaya begitu saja. dan jujur pah agar ada tempat untuk curhat jangan
malah jadi takut,,, justru malah ketauan
bobrok nya cerdas dong Leon. jangan terlbat,,,,ehhh protes sama penulis nya keles 😄😄 ngapa sama Leonardo di ke
pruk i,,😈😈
berat Leon. menjaga hati sang istri dan buah hati,,,
dengan sendirinya lebih baik jujur dan seperti tadi bilang seandainya terjadi sesuatu di masa lalu jangan tinggalkan Ak ya Hanum gitu dan jangan bawa Sean,,,
ya katakan juga mengapa baru bilang ya
karena baru tau dan yang tau justru mama Yesi ,,,
seandainya tau ternyata kebaikan Leon
saat ini ada Nido besar di masa lalu kini,,
tinggal menunggu Bom nya meledak ,,,,
beruntung Hanum tidak keluar dari kerjanya. jadi apabila kelak terjadi percekcokan karena masa lalu sang Suami sebagai pemain wanita ternyata membuahkan anak laki-laki tak berdosa,,,
berarti lebih cerdas Hanum. memang si di tolong Hendra. tetapi tidak pacaran apa
lagi menikah,,,lebih baik hanya hidup berduaan dengan putrinya,,
yang sudah sudah kalau abis bahagia biasanya di bikin sedih sengsara. mudah mudahan kali ini ga ya kasian sudah sama sama menderita 4 th dah cukuplah tinggal meraih kebahagiaan saja,,,,tapi masih ada Anak nya Zura bikin dah dig dug derrrr,,,,
menyesal karena merusak Anak gadis
wanita yang sangat di kenal,,,duh kayanya akan ada perang dunia ke empat 😂👍
semoga Leon benar' benar insyaf ,,,menjadi suami dan Ayah terbaik dan Mama Yesy. menjadi orang tua yang sangat bangga 👍🤲🤲♥️♥️