Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

Bab 24: Pacar?

Tiga hari setelah demamnya turun, Keira dinyatakan sembuh oleh dirinya sendiri dan terlalu sibuk oleh semua orang lain.

Kepada Reynard, ia mengatakan ada makalah yang harus dikejar. Kepada Nana, ia mengaku sedang menyiapkan ujian. Kepada dirinya sendiri, Keira bersikeras bahwa menghabiskan sebelas jam di kampus bukanlah usaha melarikan diri.

Mereka masih sarapan bersama. Reynard masih menaruh telur di piringnya dan mengingatkan jadwal obat terakhir. Keira masih mengomel kalau kopinya terlalu pahit. Semuanya terlihat normal, kecuali tak satu pun dari mereka membicarakan ciuman di foyer.

Pada hari pertama setelah sembuh, Reynard sempat berdiri di dapur sambil memegang dua cangkir. Keira masuk, melihat bekas luka tipis di bibirnya sendiri melalui pantulan microwave, lalu seketika lupa hendak mengambil apa.

"Teh?" tawar Reynard.

"Aku buru-buru."

Padahal kelasnya masih satu jam lagi.

Hari berikutnya, tangan mereka bertemu di gagang pintu. Keira menarik tangannya seperti tersengat. Reynard hanya berkata, "Silakan dulu," dengan kesopanan yang terasa lebih menyiksa daripada godaan apa pun.

Hari ketiga, Keira sengaja sarapan di kampus. Saat pulang, kotak bekal bersih sudah menunggu di depan pintu dengan catatan singkat agar ia tidak telat makan siang lagi. Reynard tidak menuntut penjelasan. Ia juga tidak sekali pun menggunakan ciuman itu untuk membuat Keira malu.

Kesabaran tersebut membuat Keira mulai mencurigai dirinya sendiri. Kalau ia benar-benar menganggap kejadian itu sebuah kesalahan, seharusnya jarak ini membuatnya lega. Nyatanya, setiap kali lorong di antara unit 8A dan 8B kosong, ia justru ingin mengetuk pintu seberang.

Setiap kali pandangan mereka bertemu terlalu lama, salah satu akan mencari kesibukan.

Malam itu Keira pulang hampir pukul sepuluh. Lampu unit 8A menyala, tetapi Reynard hanya mengirim pesan singkat.

Reynard: Sup ada di kulkasmu. Panaskan tiga menit.

Keira: Makasih.

Tidak ada stiker manja. Tidak ada alasan untuk mengetuk pintu. Jarak sopan yang Reynard berikan justru membuat apartemen Keira terasa terlalu sepi.

Ia memanaskan sup, membuka laptop, lalu membaca paragraf yang sama berulang kali sampai tengah malam. Matanya lelah, tetapi kepalanya tidak mau berhenti memutar ulang satu pertanyaan.

Apakah Reynard menyesali ciuman itu?

Keira bangkit untuk mengambil air. Saat melewati ruang tamu, ia melihat cahaya dari celah pintu unitnya. Pintu itu rupanya tidak tertutup rapat setelah Reynard mengantarkan sup. Di seberang, pintu 8A juga terbuka.

Ia berniat menutup pintunya saja. Namun dari tempatnya berdiri, Keira melihat Reynard duduk di sofa dengan lampu meja menyala. Laki-laki itu membungkuk di atas sebuah buku catatan, menulis dengan sangat serius.

Rasa ingin tahu mengalahkan akal sehat.

Keira berjalan tanpa suara ke unit 8A. "Sedang belajar?"

Reynard tersentak dan menutup buku itu begitu cepat sampai pulpennya jatuh.

Reaksi itu langsung membuat Keira curiga. "Apa yang kamu sembunyikan?"

"Nggak ada."

"Kalau nggak ada, kenapa mukamu seperti habis tertangkap menyontek?"

"Aku nggak pernah menyontek."

"Itu bukan inti pertanyaanku."

Keira membungkuk hendak mengambil buku. Reynard lebih cepat menahannya, tetapi halaman yang belum tertutup sempurna sudah sempat terbaca.

Senin, 08.20: Translation Theory.

Selasa, 10.00: Business Correspondence.

Di bawah jadwal kelas Keira, tertulis tanggal ujian, tenggat makalah, dan catatan kecil tentang kebiasaannya.

Sarapan saat kelas pagi: roti gandum tanpa selai terlalu manis.

Jangan beri kopi sebelum makan.

Bawa obat maag cadangan.

Keira menatapnya. "Ini jadwalku."

Telinga Reynard memerah. "Aku tahu."

"Kenapa ada daftar sarapanku?"

"Biar nggak lupa."

"Lupa apa?"

Reynard mengusap belakang leher. Untuk pertama kalinya sejak mereka tinggal berseberangan, laki-laki itu terlihat benar-benar kehilangan jawaban.

"Lupa menjagamu," gumamnya. "Maksudku, lupa hal-hal yang perlu disiapkan."

Keira membuka buku itu lebih lebar. Ada catatan tentang tenggorokannya yang mudah sakit, merek teh yang disukai, sampai kebiasaannya melewatkan makan siang ketika tenggat tugas mendekat. Semua ditulis dengan huruf rapi, beberapa dicoret lalu diperbaiki.

Di halaman berikutnya, Keira menemukan daftar yang lebih memalukan.

Kalau marah: beri waktu sepuluh menit, lalu bawakan makanan.

Kalau diam terlalu lama: jangan paksa bicara, duduk saja di dekatnya.

Kalau bilang tidak lapar: kemungkinan besar belum makan.

"Aku seperti proyek penelitian," protes Keira.

"Proyek penting."

"Aku bisa mengurus diri sendiri."

"Aku tahu." Reynard menatapnya tanpa senyum. "Aku melakukan ini bukan karena kamu nggak mampu. Aku cuma ingin."

Kalimat sederhana itu menghentikan semua protes di bibir Keira.

"Kamu bikin ini sejak kapan?"

"Nggak lama."

"Rey."

"Sejak pindah ke sini."

Keira tidak tahu harus marah atau tersentuh. "Kamu aneh."

"Iya."

"Orang normal pakai kalender digital."

"Kalau di ponsel, notifikasinya bisa hilang."

"Dan orang normal juga nggak mencatat tingkat kemanisan selai orang lain."

Reynard mengambil kembali buku itu, tetapi senyum kecil muncul di wajahnya. "Kamu tetap memakan sarapannya, kan?"

Keira tidak bisa membantah.

Mereka duduk berdampingan. Keira awalnya hanya berniat tinggal beberapa menit, tetapi Reynard membuat teh hangat dan membuka materi kuliahnya. Percakapan mereka perlahan kembali ringan. Sesekali bahu mereka bersentuhan, dan keduanya pura-pura tidak menyadari.

Menjelang pukul dua, suara Reynard makin jarang. Ketika Keira menoleh, laki-laki itu sudah tertidur bersandar pada ujung sofa. Buku catatan masih berada di pangkuannya, satu tangan memegang pulpen.

Dalam tidur, wajah Reynard kehilangan sikap percaya dirinya. Ia terlihat lebih muda, tetapi tidak lagi seperti adik kecil yang perlu dijaga. Bahunya terlalu lebar, garis rahangnya terlalu tegas, dan kehadirannya sudah memenuhi terlalu banyak ruang dalam hidup Keira.

Keira mengambil selimut tipis dari kursi dan menutupkannya ke tubuh Reynard.

Jika dia bukan adik Vanessa, pikirnya.

Jika dia tidak tiga tahun lebih muda.

Jika tidak ada begitu banyak alasan untuk menganggap semua ini keliru.

Apakah aku sudah mengakui bahwa aku menyukainya?

Jawaban yang muncul terlalu cepat membuat dada Keira sesak.

Jemarinya terangkat, berhenti di dekat pipi Reynard. Ia ingin menyingkirkan rambut yang jatuh ke dahinya, tetapi sentuhan itu terasa jauh lebih intim daripada seharusnya. Ujung jarinya tetap menyentuh kulit Reynard selama dua detik sebelum buru-buru ditarik.

Reynard bergerak sedikit. Keira menahan napas, takut ia terbangun. Namun laki-laki itu hanya memiringkan wajah ke arah bekas sentuhannya, lalu kembali tenang.

Keira beranjak pulang. Di ambang pintu, ia menoleh sekali lagi. Buku catatan yang penuh jadwalnya tergeletak di meja, dan orang yang menulis semua itu tidur tanpa pertahanan di bawah selimut yang ia pasangkan.

Selama ini Keira mengira dirinya sedang menjaga adik sahabatnya.

Kapan tepatnya keadaan berbalik?

Ia memegang gagang pintu, lalu berbisik begitu pelan agar tidak membangunkan siapa pun.

"Reynard Hartono, sebenarnya kamu mau apa?"

Pintu menutup perlahan, menyisakan pertanyaan itu di ruang yang sunyi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!